INDONESIA DI PASIFIK (Rethinking Sam
Ratulangie Ideas)
Oleh: Steven Y Pailah
Masalah-masalah
Tiongkok, ekspansi Jepang dan jalur trans-Pacifik,
sudah lama dipikirkan Tou Minahasa saat berada di
Eropa. Bahkan, ramalan abad Asia di tahun 2000
menjadi kantong-kantong pemikiran revolusioner pada
saat itu. Indonesia in den Pacific lahir dari
pemikiran bahwa kelak nanti, pusat kebangkitan Asia
berkembang dari Jepang, China, India dan menemukan
zaman keemasan di Indonesia.
Kalkulasi ilmiah dan volume
perdagangan yang dilakukan Om Sam, tidaklah meleset.
Pertumbuhan meningkat dengan pesat di Jepang,
meskipun kalah Perang Dunia II. Hal ini disebabkan
Jepang sudah membuka pintu modernisasi pada saat
kedatangan Komodor Pherry 1890an. Demikian juga
China, di era 1970an melakukan reformasi pembangunan
yang dipimpin Mao Tze Dong. Tak heran setelah satu
generasi, pertumbuhan ekonomi China di atas 9,1
persen. India pun demikian. Lembah silikonnya yang
menghasilkan pabrikan teknologi menjadi teratas
setelah AS. Bagaimana dengan Indonesia?
Kebangkitan ekonomi Indonesia kiranya
cukup selama Pelita I hingga ke V (1970-1995) di era
Suharto. Di saat itu, Indonesia memiliki kestabilan
pangan dan moneter yang jauh lebih terkendali,
meskipun dikuasai oleh segelintir elit pengusaha,
militer dan partai politik. Jauh lebih membanggakan
ketika Indonesia berada dalam kepemimpinan
Negara-Negara Non-Blok, APEC, KTT OKI apalagi
most powerfull dalam Sidang-sidang ASEAN.
Indonesia tumbuh menjadi stabilisator dan
dinamisator di kawasan Asia Tenggara.
Selanjutnya, pertanyaan yang muncul
kapan Indonesia bangkit dan menemukan zaman
keemasannya? Hal ini memerlukan matrikulasi ide-ide
dasar yang tidak cukup melihat gerakan global, namun
harus memperhitungkan potensi lokal, geostrategi dan
sosial-politik secara nasional. Sejenak, mari kita
menggunakan analisis-analis yang pernah digunakan Om
Sam.
China, India dan Indonesia
Secara ekonomi, Om Sam melihat bahwa
kekuatan pasar China seiring-sejalan dengan
pertumbuhan penduduknya. China memiliki satuan kerja
yang tangguh dan tenaga kerja yang melebihi produksi
negara-negara manapun di dunia. China juga memegang
teguh prinsip sosialis meskipun sekarang berada di
ruang liberalis. Tekanan terhadap pertumbuhan China
muncul akibat nilai produksi yang jauh lebih murah
dan dapat menjadi barang pengganti untuk kebutuhan
konsumen di pasar Asia, Eropa bahkan Amerika.
Rata-rata produksi pabrikan China
berada di bawah kualitas harga pasar Eropa, Amerika
maupun Jepang. Hal ini membuat pilihan konsumen
kelas bawah melirik produk dari China. Di satu pihak,
produk negara-negara maju justru menjadi terbatas
karena bahan baku bermutu menjadi langka dan seiring
perubahan arus kapital dunia menghendaki
perusahaan-perusahaan transnasional mengalihkan
sektor produksi industri ke negara-negara berkembang
yang memiliki ketersediaan bahan baku.
Selisih sumber daya dan arus keuangan
dunia, dimanfaatkan China untuk tampil “damai” apa
adanya. Tekstil, elektronik hingga modal perbankan
dikelola dengan cermat dan mendatangkan keuntungan
untuk ekonomi nasionalnya.
Om Sam pernah memprediksikan, bahwa
hasil olahan dan ekspor China akan merajai
sektor-sektor produksi kebutuhan pangan hingga
kebutuhan alat berat sekalipun. Hal ini terbukti,
bahwa China mulai tahun 1990-an mejadi negara yang
melakukan pasokan terbesar terutama kandungan biji
besi. Berarti dapat dikatakan bahwa dalam dua puluh
tahun ke depan, China telah memproyeksikan dirinya
sebagai negara yang memiliki kekuatan produksi baja
dan alat berat yang bisa digunakan dalam pembuatan
konstruksi, kapal, pesawat maupun industri
sipil-militer lainnya.
Selanjutnya India dengan kapasitas
penduduk juga memanfaatkan tenaga kerja di bidang
pabrikan. Hal ini mendorong Lembah Silikon India
yang mampu menyuplai teksnisi-teknisi elektronika
berkelas dunia. Bukan saja itu, India kini merajai
kontrak-kontrak pembangunan sistem komunikasi dan
pengadaan alat-alat elektronik. Kemajuan India
disokong oleh Rusia yang ingin mengalihkan energi
dan kemampuannya serta kerjasama pelatihan-pelatihan
teknis baik untuk sipil maupun militer.
Dalam pandangan Om Sam, tidak
dikatakan bahwa India akan memiliki gudang terbesar
elektronika di dunia. Namun posisi India akan
menjadi pertaruhan bagi negara-negara besar dalam
hal negosiasi strategis jalur-jalur perdagangan
dunia. Oleh sebab itu, kemungkinan India mengambil
peran Jepang dan Korea di era digital sangat
dimungkinkan dengan tersedianya para teknisi handal
di bidang tersebut.
Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia
selalu menjadi negara paling awal dan juga paling
akhir. Paling awal mendapatkan konvensi dan bantuan
keuangan dari negara-negara maju G-7 namun paling
akhir dalam mengatasi krisis keuangan sejak 1997.
Hal ini menunjukkan kerapuhan ekonomi nasional yang
hanya bertumpu pada sektor arus investasi jangka
pendek. Pemberian-pemberian loan dan
kemudahan-kemudahan pinjaman lunak yang diberikan
kepada Indonesia, tidak digunakan secara positif
untuk meningkatkan produksi baik agribisnis,
pertanian maupun kelautan. Akhirnya, penumpukan
utang dan berpindahnya modal merupakan salah satu
reaksi pasar global terhadap Indonesia.
Meskipun memiliki sumber daya tenaga
kerja yang besar, dekat dengan bahan baku lokal,
pasar Indonesia tidak mampu menghasilkan produk
utama yang dapat meningkatkan pendapatan nasional.
Paling tinggi APBN berharap dari pendapatan sektor
migas dan cadangan bumi serta kontrak-kontrak
antarnegara di bidang pertambangan. Tumpuan ekonomi
Indonesia belum diarahkan pada kemandirian lokal dan
produksi nasional. Akhir kata, kita hanya menjadi
penonton di gelanggang internasional.
Harapan dan Optimisme
Ada dua hal yang jadi fokus Om Sam
dalam melihat Indonesia. Pertama Arus Uang dan kedua
Arus Laut. Di tahun 1930an, Om Sam sudah memikirkan
sistem keuangan Asuransi yang didirikannya di
Yogyakarta. Sementara kita baru mengenal sistem
asuransi di awal 1980-an. Bahkan Asuransi baru
booming di tahun 2000-an. Prediksi Om Sam tidak
meleset. Asuransi terbesar dunia Prudential, Allianz,
Manulife justru bercokol di Indonesia dan mengalami
peningkatan jaringan serta keuangan justru di
Indonesia dan negara-negara sekitarnya.
Hal ini menandakan bahwa untuk
transaksi masa depan, sistem perbankan akan diganti
oleh asuransi maupun re-asuransi sebagai jaminan
uang, utang dan usaha. Bahkan untuk penggunaan kartu
kredit dan transaksi elektronik, Indonesia merupakan
target pasar bagi perusahaan-perusahaan keuangan
dunia. Dalam artian itu, harapan bagi Indonesia
bahwa masih ada peluang untuk merencanakan tata
kelola keuangan di masa depan. Menguatnya kehadiran
jasa keuangan, harus memicu pemikiran bahwa
Indonesia tetap menjadi tujuan dalam iklim usaha.
Oleh karena itu, sistem jasa perbankan dan keuangan
Indonesia harus mampu mengembalikan trust
and security. Peluang jasa ini adalah modal bagi
Indonesia ketika nilai jual-beli kontrak
pertambangan akan habis di tahun 2020.
Selanjutnya adalah Arus Laut. Sangat
bersyukurlah Indonesia dimana dari 9 Sea Lanes of
Communication (SLOC) laut di dunia ada 4 berada di
tata kelola laut Indonesia. Yang paling ramai
dibicarakan adalah Selat Malaka. Padahal Indonesia
tidak pernah mendapatkan keuntungan dari alur lintas
laut tersebut. Negara Singapura dan Malaysia sangat
menikmati arus uang yang masuk dan keluar melalui
lintasan Selat Malaka. Akan tetapi, dimanakah 3
selat lainnya?
Tiga selat lainnya yang dimaksudkan
adalah Selat Sunda, Selat Lombok dan Selat Makasar
dan Laut Sulawesi. Inilah pandangan Om Sam bahwa
Indonesia di Pacifik adalah Indonesia yang menghadap
ke Asia Timur dan Pasifik. Alasan-alasan mengapa
menghadap ke Pasifik sesungguhnya telah diramalkan
para ahli-ahli sejarah dan hubungan internasional
bahwa pada abad ke 21 nanti dunia akan berpaling
terhadap masalah-masalah di Pasifik.
Hal ini ditandai dengan pecahnya
Perang Pasifik, kebangkitan China, Jepang dan Korea
serta ketergantungan iklim dan arus laut pada
pusaran gelombang di Pasifik. Terbukti, saat ini
bahwa masih banyak masalah-masalah internasional
yang belum dapat dipecahkan di wilayah ini.
Contohnya, “one China Policy” (kebijakan mengakui
hanya ada satu China) dan Taiwan dianggap sebagai
Provinsi yang membangkang, Konflik Laut China
Selatan antara China, Filipina, Vietnam, dan
Malaysia, Uji coba senjata nuklir oleh China dan
Korea Utara di Semenanjung Asia, Perebutan daerah
tangkapan hasil laut di wilayah Laut China dan
Samudera Pasifik.
Coral Triangle dan WOC
Selanjutnya, untuk sumber daya alam
khususnya kelautan, Vietnam dan Thailand berebut
lahan tangkapan ikan. Indonesia dan Malaysia beradu
ekplorasi migas di kawasan Laut Sulawesi. Dan
saatnya nanti World Ocean Conference di Manado (Mei
2009), direncanakan negara-negara yang tergabung
dalam Coral Triangle (Indonesia, Timor Leste,
Filipina, Malaysia Papua New Guinea dan Kepulauan
Salomon) akan menandatangani Coral Triangle
Action Plan yang merupakan
rekomendasi Pertemuan Pertama Tingkat Menteri (First
Senior Official Meeting) 6-7 Desember 2007 di Bali.
Sesungguhnya, Coral Triangle
merupakan inisiatif Presiden RI Susilo Bambang
Yudhoyono dalam KTT APEC ke 15 di Sydney-Australia.
Presiden SBY menyampaikan ide menyelamatkan terumbu
karang di kawasan segitiga yang meliputi ke enam
wilayah di atas. Gagasan ini tertuang dalam Coral
Triangle Inisiative: Coral Reef, Fisheries and Food
Security. Inisiatif Presiden RI mendapat
sambutan positif para pemimpin dunia. Bahkan,
Presiden Bush berjanji akan memberikan bantuan
sebesar 20 milyar dolar dalam program CTI tersebut.
Jika demikian pentingnya, apa
urgensitas agenda Coral Triangle
Inisative (CTI) pada WOC 2009? Perlu diketahui,
kawasan segitiga terumbu karang merupakan kawasan
yang dikenal memiliki 600 species koral dan
merupakan 53% coral reefs dunia. Selain itu
merupakan tempat tumbuh dan pemijahan 3000 spesies
ikan serta hutan mangrove paling luas di dunia. Oleh
karena itu, dunia terancam kekurangan energi dan
pangan apabila penangkapan ikan secara besar-besaran
terjadi di daerah ini. Berdasarkan posisi Coral
Triangle yang berada di enam negara di Pasifik, maka
perlu ada kesamaan pandangan, tatalaku, konservasi
dan itikad baik dalam mengelola dan memenfaatkan
bagi kehidupan seluruh dunia. Untuk itulah,
penyelenggaraan WOC 2009, akan dimanfaatkan menjadi
penandatangan plan of action CTI.
Di samping itu, rencana perusahaan
penerbangan Lion Air yang akan membuka penerbangan
langsung dari negara-negara di Asia Timur dan
Pasifik adalah terobosan maju untuk Provinsi
Sulawesi Utara. Hal ini mengatasi kendala jumlah jam
penerbangan jika harus melalui Bandara Soekarno
Hatta. Untuk trip Shanghai-Jakarta-Manado
akan membutuhkan kurang lebih sembilan jam daripada
Shanghai-Manado yang ditempuh sekitar 5-6 jam.
Selain itu, jika menjadikan Bandara Soekarno-Hatta
sebagai transit para peserta Konferensi maka akan
memakan waktu yang agak panjang dan tentunya
mengeluarkan tambahan biaya inefisiensi.
Melihat peluang di atas, lengkaplah
bahwa Indonesia berada dalam pusaran abad Pasifik
dan seharusnya memiliki kecenderungan mengarah ke
Utara. Secara geostrategis, jika menengok di selatan
Pasific, ada armada ke 7 Pacifik AS yang masih siaga
menghadang Kapal Selam Rusia. Di ujung timur Pasifik
(Biak) tengah dibangun wahana peluncuran roket oleh
Rusia. Di utara Pasifik, ketegangan militer
negara-negara Asia Timur masih mengancam. Di selatan
juga, Australia tumbuh menjadi negara middle
power. Bahkan bukan hanya security by
military balance tetapi isu food security
juga bermuasal dari lautan Pasifik.
Untuk Indonesia, apakah isu-isu ini
di atas merupakan ancaman atau peluang? Sekali lagi,
menyoal Indonesia di Pasifik telah diramalkan oleh
Om Sam, Bung Karno juga Hatta dan Mohammad Yamin.
Para tokoh-tokoh pemikir tersebut telah menyimpulkan
walau bukan dalam bahasa yang sama. Bahwa Indonesia
di era Pasifik adalah kesempatan emas untuk berada
di puncak kejayaan. Yang saat ini belum ada, adalah
kemauan dan kerja keras. Sebelum jadi cooli (budak)
di negara sendiri diperlukan tekad dan kemandirian
bangsa. Etos kerja, kerjasama dan saling
“memanusiakan” adalah wujud orang-orang modern yang
ingin maju. Peluang itu, ada dalam setiap pribadi
manusia Indonesia. Tetapi apakah kita mau
menjalankannya???
Dengan mengetahui dua arus dunia yang
berkembang di Pasific, yakni arus uang dan arus laut,
sudah selayaknya kita menangkap peluang di depan
mata. Arus uang menghendaki adanya sikap tegas
user (pemerintah). Hal ini berarti good
governance dan transparancy.
Akuntabilitas publik dan integritas pemimpin harus
menampilkan corak yang bersih, bebas penyeludupan
dan bebas dari praktik mafia keuangan maupun
koruptor.
Selanjutnya, arus laut menghendaki
pengelolaan sumberdaya yang bertanggung-jawab.
Kepedulian terhadap lingkungan laut merupakan
jawaban untuk menjaga kelangsungan ketahanan potensi
sumber daya laut. Mekanisme pengelolaan bersama
menjadi upaya kerjasama semua pihak untuk menjaga
stabilitas pertumbuhan ekosistem laut. Bukan saja
itu, potensi transportasi laut perlu dikembangkan
untuk memenuhi kebutuhan jalur Asia Timur
Laut-Australia dan negara-negara Pacifik Selatan.
Tanpa penguatan pelabuhan yang memadai, kita tidak
dapat memanfaatkan jalur melingkar transpasifik yang
memotong arus Selat Malaka di sebelah Barat.
Akhirnya, Selamat Datang di Abad
Asia-Pasifik. Abad SI TOU TIMOU TUMOU TOU = Manusia
Hidup untuk Memanusiakan Manusia Lain!