|
Menjenguk Sejarah Pikat: Warisan
Mama Walanda Maramis
(Adaptasi dari buku “Ibu
Walanda-Maramis: Pejuang Wanita Minahasa”
karya Matuli
Maramis oleh: Harry Kawilarang)
Pengantar
Pembaca yang
budiman, beberapa waktu lalu seorang netter bertanya
apa itu singkatan PIKAT yang di dirikan oleh mama (skrap jo itu ibu)
Maria Walanda Maramis. Pertanyaan ini memaksa
kita ba bongkar kita pe perpustakaan ( di rak
buku khusus tentang Minahasa, dan
ketemu buku karya A.P. Matuli
Walanda berjudul “Ibu Walanda Maramis: Pejuang Wanita
Minahasa” (terbitan
Pustaka Sinar Harapan: 1983)
Mama Maria bertekad meraih cita-citanya untuk
memajukan kaumnya, anak-anak,
pembangunan dan peningkatan taraf pendidikan
wanita Minahasa. Cita-cita itu tergambar pada dasar organisasi
Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya, di dirikan
pada 8 Juli 1917 di Manado. Organisasi
ini di dirikan mama Maria untuk membagi pengalaman
dengan mama-mama Minahasa dalam mengasuh, membesarkan
dan menempa puteri-puteri, meningkatkan
semangat ethos belajar dengan meraih
pendidikan tinggi dan hidup mandiri.
Hal ini dilakukan mama Maria terhadap ketiga puterinya Kekek, Moetjie
dan Konda dengan dukungan suaminya, Josef Walanda yang berprofesi guru.
Menjenguk
Sejarah
“Ibu-ibu anggota Pengurus Besar PIKAT yang terhormat.
Kita harus memulai
pekerjaan kita yang sulit tetapi penting bagi generasi
penerus kita ini,………” Demikianlah
sambutan Mama Maria Walanda-Maramis pada saat didirikannya PIKAT.
Rintisan yang dilakukan Maria dan Josef untuk memasukkan
puteri-puteri
mereka ke sekolah rendah Belanda dimulai dengan
pengorbanan. Josef sempat kehilangan
pekerjaan dan dipecat karena
dituduh “memberontak” dengan memaksakan keinginan
memasukkan anak- anaknya
masuk sekolah Belanda, ELS (Europeesche Lagere School. Karena
waktu itu ELS sekolah tertutup
untuk pribumi yang hanya boleh masuk
sekolah desa. Padahal Josef adalah guru di sekolah
desa yang mengajar
bahasa Belanda dan mulanya ia menyangka bahwa baginya ada pengecualian.
Ternyata pengajuan surat permohonan untuk memasukkan
kedua puterinya, Moetji
dan Konda ditolak oleh pemerintah kolonial setempat. Ia heran karena
penolakan tidak ada alasan jelas. Ia tidak putus asa, dan dengan
dorongan Mama Maria, iapun
mengajukan permohonan kembali. Ternyata
sebagai jawaban permohonan ini, Josef di pecat. Cara
ini dilakukan sebagai
‘pelajaran’ atau ‘peringatan’ bagi pegawai negeri pribumi untuk
tidak menentang peraturan
pemerintah yang berlaku. Pemecatan memang tak
lama dan Josef memperoleh kembali
profesinya. Tetapi kali ini justeru
Josef bersikeras dan menyatakan bahwa rehabilitasi
itu hanya dapat
Diterimanya dengan syarat, kedua puterinya harus dapat diterima sebagai
murid-murid Kelas I. Sekalipun
harus dilalui dengan ujian langsung oleh
penguji-penguji orang Belanda, ternyata kedua
puterinya berhasil lulus
dengan hasil memuaskan, terutama menguasai bahasa Belanda
dengan fasih.
Setelah kedua puterinya menyelesaikan sekolah rendah,
giliran mama Maria
Memainkan perannya untuk meningkatkan pendidikan mereka
keluar Minahasa. Tetapi
tantangan yang di hadapinya adalah Josef, suaminya sendiri yang
tidak mengizinkan kedua anak
perempuannya melanjutkan pelajaran mereka,
apalagi jikalau mereka harus meninggalkan kampung
halaman dan pergi ke
Jawa. Mama Maria kemudian menemui kepala sekolah ELS, nona E.P.Zaalberg,
dan men “curhat” keinginannya
agar kedua puterinya dapat melanjutkan
studi mereka ke Jawa. Mama Maria berharap agar
Zaalberg mau bertemu dan
meyakinkan Josef agar mengizinkan anak gadisnya pergi ke Jawa untuk
melanjutkan pelajaran, dalam
usaha untuk mengangkat derajat wanita
Minahasa.. Hasilnya, Zaalberg setuju dan iapun
menemui Josef, ayah anak-anak.
Setelah melalui perdebatan sengit, Zaalberg berhasil meyakinkan
Josef dan menyetujui anaknya, Moetji boleh melanjutkan
studi ke Sekolah
Pendidikan Guru di Batavia (kini Jakarta). Moetjie pun
berangkat dengan
Tante Francine Rotinsulu, saudara sepupu Mama Maria yang
pada waktu
bersamaan juga pergi ke Batavia memasuki sekolah Kejuruan
Mode untuk
memperoleh ijazah sebagai modiste di Batavia. Sebagai
hasilnya, Moetjie
setelah mengikuti Sekolah Pendidikan Guru, berhasil
menggondol ijazah
yang dulu disebut, “Europeesche Lagere Akte,” yang
memenuhi syarat
untuk mengajar di sekolah rendah Belanda (Europeesche
Lagere School).
Setahun setelah Moetjie di Batavia, datanglah Konda,
adiknya yang juga
Ingin menjadi guru. Setelah lulus, mereka kembali ke
Manado.
Waktu itu terasa sekali aturan diskriminatif, sekalipun
telah meraih ijazah Pendidikan Guru Belanda,
tetapi karena kedua kakak-beradik ini
adalah pribumi, tidak boleh
mengajar di ELS setempat. Untuk itu
mengajar di Hollands Chinese School tujuh tahun yang
dibuka oleh pemerintah
kolonial Belanda di Manado.
Rintisan perjuangan mama Maria memberi hasil, dan sejak
saat itu banyak
Diantara gadis-gadis Minahasa pergi ke Jawa selain
melanjutkan ilmu di
Sekolah Pendidikan Guru, juga mulai ramai memasuki
sekolah kedokteran,
STOVIA (School Tot Opleiding van Indlandse Artsen), untuk
pribumi selama
Sembilan tahun. Yang menonjol pada waktu itu adalah Marie
Thomas, gadis
Asal Amurang yang meraih ijazah STOVIA pada tahun 1896
dan sekaligus
menjadi dokter wanita Indonesia pertama. Kemudian di
ikuti oleh Anna
Warouw, sedangkan D.Weydemuller adalah dokter lulusan
NIAS (Nederlands
Indische Artsen School) di Surabaya yang sekarang menjadi
Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga.
Organisasi PIKAT didirikan dalam usaha untuk memperoleh
modal guna
membangun sekolah kejuruan puteri, dimana gadis-gadis di
ajar oleh guru
bagaimana harus mengatur dan mengurus rumah-tangga
serapi-rapinya.
Tetapi untuk mendirikan memang tidak mudah, dan
menghadapi berbagai
Tantangan. Tetapi Bollegraaf, seorang pengusaha yang juga
dermawan
Sangat bersimpati dengan organisasi PIKAT setelah di
dekati oleh mama
Walanda-Maramis dan menjelaskan sasaran dan tujuannya.
Secara spontaan
Bolegraaf menyatakan kesediaannya mau membantu dan
sekaligus meminjamkan
sebuah rumah yang kemudian menjadi
asrama perempuan pada PIKAT hingga waktu
tidak terbatas. Sedangkan nona H. Sumolang ditunjuk sebagai
direktris PIKAT.
Di asrama ini mereka belajar memasak. Mereka harus
mencuci pakaian sendiri,
membersihkan tempat tidur dan mereka harus
mengurus,
membersihkan dan memelihara rumah dan pekarangan. Pada petang
hari gadis-gadis itu belajar menjahit, menyulam dan
merajut. Rencana
kerja yang lengkap serta kurikulum sederhana dibuat, dan
dua tahun
sesudah PIKAT di dirikan barulah sekolah yang di idamkan
dibuka resmi.
Konsep yang dituangkan mama Maria Walanda-Maramis pada
PIKAT mulai
mendapat hasil. Kemajuan sekolah dan pendidikan
mendatangkan hasil dan
mulai berproduksi. Berbagai jenis kue ataupun hasil
jahitan menjadi komoditi yang di jual kepada para anggota dan donatur.
Hasil ini mulai
menghidupkan PIKAT yang berkembang untuk memajukan
wanita Minahasa, dan
organisasi ini pun mampu menjadi mandiri (self-supporting). PIKAT
kemudian menjadi kebanggaan
bukan hanya pribumi Minahasa, tetapi semua orang
penduduk Manado. Bahkan Residen Manado, Kroon dan isteri beserta
turunan Eropa lainnya sangat
bersimpati kepada organisasi ini. Mama
Maria Walanda-Maramis dari Maumbi berhasil menggalang
rasa kebersamaan dengan
sesama kaum di masanya meningkatkan martabat wewene Minahasa
melalui PIKAT”
Bagaimana
Sekarang?
Karya Walanda-Maramis melalui PIKAT yang dilandasi oleh
aspirasi wanita
Minahasa patut mendapat perhatian, terutama dari generasi
Baby-Boomer
hingga Generasi X. Sudah waktunya para wewene
membangkitkan kembali
PIKAT yang mengalami “night mare” yang menimbulkan derita
berkepanjangan
terutama bagi wewene-wewene muda yang kehilangan
panutan. Sekalipun
situasi dan kondisi berbeda, tetapi paling tidak konsep peninggalan
mama Maria Walanda-Maramis
dapat menjadi titik tolak bagi kalangan
wewene sekarang yang masih perduli dan tetap
mempertahankan identitas
dan nilai-nilai moralitas Tou Minahasa. |