Berita

Artikel

Ranomawuri

Makatana

Timountalun

Topik Kawanua

Suara Kawanua

Plakat Kawanua

Profil Kawanua

Cirita Grap

Polling SL

News Link

 

 Berita Sulut: 20 Juni 2008

Pembangunan Kota dan Intelijen Kompetitif

Pengembangan Klaster Kota Manado

Oleh : DR. Ir. G.S.V. LUMENTUT, MSi. MM

 

(Dari Halaman 1)

 

III. Pentingnya Klaster Industri Pariwisata

            Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Jerman, Perancis, dan Spanyol mengembangkan sitem klaster dimulai dari negara bagian/provinsi yang bersangkutan bahkan sampai pada tingkat distrik (kecamatan). Sedangkan pengembangan nasional berdasarkan konsep klaster secara khusus baru dimulai disejumlah negara-negara kecil maju seperti Denmark dimana masih sulit membedakan antara klaster regional dan nasional. Program pengembangan klaster nasional India masih terbatas pada penyediaan sumber daya pemerintah sebagai dukungan dalam pengembangan klaster. Satu-satunya negara berkembang yang secara explisit menerapkan strategi industri pariwisata nasional berdasarkan konsep klaster adalah Malaysia. Untuk Indonesia sebagai negara besar dengan diversifikasi luas mengembangkan konsep pengembangan klaster masih merupakan suatu proses pembelajaran sebagai contoh mengamati pendekatan strategis yang dilakukan di Afrika Selatan dengan strategi pendekatan klaster pariwisata yang terdapat tiga element penting: 1. Proses klaster nasional dengan fokus penciptaan suatu forum dengan para pelaku usaha pariwisata dengan pemerintah yang mengidentifikasi hambatan-hambatan lingkungan yang kurang kondusif untuk pengembangan bisnis dan memberi saran bagaimana mengatasinya. 2. Proses klaster thematik dengan fokus pada pilot project untuk penjabaran isu-isu yang harus dikerjakan dalam rangka pengembangan strategi segmen pasar khusus. Thematik ini mencakup identifikasi kekuatan specifik, kelemahan umum, hambatan pengembangan dan potensi klaster. Perumusan dan implementasi strategi peningkatan harus fokus dan melampaui kemampuan klaster individu. 3. Proses klaster lokal yaitu pengembangan klaster lokal yang memadai dengan mengidentifikasi dan seleksi potensi sehingga tepat untuk dikembangkan. 

            Dalam era globalisasi peningkatan persaingan muncul secara signifikan yang menimbulkan tantangan baru terhadap pengembangan industri pariwisata sehingga penyesuaian diri secara fleksibel dari aspek pasar, produk, teknologi dan kelembagaan perlu terus ditingkatkan. Secara individual, pengembangan pariwisata seringkali tidak sanggup menangkap peluang pasar yang membutuhkan keragaman produk, standar yang homogen dan pengelolaan yang lebih teratur. Jaringan klaster industri pariwisata dalam prakteknya sudah terbukti merupakan suatu alat yang baik untuk mengatasi hambatan dan berhasil mengatasi persaingan dalan suatu lingkup pasar yang semakin kompetitif. Melalui jaringan bisnis, pengembangan pariwisata dapat mengatasi masalah dengan memperbaiki posisi kompetitifnya seperti:

-                     Melalui kerjasama horizontal (mis. bersama pelaku usaha pariwisata  lainnya menempati posisi yang sama dalam mata rantai nilai/value chain) secara kolektif guna mencapai skala ekonomis, baik dalam aspek pengembangan maupun promosi sehingga melalui penggambungan kapasitas dapat memenuhi permintaan dalam skala besar.

-                     Melalui integrasi vertikal (dengan pelaku usaha pariwisata berskala nasional maupun internasional dalam mata-rantai nilai dapat memfokuskan ke bisnis inti dan memberi peluang pembagian produk external).

Kerja-sama antar-perusahan atau institusi yang memberikan dampak terhadap dunia pariwisata juga memberi kesempatan tumbuhnya ruang belajar secara kolektif dimana terjadi pengembangan saling tukar pendapat dan saling bagi pengetahuan dalam suatu usaha kolektif untuk meningkatkan kualitas produk dan segmen pasar yang menguntunngkan. Jaringan bisnis antar perusahaan, penyedia jasa layanan dan perumus kebijakan lokal dapat mendukung pembentukan suatu visi pengembangan lokal bersama dan memperkuat tindakan kolektif untuk meningkatkan daya-saing.

 

Kebayakan negara yang belum memiliki informasi tidak terstruktur untuk membuat penilaian tentang pentingnya klaster sangat sulit berkembang. Untuk USA saja, misalnya dengan memiliki 380 klaster utama dengan menyerap kurang lebih 57% angkatan kerja dan menyumbang 60% pendapatan negara di pertengahan tahun 2000 masih terus mengembankan sistem klaster. Data ini menunjukan bahwa klaster memang penting untuk terus ditumbuhkembangkan.

Berdasarkan beberapa praktek terbaik sistem klasterisasi tersebut diatas, pemerintah kota Manado memutuskan kebijakan dengan Visi Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. Hal ini sangat sejalan juga dengan rencana induk pengembangan Provinsi Sulawesi Utara dengan menetapkan pariwisata sebagai sektor unggulan. Untuk lebih mengedepankan program unggulan ini dan memantapkan kota Manado sebagai kota Tujuan Wisata dunia maka diperlukan suatu bentuk klasterisasi pariwisata yang lebih fokus dan terpadu serta terintegrasi di kota Manado.

 

IV.           Bersambung ke halaman 3