|
|
Berita Sulut, 10 April, 2008
68 Negara Peserta Konferensi
Hanoi Dukung WOC
Laporan: Budi H Rarumangkay
MANADO, Sulutlink. Kian
membumi ! Setidaknya, negara-
negara peserta
Konferensi
Kelautan Global ke-4 di Hanoi,
Vietnam yang diselenggarakan
oleh Global Forum on
Oceans, Coasts, and Islands,
menyatakan dukungannya terhdapa
pelaksanaan World Ocean
Conference (WOC) Mei 2009
Manado. Dalam sambutan
pembukaannya yang dihadiri oleh
430 partisipan dari 68 negara,
Dr. Biliana Cicin-Sain,
Co-chair dari Global
Forum on Oceans, Coasts, and
Islands
secara lugas dan tegas,
menyampaikan bahwa hasil-hasil
dari Konferensi Global Kelautan
Ke-4 ini akan dibahas lebih
lanjut dan ditindaklanjuti pada
World Ocean Conference di
Manado, Sulawesi Utara,
Indonesia tanggal 11-15 Mei
2009.
Demikian press release yang
dikirimkan DR Donald Pokatong
dan DR Jhon Tasirin, staf ahli
gubernur dari Hanoi pada
Sulutlink,
Rabu (09/04) malam. Biliana
menyampaikan bahwa
konferensi ini mempertemukan
pemimpin kelautan dari seluruh
dunia untuk membicarakan/mengkaji
situasi global kelautan dan
memobilisasi kepakaran,
political wilI, dan
sumberdaya untuk maju ke depan
dengan arah yang baru. Pengelola
kelautan dan pesisir merupakan
garda terdepan untuk perubahan
iklim dimana isu iklim secara
radikal akan merubah pengelolaan
kelautan dan pesisir,
meningkatkan ketidakpastian,
menuntut adanya perencanaan
berbasis perubahan iklim dalam
proses pengelolaan dan kebutuhan
untuk mengembangkan dan
mengaplikasikan cara baru
berkaitan dengan asesmen
kerentanan dan kerelaan untuk
membuat pilihan yang sulit dalam
menghadapi impak negatif pada
ekosistem dan komunitas yang
rentan bencana.
Bahkan saat acara jamuan makan
malam yang diselenggarakan oleh
Menteri Kelautan dan Perikanan
RI, Freddy Numberi, Gubernur
Sulawesi Utara, Sinyo H.
Sarundajang dan Kedutaan Besar
RI di Hanoi, Biliana juga
menyampaikan bahwa Indonesia
sebagai negara kepulauan
terbesar di dunia dan memiliki
keanekaragaman hayati laut yang
sangat tinggi merupakan tempat
yang sangat tepat untuk
penyelenggaraan WOC 2009. “Untuk
itu, Global Forum On Oceans,
Coasts, and Islands mendukung
penuh dan akan membantu secara
total terselenggaranya even
akbar ini,”tegasnya yang
disambut tepuk tangan para
partisipan dan undangan
berjumlah sekitar 500 orang.
Diketahui, Konferensi dengan
tiga topik utama yakni Perikanan
dan Akuakultur: Keberlanjutan
dan Tata Kelola; Keanekaragaman
Hayati Laut dan Pembentukan
Jaringan untuk Marine
Protected Areas(MPA); dan
Laut dan Iklim tersebut menjadi
topic utama dan dibagi menjadi
sub topik-sub topik dengan
beberapa pemakalah.
Pada sesi
Perikanan dan Akuakultur,
menghadirkan 5 pembicara secara
panel dan mendiskusikan
tantangan global dalam
pengelolaan perikanan, tantangan
dalam pengelolaan perikanan di
Vietnam, status persetujuan
akses untuk pemanfaatan laut
dalam konteks ZEE dari
negara-negara sedang berkembang,
pembaharuan organisasi
pengelolaan perikanan regional,
dan Tuna: tantangan global
keberlanjutan dan tata kelola.
Hal-hal yang diskusikan adalah:
bagaimana pengaruh iklim
terhadap perikanan dan apa
kebijakan yang perlu agar
nelayan dapat beradaptasi; apa
langkah selanjutnya dari
komunitas internasional untuk
mengontrol IUU (llegal,
Unregulated, Unreported) fishing
dan masalah over kapasitas
penangkapan ikan serta
peningkatan kinerja organisasi
pengelolaan perikanan regional
untuk mencapai pengelolaan
perikanan yang berkelanjutan;
dan bagaimana melakukan
akuakultur secara benar.
Pada sesi
Keanekaragaman Hayati Laut dan
Pembentukan Jaringan untuk
Marine Protected Areas
menghadirkan 7 pembicara secara
panel dan membahas penyetopan
hilangnya keanekaragaman hayati
laut dan pendirian jaringan MPA
yang representatif; tantangan
global untuk konservasi
biodiversitas laut, kemajuan MPA
di negara pulau kecil yang
sedang berkembang, keefektifan
MPA dan konservasi terumbu
karang, MPA di Vietnam, membalik
kecenderungan kerusakan
lingkungan di Laut Cina Selatan
dan teluk di Thailand melalui
marine refugia,
memprofesionalkan sumberdaya
manusia berkecimpung di MPA.
Pembahasan mencakup pengkajian
keterhubungan antara preservasi
biodiversitas dan perubahan
iklim dan kebijakan yang perlu
diambil, memperbaiki mekanisme
untuk progress menuju target
2010/2012, upaya yang intens
untuk mengurangi hilangnya
biodiversitas laut pada level
nasional, regional dan
internasional, mempromosikan
dukungan terhadap valuasi
pelayanan biodiversitas laut dan
ekosistem, mempromosikan
kemitraan, dll.
Pada sesi
Laut dan Iklim, juga 7 pemakalah
membahas iklim, laut, dan
keamanan, tindakan praktis untuk
menyesuaikan dengan perubahan
iklim, pemanasan global yang
meningkat dan tren baru produksi
biomasa perikanan di ekosistem
laut luas (LME), perubahan iklim
dan isu kesehatan masyarakat,
variasi dan ancaman iklim,
energi terbarukan skala besar
dari laut, Korea: pengelolaan
terpadu zona pesisir dalam
konteks perubahan iklim. Hal
yang didiskusikan adalah iklim
sebagai agenda prioritas bagi
pemimpin pesisir dan laut
seluruh dunia untuk membicarakan
kebijakan perubahan laut karena
iklim dan memobilisasi respons
nasional dan internasional
terhadap isu ini, memobilisasi
isu sekitar climate divide
(perbedaan persepsi mengenai
perubahan iklim antara negara
maju dan berkembang) dan
mengembangkan respons yang tepat
secara nasional dan
internasional terhadap isu ini,
mengembangkan kerangka acuan
peraturan dan kebijakan untuk
mengelola pemanfaatan laut untuk
mitigasi efek perubahan iklim
seperti penangkapan dan
penyimpapan karbon, dan
pemupukan besi, memobilisasi
kerangka acuan yang sesuai untuk
pemanfaatan laut sebagai
alternatif sumber energi.
Pada
sesi-sesi ini, beberapa
pembicara secara eksplisit
menyatakan bahwa tindak lanjut
dari program mereka akan
dilakukan pada saat WOC 2009 di
Manado, Sulawesi Utara,
Indonesia. Sebagai contoh adalah
Dr. Jihyun Lee dari Sekretariat
Convention on Biological
Diversity pada saat
menyampaikan laporan ”Halting
marine biodiversity loss and
establishing representative
networks of marine protected
areas dan Ms. Nicole Glineur,
program manager keanekaragaman
hayati pada Global
Environment Facility, saat
mempresentasikan materi ”Global
challenges in marine
biodiversity conservation,”
menyampaikan niat organisasi
mereka untuk bisa bergabung pada
saat WOC ’09.
Gubernur Drs
Sinyo Harry Sarundajang sendiri
selain menghadiri konferensi
juga meninjau/melihat stan
eksibisi dari Panitia Daerah WOC
2009 dan Kementerian Kelautan
dan Perikanan RI dan stan
lainnya, dan berkesempatan
berkunjung pada Vietnam EXPO
2008 yakni mengenai pembangunan
ekonomi Vietnam. Setidaknya,
stand WOC 09 menjadi tempat bagi
para partisipan untuk mencari
tahu apa dan bagaimana
WOC 2009. Nah, disini para
pengunjung dilayani secara
telaten oleh Panda WOC ’09 dan
Tim Ahli Gubernur DR. Wiske
Rotinsulu, DR. Desy Mantiri, Dra.
Shelley Sondakh, Dra. Hanna
Mandagi, MA, DR. Johnny Tasirin,
DR. Donald Pokatong, dan Staf
WOC Rifel Pakasi, SPd.
Pertanyaan-pertanyaan di bidang
ekonomi, kelautan dan perikanan,
dan pariwisata dan kebudayaan
direspons oleh Asisten II Dra
Marietha Kuntag, Kadis DKP Ir
Sandra Lalu, dan Kadis Budpar
Sulawesi Utara Edwin Silangen
SE.
“Setelah
Bapak Menteri Kelautan dan
Perikanan dan selaku Ketua Umum
Panitia Nasional WOC 2009
menyampaikan sambutan pada
Opening Dinner.
Selanjutnya, Bapak
Gubernur, S.H. Sarundajang
menyampaikan sambutan dan
sekaligus mengajak/mengundang
partisipan Global Ocean
Conference (GOC) ini untuk
hadir pada iven WOC 2009
mendatang di Manado, Sulawesi
Utara,”tulis Pokatong dan
Tasirin.
Sementara itu, Panitia Nasional
WOC ’09 yang diwakili Oleh
Sekretaris Umum, Prof Indroyono
Soesilo, DR. Tonny Wagey, dan
Ir. Elvie Wijayanti, M.Sc. dan
Global Forum on Oceans, Coasts,
and Islands, DR. Biliana
Cicin-Sain dan DR. Miriam Balgos
melaksanakan pertemuan dan
menghasilkan beberapa kesimpulan,
sebagai berikut:
-Kesepakatan
awal Global Forum (GF) akan
mendukung secara resmi
pelaksanaan WOC 09 dan akan
menyusun mekanisme kerja agar
pendanaannya didukung dan
berasal dari Global Environment
Facility (GEF).
-Kesepahaman
antara GF dan WOC soal substansi
WOC yang tidak tumpang tindih
dengan agenda Global Forum,
namun justru saling berkomplemen.
Bahwa usulan pembentukan World
Ocean Forum oleh Panitia
Nasional tidak tumpang tindih
dengan Global Forum karena
target audiens yang berbeda.
-Guna
mendukung rencana kerja Panas
WOC, maka GF akan terlibat dalam
kegiatan roundtable discussion
pada akhir tahun 2008 di
Indonesia untuk mematangkan
substansi materi WOC 09.
Sekaligus akan dibicarakan
kesiapan GF untuk berpartisipasi
pada Side Events WOC 2009.
-GF
akan mengkoordinir penggalangan
dana untuk membantu WOC.
-Tindak
lanjut dari kesepakatan awal
akan dituangkan dalam suatu Nota
Kesepahaman antara GF dan Panas
WOC 09 dalam waktu dekat.
|
|