|
Pembangunan Kota dan Intelijen
Kompetitif
Pengembangan Klaster Kota Manado
Oleh : DR.
Ir. G.S.V. LUMENTUT, MSi. MM
(Dari Halaman 1)
III.
Pentingnya Klaster Industri Pariwisata
Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Jerman,
Perancis, dan Spanyol mengembangkan sitem klaster
dimulai dari negara bagian/provinsi yang bersangkutan
bahkan sampai pada tingkat distrik (kecamatan).
Sedangkan pengembangan nasional berdasarkan konsep
klaster secara khusus baru dimulai disejumlah
negara-negara kecil maju seperti Denmark dimana masih
sulit membedakan antara klaster regional dan nasional.
Program pengembangan klaster nasional India masih
terbatas pada penyediaan sumber daya pemerintah sebagai
dukungan dalam pengembangan klaster. Satu-satunya negara
berkembang yang secara explisit menerapkan strategi
industri pariwisata nasional berdasarkan konsep klaster
adalah Malaysia. Untuk Indonesia sebagai negara besar
dengan diversifikasi luas mengembangkan konsep
pengembangan klaster masih merupakan suatu proses
pembelajaran sebagai contoh mengamati pendekatan
strategis yang dilakukan di Afrika Selatan dengan
strategi pendekatan klaster pariwisata yang terdapat
tiga element penting: 1. Proses klaster nasional dengan
fokus penciptaan suatu forum dengan para pelaku usaha
pariwisata dengan pemerintah yang mengidentifikasi
hambatan-hambatan lingkungan yang kurang kondusif untuk
pengembangan bisnis dan memberi saran bagaimana
mengatasinya. 2. Proses klaster thematik dengan fokus
pada pilot project untuk penjabaran isu-isu yang harus
dikerjakan dalam rangka pengembangan strategi segmen
pasar khusus. Thematik ini mencakup identifikasi
kekuatan specifik, kelemahan umum, hambatan pengembangan
dan potensi klaster. Perumusan dan implementasi strategi
peningkatan harus fokus dan melampaui kemampuan klaster
individu. 3. Proses klaster lokal yaitu pengembangan
klaster lokal yang memadai dengan mengidentifikasi dan
seleksi potensi sehingga tepat untuk dikembangkan.
Dalam era globalisasi peningkatan persaingan muncul
secara signifikan yang menimbulkan tantangan baru
terhadap pengembangan industri pariwisata sehingga
penyesuaian diri secara fleksibel dari aspek pasar,
produk, teknologi dan kelembagaan perlu terus
ditingkatkan. Secara individual, pengembangan pariwisata
seringkali tidak sanggup menangkap peluang pasar yang
membutuhkan keragaman produk, standar yang homogen dan
pengelolaan yang lebih teratur. Jaringan klaster
industri pariwisata dalam prakteknya sudah terbukti
merupakan suatu alat yang baik untuk mengatasi hambatan
dan berhasil mengatasi persaingan dalan suatu lingkup
pasar yang semakin kompetitif. Melalui jaringan bisnis,
pengembangan pariwisata dapat mengatasi masalah dengan
memperbaiki posisi kompetitifnya seperti:
-
Melalui
kerjasama horizontal (mis. bersama pelaku usaha
pariwisata lainnya menempati posisi yang sama dalam
mata rantai nilai/value chain) secara kolektif
guna mencapai skala ekonomis, baik dalam aspek
pengembangan maupun promosi sehingga melalui
penggambungan kapasitas dapat memenuhi permintaan dalam
skala besar.
-
Melalui
integrasi vertikal (dengan pelaku usaha pariwisata
berskala nasional maupun internasional dalam mata-rantai
nilai dapat memfokuskan ke bisnis inti dan memberi
peluang pembagian produk external).
Kerja-sama
antar-perusahan atau institusi yang memberikan dampak
terhadap dunia pariwisata juga memberi kesempatan
tumbuhnya ruang belajar secara kolektif dimana terjadi
pengembangan saling tukar pendapat dan saling bagi
pengetahuan dalam suatu usaha kolektif untuk
meningkatkan kualitas produk dan segmen pasar yang
menguntunngkan. Jaringan bisnis antar perusahaan,
penyedia jasa layanan dan perumus kebijakan lokal dapat
mendukung pembentukan suatu visi pengembangan lokal
bersama dan memperkuat tindakan kolektif untuk
meningkatkan daya-saing.
Kebayakan
negara yang belum memiliki informasi tidak terstruktur
untuk membuat penilaian tentang pentingnya klaster
sangat sulit berkembang. Untuk USA saja, misalnya dengan
memiliki 380 klaster utama dengan menyerap kurang lebih
57% angkatan kerja dan menyumbang 60% pendapatan negara
di pertengahan tahun 2000 masih terus mengembankan
sistem klaster. Data ini menunjukan bahwa klaster memang
penting untuk terus ditumbuhkembangkan.
Berdasarkan
beberapa praktek terbaik sistem klasterisasi tersebut
diatas, pemerintah kota Manado memutuskan kebijakan
dengan Visi Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. Hal
ini sangat sejalan juga dengan rencana induk
pengembangan Provinsi Sulawesi Utara dengan menetapkan
pariwisata sebagai sektor unggulan. Untuk lebih
mengedepankan program unggulan ini dan memantapkan kota
Manado sebagai kota Tujuan Wisata dunia maka diperlukan
suatu bentuk klasterisasi pariwisata yang lebih fokus
dan terpadu serta terintegrasi di kota Manado.
IV. Bersambung
ke halaman 3
|