Berita Sulut, 15 April, 2008


KELUHAN DALAM PSIKOLOGI YANG INJILI

Oleh : Jeinner Jenry Rawung (Dosen Fakultas Psikologi UKIT, jenrywaldo@yahoo.com)

 

Mengeluh merupakan hal yang lumrah. Tapi, di sisi lain, ada yang menilai sikap tersebut sebagai sesuatu yang keterlaluan. Apa pasal? Katanya, perilaku suka mengeluh identik dengan pesimistik, tidak berdaya.

            Setelah banyak belajar dari Prof. Drs. E. A. Worang yang adalah mantan Kepala Dinas Pendidikan Sulut, Rektor IKIP Manado (UNIMA), Rektor UKIT dan sekarang masih menjabat Dekan Fakultas Psikologi UKIT (barangkali dapat dicatat di MURI sebagai Dekan tertua di Indonesia), saya jadi terbiasa dengan apa yang namanya integritas, yang tentunya berseberangan dengan sikap gemar mengeluh.

Worang adalah pribadi yang menjunjung tinggi integritas. Layaknya pernyataan Scott Anderson dalam bukunya “Think like a Billionaire, Become a Billionaire”. Penulis Teori Ilmu Pendidikan Nasional dan Psikologi yang Injili itu, terus mengembangkan pemikiran yang sama sepanjang waktu, konsisten dan stabil dengan komitmen yang diambil, dari satu decade yang lalu sejak saya mengenalnya, sampai sekarang, meskipun baru-baru ini mengalami serangan stroke untuk kali kedua.

Profesor jebolan Unpad Bandung yang adalah adik mantan Gubernur Worang itu sepertinya tak pernah berkeluh kesah. Sikap dan etos kerja yang luhur mewarnai tugasnya sebagai pemimpin dan pendidik. Konsep hadir tepat waktu, tidak pulang sebelum waktunya, melakukan semuanya sebaik mungkin, ada atau tidak ada pimpinan. Dalam dunia bisnis, kita dapat melihat aktualisasi sikap yang terintegrasi dalam keputusan pribadi untuk membayar kewajiban dan hutang tepat waktu, begitu.  

Pola tadi, terinkulturasi dalam pembawaan keseharian saya yang sejatinya extrovert. Apalagi,  ditambah dengan pembentukan mental lingkungan pendidikan Sekolah Dasar di Sonder yang memberdayakan, tak pelak membuat di dalam kamus pribadi saya, tidak mencantumkan kata ‘tak bisa’ (ehhhh, blum baca teliti kalieee…!) Semua harus serba jadi. Oke, itu dulu. Tapi belakangan, sekonyong-konyong, mau tidak mau, sepertinya saya harus bergaul karib dengan ‘barang’ ini.

Sejak lama, memang saya sudah antisipatif untuk menjadi ‘keranjang sampah’ keluhan, yang bakal tumpah ruah. Awal obsesi, sebetulnya saya rindu mengabdi sebagai seoarang tabib/dokter. Tapi, di Sekolah Menengah Atas di bilangan Pomorouw, saya justru menceburkan diri di program Ilmu Pengetahuan Sosial (salah jurusan ni yee…?!?). Aneh bin ajaib, menapak Perguruan Tinggi, malah saya berlabuh di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon. Ini pilihan tepat. Sejalan dengan tugas counselor sekaligus agent therapist dalam proses counseling, tenaga Psikologi seperti saya, dituntut professional membantu client yang mengeluhkan beragam problema hidupnya.

Tanpa diprediksi sama sekali, sebelum membuka Praktek Swasta (mengaplikasikan ilmu jiwa), saya justru kecantol belahan jiwa : Seorang dokter budiman, cantik, saleh dan beriman (dan, kini dikaruniakan Tuhan seorang Putra). Dalam tugas pengabdian istri di pedalaman Dayak Kaltim (kasarnya, hutan belantara tak berlistrik), setiap harinya saya akrab dengan berbagai macam keluhan.

Boleh pembaca yang budiman tahu, sebelum pergi ke tempat tugas (masih di Ibukota Kabupaten yang kalah makmur di bandingkan Kecamatan Airmadidi di Minahasa Utara), kami sudah kalang kabut. Apalagi saat menikmati jalan kolak lumpur di waktu hujan dan full debu/lubang di waktu panas. Kemudian, saat kami harus menempati rumah dinas yang bocor lima puluh persen, yang juga sudah menjadi sarang kalajengking, ular, kecoa, laba-laba plus lampu teplok di malam hari. Ini yang namanya hidup di tengah hutan gundul (kayunya dibabat habis pelaku illegal logging).

Paling banter, istri saya yang mengeluh. Dan, ini diomongkan cuma kepada saya (tapi sekarang, pembaca yang budiman sudah ikut-ikutan tahu). Istri saya selalu berperan rangkap. Selain sebagai dokter, selalu menjadi ‘pengemis’. Tak ada hari baginya tanpa meminta-minta keluhan, dengan alasan kemanusiaan. “Ada yang bisa saya bantu? Bapak (atau ibu/kakek/nenek/anak) ada keluhan apa?” Tanya istri saya di kamar prakteknya, atau di ruangan dokter di Puskesmas maupun saat mengunjungi orang sakit di rumah-rumah. Saya sempat merekam kalimat itu di telepon seluler. Cukup menyentuh hati juga.        

            Belum lama ini, rutinitas saya diteror gigi nomor tujuh bagian atas. Geraham mengamuk minta ampun. Penderitaan menyela waktu kerja, bercanda, sembahyang, bahkan saat tidur sekalipun. Mau mengeluh, semuanya tetap serba susah. Ujung-ujungnya saya mengambil keputusan untuk pergi ke dokter gigi di Rumah Sakit.

            Permisi sama istri, saya menjumpai seorang dokter gigi yang lumayan cantik (tetap kalah dibandingkan istri dong). Dokter gigi itu santun menyatakan bahwa gigi saya harus dirawat minimal lima kali pertemuan sebelum di tambal tetap. Nah, setiap tahap perawatan (baik pertama, kedua, dst), saya pasti dievaluasi. “Ada keluhan Pak? Ada rasa nyeri atau rasa tidak nyaman?” tanya wanita berperawakan Cina itu, selalu dan selalu.

            Benar, manusia akan megeluh jika mengalami kegalauan. Beban hidup terasa berat dipikul. Sepertinya tidak ada jalan keluar lagi. Batas kemampuan meng-handle sudah terlampaui. Jadi setidaknya, perlu orang lain untuk berbagi ketidakenakan diri. Mau dengan pikiran atau tanpa pikiran pun, semua disebut. Tak tangung-tanggung, dari yang rasional sampai emosional semua menyembur. Dalam Psikologi, ini namanya Pola Pikir, Pola Rasa dan Pola Perilaku (pemikiran aklbudi, perasaan jiwa dan kemauan hati) yang sedang terancam. Saat terjadi masalah karena kenyataan tidak sesuai dengan harapan, maka orang akan mempertahankan diri (ego defense mechanism –EDM).

            Anak mengeluh perutnya lapar, mainannya rusak, kelakuan kakaknya yang suka cari gara-gara sampai PR sekolah yang teralalu berat. Remaja mengeluh pulsa HP-nya empty, tidak bisa merokok atau menonton film porno, tidak dibelikan motor matic  sampai dicela Juri Indonesian Idol lantaran suaranya membuat turun hujan. Sang pemuda mengeluh cintanya bertepuk sebelah kamar, eh tangan, karena tak ada modal, meskipun dukun sudah bertindak. Atau kecewa karena tak lolos seleksi tenaga kerja karena salah memahami instruksi tester dalam proses recruitment.     

            Kalau istri, suka mengeluh kepada suami soal jatah belanja yang tidak cukup, uang sekolah anak yang harus dibayar, tagihan listrik dan segala tetek bengek yang membukit, langkanya minyak tanah/tabung elpiji sampai kurangnya kasih sayang (jarang dibelai, hehe) atau mertua yang sok militer (bah, bisa burabe). Begitu juga dengan suami yang sering marah-marah karena saat pulang kerja tak dibukakan kaos kaki, tak diberi pijatan maut, atau tak diberi kesempatan mengirim SMS ‘selamat ulang Tahun’ kepada teman wanita segereja atau di tempat kerja yang berbahagia (kalau ini ya sebaiknya jangan).    

            Dalam hidup bermasyarakat ada yang risih dengan tetangga yang acap kali berisik karena punya banyak anak yang ribut (atau punya banyak hutang). Suka pamer mobil baru atau bergaya persis politisi yang gemar bagi-bagi uang. Begitu juga dengan bawahan yang tidak nyaman karena kurang diperhatikan kesejahteraannya oleh Bos. Proposal yang sudah diajukan tidak pernah dibuka oleh petinggi. Sampai jalan menuju kantor sering macet ataupun acap kali dikejar-kejar penagih hutang/debt collector perusahaan pembiayaan financial.

            Sama yang terjadi di jemaat, gereja apapun dia. Ada yang merasa sudah pimpinan tapi selalu diberi tugas seperti jongos untuk cari dana pembangunan ini dan itu. Atau pegawai sidang yang multi-talent namun tak dipakai oleh gembala yang suka pandang bulu. Bagaimana dengan anggota? Ini menarik. Banyak yang mengeluh karena hanya orang-orang itu saja yang berkhotbah. Tidak fasih lidah dan monoton dalam pembicaraan. Protes kepada bendahara yang tidak transparan dalam pembukuan jemaat. Dst, dst……..

            Perihal mengeluh, pasti tak akan habis dibahas. Yang penting, tak sembarang hantam. Jangan hanya soal sepele, mengeluhnya bombastis. Coba simak pengakuan dokter kandungan yang menyaksikan peristiwa luar biasa, saat pasiennya yang akan melahirkan tidak perlu repot-repot berteriak. Ketika mengedan, ibu yang Nasrani itu malah menyanyikan tembang ‘Tuhan Yesus Setia’. Sukar dipercaya, tapi saya yakinkan anda bahwa hal itu benar-benar terjadi. 

            Belajar dari Daniel Goleman, mengeluhkan sesuatu sebaiknya soal yang tepat, dengan cara yang tepat, kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat. Mudah-mudahan ini tidak menggurui. Dan, belajar dari Daniel di Kerajaan Babilonia ataupun Yusuf di Kerajaan Mesir sampai Paulus yang hidup di era pemerintahan Romawi Kuno, marilah kita mengeluh kepada teman yang Setiawan dimomen yang benar-benar urgent kita membutuhkan.

            “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”, ajak Isa Almaseh dalam buku Matius 11:28. Begitu juga dengan syair karya John Howard Payne (dalam, Sion Song-IPH,  1991),  “Di dalam sengsara dan keluhanku, betapa manisnya rahmat bersatu. Dengan orang saleh bersama-sama, sehingga kurasa Yesus di rumah. Rumah yang indah, Tuhan sediakan bagiku di surga”. Semoga.(jenrywaldo@yahoo.com).