Berita

Artikel

Ranomawuri

Makatana

Timountalun

Topik Kawanua

Suara Kawanua

Plakat Kawanua

Profil Kawanua

Cirita Grap

Polling SL

News Link

 

 Berita Sulut: 11 Juni 2008

 

Pemprov Sulut Perjuangkan Bebas Pajak Bagi Peserta

Sail Bunaken 2009 Hadirkan Kapal Perang Mancanegara

Laporan: Budi H Rarumangkay

 

 

MANADO, Sulutlink. Tahun 2009 mendatang, daerah kita benar-benar membooming ! Betapa tidak, usai pelaksanaan World Ocean Conference (WOC) pada bulan Mei, kembali daerah kita didatangi ribuan warna mancanegara peserta Sail Bunaken yang akan diselengarakan pada bulan Agustus 2009. Menurut Kadis Perikanan dan Kelautan Sulut Ir Xandra Lalu, pemprov Sulut sudah sangat siap melaksanakan hajatan tersebut. Pun pada tanggal 18 Juni 2008 ini, akan ada rapat lanjutan di Jakarta terkait pelaksanaan Sail Bunaken, dimana pemprov Sulut dimintakan untuk mempresentasikan sejauh mana kesiapan di daerah.

 

“Selain itu, pemprov Sulut sedang memperjuangkan bebas pajak untuk bea masuk kapal dari peserta. Kami sudah menyurat ke Menkeu. Yang pasti daerah kita sangat siap melaksanakan hajatan ini,”terangnya pada sulutlink, Selasa (10/06), seraya menambahkan, Sail Bunaken 2009 merupakan rentetan pelaksanaan Sail Indonesia 2008 yang akan dilaksanakan bersamaan dengan Festival Internasional Pemuda Olahragaa Bahari tahun ini.

 

Sementara itu, Drs Roy Tumiwa Karo Tata Pemerintahan dan Hubmas Sulut yang juga merupakan salah satu personil panitia lokal mengatakan, untuk Rally Perahu Layar akan dilepas dari Darwin Australia kemudian Finish di Bunaken. Sedangkan peserta rally kapal perang akan diikuti sekitar 30 negara sahabat. Kesiapan daerah juga sudah dipantau Menteri DKP dan Kasal TNI dengan langsung melihat dari dekat keadaan Kota Manado dan Kota Bitung sebagai lokasi tempat pelaksanaan.

 

Sebelumnya, dalam rapat koordinasi bersama dengan Menteri Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) RI, Freddy Numberi dan Kasal TNI Laksmana Sumarjono di auditorium Bank Indonesia Manado, pada tanggal 7 Mei 2008 lalu, Numberi menegaskan agar pelaksanaan Sail Bunaken 2009 harus sukses. Demikian juga dengan Sumarjono. Orang nomor satu di jajaran TNL Angkatan Laut RI tersebut, mengatakan, pelaksanaan Sail Bunaken menjadi tolok ukur keberadaan Angkatan Laut RI . Pasalnya, dalam Sail Bunaken selain ada Rally Kapal Pesiar (Yacht Rally), Perahu Layar (Sailing Pass), Kejuaraan Menyelam (Diving Tournament) juga ada Rally Kapal Perang (War Ship).

 

“Penyelenggaraan parade dan pameran armada angkatan laut (Fleet) Review), perahu layar (Sailing pass) dan kunjungan masyarakat umum dan pelajar ke kapal (open ships) dilaksanakan di Bitung. Sedangkan penyelenggaraan pertunjukan menyelam dilaksanakan di Bunekan. Untuk penyelenggaraan pertunjukan Budaya (cultural shows) pameran (exhibition), gala dinner dan carnaval di Manado,”terang Numberi seraya menambahkan Sail Bunaken akan diselenggarakan pada tanggal 12 – 20 Agustus 2009 ini bertemakan; “Jaga Laut untuk Generasi Mendatang” - Safe Guard Our Ocean For The Future Generation.

 

Gubernur Drs Sinyo Harry Sarundajang (SHS), sendiri menyatakan, pemerintah dan masyarakat Sulut sunggu berbangga dan berterimaksih atas rencana pelaksanaan iven internasional Sail Bunaken 2009. karena hal itu merupakan wujud kepedulian dan perhatian sekaligus pengakuan pemerintah dan TNI Angkatan Laut RI terhadap pengembangan potensi dan kekayaan wilayah laut Indonesia dan Sulut khususnya dalam berbagai dinamika pembangunannya, sekaligus untuk menjaga keutuhan NKRI sebagai negara kepulauan (Archipelago State).
 

Dikatakan Gubernur, dari perspektif geoposisi dan geostrategis, pelaksanaan Sail Bunaken 2009, yang merupakan mata rantai dari iven Sail Indonesia 2008, memiliki makna yang strategis bagi pengembangan wilayah kepulauan Indonesia dan Sulut khususnya. Hal ini karena geoposisi Sulut berada pada lokasi strategis di Tepian Pasifik (PasificRim) yang merupakan Border Zone jalur perdagangan yang sangat prospek dalam lingkup regional dan internasional, dimana jaraknya relatif lebih dekat ke beberapa pusat pertumbuhan ekonomi dunia, seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia Timur dan Amerika Serikat, Amerika Utara dan Tengah.

 

Disamping itu, secara geopolitik Sulut merupakan salah satu dari 7 provinsi kepulauan di Indonesia dengan 286 pulau, 99 pulau berpenghuni dan 159 pulau belum berpenghuni, serta memiliki 11 pulau terluar atau terdepan, yang langsung berbatasan dengan negara tetangga Philipina, yaitu Pulau Miangas dan Pulau Marore. “Kondisi wilayah seperti ini secara geopolitik menuntut adanya kepekaaan dan perhatian akstra dari aspek pertahanan dan keamanan wilayah. Dalam konteks ini, iven Sail Bunaken 2009 ini akan semakin memperkuat sistem pertahanan dan keamanan wilayah kepulauan, serta memperkokoh eksistensi Indonesia sebagai negara kepulauan,”jelas Gubernur.
 

Sedikitnya ada 5 point penting yang dipaparkan SHS terkait makna strategis kelauatan dalam kehidupan bangsa Indonesia dan hubungannya dengan pelaksanaan Sail Bunaken 2009. Pertama: Bahwa pelaksanaan Sail Bunaken 2009 merupakan iven yang sangat strategis bagi pengembangan Indonesia dalam eksistensinya sebagai negara kepulauan ( Archipelago State ) yang telah diakui dunia. Pengakuan dunia ini telah melewati proses sejarah, ketika munculnya “Deklarasi Djuanda” pada tahun 1957 yang memandang laut merupakan satu keutuhan wilayah dengan daratan, sebagai implementasi Wawasan Nusatara. Sesungguhnya, deklarasi Djuanda ini menjadi titik penegasan kembali kebangkitan Indonesia sebagai Bangsa Maritim.

 

Kedua: Gagasan Negara Kepulauan (Archipelago State), berhasil diakui dalam konvensi PBB tentang hukum laut (United Nation Conservation on The Law of The Sea- UNCLOS), pada tahun 1982, yang ditindaklanjuti dengan Undang-Undang nomor 17 tahun 1985, yang berlaku sebagai hukum positif sejak 16 November 1994. Ketiga; selanjutnya munculnya “ Dekalrasi Bunaken” tahun 1998 semakin menegaskan bahwa laut merupakan peluang, tantangan dan harapan untuk masa depan persatuan, kesatuan dan pembangunan Indonesia . Isu tentang kelautan semakin menggema dengan munculnya” Seruan Sunda Kelapa” tahun 2001, yang mengajak seluruh komponen bangsa untuk membangun kembali maritim Indonesia dengan wawasan bahari, menegakan kedaualatan nyata di laut, mengembangkan industri maritim, wilayah pesisir, laut dan pulau kecil, serta sistem hukum nasional di bidang maritim.

 

Keempat; Dalam paradigma tersebut, wilayah kepulauan dalam konteks negara kesatuan republik Indonesia, merupakan Garda terdepan penjaga kedaulatan dan cermin Harga Diri Bangsa, serta merupakan security belt yang menjadi benteng bagi tetap tegaknya NKRI. Karena itu, wilayah kepulauan sebagai suatu realitas politik sosial, ekonomi dan hankam, perlu mendapat perhatian dalam kerangka keutuhan NKRI, antara lain dengan pelaksanaan iven Sail Indonesia 2008 maupun Sail Bunaken 2009 yang beriringan dengan pelaksanaan World Ocean Conference. Kelima; Sail Bunaken 2009 sebagai iven wisata bahari internasional dan World Ocean Conference 2009 sebagai iven para stakeholderss kelautan internasional untuk membangun komitmen terhadap penyelamatan laut dunia bagi kepentingan masa depan umat manusia, sesungguhnya akan menjadi momentum strategis sebagai faktor pendorong kemajuan dan pengembangan pariwisata Sulut dan Indonesia ke depan. Hal ini berjalan sinergis dengan kebijakan pemerintah yang telah menetapkan Sulut sebagai salah satu dari lima daerah Destinasi Unggulan Pariwisata di Indonesia , dan salah satu dari sepuluh provinsi penyelenggara iven MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exchibition).

 

“ Dalam kaitan itu, panitia pusat dan panitia daerah telah melakukan berbagai persiapan untuk mensukseskan pelaksanaan kedua iven tersebut. Kesuksesan gelaran internasional ini akan sangat ditentukan oleh kerja kita bersama, dan kiranya sinergitas yang tinggi dan saling koordinasi akan semakin terbangun. Karena sesungguhnya harapan besar telah nampak di seberang 2009, yaitu; kemajuan, kebangkitan pariwisata Sulut pada khususnya dan Indonesia pada umumnya,”terang SHS.