Berita

Artikel

Ranomawuri

Makatana

Timountalun

Topik Kawanua

Suara Kawanua

Plakat Kawanua

Profil Kawanua

Cirita Grap

Polling SL

News Link

 

 Artikel: 10 Juni 2008

Mempertahankan Bahasa ala Fritz Lang

(excuse mwa, in dutch sprache, please!)

Oleh : Steven Y Pailah

 

Pementasan konser film bisu berjudul ‘Der mude Tod’ (Destiny atau Takdir) karya Fritz Lang (1890-1976) mendapat antusias dari para penonton di Gedung Kesenian Jakarta, 14 Mei 2008. Fritz Lang menciptakan ‘Takdir’ tahun 1921 yang dimainkan Lil Dagove, Walter Janssen dan Bernhard Goetzke. Fritz Lang mengawali film ini dengan kisah romantis wanita muda (Lil Dagove) yang mencari kekasihnya (Walter Janssen). Demi cinta sejati, gadis ini mencari kekasihnya yang telah dijemput ‘maut’. Akhirnya, gadis ini pun bernegosiasi dengan ‘maut’ untuk mendapatkan kembali kekasihnya. ‘Maut’ yang dalam tampilan Fritz Lang adalah seorang pria abadi (Benhard Goetzke) berpakaian hitam dengan hidung mancung dan berpenampilan bengis mengajukan 3 syarat bagi sang gadis. Jika dapat mempertahankan satu saja dari tiga batang lilin bernyala, maka maut akan mengembalikan pria idamannya.

 

Dengan setingan Bagdad, Venedig dan Peking, film bisu ini membawa penonton menimba adat, tradisi dan perilaku orang-orang di tiga tempat berbeda. Fritz Lang berhasil membangkitkan kesan realistis dan adikodrati secara ekspresionis dan sangat memukau. Pada akhir kisah film yang berdurasi 97 menit ini, akhirnya sang gadis menemukan kekasihnya setelah ia memberikan diri pada maut ketika menyelamatkan seorang bayi dari ancaman api yang menghanguskan sebuah rumah sakit. Cinta sejati yang dituntut Fritz Lang adalah pengorbanan cinta itu sendiri. Memberikan diri dan membiarkan terbakar demi menyelamatkan (bayi) sebuah kehidupan yang baru dimulai merupakan syarat mengalahkan kekuasaan ‘maut’ yang kejam.

 

Hebatnya lagi, film bisu ini diiringi ‘Hanoi Philharmonic Orchestra’ dengan komposer Pierre Oser dari Jerman. Dengan iringan orkestra yang mendayu-dayu serta ketegangan yang romantis namun tragis, Fritz Lang membawa medium komunikasi visual dan musik yang membuatnya menjadi legenda 1920-an, mewakili kelompok ekspresionis sepanjang masa.

 

Ada yang lucu sebelum pertunjukan di mulai. Salah seorang gadis muda berwajah ‘indo-eropa’ duduk sebaris dan menghadap langsung para pemain orkestra. Terlihat ia sibuk dengan handphone di tangan. Tapi, ketika seorang panitia mendekatinya, dengan bahasa Perancis yang fasih ia mengatakan sesuatu kepada panitia tersebut. Hampir selama satu menit mereka berdua terlibat percakapan, pas beda 2 kursi belakang kuping kanan saya. Tiba-tiba terdengar ucapan panitia (pria) mengatakan, “excuse mwa, in dutch sprache, please!” Ya ampun, ternyata ketahuan keduanya salah sambung alias ‘gak nyambung jek’. Yang cewek berbahasa Perancis sedangkan panitia cowok berbahasa Belanda.

 

Gilanya lagi, melihat ekspresi saya yang terheran-heran, akhirnya cewek londo tersebut mengatakan dengan aksen atau logat ke barat-baratan kepada cowok itu, “maksud saya, tolong ambilkan brosur film”. Serupa dengan iklan tayangan televisi, dalam hati saya teriak keras “apa kata dunia?”. Hancur. Hanya itu kesan pertama muncul ketika kejadian tersebut melintas beberapa saat. Bisa dibayangkan, jika semua orang berbicara dengan bahasa berbeda pada konteks yang sama. Tabrakan tak terhindar akan mengguncang linguafranca dan pasti membingungkan. Aksentuasi modernitas dengan pemahaman yang sempit atas penggunaan bahasa yang terbatas dan terbata-bata akhirnya melumpuhkan makna komunikasi itu sendiri.

Padahal, yang akan kita tonton nantinya adalah film bisu yang hanya diiringi musik orkestra. Kekuatan sutradara Fritz Lang sekali lagi, mengguncang nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan serta cinta mendalam seorang anak manusia. Dengan film bisu saja, pesan dan pemaknaan yang kuat dari para aktor, menjadi jembatan komunikasi bagi para penonton yang hingga pulang berdecak kagum. Oleh karena itu, terlintas dalam benak, kenapa percakapan ‘corrupt’ tadi tidak diganti saja dengan mimik dan gerakan pantomim? Mungkin akan jelas, jika hanya tangan yang mengudara membentuk segi empat dan menunjukkan brosur di tangan saya, sehingga panitia mengerti dengan jelas apa yang diminta gadis tersebut. 

 

Menyoal kejadian ‘geli’ tadi, seorang ahli bahasa modern Dr. L Dicker pernah membawakan praktikum bahasa di Manado, sekitar tahun 2001. Dicker melakukan simulasi bahasa yang cukup baik dan tepat. Dengan bahasa ‘Ceko’ yang tidak dimengerti ia memberi perintah. Intinya, jika dia bilang ‘pohachi’ = angkat tangan kanan. ‘Pokachu’ = angkat tangan kiri. Sebaliknya, simulasi dilanjutkan dengan tidak berkata apa-apa namun lawan bicara Dicker yang mengatakan. Ketika Dicker mengangkat tangan kanan, seisi ruangan berteriak ‘pohachi’. Kemudian Dicker mengangkat tangan kiri seluruh hadirin berteriak ‘pohachu’. Akhirnya, Dicker berkata, “kita semua telah sama-sama paham” walaupun tidak mengerti apa arti bahasa asing atau bahasa ‘Ceko’.

 

Mungkin ini juga yang dimaksudkan Fritz Lang dalam film bisunya. Walaupun dalam nuansa film yang menampilkan perbedaan budaya Timur Tengah, Eropa dan Cina, akan tetapi cinta dan ketulusan serta melawan maut adalah bahasa yang sama bagi seluruh umat manusia. Kerapkali, manusia sok modern menelanjangi keagungan bahasa itu sendiri. Dia berkata, namun tidak memahami. Dia berbicara, tapi tidak mendengarkan. Lebih aneh lagi, keduanya memiliki bahasa ibu yang sama namun berbicara dua bahasa asing yang jauh berbeda. Kepanikan modern inilah yang merusak struktur logis bahasa itu sendiri.

 

Coba kita perhatikan sekali lagi perkataan pria ini, “excuse mwa, in dutch sprache, please!”. Kata ‘excuse mwa’ bisa berupa ‘permisi’, ‘mohon maaf’ atau permintaan diri yang bermakna ‘polite’ atau santun. Sedangkan ‘please’ mengandung dua pengertian yakni perintah yang halus dan permintaan. Dalam struktur saja, sudah bertabrakan apalagi silogisme bahasa yang berbeda dimana ‘excuse mwa’ memiliki terminal ibu di Perancis dan ‘please’ digunakan di Inggris dan daratan Amerika. Dan lebih edan lagi, ‘in dutch sprache’ adalah bentuk pemberontakan atas bahasa ‘Napoleon’ maupun ‘Ratu Inggris’.

 

Mungkin, bisa dimengerti ketika ingin meminta supaya gadis berbahasa Perancis tersebut melakukan kompensasi bahasa, yang keluar hanya ‘excuse mwa’. Sedangkan pilihan atau tawaran yang dapat membuat supaya komunikan-nya mengerti adalah ‘in dutch sprache’. ‘Please’ muncul sebagai alternatif jawaban, jika saya tidak mengerti Perancis dan anda tidak bisa berbahasa Belanda, ada baiknya kita berbahasa Inggris saja supaya mudah dimengerti keinginan anda.

 

Kejadian-kejadian yang konyol ini sesungguhnya menjadi kendala komunikasi dalam pertemuan sehari-hari. Umumnya terjadi di lintasan metropolitan maupun kota satelit yang akan berkembang. Tak jarang, ungkapan-ungkapan keren tapi konyol hadir dalam pidato-pidato para pejabat negara khususnya di Indonesia. Masih lebih baik kita menggunakan satu diantara 1500 bahasa daerah Nusantara daripada menggunakan bahasa asing yang hancur. Kenyataan memilukan ini akhirnya membawa dampak pada kualitas dan kuantifikasi penggunaan bahasa yang sembrono dan berulang-ulang kesalahannya.

 

Boleh dikata, bahasa mengalami pemberontakan oleh penggunanya. Pemberontakan tersebut tidak saja menghancurkan struktur maupun frase bahasa melainkan menggembosi ‘tata nilai dan tata guna’ kekayaan bahasa itu sendiri. Oleh sebab itu, mempertahankan bahasa layaknya mempertahankan nilai budaya, sejarah dan keaslian penggunaannya. Bahasa adalah keseluruhan sistem simbol, masyarakat, adat-istiadat, pola pikir, dan nilai bangsa. Bahasa adalah nasionalisme dan aliran darah bagi patriotisme verbal untuk komunikasi antar bangsa. Sekali menghancurkan bahasa sama halnya dengan melacurkan diri atas tata karma manusia itu sendiri. Kita bisa saja menguasai seribu bahasa ‘setan’ sekalipun, akan tetapi jangan sampai berkata ‘excuse mwa, in dutch sprache, please!’ karena itu akan dianggap ‘tabu berbahasa’ dan merupakan hal yang sangat memalukan sekaligus memilukan!!! Akhirnya, please donk ah