“SUPER BLACK” DI TANGKOKO BATUANGUS
Oleh: Gina ‘Amanda’ Kussoy
Ketundaan kembali ke Jakarta pertengahan Mei lalu dari Manado, ternyata menambah satu pengalaman Eko-Tourism di Manado, kota kelahiranku. Kali ini ke Tangkoko-Batuangus, yang merupakan Gugusan Batu Hitam Angus ‘Super Black’, menghampar dari gunung ke laut, dari hasil lelehan Lava yang membeku dari letusan Gunung Tangkoko di sekitar thn 1839 atau sebelumnya (tidak ditemukan data yang pasti).

Gunung Batuangus
Rencana yang diatur secepat kilat tapi mulus, oleh teman pencinta ‘nature’ Saroyo, hanya dengan sekali angkat telpon, Saroyo langsung konfirmasikan dari seberang tempat duduk di Cafee Olala Mega Mall, selagi kami dan beberapa teman, sedang ‘ngafe’ santai Jumat malam itu, “Boat dan persiapan logistik sudah ok, besok pagi jam 9 kita ketemu di Tangkoko”, katanya mantap disela-sela obralan kami malam itu. Mempercepat ‘nongkong’ di Cafee malam itu, saya langsung bergegas pulang ke rumah Tomohon yang sekitar 30’ dari Manado, untuk persiapan besok paginya, berarti saya harus turun dari Tomohon sekitar jam 6 pagi, karena perjalanan dari Tomohon ke Bitung memakan waktu sekitar 1,5-2 jam, dengan perhitungan mampir kota Manado dulu.
Pagi-pagi benar Sabtu 17 Mei 2008, sekitar jam 6 pagi, seperti biasa, dengan semangat mengebu-gebu dan rasa penasaran dalam hati, saya ‘turun’ dari Tomohon, mampir ke Manado dulu untuk menjemput 2 teman netters yang join, kami langsung tancap gas ke Girian, Bitung. Rombongan kami, selain keluarga, juga teman netter yaitu Christy dan Jane (‘Friend’).

Sebagian Rombongan. Jane, Saroyo, Gina, Inna, Medy, Ribka
Kurang dari jam 9 pagi, kami telah sampai di Batuputih Tangkoko, tempat kami janjian ketemu Saroyo di basecampnya. Setiba disana, rupanya Saroyo sedang berada di pinggir laut, tempat ‘parkir’ boat yang akan kami naiki, sedang ‘loading logistik’ untuk bertamasya ke Batuangus dan sekitarnya, yang katanya, sekitar 1 jam dari Batuputih.
Air laut di pantai Batuputih, agak berombak pagi itu, kami rombongan ber-delapan, lima diantaranya perempuan, dengan agak susah payah satu-per-satu di ‘tarik’/dibantu naik boat, oleh teman2 laki-laki dalam rombongan , ambil ancang-ancang, cari-cari slak, dengan air se paha, untuk bisa naik di boat yang berukuran 10 orang itu yang terombang ambing dibawa ombak kesana kemari. Tante saya, yang sudah berumur 70-an tahun yang tadinya bersemangat ingin berwisata ke Batuangus, terpaksa mengurungkan niatnya, dan mundur teratur kembali ke ‘basecamp’ setelah melihat kita-kita yang masih muda, agak ‘setengah mati’ balumpa nae di atas Boat dengan air laut pasang dan beberapa dari kami sempat ‘tacolo’ di air.

Ancang-ancang naik boat dari Batuputih
Setelah semua naik dengan ‘selamat’, Medy pun men-start boatnya dengan kecepatan sedang berangsur cepat, meninggalkan dermaga batu putih, melaju ke tengah lautan mengarah ke Selat Lembeh. Saya mengambil tempat menghadap muka, di ‘buritan’ boat samping motor menempel, supaya pemandangan terbuka lebar, dan mata bebas lepas menyaksikan keindahan/keunikan tempat2 yang akan dilewati menuju Kampung Kasuwari (dlm bahasa setempat berarti Pohon Cemara) tempat lokasi lempengan2 Batu Angus terhampar. Teman2 lain ‘bersembunyi’ dibalik kabin boat dan duduk berhadap-hadapan karena ‘takut’ disengat matahari yang siang itu memcorong dengan ganasnya.

Sebagian ‘undercover’ (Silvan,Christy,Inna,Ribka,Jane,Saroyo), sebagian (Gina, Medy)‘open cover’
Sungguh unik dan indah, pemandangan yang kami lewati, setelah melewati hamparan pantai batu putih (yang saya datangi April lalu), kini, kita lewati dinding batu hitam sambung menyambung sepanjang pinggiran landai pegunungan di selang selingi dengan goa-goa batu yang menjorok ke dalam, ada dinding batu yang menyerupai muka manusia (tergambar mata, hidung, mulut), gugusan2 batu yang terhambur begitu saja ke tengah lautan, berbagai ukuran dari besar, sedang, kecil. Kecepatan perahu diperlambat, Medy (sang ‘nakhoda’) mendekatkan boat kami, ke salah satu Goa, tempat burung Walet (wallet non-komersil, bukan jenis wallet yang dibisniskan), dipancing dengan teriakan (bakuku), mendadak burung2 walet itu memencar berterbangan kesana kemari. Masih, pemandangan dinding2 bebatuan kami lewati, diantara rangkaian pengunungan Tangkoko, dan pada suatu sudut menyembul puncak Gunung Duasudara.

Puncak Gn. Duasudara (menyembul) – Goa Walet
bersambung di halaman 2