Berita Sulut, 22 April, 2008


 

INDONESIA DI PASIFIK (Rethinking Sam Ratulangie Ideas)

Oleh: Steven Y Pailah

 

Masalah-masalah Tiongkok, ekspansi Jepang dan jalur trans-Pacifik, sudah lama dipikirkan Tou Minahasa saat berada di Eropa. Bahkan, ramalan abad Asia di tahun 2000 menjadi kantong-kantong pemikiran revolusioner pada saat itu. Indonesia in den Pacific lahir dari pemikiran bahwa kelak nanti, pusat kebangkitan Asia berkembang dari Jepang, China, India dan menemukan zaman keemasan di Indonesia.

Kalkulasi ilmiah dan volume perdagangan yang dilakukan Om Sam, tidaklah meleset. Pertumbuhan meningkat dengan pesat di Jepang, meskipun kalah Perang Dunia II. Hal ini disebabkan Jepang sudah membuka pintu modernisasi pada saat kedatangan Komodor Pherry 1890an. Demikian juga China, di era 1970an melakukan reformasi pembangunan yang dipimpin Mao Tze Dong. Tak heran setelah satu generasi, pertumbuhan ekonomi China di atas 9,1 persen. India pun demikian. Lembah silikonnya yang menghasilkan pabrikan teknologi menjadi teratas setelah AS. Bagaimana dengan Indonesia?

Kebangkitan ekonomi Indonesia kiranya cukup selama Pelita I hingga ke V (1970-1995) di era Suharto. Di saat itu, Indonesia memiliki kestabilan pangan dan moneter yang jauh lebih terkendali, meskipun dikuasai oleh segelintir elit pengusaha, militer dan partai politik. Jauh lebih membanggakan ketika Indonesia berada dalam kepemimpinan Negara-Negara Non-Blok, APEC, KTT OKI apalagi most powerfull dalam Sidang-sidang ASEAN. Indonesia tumbuh menjadi stabilisator dan dinamisator di kawasan Asia Tenggara.

Selanjutnya, pertanyaan yang muncul kapan Indonesia bangkit dan menemukan zaman keemasannya? Hal ini memerlukan matrikulasi ide-ide dasar yang tidak cukup melihat gerakan global, namun harus memperhitungkan potensi lokal, geostrategi dan sosial-politik secara nasional. Sejenak, mari kita menggunakan analisis-analis yang pernah digunakan Om Sam.

China, India dan Indonesia

Secara ekonomi, Om Sam melihat bahwa kekuatan pasar China seiring-sejalan dengan pertumbuhan penduduknya. China memiliki satuan kerja yang tangguh dan tenaga kerja yang melebihi produksi negara-negara manapun di dunia. China juga memegang teguh prinsip sosialis meskipun sekarang berada di ruang liberalis. Tekanan terhadap pertumbuhan China muncul akibat nilai produksi yang jauh lebih murah dan dapat menjadi barang pengganti untuk kebutuhan konsumen di pasar Asia, Eropa bahkan Amerika.

Rata-rata produksi pabrikan China berada di bawah kualitas harga pasar Eropa, Amerika maupun Jepang. Hal ini membuat pilihan konsumen kelas bawah melirik produk dari China. Di satu pihak, produk negara-negara maju justru menjadi terbatas karena bahan baku bermutu menjadi langka dan seiring perubahan arus kapital dunia menghendaki perusahaan-perusahaan transnasional mengalihkan sektor produksi industri ke negara-negara berkembang yang memiliki ketersediaan bahan baku.

Selisih sumber daya dan arus keuangan dunia, dimanfaatkan China untuk tampil “damai” apa adanya. Tekstil, elektronik hingga modal perbankan dikelola dengan cermat dan mendatangkan keuntungan untuk ekonomi nasionalnya.

Om Sam pernah memprediksikan, bahwa hasil olahan dan ekspor China akan merajai sektor-sektor produksi kebutuhan pangan hingga kebutuhan alat berat sekalipun. Hal ini terbukti, bahwa China mulai tahun 1990-an mejadi negara yang melakukan pasokan terbesar terutama kandungan biji besi. Berarti dapat dikatakan bahwa dalam dua puluh tahun ke depan, China telah memproyeksikan dirinya sebagai negara yang memiliki kekuatan produksi baja dan alat berat yang bisa digunakan dalam pembuatan konstruksi, kapal, pesawat maupun industri sipil-militer lainnya.

Selanjutnya India dengan kapasitas penduduk juga memanfaatkan tenaga kerja di bidang pabrikan. Hal ini mendorong Lembah Silikon India yang mampu menyuplai teksnisi-teknisi elektronika berkelas dunia. Bukan saja itu, India kini merajai kontrak-kontrak pembangunan sistem komunikasi dan pengadaan alat-alat elektronik. Kemajuan India disokong oleh Rusia yang ingin mengalihkan energi dan kemampuannya serta kerjasama pelatihan-pelatihan teknis baik untuk sipil maupun militer.

Dalam pandangan Om Sam, tidak dikatakan bahwa India akan memiliki gudang terbesar elektronika di dunia. Namun posisi India akan menjadi pertaruhan bagi negara-negara besar dalam hal negosiasi strategis jalur-jalur perdagangan dunia. Oleh sebab itu, kemungkinan India mengambil peran Jepang dan Korea di era digital sangat dimungkinkan dengan tersedianya para teknisi handal di bidang tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia selalu menjadi negara paling awal dan juga paling akhir. Paling awal mendapatkan konvensi dan bantuan keuangan dari negara-negara maju G-7 namun paling akhir dalam mengatasi krisis keuangan sejak 1997. Hal ini menunjukkan kerapuhan ekonomi nasional yang hanya bertumpu pada sektor arus investasi jangka pendek. Pemberian-pemberian loan dan kemudahan-kemudahan pinjaman lunak yang diberikan kepada Indonesia, tidak digunakan secara positif untuk meningkatkan produksi baik agribisnis, pertanian maupun kelautan. Akhirnya, penumpukan utang dan berpindahnya modal merupakan salah satu  reaksi pasar global terhadap Indonesia.

Meskipun memiliki sumber daya tenaga kerja yang besar, dekat dengan bahan baku lokal, pasar Indonesia tidak mampu menghasilkan produk utama yang dapat meningkatkan pendapatan nasional. Paling tinggi APBN berharap dari pendapatan sektor migas dan cadangan bumi serta kontrak-kontrak antarnegara di bidang pertambangan. Tumpuan ekonomi Indonesia belum diarahkan pada kemandirian lokal dan produksi nasional. Akhir kata, kita hanya menjadi penonton di gelanggang internasional.

Harapan dan Optimisme

Ada dua hal yang jadi fokus Om Sam dalam melihat Indonesia. Pertama Arus Uang dan kedua Arus Laut. Di tahun 1930an, Om Sam sudah memikirkan sistem keuangan Asuransi yang didirikannya di Yogyakarta. Sementara kita baru mengenal sistem asuransi di awal 1980-an. Bahkan Asuransi baru booming di tahun 2000-an. Prediksi Om Sam tidak meleset. Asuransi terbesar dunia Prudential, Allianz, Manulife justru bercokol di Indonesia dan mengalami peningkatan jaringan serta keuangan justru di Indonesia dan negara-negara sekitarnya.

Hal ini menandakan bahwa untuk transaksi masa depan, sistem perbankan akan diganti oleh asuransi maupun re-asuransi sebagai jaminan uang, utang dan usaha. Bahkan untuk penggunaan kartu kredit dan transaksi elektronik, Indonesia merupakan target pasar bagi perusahaan-perusahaan keuangan dunia. Dalam artian itu, harapan bagi Indonesia bahwa masih ada peluang untuk merencanakan tata kelola keuangan di masa depan. Menguatnya kehadiran jasa keuangan, harus memicu pemikiran bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan dalam iklim usaha. Oleh karena itu, sistem jasa perbankan dan keuangan Indonesia harus mampu mengembalikan trust and security. Peluang jasa ini adalah modal bagi Indonesia ketika nilai jual-beli kontrak pertambangan akan habis di tahun 2020.

Selanjutnya adalah Arus Laut. Sangat bersyukurlah Indonesia dimana dari 9 Sea Lanes of Communication (SLOC) laut di dunia ada 4 berada di tata kelola laut Indonesia. Yang paling ramai dibicarakan adalah Selat Malaka. Padahal Indonesia tidak pernah mendapatkan keuntungan dari alur lintas laut tersebut. Negara Singapura dan Malaysia sangat menikmati arus uang yang masuk dan keluar melalui lintasan Selat Malaka. Akan tetapi, dimanakah 3 selat lainnya? 

Tiga selat lainnya yang dimaksudkan adalah Selat Sunda, Selat Lombok dan Selat Makasar dan Laut Sulawesi. Inilah pandangan Om Sam bahwa Indonesia di Pacifik adalah Indonesia yang menghadap ke Asia Timur dan Pasifik. Alasan-alasan mengapa menghadap ke Pasifik sesungguhnya telah diramalkan para ahli-ahli sejarah dan hubungan internasional bahwa pada abad ke 21 nanti dunia akan berpaling terhadap masalah-masalah di Pasifik.

Hal ini ditandai dengan pecahnya Perang Pasifik, kebangkitan China, Jepang dan Korea serta ketergantungan iklim dan arus laut pada pusaran gelombang di Pasifik. Terbukti, saat ini bahwa masih banyak masalah-masalah internasional yang belum dapat dipecahkan di wilayah ini. Contohnya, “one China Policy” (kebijakan mengakui hanya ada satu China) dan Taiwan dianggap sebagai Provinsi yang membangkang, Konflik Laut China Selatan antara China, Filipina, Vietnam, dan Malaysia, Uji coba senjata nuklir oleh China dan Korea Utara di Semenanjung Asia, Perebutan daerah tangkapan hasil laut di wilayah Laut China dan Samudera Pasifik.

Coral Triangle dan WOC

Selanjutnya, untuk sumber daya alam khususnya kelautan, Vietnam dan Thailand berebut lahan tangkapan ikan. Indonesia dan Malaysia beradu ekplorasi migas di kawasan Laut Sulawesi. Dan saatnya nanti World Ocean Conference di Manado (Mei 2009), direncanakan negara-negara yang tergabung dalam Coral Triangle (Indonesia, Timor Leste, Filipina, Malaysia Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon) akan menandatangani Coral Triangle Action Plan yang merupakan rekomendasi Pertemuan Pertama Tingkat Menteri (First Senior Official Meeting) 6-7 Desember 2007 di Bali.

Sesungguhnya, Coral Triangle merupakan inisiatif Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam KTT APEC ke 15 di Sydney-Australia. Presiden SBY menyampaikan ide menyelamatkan terumbu karang di kawasan segitiga yang meliputi ke enam wilayah di atas. Gagasan ini tertuang dalam Coral Triangle Inisiative: Coral Reef, Fisheries and Food Security. Inisiatif Presiden RI mendapat sambutan positif para pemimpin dunia. Bahkan, Presiden Bush berjanji akan memberikan bantuan sebesar 20 milyar dolar dalam program CTI tersebut.

Jika demikian pentingnya, apa urgensitas agenda Coral Triangle  Inisative (CTI) pada WOC 2009?  Perlu diketahui, kawasan segitiga terumbu karang merupakan kawasan yang dikenal memiliki 600 species koral dan merupakan 53% coral reefs dunia. Selain itu merupakan tempat tumbuh dan pemijahan 3000 spesies ikan serta hutan mangrove paling luas di dunia. Oleh karena itu, dunia terancam kekurangan energi dan pangan apabila penangkapan ikan secara besar-besaran terjadi di daerah ini. Berdasarkan posisi Coral Triangle yang berada di enam negara di Pasifik, maka perlu ada kesamaan pandangan, tatalaku, konservasi dan itikad baik dalam mengelola dan memenfaatkan bagi kehidupan seluruh dunia. Untuk itulah, penyelenggaraan WOC 2009, akan dimanfaatkan menjadi penandatangan plan of action CTI.

Di samping itu, rencana perusahaan penerbangan Lion Air yang akan membuka penerbangan langsung dari negara-negara di Asia Timur dan Pasifik adalah terobosan maju untuk Provinsi Sulawesi Utara. Hal ini mengatasi kendala jumlah jam penerbangan jika harus melalui Bandara Soekarno Hatta. Untuk trip Shanghai-Jakarta-Manado akan membutuhkan kurang lebih sembilan jam daripada Shanghai-Manado yang ditempuh sekitar 5-6 jam. Selain itu, jika menjadikan Bandara Soekarno-Hatta sebagai transit para peserta Konferensi maka akan memakan waktu yang agak panjang dan tentunya mengeluarkan tambahan biaya inefisiensi.

Melihat peluang di atas, lengkaplah bahwa Indonesia berada dalam pusaran abad Pasifik dan seharusnya memiliki kecenderungan mengarah ke Utara. Secara geostrategis, jika menengok di selatan Pasific, ada armada ke 7 Pacifik AS yang masih siaga menghadang Kapal Selam Rusia. Di ujung timur Pasifik (Biak) tengah dibangun wahana peluncuran roket oleh Rusia. Di utara Pasifik, ketegangan militer negara-negara Asia Timur masih mengancam. Di selatan juga, Australia tumbuh menjadi negara middle power. Bahkan bukan hanya security by military balance tetapi isu food security juga bermuasal dari lautan Pasifik.

Untuk Indonesia, apakah isu-isu ini di atas merupakan ancaman atau peluang? Sekali lagi, menyoal Indonesia di Pasifik telah diramalkan oleh Om Sam, Bung Karno juga Hatta dan Mohammad Yamin. Para tokoh-tokoh pemikir tersebut telah menyimpulkan walau bukan dalam bahasa yang sama. Bahwa Indonesia di era Pasifik adalah kesempatan emas untuk berada di puncak kejayaan. Yang saat ini belum ada, adalah kemauan dan kerja keras. Sebelum jadi cooli (budak) di negara sendiri diperlukan tekad dan kemandirian bangsa. Etos kerja, kerjasama dan saling “memanusiakan” adalah wujud orang-orang modern yang ingin maju. Peluang itu, ada dalam setiap pribadi manusia Indonesia. Tetapi apakah kita mau menjalankannya???

Dengan mengetahui dua arus dunia yang berkembang di Pasific, yakni arus uang dan arus laut, sudah selayaknya kita menangkap peluang di depan mata. Arus uang menghendaki adanya sikap tegas user (pemerintah). Hal ini berarti good governance dan transparancy. Akuntabilitas publik dan integritas pemimpin harus menampilkan corak yang bersih, bebas penyeludupan dan bebas dari praktik mafia keuangan maupun koruptor.

Selanjutnya, arus laut menghendaki pengelolaan sumberdaya yang bertanggung-jawab. Kepedulian terhadap lingkungan laut merupakan jawaban untuk menjaga kelangsungan ketahanan potensi sumber daya laut. Mekanisme pengelolaan bersama menjadi upaya kerjasama semua pihak untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekosistem laut. Bukan saja itu, potensi transportasi laut perlu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan jalur Asia Timur Laut-Australia dan negara-negara Pacifik Selatan. Tanpa penguatan pelabuhan yang memadai, kita tidak dapat memanfaatkan jalur melingkar transpasifik yang memotong arus Selat Malaka di sebelah Barat.

Akhirnya, Selamat Datang di Abad Asia-Pasifik. Abad SI TOU TIMOU TUMOU TOU = Manusia Hidup untuk Memanusiakan Manusia Lain!