Artikel

 Home | About Us | Contact Us | Ads Info | Disclaimer | Statistik | Guest Book

Tumoutou.net

Check Your E-Mail

Tabea

Berita

Sulut

Nasional

Internasional

Kawanua Sejagat

Olahraga

Hiburan

Artikel

Politik & Sosial

Ekonomi/Keuangan

Sejarah

Budaya

Lingkungan

Kesehatan

Bahasa Daerah
English Section
N. Sulawesi Info
Rupa - Rupa

Surat Pembaca

Bakudapa

Forum Diskusi

Ba Grap

Berita Keluarga

Polling

Quiz

Media Link

Spesial Link

Foto Gallery

Member

Doi & Kurs

1 $ =

 

 

 

 Artikel--July 17, 2002

Menjenguk Sejarah Pikat: Warisan Mama Walanda Maramis

 

(Adaptasi dari buku “Ibu Walanda-Maramis: Pejuang Wanita Minahasa”

karya Matuli Maramis oleh: Harry Kawilarang)

 

Pengantar

 

Pembaca yang budiman, beberapa waktu lalu seorang netter bertanya apa itu singkatan PIKAT yang di dirikan oleh mama (skrap jo itu ibu) Maria Walanda Maramis. Pertanyaan ini memaksa kita ba bongkar kita pe perpustakaan ( di rak buku khusus tentang Minahasa, dan ketemu  buku karya A.P. Matuli

Walanda berjudul “Ibu Walanda Maramis: Pejuang Wanita Minahasa”  (terbitan Pustaka Sinar Harapan: 1983)

 

Mama Maria bertekad meraih cita-citanya untuk memajukan  kaumnya, anak-anak, pembangunan dan peningkatan taraf pendidikan wanita Minahasa. Cita-cita itu tergambar pada dasar organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya, di dirikan pada 8 Juli 1917 di  Manado. Organisasi ini di dirikan mama Maria untuk membagi pengalaman dengan mama-mama Minahasa dalam mengasuh, membesarkan dan menempa  puteri-puteri, meningkatkan semangat ethos belajar dengan meraih pendidikan tinggi dan hidup mandiri. Hal ini dilakukan mama Maria terhadap ketiga puterinya Kekek, Moetjie dan Konda dengan dukungan suaminya, Josef Walanda yang berprofesi guru.

 

 

Menjenguk Sejarah

 

“Ibu-ibu anggota Pengurus Besar PIKAT yang terhormat. Kita harus memulai pekerjaan kita yang sulit tetapi penting bagi generasi penerus kita ini,………” Demikianlah sambutan Mama Maria Walanda-Maramis pada saat didirikannya PIKAT.

 

Rintisan yang dilakukan Maria dan Josef untuk memasukkan  puteri-puteri mereka ke sekolah rendah Belanda dimulai dengan pengorbanan. Josef sempat kehilangan pekerjaan dan dipecat karena dituduh “memberontak” dengan memaksakan keinginan memasukkan anak- anaknya masuk sekolah Belanda, ELS (Europeesche Lagere School. Karena waktu itu ELS sekolah tertutup untuk pribumi yang hanya boleh masuk sekolah desa. Padahal Josef adalah guru di sekolah desa yang mengajar bahasa Belanda dan mulanya ia menyangka bahwa baginya ada pengecualian.

 

Ternyata pengajuan surat permohonan untuk memasukkan kedua puterinya, Moetji dan Konda ditolak oleh pemerintah kolonial setempat. Ia heran  karena penolakan tidak ada alasan jelas. Ia tidak putus asa, dan dengan dorongan Mama Maria, iapun mengajukan permohonan kembali. Ternyata sebagai jawaban permohonan ini, Josef di pecat. Cara ini dilakukan sebagai ‘pelajaran’ atau ‘peringatan’ bagi pegawai negeri pribumi untuk tidak menentang peraturan pemerintah yang berlaku. Pemecatan memang tak lama dan Josef memperoleh kembali profesinya. Tetapi kali ini justeru Josef bersikeras dan menyatakan bahwa rehabilitasi itu hanya dapat Diterimanya dengan syarat, kedua puterinya harus dapat diterima sebagai murid-murid Kelas I. Sekalipun harus dilalui dengan ujian langsung oleh penguji-penguji orang Belanda, ternyata kedua puterinya berhasil lulus dengan hasil memuaskan, terutama menguasai bahasa Belanda dengan fasih.

 

Setelah kedua puterinya menyelesaikan sekolah rendah, giliran mama Maria

Memainkan perannya untuk meningkatkan pendidikan mereka keluar Minahasa.  Tetapi tantangan yang di hadapinya adalah Josef, suaminya sendiri yang tidak mengizinkan kedua anak perempuannya melanjutkan pelajaran mereka, apalagi jikalau mereka harus meninggalkan kampung halaman dan pergi ke Jawa. Mama Maria kemudian menemui kepala sekolah ELS, nona E.P.Zaalberg, dan men “curhat” keinginannya agar kedua puterinya dapat melanjutkan studi mereka ke Jawa. Mama Maria berharap agar Zaalberg mau bertemu dan meyakinkan Josef agar mengizinkan anak gadisnya pergi ke Jawa untuk melanjutkan pelajaran, dalam usaha untuk mengangkat derajat wanita Minahasa.. Hasilnya, Zaalberg setuju dan iapun menemui Josef, ayah anak-anak. Setelah melalui perdebatan sengit, Zaalberg berhasil meyakinkan

Josef dan menyetujui anaknya, Moetji boleh melanjutkan studi ke Sekolah

Pendidikan Guru di Batavia (kini Jakarta). Moetjie pun berangkat dengan

Tante Francine Rotinsulu, saudara sepupu Mama Maria yang pada waktu

bersamaan juga pergi ke Batavia memasuki sekolah Kejuruan Mode untuk

memperoleh ijazah sebagai modiste di Batavia. Sebagai hasilnya, Moetjie

setelah mengikuti Sekolah Pendidikan Guru, berhasil menggondol ijazah

yang dulu disebut, “Europeesche Lagere Akte,” yang memenuhi syarat

untuk mengajar di sekolah rendah Belanda (Europeesche Lagere School).

Setahun setelah Moetjie di Batavia, datanglah Konda, adiknya yang juga

Ingin menjadi guru. Setelah lulus, mereka kembali ke Manado.

 

Waktu itu terasa sekali aturan diskriminatif, sekalipun telah meraih ijazah Pendidikan Guru Belanda, tetapi karena kedua kakak-beradik ini adalah pribumi, tidak boleh mengajar di ELS setempat. Untuk itu mengajar di Hollands Chinese School tujuh tahun yang dibuka oleh pemerintah kolonial Belanda di Manado.

 

Rintisan perjuangan mama Maria memberi hasil, dan sejak saat itu banyak

Diantara gadis-gadis Minahasa pergi ke Jawa selain melanjutkan ilmu di

Sekolah Pendidikan Guru, juga mulai ramai memasuki sekolah kedokteran,

STOVIA (School Tot Opleiding van Indlandse Artsen), untuk pribumi selama

Sembilan tahun. Yang menonjol pada waktu itu adalah Marie Thomas, gadis

Asal Amurang yang meraih ijazah STOVIA pada tahun 1896 dan sekaligus

menjadi dokter wanita Indonesia pertama. Kemudian di ikuti oleh Anna

Warouw, sedangkan D.Weydemuller adalah dokter lulusan NIAS (Nederlands

Indische Artsen School) di Surabaya yang sekarang menjadi Fakultas

Kedokteran Universitas Airlangga.

 

Organisasi PIKAT didirikan dalam usaha untuk memperoleh modal guna

membangun sekolah kejuruan puteri, dimana gadis-gadis di ajar oleh guru

bagaimana harus mengatur dan mengurus rumah-tangga serapi-rapinya.

Tetapi untuk mendirikan memang tidak mudah, dan menghadapi berbagai

Tantangan. Tetapi Bollegraaf, seorang pengusaha yang juga dermawan

Sangat bersimpati dengan organisasi PIKAT setelah di dekati oleh mama

Walanda-Maramis dan menjelaskan sasaran dan tujuannya. Secara spontaan

Bolegraaf menyatakan kesediaannya mau membantu dan sekaligus meminjamkan sebuah rumah yang kemudian menjadi asrama perempuan pada PIKAT hingga  waktu tidak terbatas. Sedangkan nona H. Sumolang ditunjuk sebagai direktris PIKAT.

 

Di asrama ini mereka belajar memasak. Mereka harus mencuci pakaian sendiri, membersihkan tempat tidur dan mereka harus mengurus, membersihkan dan memelihara rumah dan pekarangan. Pada petang

hari gadis-gadis itu belajar menjahit, menyulam dan merajut. Rencana

kerja yang lengkap serta kurikulum sederhana dibuat, dan dua tahun

sesudah PIKAT di dirikan barulah sekolah yang di idamkan dibuka resmi.

Konsep yang dituangkan mama Maria Walanda-Maramis pada PIKAT mulai

mendapat hasil. Kemajuan sekolah dan pendidikan mendatangkan hasil dan

mulai berproduksi. Berbagai jenis kue ataupun hasil jahitan menjadi komoditi yang di jual kepada para anggota dan donatur. Hasil ini mulai menghidupkan PIKAT yang berkembang untuk memajukan wanita Minahasa, dan organisasi ini pun mampu menjadi mandiri (self-supporting). PIKAT kemudian menjadi kebanggaan bukan hanya pribumi Minahasa, tetapi semua  orang penduduk Manado. Bahkan Residen Manado, Kroon dan isteri beserta turunan Eropa lainnya sangat bersimpati kepada organisasi ini. Mama Maria Walanda-Maramis dari Maumbi berhasil menggalang rasa kebersamaan dengan sesama kaum di masanya meningkatkan martabat wewene Minahasa

melalui PIKAT”

 

Bagaimana Sekarang?

 

Karya Walanda-Maramis melalui PIKAT yang dilandasi oleh aspirasi wanita

Minahasa patut mendapat perhatian, terutama dari generasi Baby-Boomer

hingga Generasi X. Sudah waktunya para wewene membangkitkan kembali

PIKAT yang mengalami “night mare” yang menimbulkan derita berkepanjangan terutama bagi wewene-wewene muda yang kehilangan panutan. Sekalipun situasi dan kondisi berbeda, tetapi paling tidak konsep peninggalan mama Maria Walanda-Maramis dapat menjadi titik tolak bagi kalangan wewene sekarang yang masih perduli dan tetap mempertahankan identitas dan nilai-nilai moralitas Tou Minahasa.

World Cup

(Korsel/Japan)

2002 FIFA World Cup - Korea and Japan
Wawancara