|
Seho: Bio Energi dan
Pilihan Pariwisata WOC
Oleh: Steven Y Pailah
Pohon Seho
dikenal dengan nama pohon enau, aren atau
literatur latin menyebutnya ‘Arenga Pinnata’. Di
Manado dan Batak, hasil pohon ini dijadikan "saguer,
tuak, arak” yang memiliki kandungan
alkohol / ethanol melalui proses fermentasi. Sebagai
minuman khas tradisional, desa-desa di bagian Minahasa
Selatan sudah memproduksi secara masal, baik tiap rumah
tangga dalam kemasan tradisional. ‘Cap tikus’ nama lain
produk ini menjadi ‘barang ekonomi’ bagi masyarakat
setempat dan pabrik pembuat minuman beralkhohol.
Hingga kini, berkat
penjualan ala tradisional ‘cap tikus’ maka sebuah
kampung di Minahasa dapat menyekolahkan putra-putrinya
hingga sarjana. Bahkan, usaha kecil masyarakat ini dapat
menembus pasar lokal dan internasional di tahun 1990an.
Menjadi pertanyaan, mengapa pohon seho hanya dijadikan
miras ‘captikus’? Padalah, masih banyak juga kegunaan
alkohol dalam bidang medis ataupun kosmetika. Kendalanya,
adalah pabrik farmasi dan kosmetika tidak beroperasi
sepenuhnya di Sulawesi Utara. Oleh karena itu, produksi
pohon seho hanya digunakan sebagai bahan baku utama
untuk minuman beralkohol.
Di sisi lain, rencana protes
para petani di Minahasa Selatan sesungguhnya adalah hal
wajar, apabila pabrik minuman keras tidak melakukan
pembelian atas produksi tesebut. Hal ini menunjukkan
iklim usaha yang tidak kondusif. Jika proses pembelian
tidak dilakukan dan terjadi penumpukan produksi maka
harga ‘cap tikus’ akan turun dengan sendirinya dan
petani akan gigit jari. Hal ini terjadi karena daya
dukung dan daya serap pabrik juga mungkin sudah melebihi
kapasitas produksi. Jadi, untuk sementara tidak
melakukan pembelian yang dirasakan menutup keran hidup
masyarakat petani pohon seho.
Apabila ada pabrik farmasi
maupun kosmetika yang beroperasi di Sulawesi Utara,
kemungkinan protes petani tidak akan sampai ke Pemprov
dan DPRD Sulut.
Manfaat ‘Seho’ Sebagai
Bio Energi
Selanjutnya, apa manfaat
Pohon Seho sebagai pilihan alternatif mengatasi krisis
energi? Uraian Hanny Sangian (sulutlink,7 Mei) merupakan
jawaban ilmiah menyangkut kegunaan produksi alkohol/ethanol:“…menurut
Hanny Sangian, “jika Etanol Enau menggantikan seluruh
bahan bakar, maka; 1 pohon enau menghasilkan Air Nira
20-30 liter perhari. Dalam 20 liter Nira mengandung 1
liter etanol murni. Konsumsi bahan bakar sekarang 200
juta liter perhari setara dengan 200 juta pohon enau.
“Untuk itu kita memerlukan 2 juta hektar lahan pohon
enau. Perbandingan; Etanol dari Jagung memerlukan luas
lahan sebesar 30.000.000 hektar. Etanol dari Tebu
memerlukan lahan seluas 25.000.000 hektar. Minyak Sawit
(biodiesel) memerlukan lahan seluas 15.000.000 hektar.
Keuanggulan dari pohon Enau bisa menghasilkan multi
produk seperti tepung Sagu, gula Aren dan Ijuk. Pohon
enau yang tidak produktif bisa diambil kayunya. Pohon
enau tahan terhadap cuaca ekstrim. Pohon enau penahan
banjir. Sedangkan dalam penyerapan tenaga kerja; 1 orang
dapat menghasilkan 300 liter air nira perhari dari 15-25
pohon enau, setara dengan 15 liter bahan bakar etanol
perhari. “Jika produksi bahan bakar etanol 200.000.000
liter perhari, maka, jumlah tenaga kerja yang terserap
itu adalah sebanyak 13.333.000 orang. Belum lagi tenaga
kerja pada tingkat industri processing”.
Berdasarkan pemaparan Sdra.
Hanny di atas, mari kita lihat target produksi bio-energi
(bahan bakar) untuk kebutuhan skala nasional.
Target Pemerintah di
Bidang Energi
Pemerintah RI melalui
Departemen Sumber Daya Mineral mentargerkan
diversifikasi energi tahun 2007 hingga 2010 adalah
sebagai berikut:
Target Diversifikasi
Energi 2007-2010*
|
Sektor |
Rumah Tangga dan Komersil |
|
Tahun |
2007 |
2010 |
|
Listrik |
37,2% |
40% |
|
LPG |
10,5% |
19,0% |
|
Batubara
(briket) |
0,2% |
1,2% |
|
Biofuel |
2,2% |
3,7% |
|
BBG (pipa) |
1,8% |
6,4% |
|
BBM |
47,8% |
28,1 |
|
BBG (tabung) |
0,4% |
1,5% |
|
Sektor |
Transportasi |
|
Tahun |
2007 |
2010 |
|
BBM (minyak solar) |
43,7% |
42,3% |
|
Biofuel, bio ethanol |
0,3% |
7,6% |
|
Biodiesel |
0,4% |
0,4% |
|
BBG (pipa) |
0,5% |
1,4% |
|
BBM |
53,5% |
46,5% |
Sumber: Dr. Ing Evita H.
Legowo, Staf Ahli Menteri Energi&Sumber Daya Mineral,
Sekretaris I Tim Nasional
Pengembangan Bahan Bakar Nabati
Jadi sesungguhnya, dalam
program diversifikasi yang dilakukan pemerintah hingga
dua tahun ke depan, prosentasi penggunaan produksi
ethanol sebagai bahan bakar dan sumber pengganti energi
masih berada pada skala minimal dan alternatif yang
belum dapat menggantikan produksi kapasitas BBM maupun
Solar pada kisaran 40 %.
Di samping itu, untuk bahan
baku biofuel saat ini yang baru dikembangkan adalah
singkong, tebu, sawit dan jarak. Sedangkan, aren (pohon
seho), nipah, cantle, mikroalgae dan sampah masih dalam
tahapan pengembangan. Pemerintah juga sesungguhnya
memprioritaskan pengembangan bahan baku biofuel
diusahakan bukan berasal non-pangan. Hal ini
untuk menjaga keseimbangan lahan dan penggunaan produksi
yang berlebihan sehingga tidak akan merusak
sektor-sektor usaha perkebunan lainnya.
Andaikan disediakan 2 juta
hektar lahan konversi untuk pohon seho, maka masih
diperlukan waktu maksimal 10 tahun untuk bisa
berproduksi dan dinikmati hasilnya. Di samping itu,
pohon seho tumbuh pada daerah yang mengalami hujan
tropis. Keadaan iklim yang tidak menentu saat ini akan
sangat mudah mempengaruhi nilai produksi dan hasil pohon
itu sendiri. Jika dibandingkan dengan beras 1 kilogram
yang membutuhkan 1000 liter air untuk pengairan padi di
sawah, maka bisa dipikirkan 1 pohon seho membutuhkan
berapa puluh ribu kubik air selama 10 tahun?
Untuk itu, upaya-upaya
mengubah paradigma masyarakat petani pohon seho
seharusnya tidak serta-merta mengikuti perkembangan
teknologi berbasis bio-energi. Apabila dilakukan maka
akan berbahaya bagi kelangsungan hidup dan ekonomi
petani itu sendiri. Perubahan struktur, produksi dan
teknologi hendaknya diarahkan pada keuntungan manusia
itu sendiri, bukan dalam hal rekayasa teknologi yang
justru mendatangkan bencana.
Memang, saat ini dunia
begitu panik akan kenaikan minyak mentah di pasar
internasional yang telah menembus $ US 122/barel.
Sementara itu di Amerika Latin, penggunaan bio energi
dari tebu dan jagung sudah jauh dikembangkan. Indonesia
juga melalui peneliti di bidang pertanian dan energi
telah berhasil dalam teknologi pengembangan bio energi
generasi satu. Akan tetapi, kebijakan
tiap-tiap negara tentunya berbeda-beda. Kemungkinan
pengembangan bio-energi yang berlebihan akan menyebabkan
ketimpangan sektor produksi lahan perkebunan lainnya.
Hal ini juga akan
menimbulkan krisis penyediaan pangan bagi Indonesia
maupun bagi dunia, karena penyerapan lahan-lahan
disediakan hanya untuk penyediaan energi, sedangkan
produksi perkebunan dan pertanian nantinya akan
terlantar.
Solusi dan Alternatif
Berdasarkan analisis di atas,
maka dapat disimpulkan 5 hal. Pertama, di samping
membuka dialog antara petani, pengelola pabrik dan
pemerintah Provinsi Sulut, maka dibutuhkan jembatan
investasi dan penyediaan pasar domestik untuk penyaluran
produksi ‘cap tikus’ di bidang medis dan kosmetika.
Mungkin tidak perlu dengan membangun pabrik farmasi dan
kosmetika, tetapi yang dibutuhkan adalah jalur investasi
dari pabrik-pabrik di Bandung atau Surabaya seperti
Kalbe Farma, PT.Unilever dan Martha Tilaar untuk membeli
hasil produksi petani. Langkah dan kerelaan
pemerintahlah yang menjadi jembatan emas bagi para
petani di Minahasa Selatan.
Kedua,
jadikan kebun-kebun di Minahasa Selatan sebagai pusat
riset untuk pengembangan bio-energi khususnya
ethanol/alkohol. Apabila sumber sampel riset berasal
dari pohon seho di Minsel maka akan berdampak luas bagi
usaha ekonomis. Di samping itu, para petani mendapat
pengetahuan dan ilmu baru dalam mengolah produksi pohon
seho.
Ketiga,
perkebunan seho diusahakan sebagai inti program usaha
masyarakat. Hal ini menimbulkan konsekuensi modal dan
usaha. Apabila ingin berhasil, maka yang diperlukan
adalah tiga hal yakni produksi, teknologi dan industri.
Jika produksi melimpah dan teknologi riset dapat
menjadikan komoditi ekspor, maka harus ada arus bisnis
dan investasi dalam bentuk industri. Kenapa masyarakat
hanya bergantung pada pembelian pabrik miras saja, tidak
berusaha membangun industri kelompok rumah tangga atau
industri khusus memenuhi produk ekspor?
Di Bali, ada contoh yang
baik. Melimpahnya buah-buahan tropis menjadikan seorang
peneliti (asing) yang menikah dengan gadis setempat
membuat usaha minuman beralkohol rasa buah. Saat ini
pasar internasional sudah menerimanya dengan paket
kemasan ‘Wine of Bali’. Yaitu sejenis minuman
beraroma alkohol dan rasa buah. Teknik pengolahan buah
menjadi minuman beralkohol tidaklah sulit. Pada saat
peneliti dari ‘ekspatriat’ Perancis datang ke
Manado (2002-2003), tepatnya di Lotta telah dilakukan
proses uji coba minuman beralkohol dengan rasa buah.
Oleh karena itu, kenapa petani tidak mencoba mengalihkan
sebagian produksi ‘cap tikus’ untuk produk ekspor?
Keempat,
potensi pegunungan dan produksi masal ala petani
di Minahasa sesungguhnya merupakan objek untuk
pariwisata. Alih-alih berdemo meminta produksi dibeli,
apakah tidak sebaiknya para petani menjadikan lahan
seho-nya sebagai objek wisata. Dahulu, perkebunan kopi
di Afrika dan Amerika Latin dijadikan tempat wisata dan
peristarahatan para pemilik. Dengan konsep demikian,
jika para petani mau membersihkan lahannya dan
mendirikan dego-dego bambo untuk menikmati ‘cap tikus’,
kenapa tidak meminta Pemprov untuk mensosialisasikan
sebagai daerah tujuan wisata? Akan sangat menarik dan
mendatangkan keuntungan jika para turis bersama-sama
petani melakukan proses ba tifar, pukul pohon
hingga penyulingan ‘cap tikus’ pada tahap awal. Jadi, di
samping produksi lahan dan ‘cap tikus’, akan
mendatangkan manfaat juga pada sektor pariwisata.
Bukankah program WOC saat ini sedang mencari objek
wisata alternatif selain Bunaken?
Kelima,
yang perlu di ingat adalah kualitas produksi perkebunan
pohon seho. Memang, struktur penanaman pohon seho ada
juga yang beragam dengan tanaman lainnya seperti cengkeh,
vanili, pala maupun kelapa. Produk-produk inipun tak
kalah ‘harum’-nya dan pernah mengalami zaman keemasaan
sebagai produk perkebunan di pasar internasional. Dengan
kondisi krisis energi dan pangan dunia, seharusnya
petani juga memikirkan produksi alternatif hasil kebun
lainnya dengan memperhitungkan jarak tanam, olah dan
produksi. Andaikan pohon seho bisa diproduksi pada tahun
ke enam hingga ke sepuluh, maka harus ada tanaman
penunjang lainnya di tahun pertama hingga ke lima .
Tanaman-tanaman tersebut adalah alternatif penghasilan
jangka pendek ketika menunggu ba tifar dan
bajual saguer atau ‘cap tikus’. Jadi, sekalipun
pabrik tidak menerima produksi ‘cap tikus’, masih ada ‘rica-tamate’
atau ‘kalapa muda’ yang boleh dijual ke pasar
maupun disuguhkan for bule-bule yang datang
sebagai wisatawan.
|