KELUHAN DALAM
PSIKOLOGI YANG INJILI
Oleh : Jeinner
Jenry Rawung (Dosen Fakultas Psikologi UKIT,
jenrywaldo@yahoo.com)
Mengeluh merupakan
hal yang lumrah. Tapi, di sisi lain, ada yang
menilai sikap tersebut sebagai sesuatu yang
keterlaluan. Apa pasal? Katanya, perilaku suka
mengeluh identik dengan pesimistik, tidak berdaya.
Setelah
banyak belajar dari Prof. Drs. E. A. Worang yang
adalah mantan Kepala Dinas Pendidikan Sulut, Rektor
IKIP Manado (UNIMA), Rektor UKIT dan sekarang masih
menjabat Dekan Fakultas Psikologi UKIT (barangkali
dapat dicatat di MURI sebagai Dekan tertua di
Indonesia), saya jadi terbiasa dengan apa yang
namanya integritas, yang tentunya berseberangan
dengan sikap gemar mengeluh.
Worang adalah pribadi
yang menjunjung tinggi integritas. Layaknya
pernyataan Scott Anderson dalam bukunya “Think
like a Billionaire, Become a Billionaire”.
Penulis Teori Ilmu Pendidikan Nasional dan Psikologi
yang Injili itu, terus mengembangkan pemikiran yang
sama sepanjang waktu, konsisten dan stabil dengan
komitmen yang diambil, dari satu decade yang lalu
sejak saya mengenalnya, sampai sekarang, meskipun
baru-baru ini mengalami serangan stroke untuk kali
kedua.
Profesor jebolan Unpad
Bandung yang adalah adik mantan Gubernur Worang itu
sepertinya tak pernah berkeluh kesah. Sikap dan etos
kerja yang luhur mewarnai tugasnya sebagai pemimpin
dan pendidik. Konsep hadir tepat waktu, tidak pulang
sebelum waktunya, melakukan semuanya sebaik mungkin,
ada atau tidak ada pimpinan. Dalam dunia bisnis,
kita dapat melihat aktualisasi sikap yang
terintegrasi dalam keputusan pribadi untuk membayar
kewajiban dan hutang tepat waktu, begitu.
Pola tadi,
terinkulturasi dalam pembawaan keseharian saya yang
sejatinya extrovert. Apalagi, ditambah
dengan pembentukan mental lingkungan pendidikan
Sekolah Dasar di Sonder yang memberdayakan, tak
pelak membuat di dalam kamus pribadi saya, tidak
mencantumkan kata ‘tak bisa’ (ehhhh, blum baca
teliti kalieee…!) Semua harus serba jadi. Oke,
itu dulu. Tapi belakangan, sekonyong-konyong, mau
tidak mau, sepertinya saya harus bergaul karib
dengan ‘barang’ ini.
Sejak lama, memang saya
sudah antisipatif untuk menjadi ‘keranjang sampah’
keluhan, yang bakal tumpah ruah. Awal obsesi,
sebetulnya saya rindu mengabdi sebagai seoarang
tabib/dokter. Tapi, di Sekolah Menengah Atas di
bilangan Pomorouw, saya justru menceburkan diri di
program Ilmu Pengetahuan Sosial (salah jurusan ni
yee…?!?). Aneh bin ajaib, menapak
Perguruan Tinggi, malah saya berlabuh di Fakultas
Psikologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon. Ini
pilihan tepat. Sejalan dengan tugas counselor
sekaligus agent therapist dalam proses
counseling, tenaga Psikologi seperti saya,
dituntut professional membantu client yang
mengeluhkan beragam problema hidupnya.
Tanpa diprediksi sama
sekali, sebelum membuka Praktek Swasta
(mengaplikasikan ilmu jiwa), saya justru kecantol
belahan jiwa : Seorang dokter budiman, cantik, saleh
dan beriman (dan, kini dikaruniakan Tuhan seorang
Putra). Dalam tugas pengabdian istri di pedalaman
Dayak Kaltim (kasarnya, hutan belantara tak
berlistrik), setiap harinya saya akrab dengan
berbagai macam keluhan.
Boleh pembaca yang
budiman tahu, sebelum pergi ke tempat tugas (masih
di Ibukota Kabupaten yang kalah makmur di bandingkan
Kecamatan Airmadidi di Minahasa Utara), kami sudah
kalang kabut. Apalagi saat menikmati jalan kolak
lumpur di waktu hujan dan full debu/lubang di
waktu panas. Kemudian, saat kami harus menempati
rumah dinas yang bocor lima puluh persen, yang juga
sudah menjadi sarang kalajengking, ular, kecoa,
laba-laba plus lampu teplok di malam hari.
Ini yang namanya hidup di tengah hutan gundul (kayunya
dibabat habis pelaku illegal logging).
Paling banter, istri
saya yang mengeluh. Dan, ini diomongkan cuma kepada
saya (tapi sekarang, pembaca yang budiman sudah
ikut-ikutan tahu). Istri saya selalu berperan
rangkap. Selain sebagai dokter, selalu menjadi ‘pengemis’.
Tak ada hari baginya tanpa meminta-minta keluhan,
dengan alasan kemanusiaan. “Ada yang bisa saya bantu?
Bapak (atau ibu/kakek/nenek/anak) ada keluhan apa?”
Tanya istri saya di kamar prakteknya, atau di
ruangan dokter di Puskesmas maupun saat mengunjungi
orang sakit di rumah-rumah. Saya sempat merekam
kalimat itu di telepon seluler. Cukup menyentuh hati
juga.
Belum lama
ini, rutinitas saya diteror gigi nomor tujuh bagian
atas. Geraham mengamuk minta ampun. Penderitaan
menyela waktu kerja, bercanda, sembahyang, bahkan
saat tidur sekalipun. Mau mengeluh, semuanya tetap
serba susah. Ujung-ujungnya saya mengambil keputusan
untuk pergi ke dokter gigi di Rumah Sakit.
Permisi sama
istri, saya menjumpai seorang dokter gigi yang
lumayan cantik (tetap kalah dibandingkan istri
dong). Dokter gigi itu santun menyatakan bahwa
gigi saya harus dirawat minimal lima kali pertemuan
sebelum di tambal tetap. Nah, setiap tahap perawatan
(baik pertama, kedua, dst), saya pasti dievaluasi.
“Ada keluhan Pak? Ada rasa nyeri atau rasa tidak
nyaman?” tanya wanita berperawakan Cina itu, selalu
dan selalu.
Benar,
manusia akan megeluh jika mengalami kegalauan. Beban
hidup terasa berat dipikul. Sepertinya tidak ada
jalan keluar lagi. Batas kemampuan meng-handle
sudah terlampaui. Jadi setidaknya, perlu orang lain
untuk berbagi ketidakenakan diri. Mau dengan pikiran
atau tanpa pikiran pun, semua disebut. Tak
tangung-tanggung, dari yang rasional sampai
emosional semua menyembur. Dalam Psikologi, ini
namanya Pola Pikir, Pola Rasa dan Pola Perilaku (pemikiran
aklbudi, perasaan jiwa dan kemauan hati) yang sedang
terancam. Saat terjadi masalah karena kenyataan
tidak sesuai dengan harapan, maka orang akan
mempertahankan diri (ego defense mechanism –EDM).
Anak
mengeluh perutnya lapar, mainannya rusak, kelakuan
kakaknya yang suka cari gara-gara sampai PR sekolah
yang teralalu berat. Remaja mengeluh pulsa HP-nya
empty, tidak bisa merokok atau menonton film
porno, tidak dibelikan motor matic sampai
dicela Juri Indonesian Idol lantaran suaranya
membuat turun hujan. Sang pemuda mengeluh cintanya
bertepuk sebelah kamar, eh tangan, karena tak
ada modal, meskipun dukun sudah bertindak. Atau
kecewa karena tak lolos seleksi tenaga kerja karena
salah memahami instruksi tester dalam proses
recruitment.
Kalau istri,
suka mengeluh kepada suami soal jatah belanja yang
tidak cukup, uang sekolah anak yang harus dibayar,
tagihan listrik dan segala tetek bengek yang
membukit, langkanya minyak tanah/tabung elpiji
sampai kurangnya kasih sayang (jarang dibelai,
hehe) atau mertua yang sok militer (bah, bisa
burabe). Begitu juga dengan suami yang sering
marah-marah karena saat pulang kerja tak dibukakan
kaos kaki, tak diberi pijatan maut, atau tak diberi
kesempatan mengirim SMS ‘selamat ulang Tahun’ kepada
teman wanita segereja atau di tempat kerja yang
berbahagia (kalau ini ya sebaiknya jangan).
Dalam hidup
bermasyarakat ada yang risih dengan tetangga yang
acap kali berisik karena punya banyak anak yang
ribut (atau punya banyak hutang). Suka pamer mobil
baru atau bergaya persis politisi yang gemar
bagi-bagi uang. Begitu juga dengan bawahan yang
tidak nyaman karena kurang diperhatikan
kesejahteraannya oleh Bos. Proposal yang sudah
diajukan tidak pernah dibuka oleh petinggi. Sampai
jalan menuju kantor sering macet ataupun acap kali
dikejar-kejar penagih hutang/debt collector
perusahaan pembiayaan financial.
Sama yang
terjadi di jemaat, gereja apapun dia. Ada yang
merasa sudah pimpinan tapi selalu diberi tugas
seperti jongos untuk cari dana pembangunan
ini dan itu. Atau pegawai sidang yang
multi-talent namun tak dipakai oleh gembala yang
suka pandang bulu. Bagaimana dengan anggota? Ini
menarik. Banyak yang mengeluh karena hanya
orang-orang itu saja yang berkhotbah. Tidak fasih
lidah dan monoton dalam pembicaraan. Protes kepada
bendahara yang tidak transparan dalam pembukuan
jemaat. Dst, dst……..
Perihal
mengeluh, pasti tak akan habis dibahas. Yang penting,
tak sembarang hantam. Jangan hanya soal sepele,
mengeluhnya bombastis. Coba simak pengakuan
dokter kandungan yang menyaksikan peristiwa luar
biasa, saat pasiennya yang akan melahirkan tidak
perlu repot-repot berteriak. Ketika mengedan, ibu
yang Nasrani itu malah menyanyikan tembang ‘Tuhan
Yesus Setia’. Sukar dipercaya, tapi saya yakinkan
anda bahwa hal itu benar-benar terjadi.
Belajar dari
Daniel Goleman, mengeluhkan sesuatu sebaiknya soal
yang tepat, dengan cara yang tepat, kepada orang
yang tepat, pada waktu yang tepat. Mudah-mudahan ini
tidak menggurui. Dan, belajar dari Daniel di
Kerajaan Babilonia ataupun Yusuf di Kerajaan Mesir
sampai Paulus yang hidup di era pemerintahan Romawi
Kuno, marilah kita mengeluh kepada teman yang
Setiawan dimomen yang benar-benar urgent kita
membutuhkan.
“Marilah
kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”, ajak Isa
Almaseh dalam buku Matius 11:28. Begitu juga dengan
syair karya John Howard Payne (dalam, Sion
Song-IPH, 1991), “Di dalam sengsara dan
keluhanku, betapa manisnya rahmat bersatu.
Dengan orang saleh bersama-sama, sehingga kurasa
Yesus di rumah. Rumah yang indah, Tuhan sediakan
bagiku di surga”. Semoga.(jenrywaldo@yahoo.com).