EKSOTISME BATUANGUS
Oleh: Saroyo Sumarto
Nama
Batuangus memang tidak sepopuler Tangkoko, DuaSudara,
ataupun Batuputih walaupun sebenarnya di kawasan ini
tersimpan eksotisme yang luar biasa dan
keberadaannya tidak mungkin dilepaskan dari kawasan
konservasi di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Bahkan,
eksotismenya sangat layak untuk dikembangkan sebagai
salah satu tempat wisata alam andalan di Sulawesi
Utara. Sebagian dari kawasan Batuangus merupakan
bagian dari Cagar Alam Tangkoko-Batuangus dan bagian
lainnya merupakan Taman Wisata Alam yang salah satu
perannya memang diperuntukkan bagi kegiatan wisata
alam. Namun sayang, sampai kini kawasan ini tidak
dikembangkan, bahkan fasilitas kantor Departemen
Kehutanan di sini tidak pernah lagi digunakan dan
kondisinya sangat memprihatinkan, juga penginapan
yang pernah dibangun sudah tidak pernah lagi
digunakan.
Gunung
Batuangus
Inti kawasan Batuangus
yaitu Gunung Batuangus (450 dpl.) yang tampak gundul
dan lerengnya dijejali oleh batu-batu hitam dan
sedikit pepohonan seperti cemara. Ke arah timur laut
gunung ini terdapat aliran lava mati yang
meninggalkan bekas batuan beku yang sudah mengalami
pelapukan yang membentang dari kaki bukit menuju
pantai Selat Lembeh. Keberadan “batu angus” inilah
nama kawasan ini berasal.
Batu-batu hitam tersebut
merupakan batuan beku hasil lelehan lava Gunung
Tangkoko yang meletus. Menurut catatan sejarah,
Tangkoko meletus terakhir kali pada tahun 1839. Pada
letusan tersebut atau juga letusan-letusan
sebelumnya, menghasilkan aliran lava ke arah utara
dan timur laut menuju Laut Maluku dan Selat Lembeh.
Hasil bekuan dari lelehan lava yaitu barrier di
garis pantai sepanjang Cagar Alam Tangkoko-Batuangus
dan Taman Wisata Alam Batuangus berupa batu-batu
berwarna hitam dan sedikit berwarna merah yang dapat
berfungsi untuk menghalangi abrasi air laut dan
membentuk goa-goa yang dihuni burung walet (Apodiformes)
atau kelelawar (Microchiroptera) serta habitat bagi
biota laut.


Hamparan batuan beku di Taman Wisata Batuangus
dan Gua Batu, rumah burang walet
Dengan berjalannya waktu, batuan beku mengalami
proses pelapukan dan terjadi fragmentasi membentuk
fragmen-fragmen kecil.
Prosen pelapukan alami yang dipicu oleh faktor fisik,
kimia, dan biologi ini akan menghasilkan kondisi
yang cocok sebagai habitat bagi tumbuhan pionir/perintis
semacam lumut (Bryophyta). Dengan tumbuhnya lumut,
maka akan memberikan kesempatan invasi
tumbuh-tumbuhan lain yang lebih tinggi derajadnya
seperti paku (Pteridophyta) dan tumbuhan berbunga (Spermatophyta),
terutama beringin (Ficus) dan berbagai jenis
anggrek (Orchidaceae). Lumut membantu melapukkan
batuan dan sekaligus meningkatkan kelembaban tanah
dan udara untuk lingkungan mikro serta memberikan
unsur hara dan humus yang menciptakan kondisi yang
cocok untuk pertumbuhan tumbuhan penginvasi
berikutnya. Sebagian jenis paku dan anggrek tersebut
sebenarnya merupakan tumbuhan epifit atau menempel
pada kulit-kulit pohon, tetapi tampaknya permukaan
batuan yang lapuk juga menciptakan habitat yang
cocok bagi pertumbuhan epifit. Ekosistem khas di
atas juga menjadi habitat bagi berbagai jenis hewan
melata (reptil) dan burung.
Anggrek di Bataungus
Aktivitas vulkanik dari
Gunung Tangkoko juga menciptakan geotermal di
beberapa tempat, misalnya di Tanjung Rumesung di
dalam kawasan Cagar Alam Tangkoko-Batuangus. Akibat
dari aktivitas geotermal ini adalah munculnya sumber
air panas dan aliran air tanah yang panas yang
menuju Pantai Rumesung yang dapat dinikmati bagi
mereka yang berenang atau bersnokeling di pantai ini.
Bagi burung maleo (Macrocephalon maleo),
aktivitas geotermal ini dimanfaatkan untuk
menetaskan telurnya berukuran super besar ini. Maleo
tidak mengerami telurnya, tetapi menguburnya di
tanah atau pasir di dekat geotermal di Pantai
Rumesung ini dan akan menetas setelah beberapa hari.
Anak hasil tetasan burung ini akan menembus lapisan
pasir atau tanah yang menguburnya untuk mencapai
permukaan tanah dan langsung berlari atau terbang.
Secara evolusi, spesies ini mempunyai perilaku
pengeraman yang unik serta anak yang menetas sudah
dilengkapi dengan organ-organ yang sempurna untuk
terbang.
Lokasi peneluran maleo
di Tanjung Rumesung
Letusan Tangkoko juga
menciptakan perubahan ekosistem yang drastis di
lereng utara dan timur laut kawasan ini. Hilangnya
hutan hujan tropis primer di lokasi ini tidak pernah
pulih setelah hampir 170 tahun dari letusan
terakhirnya. Vegetasinya tidak pernah mencapai
klimaks dan cenderung membentuk hutan sekunder dan
semak belukar, serta padang-padang rumput. Tanah
yang tandus, seringnya terjadi kebakaran, dan
perusakan habitat oleh manusia tampaknya menjadi
faktor penyebab suksesi vegetasi yang tidak pernah
mencapai klimaks. Geotermal sering kali juga
menyebabkan sedikitnya tumbuhan yang mampu bertahan
pada tanah yang panas dan sering kali menyebabkan
cepatnya kekeringan vegetasi. Walaupun demikian,
lokasi ini telah menjadi habitat penting bagi rusa (Cervus
timorensis), maleo, dan berbagai jenis burung.
Habitat yang
ekstrim dan miskin hara di Batuangus menciptakan
spot-spot hutan yang jarang yang justru dapat
menjadi habitat bagi beberapa jenis burung dan
menjadi tempat yang mudah untuk pengamatan burung
terutama pada siang hari pada saat burung sedang
beristirahat. Beberapa jenis burung yang ditemukan
di lokasi ini adalah myna (Scissirostrum),
rangkong (Rhyticeros cassidix), gagak (Corvus),
dan lain sebagainya.
Selain burung, di kawasan ini juga
hidup yaki (Macaca nigra) dan tarsius (Tarsius
spectrum).
Ancaman utama terhadap kelangsungan hidup satwa dan
tumbuhan liar di Batuangus adalah perburuan liar,
termasuk anggrek-anggrek yang cukup indah serta
perusakan habitat dan penyerobotan lokasi untuk
pertanian. Di lokasi ini sudah banyak ditanami
kelapa. Menurut Yusman, seorang pemandu lokal yang
menemani penulis pada saat mengunjungi Batuangus,
masyarakat Kasawari, kampung terdekat dari Batuangus,
tidak lagi memburu yaki sehingga pada saat-saat
tertentu yaki bahkan berani mengunjungi pinggiran
kampung mereka.
Untuk
pengembangan kawasan ini sebagai daerah tujuan
wisata alam dibutuhkan komitmen dari berbagai pihak
terkait, terutama Departemen Kehutanan melalui Balai
Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara
sebagai pemegang otoritas pengelolaan, Dinas
Pariwisata Kota Bitung, dan seluruh pelaku industri
pariwisata. Pada akhirnya konsep pengelolaan dengan
melibatkan masyarakat lokal akan menjadi kunci
keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi.