|
Pesiar di
Pasar Tradisional Tomohon
Berbelanja
sambil Menikmati Keragaman Hasil Sumber Daya Alam
Laporan Denni Pinontoan

Tomohon,
Sulutlink.
Kalau ke Kota Tomohon, anda mestinya tak hanya menikmati
bunga, yang menjadi icon kota ini. Akan lebih
lengkap, kalau anda juga ke Pasar Tradisional kota bunga
ini. Sepintas, pasar tradisional Tomohon, sama dengan
pasar-pasar tradisioanal lainnya, tapi, kalau anda
berjalan-jalan mengelilingi pasar ini, sambil berbelanja
anda akan disuguhkan dengan pemandangan yang tidak lazim
di pasar-pasar tradisional lainnya.
Kalau
kita dari Kota Manado, ke pasar tradisional ini, dengan
menumpang bus antar kota kita hanya membutuhkan waktu
kurang lebih 45 menit. Lebih cepat kalau kita memakai
kendaraan pribadi. Kalau dari pusat Kota Tomohon, kita
hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit.
Baiknya
ada datang di hari Sabtu di pagi harinya. Karena di pagi
hari kita masih akan melihat ribuan penjual dan pembeli
ramai saling tawar menawar. Kita juga masih akan melihat
hasil tanaman hortikultura dari Rurukan yang segar-segar,
seperti wortel, kol, dan bawang. Pasar tradisional
Tomohon cukup luas. Bahan-bahan yang dijualpun sangat
beragam, dari yang untuk dimakan sampai yang untuk
dipakai sebagai penutup tubuh, pakaian misalnya, serta
dan peralatan rumah tangga, semuanya tersedia di pasar
ini.

Pasar Tradisional Tomohon dibangun berdampingan dengan
terminal Beriman. Sebuah terminal yang cukup besar.
Hanya selangkah dari terminal itu, kita akan langsung
berhadapan dengan pasar tradisional yang unik ini.
Makanya, kita tidak akan mengalami kesulitan jika ingin
berbelanja di pasar ini. Dari arah terminal ini, kita
pertama akan melihat pedagang ayam kampung. Ayam-ayam
kampung ini di bawah dari sejumlah kampung di wilayah
Tomohon, Tondano atau Kawangkoan. Harga ayam kampung ini
bervariasi tergantung berapa besar dan berat ayam yang
akan kita beli.
“Ayam-ayam yang kami jual ini tentu lebih enak rasa
dagingnya dibanding ayam-ayam daging,” ujar Om Utu
penjual ayam kampung dari Tondano.
Dia
mengaku, ayam-ayam yang dia jual itu dibelinya dari
warga yang memelihara ayam di sejumlah kampung di
Tondano. “Saya membelinya dari warga yang memelihara
ayam. Di rumah ada ayam yang saya pelihara, tapi tentu
tidak cukup kalau dijual setiap minggu di pasar ini,”
kata Om Utu menerangkan.
Om Utu
mengaku telah menggeluti pekerjaan sebagai penjual ayam
selama kurang lebih 5 tahun. “Ya, penghasilan dari
menjual ayam ini, lumayan untuk ongkos rumah tangga,
termasuk menyekolahkan anak,” katanya.
Di Pasar
tradisional itu kita juga akan melihat beragam jenis
buah-buahan, yang bergizi tinggi. Ada buah pepaya,
pisang, nenas, nangka, kelapa dan salak, tersedia di
pasar ini. Tampak penjualnya setia menunggu pembeli.
Mereka pun akan melayani kita dengan penuh keramahan.
Mudah-mudahan kita juga akan menawar jualan mereka
dengan harga yang tidak terlalu murah. Kasihan, sudah
susah-susah mereka bawa dari kampung, kita tentu tidak
harus menawar harganya terlalu murah.
Selain
beragam jenis buah, berbagai jenis sayur mayur juga
sudah pasti bisa kita temukan di pasar ini. Kondisinya
masih segar, sehingga baik untuk kesehatan dan enak
untuk disantap. Kebanyak sayur yang dijual di pasar ini
adalah kol, wortel, kangkung, dan gedi. Ada juga
rebung yang bisa dibuat acar. Untuk membuat
masakan sayur makin lesat, bumbu-bumbu, misalnya kemangi,
daun jeruk, sere dan daun pandan sering dijual bersamaan
dengan sayur mayur ini.
Eh, tapi
tunggu dulu, aku dengar dari salah satu pembeli bilang
di bagian dalam pasar ini ada ular piton atau dalam
bahasa Manado menyebutnya patola. Ihh, takut!
Tapi memang benar rupanya. Di pasar ini ada
ular
patola. Mana petugas keamanannya?! Gawat, kita
harus cepat pulang kalau begini!
Tapi,
kenapa orang-orang tidak berteriak, takut dan berlarian?
“Itu bukan ular hidup. Kalo so di meja, ikyang dia,”
celutuk seorang pembeli kepadaku.
Ehmm, aku
tahu sekarang! Ternyata, yang mereka maksud itu adalah
ular patola yang sudah mati, biasanya dimasak
pakai santang atau rempah-rempah RW. Tahu dengan itu,
langkah kakiku pun langsung diarahkan ke bagian lain
pasar itu.

Wow,
ternyata benar. Di pasar ini ada ular patola yang
sudah mati, dan sedang dijual bagi peminat hewan-hewan
hutan. “Ular patola ini torang da ambe dari utang
Molibagu,” kata seorang laki-laki penjual hewan buas
itu.
Warga peminat daging ular jenis ini tampak melihat-lihat
ular itu. Ada yang bertanya berapa harganya, ada juga
yang masih bertanya kepada istrinya apakah mau beli atau
tidak. “Daging ular ini, rasanya seperti makan daging
ayam kampung. Apa lei kalu beking santang,” ujar
Om Benni, warga Tomohon peminat daging ular patola.
 
Selain
ular patola, ada juga berbagai jenis hewan
hutannya lainnya yang di jual, misalnya tikus hutan atau
biasa orang Minahasa bilang kawok, kucing hutan,
kelelawar atau orang Minahasa menyebutnya peret,
dan babi hutan. “Jang tako, Om, ini tikus asli dari
utang,” Om penjual hewan tikus memberi keyakinan
kepada pembelinya.
Masih di
bagian itu, kita akan juga melihat pemandangan lazim di
pasar-pasar tradisional di Tanah Minahasa, yaitu daging
yang memang berdarah-darah. Daging babi yang masih
berdarah-darah tanda masih segar terpanjang untuk dijual.
Anjing yang telah dibakar, tak lagi berbuluh, tapi
tinggal kulit yang hangus terbakar terlentang pasrah
siap untuk dijual. Bagian perutnya tampak terbelah, dan
anda tinggal memesannya beli berapa kilo untuk dibeli.

Selain yang berdarah-darah, kita juga akan melihat jenis
jualan lain hasil keringat warga. Bagi anda yang ingin
bikin rujak, kola atau dodol, di pasar ini tersedia juga
gula merah. Gula yang terbuat dari air nira (saguer) ini
didatangkan dari sejumlah kampung di kota Tomohon. Gula
merahnya tampak bersih dan harganya pun tidak terlalu
mahal.
Waktu
sejam berjalan-jalan di pasar tradisional Tomohon taklah
cukup untuk melihat semua hasil sumber daya alam yang
dijual warga demi melanjutkan hidupnya. Apalagi, waktu
sejam ini memang tak cukup untuk membeli semua yang
diinginkan di pasar ini. Tapi memang, pasar tradisional
ini tak hanya untuk jual beli, para turis domestik dan
asing pun banyak datang menikmati keunikannya, terutama
untuk melihat hewan-hewan hutan dan daging babi dan
anjing yang berdarah-darah itu. Karenanya, pemerintah
Kota Tomohon telah juga menetapkan Pasar Tradisional ini
sebagai salah satu objek wisata.
Anda yang
ingin mendapatkan pemandangan unik sambil berbelanja,
bisa mencoba di pasar tradisional ini.
|