|
Mempertahankan Bahasa ala Fritz
Lang
(excuse mwa, in dutch sprache,
please!)
Oleh : Steven Y Pailah
Pementasan konser film bisu berjudul ‘Der
mude Tod’ (Destiny atau Takdir) karya Fritz Lang
(1890-1976) mendapat antusias dari para penonton di
Gedung Kesenian Jakarta, 14 Mei 2008. Fritz Lang
menciptakan ‘Takdir’ tahun 1921 yang dimainkan Lil
Dagove, Walter Janssen dan Bernhard Goetzke. Fritz Lang
mengawali film ini dengan kisah romantis wanita muda (Lil
Dagove) yang mencari kekasihnya (Walter Janssen). Demi
cinta sejati, gadis ini mencari kekasihnya yang telah
dijemput ‘maut’. Akhirnya, gadis ini pun
bernegosiasi dengan ‘maut’ untuk mendapatkan kembali
kekasihnya. ‘Maut’ yang dalam tampilan Fritz Lang adalah
seorang pria abadi (Benhard Goetzke) berpakaian hitam
dengan hidung mancung dan berpenampilan bengis
mengajukan 3 syarat bagi sang gadis. Jika dapat
mempertahankan satu saja dari tiga batang lilin bernyala,
maka maut akan mengembalikan pria idamannya.
Dengan setingan Bagdad, Venedig dan
Peking, film bisu ini membawa penonton menimba adat,
tradisi dan perilaku orang-orang di tiga tempat berbeda.
Fritz Lang berhasil membangkitkan kesan realistis dan
adikodrati secara ekspresionis dan sangat memukau. Pada
akhir kisah film yang berdurasi 97 menit ini, akhirnya
sang gadis menemukan kekasihnya setelah ia memberikan
diri pada maut ketika menyelamatkan seorang bayi dari
ancaman api yang menghanguskan sebuah rumah sakit. Cinta
sejati yang dituntut Fritz Lang adalah pengorbanan cinta
itu sendiri. Memberikan diri dan membiarkan terbakar
demi menyelamatkan (bayi) sebuah kehidupan yang baru
dimulai merupakan syarat mengalahkan kekuasaan ‘maut’
yang kejam.
Hebatnya lagi, film bisu ini diiringi
‘Hanoi Philharmonic Orchestra’ dengan komposer Pierre
Oser dari Jerman. Dengan iringan orkestra yang
mendayu-dayu serta ketegangan yang romantis namun tragis,
Fritz Lang membawa medium komunikasi visual dan
musik yang membuatnya menjadi legenda 1920-an, mewakili
kelompok ekspresionis sepanjang masa.
Ada yang lucu sebelum pertunjukan di
mulai. Salah seorang gadis muda berwajah ‘indo-eropa’
duduk sebaris dan menghadap langsung para pemain
orkestra. Terlihat ia sibuk dengan handphone di
tangan. Tapi, ketika seorang panitia mendekatinya,
dengan bahasa Perancis yang fasih ia mengatakan sesuatu
kepada panitia tersebut. Hampir selama satu menit mereka
berdua terlibat percakapan, pas beda 2 kursi
belakang kuping kanan saya. Tiba-tiba terdengar ucapan
panitia (pria) mengatakan, “excuse mwa, in
dutch sprache, please!” Ya ampun, ternyata ketahuan
keduanya salah sambung alias ‘gak nyambung jek’.
Yang cewek berbahasa Perancis sedangkan panitia cowok
berbahasa Belanda.
Gilanya lagi, melihat ekspresi saya yang
terheran-heran, akhirnya cewek londo tersebut
mengatakan dengan aksen atau logat ke
barat-baratan kepada cowok itu, “maksud saya,
tolong ambilkan brosur film”. Serupa dengan iklan
tayangan televisi, dalam hati saya teriak keras “apa
kata dunia?”. Hancur. Hanya itu kesan pertama muncul
ketika kejadian tersebut melintas beberapa saat. Bisa
dibayangkan, jika semua orang berbicara dengan bahasa
berbeda pada konteks yang sama. Tabrakan tak terhindar
akan mengguncang linguafranca dan pasti
membingungkan. Aksentuasi modernitas dengan pemahaman
yang sempit atas penggunaan bahasa yang terbatas dan
terbata-bata akhirnya melumpuhkan makna komunikasi itu
sendiri.
Padahal, yang akan kita tonton nantinya
adalah film bisu yang hanya diiringi musik orkestra.
Kekuatan sutradara Fritz Lang sekali lagi, mengguncang
nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan serta cinta
mendalam seorang anak manusia. Dengan film bisu saja,
pesan dan pemaknaan yang kuat dari para aktor, menjadi
jembatan komunikasi bagi para penonton yang
hingga pulang berdecak kagum. Oleh karena itu, terlintas
dalam benak, kenapa percakapan ‘corrupt’ tadi
tidak diganti saja dengan mimik dan gerakan pantomim?
Mungkin akan jelas, jika hanya tangan yang mengudara
membentuk segi empat dan menunjukkan brosur di tangan
saya, sehingga panitia mengerti dengan jelas apa yang
diminta gadis tersebut.
Menyoal kejadian ‘geli’ tadi,
seorang ahli bahasa modern Dr. L Dicker pernah
membawakan praktikum bahasa di Manado, sekitar tahun
2001. Dicker melakukan simulasi bahasa yang cukup baik
dan tepat. Dengan bahasa ‘Ceko’ yang tidak dimengerti ia
memberi perintah. Intinya, jika dia bilang ‘pohachi’
= angkat tangan kanan. ‘Pokachu’ = angkat
tangan kiri. Sebaliknya, simulasi dilanjutkan dengan
tidak berkata apa-apa namun lawan bicara Dicker yang
mengatakan. Ketika Dicker mengangkat tangan kanan, seisi
ruangan berteriak ‘pohachi’. Kemudian Dicker
mengangkat tangan kiri seluruh hadirin berteriak ‘pohachu’.
Akhirnya, Dicker berkata, “kita semua telah sama-sama
paham” walaupun tidak mengerti apa arti bahasa asing
atau bahasa ‘Ceko’.
Mungkin ini juga yang dimaksudkan Fritz
Lang dalam film bisunya. Walaupun dalam nuansa film yang
menampilkan perbedaan budaya Timur Tengah, Eropa dan
Cina, akan tetapi cinta dan ketulusan serta melawan
maut adalah bahasa yang sama bagi seluruh umat
manusia. Kerapkali, manusia sok modern
menelanjangi keagungan bahasa itu sendiri. Dia berkata,
namun tidak memahami. Dia berbicara, tapi tidak
mendengarkan. Lebih aneh lagi, keduanya memiliki bahasa
ibu yang sama namun berbicara dua bahasa asing yang jauh
berbeda. Kepanikan modern inilah yang merusak struktur
logis bahasa itu sendiri.
Coba kita perhatikan sekali lagi
perkataan pria ini, “excuse mwa, in dutch
sprache, please!”. Kata ‘excuse mwa’ bisa
berupa ‘permisi’, ‘mohon maaf’ atau permintaan diri yang
bermakna ‘polite’ atau santun. Sedangkan ‘please’
mengandung dua pengertian yakni perintah yang halus dan
permintaan. Dalam struktur saja, sudah bertabrakan
apalagi silogisme bahasa yang berbeda dimana ‘excuse
mwa’ memiliki terminal ibu di Perancis dan ‘please’
digunakan di Inggris dan daratan Amerika. Dan lebih edan
lagi, ‘in dutch sprache’ adalah bentuk
pemberontakan atas bahasa ‘Napoleon’ maupun ‘Ratu
Inggris’.
Mungkin, bisa dimengerti ketika ingin
meminta supaya gadis berbahasa Perancis tersebut
melakukan kompensasi bahasa, yang keluar hanya ‘excuse
mwa’. Sedangkan pilihan atau tawaran yang dapat
membuat supaya komunikan-nya mengerti adalah ‘in
dutch sprache’. ‘Please’ muncul sebagai
alternatif jawaban, jika saya tidak mengerti Perancis
dan anda tidak bisa berbahasa Belanda, ada baiknya kita
berbahasa Inggris saja supaya mudah dimengerti keinginan
anda.
Kejadian-kejadian yang konyol ini
sesungguhnya menjadi kendala komunikasi dalam pertemuan
sehari-hari. Umumnya terjadi di lintasan metropolitan
maupun kota satelit yang akan berkembang. Tak jarang,
ungkapan-ungkapan keren tapi konyol hadir dalam
pidato-pidato para pejabat negara khususnya di
Indonesia. Masih lebih baik kita menggunakan satu
diantara 1500 bahasa daerah Nusantara daripada
menggunakan bahasa asing yang hancur.
Kenyataan memilukan ini akhirnya membawa dampak pada
kualitas dan kuantifikasi penggunaan bahasa yang
sembrono dan berulang-ulang kesalahannya.
Boleh dikata, bahasa mengalami
pemberontakan oleh penggunanya. Pemberontakan tersebut
tidak saja menghancurkan struktur maupun frase bahasa
melainkan menggembosi ‘tata nilai dan tata guna’
kekayaan bahasa itu sendiri. Oleh sebab itu,
mempertahankan bahasa layaknya mempertahankan nilai
budaya, sejarah dan keaslian penggunaannya. Bahasa
adalah keseluruhan sistem simbol, masyarakat,
adat-istiadat, pola pikir, dan nilai bangsa. Bahasa
adalah nasionalisme dan aliran darah bagi patriotisme
verbal untuk komunikasi antar bangsa. Sekali
menghancurkan bahasa sama halnya dengan melacurkan diri
atas tata karma manusia itu sendiri. Kita bisa saja
menguasai seribu bahasa ‘setan’ sekalipun, akan
tetapi jangan sampai berkata ‘excuse mwa, in
dutch sprache, please!’ karena itu akan dianggap ‘tabu
berbahasa’ dan merupakan hal yang sangat memalukan
sekaligus memilukan!!! Akhirnya, please donk ah…
|