Berita

Artikel

Ranomawuri

Makatana

Timountalun

Topik Kawanua

Suara Kawanua

Plakat Kawanua

Profil Kawanua

Cirita Grap

Polling SL

News Link

 

 Berita Sulut: 5 Juni 2008

“SUPER BLACK” DI TANGKOKO BATUANGUS

Oleh: Gina ‘Amanda’ Kussoy

 

 Halaman 2 of 3  

 

Laut tenang dan teduh, dari pinggir boat, saya menatap kebawah birunya air laut dalam, yang hanya sekitar 60 cm, jarak pandang antara mata saya dan air laut dalam ini, diiringi deru mesin motor yang tepat tersandar di samping tempat saya duduk.  Kecepatan perahu diperlambat, dan kami mendekat melihat Menara Mercu Suar.

 

Mercu Suar

 

Tak jauh dari menara, setelah kurang lebih 1 jam kami melaut, dari kejauhan terlihat lingkaran buoys mengapung ternyata suatu kawasan Perusahaan Mutiara, Jepang, tempat pengembang-biakan Mutiara, didekat kampung tujuan kami Kampung Kasawari.  Saking ‘exited’nya, tak terasa, motor mesin telah dimatikan, Sultan melompat dari perahu, melego ‘tali kapal’ dan menambatkan di bibir pantai Kampung Kasawari. 

 

  

Bale-bale Om Kuntua Kasawari – Kampung Kasawari    

 

Di bale-bale depan rumah Om Kuntua Desa Kasawari, yang tuan rumahnya sedang melaut mencari ikan, kami membuka bekal ‘brunch’ nasi kuning dan sekedar berselonjor dan mengambil ancang-ancang persiapan untuk berjalan masuk kampung dan ke tempat Gugusan batu angus.

 

Jam 12.00 tepat, saat matahari tegak diatas kepala, kami berjalan masuk kampung Kasawari, panas menyengat, kami melewati jalanan pasir, menanjak, masuk desa yang ditumbuhi Pohon Kelapa disana sini, diantara rumah2 penduduk. Kami masuk keluar depan belakang rumah penduduk, sambil sekali2 menyapa penduduk kampung, yang mayoritas etnis Sangir, yang sedang bersantai di bale-bale, menyambut ramah kedatangan kami. Ciri khas rumah2 dikampung ini mempunyai bale-bale didepan rumahnya, yang terbuat mirip ‘sabuah’ dari bulu (bambu)  dan tempat duduk ‘para-para’. Walaupun jauh dari keramaian kota, anak2 muda desa sini, tak ketinggalan dengan perkembangan musik anak2 metropolitan, saya sempat ikut mengoyangkan kepala mengikuti irama lagu hip-hop group band Amerika terkenal, menghentak-hentak, saat melewati  sekumpulan pemuda desa itu. Rumah-rumah penduduk desa ini, berdiri tak beraturan, dalam suatu lahan besar terdiri beberapa rumah ‘sekena’nya, keliatan mereka hidup dalam komunitas keluarga.

 

 

Jalan Desa Kampung Kasawari

 

Kami berjalan menanjak, menyusuri jalanan kampung yang menyerupai ‘got/parit’ pasir selebar 1,5 meter, yang jauh dari layak disebut Jalan (desa).  Tepat di depan mata kami berdiri ‘Tembok’/Lereng Gunung batu hitam kombinasi dengan  rumput hijau, diatas sana.  Saroyo, menjemput salah seorang penduduk yang akan menjadi guide kami  ke  Batuangus. Ungke, pria berumur 29 tahun, dengan peda (golok) tersandang, membawa kami trus keluar kampung, masuk perkebunan penduduk, melewati padang tandus  berilalang, berjalan terus naik menunju lokasi.

 

Sungguh, saat yang ‘kurang tepat’ naik ke Bukit Batuangus ini di siang hari bolong (sekitar jam 12.30).  “Tunggu sadiki, panas nih…” ceplos salah satu wewene dalam rombongan yang sudah tak tahan, dengan muka yang memerah seperti kepiting rebus, ingin berteduh sejenak dibawah pohon rindang sambil menenggak ‘aqua’ di genggaman. Dan, memang semakin kami mendekat ke Bukit tujuan kami, semakin panas tak keruan yang kami rasakan menyembur di muka dan sekujur badan. Penyebab dari ‘panas’ selain panasnya matahari akan anda dapatkan jawabannya nanti.

 

Habitat Burung Rangkong

 

Dibawah pohon besar dan rindang, Saroyo, menghentikan langkah kami, dan menerangkan bahwa diatas pohon adalah habitat dari burung myna/jalak (bhs sangir: Sangelo), atau Ringkeng (dalam bahasa minahasa). Sambil mengambil napas dan kipas2 (karena panas) kami mendongok keatas melihat-lihat sekumpulan burung yang bertengger diatas pohon itu. “Ayo jalan lagi” kata Saroyo menyemangati kami, dengan ‘bujukan’, “Tuhhh dikit lagi, somo sampe”….dan benar, kali ini Saroyo “ngga ngibul”, pas dibalik ilalang bukit kecil, kami surprise dan terpesona dengan apa yang kami saksikan didepan mata……

 

Batu Angus (Background: Pantai)

 

Hamparan Gugusan Batu “Super Black” (Hitam Pekat) yang Hangus (Batu Angus)  terpecah-pecah tak beraturan dan tajam….membentuk aliran panjang sampai ke Pantai. Menurut Saroyo, Batuan ini adalah aliran Lava Gunung Berapi Tangkoko-Batuangus yang meletus sekitar 1839, seabad lebih yang lalu mengeras menjadi batu ‘Super Black” yang kemudian dengan berjalannya waktu mengalami pelapukan sehingga terpecah belah menjadi fragmen yang kecil2.

 

Batu Angus (backgound: Lereng Gn. Tangkoko)

 

Pemandangan disini indah nian, kami berdiri berpose dengan latar belakang laut biru dibawah sana, Selat Lembeh, membentang dengan latar pegunungan, dan apabila membelakangi laut, latar belakang Lereng Gunung Batuangus, dengan Lereng Batu hitam dan padang rumput hijau ….! Tak peduli dengan panasnya batu, tanpa beralas kaki, kami pelan-pelan merangkak ke bagian tengah hamparan Batu Angus yang tajam ini hanya untuk merasakan panasnya batu (lava gunung berapi ini). Rupanya, pengaruh panas dari batu angus ini, yang kami rasakan “Uap Panasnya’ di radius 1 kilometer dibawah sana.

 

Menurut Saroyo, disini tumbuh tumbuhan pioneer, kenapa disebut pioneer, karena tumbuhan itu yang pertama kali menginvasi lokasi yang sebelumnya kering gersang sehingga tidak memungkinkan tumbuhan lain utk hidup. Tumbuhan ‘extrim’ ini (hidup di alam panas) disekitar sini antara lain Pakis dan beberapa jenis Anggrek Hutan, naluri ‘wewene’ kami terbit, tanpa komando, kami seperti reflex mencabut Anggrek2 unik tadi untuk menambah koleksi bunga dirumah, lagi-lagi Saroyo, sang Pencinta Nature, menyambar; “ Eitsss….jangan dicabut, merusak ekosistem itu..” tapi kami para wewene seperti pura-pura tidak mendengar, dan tetap memetik beberapa jenis Anggrek sebagai kenang-kenangan.

 

Kami mengambil posisi, masing2 beristirahat sejenak, sambil memandang hamparan Batu ‘Super Black’ di depan mata. Yang pasti, kami cari posisi yang ‘strategis’, duduk dibatuan bawah pohon rindang yang teduh dan ditiup semilir angin laut.

 

Istirahat di Batuangus

 

Bersambung ke halaman 3