Berita

Artikel

Ranomawuri

Makatana

Timountalun

Topik Kawanua

Suara Kawanua

Plakat Kawanua

Profil Kawanua

Cirita Grap

Polling SL

News Link

 

 Ecotourism: 9 Juni 2008

EKSOTISME BATUANGUS

Oleh: Saroyo Sumarto

 

            Nama Batuangus memang tidak sepopuler Tangkoko, DuaSudara, ataupun Batuputih walaupun sebenarnya di kawasan ini tersimpan eksotisme yang luar biasa dan keberadaannya tidak mungkin dilepaskan dari kawasan konservasi di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Bahkan, eksotismenya sangat layak untuk dikembangkan sebagai salah satu tempat wisata alam andalan di Sulawesi Utara. Sebagian dari kawasan Batuangus merupakan bagian dari Cagar Alam Tangkoko-Batuangus dan bagian lainnya merupakan Taman Wisata Alam yang salah satu perannya memang diperuntukkan bagi kegiatan wisata alam. Namun sayang, sampai kini kawasan ini tidak dikembangkan, bahkan fasilitas kantor Departemen Kehutanan di sini tidak pernah lagi digunakan dan kondisinya sangat memprihatinkan, juga penginapan yang pernah dibangun sudah tidak pernah lagi digunakan.

 

 Gunung Batuangus

 

 Inti kawasan Batuangus yaitu Gunung Batuangus (450 dpl.) yang tampak gundul dan lerengnya dijejali oleh batu-batu hitam dan sedikit pepohonan seperti cemara. Ke arah timur laut gunung ini terdapat aliran lava mati yang meninggalkan bekas batuan beku yang sudah mengalami pelapukan yang membentang dari kaki bukit menuju pantai Selat Lembeh. Keberadan “batu angus” inilah nama kawasan ini berasal.

Batu-batu hitam tersebut merupakan batuan beku hasil lelehan lava Gunung Tangkoko yang meletus. Menurut catatan sejarah, Tangkoko meletus terakhir kali pada tahun 1839. Pada letusan tersebut atau juga letusan-letusan sebelumnya, menghasilkan aliran lava ke arah utara dan timur laut menuju Laut Maluku dan Selat Lembeh. Hasil bekuan dari lelehan lava yaitu barrier di garis pantai sepanjang Cagar Alam Tangkoko-Batuangus dan Taman Wisata Alam Batuangus berupa batu-batu berwarna hitam dan sedikit berwarna merah yang dapat berfungsi untuk menghalangi abrasi air laut dan membentuk goa-goa yang dihuni burung walet (Apodiformes) atau kelelawar (Microchiroptera) serta habitat bagi biota laut.

 

 

 Hamparan batuan beku di Taman Wisata Batuangus   dan Gua Batu, rumah burang walet

 

Dengan berjalannya waktu, batuan beku mengalami proses pelapukan dan terjadi fragmentasi membentuk fragmen-fragmen kecil. Prosen pelapukan alami yang dipicu oleh faktor fisik, kimia, dan biologi ini akan menghasilkan kondisi yang cocok sebagai habitat bagi tumbuhan pionir/perintis semacam lumut (Bryophyta). Dengan tumbuhnya lumut, maka akan memberikan kesempatan invasi tumbuh-tumbuhan lain yang lebih tinggi derajadnya seperti paku (Pteridophyta) dan tumbuhan berbunga (Spermatophyta), terutama beringin (Ficus) dan berbagai jenis anggrek (Orchidaceae). Lumut membantu melapukkan batuan dan sekaligus meningkatkan kelembaban tanah dan udara untuk lingkungan mikro serta memberikan unsur hara dan humus yang menciptakan kondisi yang cocok untuk pertumbuhan tumbuhan penginvasi berikutnya. Sebagian jenis paku dan anggrek tersebut sebenarnya merupakan tumbuhan epifit atau menempel pada kulit-kulit pohon, tetapi tampaknya permukaan batuan yang lapuk juga menciptakan habitat yang cocok bagi pertumbuhan epifit. Ekosistem khas di atas juga menjadi habitat bagi berbagai jenis hewan melata (reptil) dan burung.

 

Anggrek di Bataungus

 

Aktivitas vulkanik dari Gunung Tangkoko juga menciptakan geotermal di beberapa tempat, misalnya di Tanjung Rumesung di dalam kawasan Cagar Alam Tangkoko-Batuangus. Akibat dari aktivitas geotermal ini adalah munculnya sumber air panas dan aliran air tanah yang panas yang menuju Pantai Rumesung yang dapat dinikmati bagi mereka yang berenang atau bersnokeling di pantai ini. Bagi burung maleo (Macrocephalon maleo), aktivitas geotermal ini dimanfaatkan untuk menetaskan telurnya berukuran super besar ini. Maleo tidak mengerami telurnya, tetapi menguburnya di tanah atau pasir di dekat geotermal di Pantai Rumesung ini dan akan menetas setelah beberapa hari. Anak hasil tetasan burung ini akan menembus lapisan pasir atau tanah yang menguburnya untuk mencapai permukaan tanah dan langsung berlari atau terbang. Secara evolusi, spesies ini mempunyai perilaku pengeraman yang unik serta anak yang menetas sudah dilengkapi dengan organ-organ yang sempurna untuk terbang.

 

 

Lokasi peneluran maleo di Tanjung Rumesung

 

Letusan Tangkoko juga menciptakan perubahan ekosistem yang drastis di lereng utara dan timur laut kawasan ini. Hilangnya hutan hujan tropis primer di lokasi ini tidak pernah pulih setelah hampir 170 tahun dari letusan terakhirnya. Vegetasinya tidak pernah mencapai klimaks dan cenderung membentuk hutan sekunder dan semak belukar, serta padang-padang rumput. Tanah yang tandus, seringnya terjadi kebakaran, dan perusakan habitat oleh manusia tampaknya menjadi faktor penyebab suksesi vegetasi yang tidak pernah mencapai klimaks. Geotermal sering kali juga menyebabkan sedikitnya tumbuhan yang mampu bertahan pada tanah yang panas dan sering kali menyebabkan cepatnya kekeringan vegetasi. Walaupun demikian, lokasi ini telah menjadi habitat penting bagi rusa (Cervus timorensis), maleo, dan berbagai jenis burung.

Habitat yang ekstrim dan miskin hara di Batuangus menciptakan spot-spot hutan yang jarang yang justru dapat menjadi habitat bagi beberapa jenis burung dan menjadi tempat yang mudah untuk pengamatan burung terutama pada siang hari pada saat burung sedang beristirahat. Beberapa jenis burung yang ditemukan di lokasi ini adalah myna (Scissirostrum), rangkong (Rhyticeros cassidix), gagak (Corvus), dan lain sebagainya. Selain burung, di kawasan ini juga hidup yaki (Macaca nigra) dan tarsius (Tarsius spectrum).

Ancaman utama terhadap kelangsungan hidup satwa dan tumbuhan liar di Batuangus adalah perburuan liar, termasuk anggrek-anggrek yang cukup indah serta perusakan habitat dan penyerobotan lokasi untuk pertanian. Di lokasi ini sudah banyak ditanami kelapa. Menurut Yusman, seorang pemandu lokal yang menemani penulis pada saat mengunjungi Batuangus, masyarakat Kasawari, kampung terdekat dari Batuangus, tidak lagi memburu yaki sehingga pada saat-saat tertentu yaki bahkan berani mengunjungi pinggiran kampung mereka.

Untuk pengembangan kawasan ini sebagai daerah tujuan wisata alam dibutuhkan komitmen dari berbagai pihak terkait, terutama Departemen Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara sebagai pemegang otoritas pengelolaan, Dinas Pariwisata Kota Bitung, dan seluruh pelaku industri pariwisata. Pada akhirnya konsep pengelolaan dengan melibatkan masyarakat lokal akan menjadi kunci keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi.