Berita

Artikel

Ranomawuri

Makatana

Timountalun

Topik Kawanua

Suara Kawanua

Plakat Kawanua

Profil Kawanua

Cirita Grap

Polling SL

News Link

 

 Berita Sulut: 20 Juni 2008

Pembangunan Kota dan Intelijen Kompetitif

Pengembangan Klaster Kota Manado

Oleh : DR. Ir. G.S.V. LUMENTUT, MSi. MM

 

I. Pendahuluan

            Ledakan arus informasi yang terus berkembang dewasa ini dengan ditandai dunia tanpa batas (borderless) melalui akses informasi secara terbuka dimana siklus intelijen kompetitif mengolah informasi secara bibliometrik untuk menghasilkan kajian keilmuan dan selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh pengambil kebijakan sehingga keputusan yang diambil benar-benar sudah teruji sebelum diimplementasikan. Salah satu hasil kajian berbasis intelijen kompetitif yang telah dilakukan terhadap potensi kota Manado melalui sistem klasterisasi ternyata memiliki daya saing pengembangan adalah sektor pariwisata. Selanjutnya dalam pengamatan secara lebih mendalam lagi industri pariwisata sangat tepat menjadi sektor unggulan walaupun aspek perencanaan dan pengembangan belum dilakukan secara holistik. Tentunya, hal ini memiliki banyak kelemahan karena aspek kepariwisataan perlu dikembangkan secara terpadu dan menyeluruh (integrated and comprehensive) sehingga dalam tataran implementasi dapat dilaksanakan secara tepat dan efektif (appropriateness and effective).

            Pengembangan produk  pariwisata  adalah bagian yang integral dari seluruh kerangka pengembangan. Sebagai salah satu aktivitas ekonomi, produk pariwisata pada sisi supply harus secara sinergis dan terintegrasi dikembangkan bersamaan dengan aspek demand (Existing and Potential Market). Dalam hubungannya dengan perencanaan dan pengembangan pariwisata Kota Manado, pendekatan holistik yang secara inklusif mengintegrasikan semua unsur  pengembangan  (Integrated Development) dalam  keterkaitan yang solid  perlu dilakukan  agar pariwisata memberi dampak ekonomis dalam jangka panjang  (Economically Viable) dan dari aspek lingkungan pariwisata memberikan kontribusi positif pada keberlanjutan lingkungan hidup (Environmentally Sustainable). (RIPPDA Kota Manado 2006).

 

II.Pendekatan Klaster Industri Pariwisata

Dalam bentuk yang paling maju, menurut definisi yang diusulkan  oleh Porter dan diterima secara luas (Porter 2000) – suatu kluster dapat didefinisikan sebagai kelompok perusahaan yang saling terhubung dan berdekatan secara geografis dengan institusi-istitusi yang terkait dalam suatu bidang khusus; terhubung karena kebersamaan dan saling melengkapi. Dengan definisi tersebut, suatu klaster industri pariwisata dapat termasuk semua unsur yang terkait dalam bidang kepariwisataan sampai diperluas ke segmen pasar. Sebuah klaster dalam pengertian Porter juga termasuk lembaga pemerintah, asosiasi bisnis, penyedia jasa, dan lembaga lain yang mendukung usaha-usaha dalam klaster termasuk didalamnya penelitian dan pelatihan.

            Lingkup geografis klaster dapat sangat bervariasi, terentang dari suatu desa/kelurahan atau salah satu jalan di kecamatan sampai mencakup sebuah daerah kota atau propinsi. Sebuah klaster dapat juga melampaui batas negara menjangkau sampai ke beberapa negara.

Klaster industri pariwisata merupakan elemen-elemen dari suatu spektrum umum dengan bentuk bayangan yang samar ketimbang suatu pemisah yang tajam (Ffowcs-Wiiliams 2000). Oleh karena itu dalam industri pariwisata berkembang organisasi-organisasi berskala internasional untuk memberi penegasan terhadap spektrum  umum tentang jaringan bisnis pariwisata seperti United Nation World Tourism Organization (UNWTO).

            Sesuai Ffoxcs-Williams (2000), jaringan antar perusahaan (interfirm network) dapat didefinisikan sebagai suatu kelompok produsen yang bekerjasama dalam bidang produksi dan/atau pemasaran. Bekerja bersama dalam suatu klaster akan lebih membantu mengatasi masalah-masalah tertentu seperti akses pada teknologi yang mahal atau informasi pasar. Contoh suatu jaringan bisnis ialah Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang bertemu secara teratur untuk mendiskusikan tentang jasa pramusaji di hotel dan restoran diberbagai tempat di kabupaten/kota atau propinsi. Suatu jaringan bisnis juga dapat terdiri dari produsen yang membagi pengalaman dan penggunaan jasa sebagai suatu strategi bersama untuk mengurangi biaya produksi.

 

Diversitas klaster (kontinum)

            Membentuk klaster berarti menyusun rangkaian kesatuan unit-unit (kontinum). Dalam perjalanan waktu, banyak klaster aktif makin menjadi  kompleks dari segi struktur dan berkembang menjadi klaster industri maju. Juga terjadi peningkatan spesialisasi dan kerjasama antar usaha di dalam klaster. Hal menarik lainya, dalam mengembangkan klaster penyedia jasa-jasa mengikatkan diri secara teratur seperti perusahaan percetakan dan penerjemah yang disertai dengan jaringan perdagangan dan distribusi masing-masing melakukan kegiatan dalam klaster secara terpadu. Anggota klaster mulai mengorganisir diri untuk jasa-jasa tertentu seperti promosi bersama, ’branding’, periklanan, distribusi atau pemasaran. Klaster makin meningkatkan kerjasama dengan pemerintah lokal, regional ataupun nasional, maupun dengan lembaga-lembaga spesialiasasi pelatihan dan riset seperti universitas. Dalam proses ini, klaster dapat juga diperluas secara geografis, misalnya dengan mengambil input secara teratur dari suatu daerah terdekat atau mengembangkan kerjasama secara teratur dengan objek-objek wisata di kota lain. Disini terlihat betapa dinamis dan agresifnya suatu sistem klaster dalam melakukan interaktif kegiatan. 

            Klaster-klaster maju seringkali terjadi penggabungan kepentingan yang berlebihan dan saling terikat dengan klaster-klaster lainnya didalam daerah yang sama. Pengelompokan klaster-klaster demikian atau ’distrik industri’ (terminologi Italia) merupakan bentuk susunan klaster yang paling kompleks dimana berbagai sektor yang berbeda saling tergantung dan saling memberikan manfaat. Contoh pengelompokan klaster di sekitat timur laut Italia (pariwisata, makanan, fashion, mebel, produksi permesinan); bagian selatan Jerman (industri kendaraan, tourism, perhotelan, elektronika, produksi permesinan, software) dan Greater London (Perbankan, asuransi,  software, penerbitan, film, musik, tourism, fashion, periklanan dan jasa-jasa bisnis) menunjukan saling ketergantungan satu sama lain. Model klaster ini memerlukan perhatian yang lebih fokus sehingga terjadi penajaman segmen dalam pengembangan sistem klaster yang lebih spesifik.      

 

bersambung.....