|
Jalan-jalan ke Puncak
Temboan
Ada Awan di Rurukan
Laporan Denni Pinontoan
Tomohon, Sulutlink.
Puncak Temboan Kelurahan
Rurukan, Kota Tomohon, sebuah tempat yang penuh
keindahan. Sejauh mata memandang, dan di semua arah,
dari tempat itu kita akan melihat keindahan
yang
sungguh luar biasa. Berada di puncak ini seolah kita
sedang berada di negeri awan, ya karena di puncak itu
kita seolah sedang berada di awan.
Berada di ketinggian 1000
meter dari permukaan laut, Puncak Temboan, memang
membawa kita pada puncak kepuasan menikmati anugerah
Sang Pencipta. Dari Pusat Kota Tomohon, menuju ke tempat
ini kita hanya memerlukan waktu kurang lebih 15 menit.
Lebih cepat kalau kita menggunakan ojek.
Dari Terminal Beriman,
kurang lebih 5 menit kemudian, kita akan disuguhkan
dengan pemandangan yang indah tanaman jenis hortikultura,
misalnya wortel, kol dan bawang yang di tanam oleh
petani Rurukan di kaki gunung Mahawu dan Masarang. Di
pagi hari kira-kira pukul 06.00 sampai 09.00 wita kita
masih akan melihat awan di lokasi pertanian hortikultura
yang terletak antara Kel. Rurukan dengan terminal
Beriman Kota Tomohon.
“Beginilah kesibukan kami
setiap hari. Bekerja dan bekerja,” ujar Tante Neli,
salah satu petani hortikultura Rurukan ketika di temui
sulutlink.com Selasa (17/06) pagi di perkebunan
hortikultura Rurukan.
Sebentar
menikmati kesibukan para petani ini, langkah kaki pun
harus diteruskan demi untuk menikmati pagi di Puncak
Temboan. Eh, tapi, perlu anda ketahui, kalau ke
kelurahan Rurukan di saat sekarang, perlu ekstra
hati-hati, sebab jalan menuju ke sana, kalau kita dari
arah terminal Beriman Tomohon tak terlalu bagus. Banyak
lubangnya, dan kerikil-kerikil kecil. Kita memang akan
sedikit mengalami kesulitan menuju ke sana. Jalannya
harus pelan dan hati-hati. Tapi dengan jalan pelan ini
kita akan semakin menikmati keindahan hamparan lahan
pertanian hortikultura yang berpetak-petak kecoklatan
itu.
Puas menikmati pemandangan
itu, kita pun akan segera memasuki Kel. Rurukan. Di
kampung ini, kita akan bertemu dengan warganya yang
ramah dan suka senyum. Apalagi kalau kita orang baru,
pasti mereka akan memperhatikan kita. Jangan malu atau
kikuk, sebab begitulah mereka.
“Warga di sini memang begitu.
Tapi mereka ramah. Apalagi kalau mereka tahu sedang
jalan-jalan untuk menikmati keindahan alam di kampong
mereka,” ujar Jennes Paat, warga Rurukan yang secara
sukarela menemani sulutlik.com pesiar ke Puncak Temboan.
Di jalan utama kampung
Rurukan kita akan melihat semangat para warganya
memaknai hidup di pagi hari. Di pagi ini, kesibukan
warga yang pergi ke kebun tampak sekali. Dan sudah pasti
kita akan sering berpapasan dengan sepeda motor milik
tukang ojek, yang ternyata sejak beberapa tahun terakhir
ini telah menjadi pilihan tranportasi yang laris.
Di hampir ujung kampung,
kalau menuju ke Puncak Temboan, kita harus belok kanan.
Jalannya menanjak, ya memang menanjak, karena kita kan
akan pergi puncak. Dari jalan utama kampung, jarak ke
Puncak Temboan kira-kira hanya setengah kilometer. Kalau
hanya kita berjalan kaki, pasti kita akan melihat lebih
dekat anak-anak kecil bermain. Banyak sekali mereka.
“Mungkin karena di sini udaranya dingin, sehingga banyak
anak kecilnya,” ujar Jenes, sedikit berkelakar. Dia pun
hampir terbahak. Apa artinya?
Dan, akhirnya sulutlink.com
pun sampai di tempat yang dituju, Puncak Temboan. Oh,
Puncak Temboan! Hari memang masih pagi. Udaranya memang
masih dingin. Awan, yang banyak diceritakan di Puncak
Temboan memang masih sangat dekat. “Inilah Puncak
Temboan,” Jenes berkata penuh semangat, mempromosikan
keindahan alamnya.
Di Puncak Temboan ini ada
sebuah bangunan mirip rumah. Tapi tidak rumah panggung.
Dindingnya memang terbuat dari kayu, tapi lantainya
terbuat dari semen. Di dalam bangunan ini ada alat musik
kolintang. Kita bisa memainkannya sendiri. Kalau tahu.
Seorang menyapa. “Selamat
Pagi! Selamat datang di Puncak Temboan. Di sini dingin,
Pak”, sapa lelaki itu. Sulutlink.com pun dipersilakan
menulis nama di sebuah buku tulis.
Masuk ke bagian tengah
bangunan itu, dan langsung menuju ke bagian timurnya.
Wow, di sini pemandangan memang sungguh indah. Di bagian
ini ada halaman, yang ditanami bunga. Di bawahnya ada
jalan kecil yang menghubungkan Kel. Rurukan dengan
Tondano. Dari tempat inilah kita kemudian akan melihat
Gunung Kalabat yang masih tertutup awan. Di belakangnya
ada gunung Dua Sudara yang juga masih diselimuti awan.
Gunung Makawembeng, tepat berada di depan Puncak Temboan
ini. Dan, lihat sebagian danau Tondano tampak tenang!
Eceng Gondoknya, memang tak terlihat dari puncak temboan
ini. Dan, awan itu datang mendekat. Cuma terlihat
melintas, tapi tak bisa dipegang.
“Pemandangan di sini, memang
luar biasanya indahnya. Tapi sayang, Pemerintah Kota
kurang mempromosikannya. Meski begitu kadang-kadang ada
juga turis yang datang ke sini,” Jenes menjelaskan mirip
pemandu wisata saja.
Memang, Puncak Temboan tak
mirip objek wisata yang ditata rapi, dan dilengkapi
dengan berbagai fasilitas. Tapi, ini tak mengurangi kita
menikmati keindahannya, eh maksudnya keindahan yang bisa
dinikmati dari puncak temboan ini. Sebab, ke semua
penjuru, kita akan disuguhkan dengan keindahan alam yang
tiada tara. Berada di Puncak Temboan memang kita
ibaratnya berada di awan. Di sini kita bisa membuktikan
bahwa di Rurukan memang ada awan. Kalau tidak percaya,
datang saja ke sini.
|