Berita

Artikel

Ranomawuri

Makatana

Timountalun

Topik Kawanua

Suara Kawanua

Plakat Kawanua

Profil Kawanua

Cirita Grap

Polling SL

News Link

 

 Berita Sulut: 21 Juni 2008

Sri Sultan: Indonesia Perlu Melakukan Perubahan Paradigma

Laporan Denni Pinontoan

 

Tomohon, Sulutlink. Menyikapi berbagai persoalan yang sedang mendera Indonesia, Sri Sultan Hamengkubowono X mengatakan, negara ini perlu melakukan perubahan paradigma. Sebab menurutnya, faktor yang antara lain menyebabkan krisis bangsa ini, adalah karena perilaku pemerintah pusat yang menganggap paling tahu dan berkuasa.

 

Sri Sultan menegaskan itu ketika menyempatkan diri bertemu dengan Dr. Bert Supit, Ketua Presidium Majelis Adat Minahasa (MAM) bersama puluhan tokoh masyarakat Minahasa  di Pusat Gerakan Adat dan Budaya Minahasa Jumat (20/06) sore. “Menurut saya, perubahan paradigma itu menyangkut UUD kita. UUD yang sudah beberapa kali diamandemen harus diamandemen lagi, karena antara tubuh dan rohnya sering tidak sinkron. Tapi, tubuhnya saja yang diamandemen,” kata Sri Sultan yang datang ke pertemuan itu belakangan setelah Gusti Kanjeng Ratu Hemas, istrinya telah terlebih dahulu bertemu dengan dr. Bert Supit dan puluhan tokoh masyarakat Minahasa.

 

Hal kedua, yang terkait dengan perubahan paradigma itu, menurut Sri Sultan adalah menghargai dan memberi ruang gerak yang lebih besar terhadap keberadaan ada istiadat masing-masing daerah. “Sebelum ada Indonesia, adat istiadat yang di dalamnya mengandung kearifan lokal, telah dipakai oleh para leluhur kita sebagai spirit mereka,” katanya. 

 

Selain itu, katanya, pemerintah juga harus melakukan perubahan konsep pembangunan. Ini menurutnya, adalah untuk menjaga keutuhan bangsa. “Pemerintah kita mestinya mengevaluasi ulang konsep pembangunannya yang lebih menitiberatkan kontinental. Padahal, yang mestinya dilakukan adalah pembangunan yang berparadigma maritim,” ujarnya.

 

Sri Sultan juga menegaskan bahwa yang perlu rakyat Indonesia lakukan adalah mencari figur yang tepat untuk membawa bangsa ini keluar dari berbagai kemelut. Figur yang tepat menurutnya adalah adalah tokoh bangsa yang mengerti dan memaknai secara benar keberagaman Indoneisa. “Di Indonesia ini banyak sekali pemimpin, sehingga kita tidak lagi harus mencari pemimpin, tapi figur. Meski memang figur ini nantinya akan juga menjadi pemimpin kita. Kita butuh figur yang tepat dan mengerti kebutuhan rakyatnya dan keberagaman yang ada di Indonesia,” tandasnya.