|
Pembangunan Kota dan
Intelijen Kompetitif
Pengembangan Klaster Kota Manado
Oleh : DR.
Ir. G.S.V. LUMENTUT, MSi. MM
I. Pendahuluan
Ledakan arus
informasi yang terus berkembang dewasa ini dengan
ditandai dunia tanpa batas (borderless) melalui akses
informasi secara terbuka dimana siklus intelijen
kompetitif mengolah informasi
secara bibliometrik untuk
menghasilkan kajian keilmuan dan selanjutnya dapat
dimanfaatkan oleh pengambil kebijakan sehingga keputusan
yang diambil benar-benar sudah teruji sebelum
diimplementasikan. Salah satu hasil kajian berbasis
intelijen kompetitif yang telah dilakukan terhadap
potensi kota Manado melalui sistem klasterisasi ternyata
memiliki daya saing pengembangan adalah sektor
pariwisata. Selanjutnya dalam pengamatan secara lebih
mendalam lagi industri pariwisata sangat tepat menjadi
sektor unggulan walaupun aspek perencanaan dan
pengembangan belum dilakukan secara holistik. Tentunya,
hal ini memiliki banyak kelemahan karena aspek
kepariwisataan perlu dikembangkan secara terpadu dan
menyeluruh (integrated and comprehensive) sehingga dalam
tataran implementasi dapat dilaksanakan secara tepat dan
efektif (appropriateness and effective).
Pengembangan
produk pariwisata adalah bagian yang integral dari
seluruh kerangka pengembangan. Sebagai salah satu
aktivitas ekonomi, produk pariwisata pada sisi supply
harus secara sinergis dan terintegrasi dikembangkan
bersamaan dengan aspek demand (Existing and
Potential Market). Dalam hubungannya dengan
perencanaan dan pengembangan pariwisata Kota Manado,
pendekatan holistik yang secara inklusif
mengintegrasikan semua unsur pengembangan
(Integrated Development) dalam keterkaitan yang
solid perlu dilakukan agar pariwisata memberi
dampak ekonomis dalam jangka panjang (Economically
Viable) dan dari aspek lingkungan pariwisata
memberikan kontribusi positif pada keberlanjutan
lingkungan hidup (Environmentally Sustainable). (RIPPDA
Kota Manado 2006).
II.Pendekatan Klaster
Industri Pariwisata
Dalam bentuk yang paling
maju, menurut definisi yang diusulkan oleh Porter dan
diterima secara luas (Porter 2000) – suatu kluster dapat
didefinisikan sebagai kelompok perusahaan yang saling
terhubung dan berdekatan secara geografis dengan
institusi-istitusi yang terkait dalam suatu bidang
khusus; terhubung karena kebersamaan dan saling
melengkapi. Dengan definisi tersebut, suatu klaster
industri pariwisata dapat termasuk semua unsur yang
terkait dalam bidang kepariwisataan sampai diperluas ke
segmen pasar. Sebuah klaster dalam pengertian Porter
juga termasuk lembaga pemerintah, asosiasi bisnis,
penyedia jasa, dan lembaga lain yang mendukung
usaha-usaha dalam klaster termasuk didalamnya penelitian
dan pelatihan.
Lingkup
geografis klaster dapat sangat bervariasi, terentang
dari suatu desa/kelurahan atau salah satu jalan di
kecamatan sampai mencakup sebuah daerah kota atau
propinsi. Sebuah
klaster dapat juga melampaui batas negara menjangkau
sampai ke beberapa negara.
Klaster
industri pariwisata merupakan elemen-elemen dari suatu
spektrum umum dengan bentuk bayangan yang samar
ketimbang suatu pemisah yang tajam (Ffowcs-Wiiliams
2000). Oleh karena itu dalam industri pariwisata
berkembang organisasi-organisasi berskala internasional
untuk memberi penegasan terhadap spektrum umum tentang
jaringan bisnis pariwisata seperti United Nation World
Tourism Organization (UNWTO).
Sesuai Ffoxcs-Williams (2000), jaringan antar perusahaan
(interfirm network) dapat didefinisikan sebagai
suatu kelompok produsen yang bekerjasama dalam bidang
produksi dan/atau pemasaran. Bekerja bersama dalam suatu
klaster akan lebih membantu mengatasi masalah-masalah
tertentu seperti akses pada teknologi yang mahal atau
informasi pasar. Contoh suatu jaringan bisnis ialah
Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang
bertemu secara teratur untuk mendiskusikan tentang jasa
pramusaji di hotel dan restoran diberbagai tempat di
kabupaten/kota atau propinsi. Suatu jaringan bisnis juga
dapat terdiri dari produsen yang membagi pengalaman dan
penggunaan jasa sebagai suatu strategi bersama untuk
mengurangi biaya produksi.
Diversitas klaster (kontinum)
Membentuk klaster berarti menyusun rangkaian
kesatuan unit-unit (kontinum).
Dalam perjalanan waktu,
banyak klaster aktif makin menjadi kompleks dari segi
struktur dan berkembang menjadi klaster industri maju.
Juga terjadi peningkatan spesialisasi dan kerjasama
antar usaha di dalam klaster. Hal menarik lainya, dalam
mengembangkan klaster penyedia jasa-jasa mengikatkan
diri secara teratur seperti perusahaan percetakan dan
penerjemah yang disertai dengan jaringan perdagangan dan
distribusi masing-masing melakukan kegiatan dalam
klaster secara terpadu. Anggota klaster mulai
mengorganisir diri untuk jasa-jasa tertentu seperti
promosi bersama, ’branding’, periklanan,
distribusi atau pemasaran. Klaster makin meningkatkan
kerjasama dengan pemerintah lokal, regional ataupun
nasional, maupun dengan lembaga-lembaga spesialiasasi
pelatihan dan riset seperti universitas. Dalam proses
ini, klaster dapat juga diperluas secara geografis,
misalnya dengan mengambil input secara teratur dari
suatu daerah terdekat atau mengembangkan kerjasama
secara teratur dengan objek-objek wisata di kota lain.
Disini terlihat betapa dinamis dan agresifnya suatu
sistem klaster dalam melakukan interaktif kegiatan.
Klaster-klaster maju seringkali terjadi penggabungan
kepentingan yang berlebihan dan saling terikat dengan
klaster-klaster lainnya didalam daerah yang sama.
Pengelompokan klaster-klaster demikian atau ’distrik
industri’ (terminologi Italia) merupakan bentuk susunan
klaster yang paling kompleks dimana berbagai sektor yang
berbeda saling tergantung dan saling memberikan manfaat.
Contoh pengelompokan klaster di sekitat timur laut
Italia (pariwisata, makanan, fashion, mebel,
produksi permesinan); bagian selatan Jerman
(industri kendaraan, tourism, perhotelan, elektronika,
produksi permesinan, software) dan Greater London
(Perbankan, asuransi, software, penerbitan,
film, musik, tourism, fashion, periklanan dan
jasa-jasa bisnis) menunjukan saling ketergantungan satu
sama lain. Model klaster ini memerlukan perhatian yang
lebih fokus sehingga terjadi penajaman segmen dalam
pengembangan sistem klaster yang lebih spesifik.
bersambung.....
|