Berita

Artikel

Ranomawuri

Makatana

Timountalun

Topik Kawanua

Suara Kawanua

Plakat Kawanua

Profil Kawanua

Cirita Grap

Polling SL

News Link

 

 Bapontar: 17 Juni 2008

Jalan-jalan ke Puncak Temboan

Ada Awan di Rurukan

 Laporan Denni Pinontoan

 

Tomohon, Sulutlink. Puncak Temboan Kelurahan Rurukan, Kota Tomohon, sebuah tempat yang penuh keindahan. Sejauh mata memandang, dan di semua arah, dari tempat itu kita akan melihat keindahan yang sungguh luar biasa. Berada di puncak ini seolah kita sedang berada di negeri awan, ya karena di puncak itu kita seolah sedang berada di awan.

 

Berada di ketinggian 1000 meter dari permukaan laut, Puncak Temboan, memang membawa kita pada puncak kepuasan menikmati anugerah Sang Pencipta. Dari Pusat Kota Tomohon, menuju ke tempat ini kita hanya memerlukan waktu kurang lebih 15 menit. Lebih cepat kalau kita menggunakan ojek.

 

Dari Terminal Beriman, kurang lebih 5 menit kemudian, kita akan disuguhkan dengan pemandangan yang indah tanaman jenis hortikultura, misalnya wortel, kol dan bawang yang di tanam oleh petani Rurukan di kaki gunung Mahawu dan Masarang. Di pagi hari kira-kira pukul 06.00 sampai 09.00 wita kita masih akan melihat awan di lokasi pertanian hortikultura yang terletak antara Kel. Rurukan dengan terminal Beriman Kota Tomohon.

 

“Beginilah kesibukan kami setiap hari. Bekerja dan bekerja,” ujar Tante Neli, salah satu petani hortikultura Rurukan ketika di temui sulutlink.com Selasa (17/06) pagi di perkebunan hortikultura Rurukan.

 

Sebentar menikmati kesibukan para petani ini, langkah kaki pun harus diteruskan demi untuk menikmati pagi di Puncak Temboan. Eh, tapi, perlu anda ketahui, kalau ke kelurahan Rurukan di saat sekarang, perlu ekstra hati-hati, sebab jalan menuju ke sana, kalau kita dari arah terminal Beriman Tomohon tak terlalu bagus. Banyak lubangnya, dan kerikil-kerikil kecil. Kita memang akan sedikit mengalami kesulitan menuju ke sana. Jalannya harus pelan dan hati-hati. Tapi dengan jalan pelan ini kita akan semakin menikmati keindahan hamparan lahan pertanian hortikultura yang berpetak-petak kecoklatan itu.

 

Puas menikmati pemandangan itu, kita pun akan segera memasuki Kel. Rurukan. Di kampung ini, kita akan bertemu dengan warganya yang ramah dan suka senyum. Apalagi kalau kita orang baru, pasti mereka akan memperhatikan kita. Jangan malu atau kikuk, sebab begitulah mereka.

 

“Warga di sini memang begitu. Tapi mereka ramah. Apalagi kalau mereka tahu sedang jalan-jalan untuk menikmati keindahan alam di kampong mereka,” ujar Jennes Paat, warga Rurukan yang secara sukarela menemani sulutlik.com pesiar ke Puncak Temboan. 

 

Di jalan utama kampung Rurukan kita akan melihat semangat para warganya memaknai hidup di pagi hari. Di pagi ini, kesibukan warga yang pergi ke kebun tampak sekali. Dan sudah pasti kita akan sering berpapasan dengan sepeda motor milik tukang ojek, yang ternyata sejak beberapa tahun terakhir ini telah menjadi pilihan tranportasi yang laris.

 

Di hampir ujung kampung, kalau menuju ke Puncak Temboan, kita harus belok kanan. Jalannya menanjak, ya memang menanjak, karena kita kan akan pergi puncak. Dari jalan utama kampung, jarak ke Puncak Temboan kira-kira hanya setengah kilometer. Kalau hanya kita berjalan kaki, pasti kita akan melihat lebih dekat anak-anak kecil bermain. Banyak sekali mereka. “Mungkin karena di sini udaranya dingin, sehingga banyak anak kecilnya,” ujar Jenes, sedikit berkelakar. Dia pun hampir terbahak. Apa artinya?

 

Dan, akhirnya sulutlink.com pun sampai di tempat yang dituju, Puncak Temboan. Oh, Puncak Temboan! Hari memang masih pagi. Udaranya memang masih dingin. Awan, yang banyak diceritakan di Puncak Temboan memang masih sangat dekat. “Inilah  Puncak Temboan,” Jenes berkata penuh semangat, mempromosikan keindahan alamnya.

 

Di Puncak Temboan ini ada sebuah bangunan mirip rumah. Tapi tidak rumah panggung. Dindingnya memang terbuat dari kayu, tapi lantainya terbuat dari semen. Di dalam bangunan ini ada alat musik kolintang. Kita bisa memainkannya sendiri. Kalau tahu.

 

Seorang menyapa. “Selamat Pagi! Selamat datang di Puncak Temboan. Di sini dingin, Pak”, sapa lelaki itu. Sulutlink.com pun dipersilakan menulis nama di sebuah buku tulis.

 

Masuk ke bagian tengah bangunan itu, dan langsung menuju ke bagian timurnya. Wow, di sini pemandangan memang sungguh indah. Di bagian ini ada halaman, yang ditanami bunga. Di bawahnya ada jalan kecil yang menghubungkan Kel. Rurukan dengan Tondano. Dari tempat inilah kita kemudian akan melihat Gunung Kalabat yang masih tertutup awan. Di belakangnya ada gunung Dua Sudara yang juga masih diselimuti awan. Gunung Makawembeng, tepat berada di depan Puncak Temboan ini. Dan, lihat sebagian danau Tondano tampak tenang! Eceng Gondoknya, memang tak terlihat dari puncak temboan ini. Dan, awan itu datang mendekat. Cuma terlihat melintas, tapi tak bisa dipegang.

 

“Pemandangan di sini, memang luar biasanya indahnya. Tapi sayang, Pemerintah Kota kurang mempromosikannya. Meski begitu kadang-kadang ada juga turis yang datang ke sini,” Jenes menjelaskan mirip pemandu wisata saja.

 

Memang, Puncak Temboan tak mirip objek wisata yang ditata rapi, dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Tapi, ini tak mengurangi kita menikmati keindahannya, eh maksudnya keindahan yang bisa dinikmati dari puncak temboan ini. Sebab, ke semua penjuru, kita akan disuguhkan dengan keindahan alam yang tiada tara. Berada di Puncak Temboan memang kita ibaratnya berada di awan. Di sini kita bisa membuktikan bahwa di Rurukan memang ada awan. Kalau tidak percaya, datang saja ke sini.