|
Sri
Sultan: Indonesia Perlu Melakukan Perubahan Paradigma
Laporan
Denni Pinontoan
 Tomohon,
Sulutlink. Menyikapi berbagai persoalan yang sedang
mendera Indonesia, Sri Sultan Hamengkubowono X
mengatakan, negara ini perlu melakukan perubahan
paradigma. Sebab menurutnya, faktor yang antara lain
menyebabkan krisis bangsa ini, adalah karena perilaku
pemerintah pusat yang menganggap paling tahu dan
berkuasa.
Sri
Sultan menegaskan itu ketika menyempatkan diri bertemu
dengan Dr. Bert Supit, Ketua Presidium Majelis Adat
Minahasa (MAM) bersama puluhan tokoh masyarakat Minahasa
di Pusat Gerakan Adat dan Budaya Minahasa Jumat (20/06)
sore. “Menurut saya, perubahan paradigma itu menyangkut
UUD kita. UUD yang sudah beberapa kali diamandemen harus
diamandemen lagi, karena antara tubuh dan rohnya sering
tidak sinkron. Tapi, tubuhnya saja yang diamandemen,”
kata Sri Sultan yang datang ke pertemuan itu belakangan
setelah Gusti Kanjeng Ratu Hemas, istrinya telah
terlebih dahulu bertemu dengan dr. Bert Supit dan
puluhan tokoh masyarakat Minahasa.
Hal kedua,
yang terkait dengan perubahan paradigma itu, menurut Sri
Sultan adalah menghargai dan memberi ruang gerak yang
lebih besar terhadap keberadaan ada istiadat
masing-masing daerah. “Sebelum ada Indonesia, adat
istiadat yang di dalamnya mengandung kearifan lokal,
telah dipakai oleh para leluhur kita sebagai spirit
mereka,” katanya.
Selain
itu, katanya, pemerintah juga harus melakukan perubahan
konsep pembangunan. Ini menurutnya, adalah untuk menjaga
keutuhan bangsa. “Pemerintah kita mestinya mengevaluasi
ulang konsep pembangunannya yang lebih menitiberatkan
kontinental. Padahal, yang mestinya dilakukan adalah
pembangunan yang berparadigma maritim,” ujarnya.
Sri
Sultan juga menegaskan bahwa yang perlu rakyat Indonesia
lakukan adalah mencari figur yang tepat untuk membawa
bangsa ini keluar dari berbagai kemelut. Figur yang
tepat menurutnya adalah adalah tokoh bangsa yang
mengerti dan memaknai secara benar keberagaman Indoneisa.
“Di Indonesia ini banyak sekali pemimpin, sehingga kita
tidak lagi harus mencari pemimpin, tapi figur. Meski
memang figur ini nantinya akan juga menjadi pemimpin
kita. Kita butuh figur yang tepat dan mengerti kebutuhan
rakyatnya dan keberagaman yang ada di Indonesia,”
tandasnya.
|