Berita

Artikel

Ranomawuri

Makatana

Timountalun

Topik Kawanua

Suara Kawanua

Plakat Kawanua

Profil Kawanua

Cirita Grap

Polling SL

News Link

 

 Bapontar: 23 Juni 2008

 

Potensi Wisata Yang Diabaikan

Nuansa Magis Batu Buaya

Oleh: Budi Harold Rarumangkay

 

Malalayang yang didiami komunitas Tou Bantik, diam-diam ternyata memiliki legenda mistis tentang suatu batu yang dinamakan Batu Buaya. Jejak sejarah yang diduga dari jaman sebelum masehi dan belum tersentuh ini. Menyimpan daya tarik yang kuat. “Nilai Jualnya” sama dengan Batu Pinabetengan. Bahkan sejumlah batu-batu yang dianggap bertuah di Malalayang Bantik ini menyimpan sejuta cerita sejarah bernuansa magis. Cerita magis Bantik atau umumnya Tou Minahasa inipun tidak kalah hebatnya dengan cerita pewayangan seperti di Jawa atau cerita legenda Joko Tingkir.

 

Bagi warga Tou Bantik sendiri dikenal beberapa batu bersejarah; diantaranya Batu Buaya, Batu Kuangang, Batu Opo. Batu Buaya adalah yang berbentuk seperti buaya. Batu ini terletak di kelurahan Malalayang Satu, sedangkan Batu Kuangang berada di Kelurahan Malalayang Satu Barat dan Batu Opo di Kelurahan Malalayang.

 

Batu Buaya lebih dikenal dengan legenda perang antara dua suku di Minahasa pada jaman dulu. Yakni; Tonaas Tonsawang dengan Tonaas Bantik. Sedangkan Batu Kuangang dan Batu Opo adalah batu bertuah. Berbagai kejadian aneh mengikuti sejarah batu-batu yang diyakini memiliki kekuatan gaib ini. Bahkan, menurut warga kampung setempat, tak jarang sejumlah pejabat penting di negara ini berkunjung minta wangsit disini.

 

Batu Buaya atau 'Batu Bihua' dalam bahasa Bantik juga disebut Batu Jenazah, dalam penuturan Opa Max Thomas Monangin yang pernah menjadi Hukum Tua selama 18 tahun di Malalayang, pada sulutlink, Senin (23/06/2008), Batu Buaya yang dalam bentuk aslinya tinggal ekor dan badan sepanjang 6 meter tersebut, memang sudah tidak berkepala (lihat foto, red). Batu Buaya tersebut adalah tubuh dari raksasa bernama Seke Barorongan- Tonaas Tonsawang.

 

Dalam legenda secara turun-temurun dan arsip Tou Bantik terang Monangin, Barorongan tewas beradu ilmu dan kepalanya dipenggal oleh pendekar Bantik bernama Tonaas Mandu, untuk dijadikan bukti agar para “Sualang” atau panglima perang percaya bahwa dirinya sudah mengalahkan si raksasa Tonsawang. Dalam adat Bantik, sudah menjadi keharusan setiap musuh yang dikalahkan maka batok kepalanya harus dibawa ke kampung. Adat ini hanya bertahan sampai abad ke 18. Nah, setelah ditebas dengan pedang itulah, sisa tubuh Barorongan berubah menjadi batu. Lokasi Batu Buaya berada di pekuburan bernama “Libubuhu” di jalan Mogandi - sekitar 1500 meter dari jalan raya Malalayang. Konon cerita, jika batu buaya sudah berubah kembali sediakala (kepalanya sudah utuh kembali, red), maka buaya ini akan mencari sungai dan kembali ke kampung halamannya di Tonsawang.

 

Alkisah, kepala Barorongan ini kemudian dipersembahkan secara adat dengan prosesi ritual di Batu Ni Yopo (Batu Opo). Batu Opo adalah tempat ritual paling sakral dan dikeramatkan oleh seluruh masyarakat Bantik sejak dulu hingga sekarang.

 

Monangin juga menceritakan bagaimana proses Barorongan tewas. Dikisahkan, setelah dari pagi hingga petang bertempur adu kesaktian tanpa ada yang kalah, dan saat Tonaas Mandu mulai terdesak, dia berteriak meminta bantuan pada anjing peliharaannya. “Kohotei tulung Jopo nu ka ma bata te” yang artinya; Kohotei bantu tuanmu sebab sudah mau kalah. Maka, seketika itu pula muncul seekor Kapuna atau Anjing jantan menyeramkan, bulunya belang-belang seperti Macan. Dengan muculnya Anjing Kohotei secepat kilat diraupnya buah zakar Barorongan hingga copot. “Kumoboi tanah paliongan ni Barorongan”- teriak Tonaas Tonsawang. (Artinya; Ditanah inilah Barorongan ditelan dan mati,red).

 

Kapuna Kohotei adalah sebutan kiasan untuk Anjing jadi-jadian, biasanya berbuluh merah stripstrip hitam melingkar dari punggung keperut. Wujud Kapuna Kohotei tidak statis atau permanen, artinya bisa berwujud Kuda, Rusa, Babi Hutan, Ular, Katak, Penyu, Lipan, Tawon, Kelelawar, Burung Gagak, Burung Manguni, Sri Gunting. Bahakeke (Burung Bantik) dan sebagainya, tergantung situasi dan kondisi saat itu. Hewan-hewan yang disebutkan Monangin tersebut diatas, baik yang berkaki empat, bersayap dan melata adalah pantang dimakan oleh leluhur orang Bantik dan khusus Babi Hutan bisa dimakan setelah diadakan proses tawar pantang.

 

Sedikit gambaran mengenai “Tonaasa Mbanti”-pendekar bernama Mandu dari Bantik Minanga (Malalayang).Dia adalah lelaki berbadan tegap dimana otot-otot kekarnya menyembul keluar dan keras (Malibatu Bantik), pandangan matanya tajam dan bisa mengetahui benda apa saja meski berjarak 5 kilometer, begitu juga dengan pendengarannya sangat peka, rautnya wajahnya tampan, sifat peramah dan selalu tersenyum. Rambut agak keriting dan dikuncir diatas kepala.

 

Perlu diketahui dan untuk dipahami, jika berkunjung ke Batu Buaya, kita harus memperhatikan hal-hal seperti; tidak boleh berteriak disekitar lokasi tersebut, tidak boleh memaki atau mengeluarkan kata-kata kotor atau kata -kata tidak senonoh, dan dilarang berpacaran ditempat tersebut. Selain itu, dilarang uji coba kesaktian atau keampuhan ilmu yang dimiliki pengunjung. Memasuki areal Batu Buaya memang ada perasaan lain, aroma magis terasa sangat kental. Terlepas dari semua itu, peninggalan situs budaya ini harus dilestarikan. Sebab harus diakui, banyak situs budaya di Sulut, tidak dikelola secara optimal. Bahkan cenderung terabaikan.

 

Sekertaris Kota (Sekot) Manado, DR Ir Vecky Limentut, mengatakan, potensi wisata budaya ini masuk dalam agenda objek wisata yaang ditawarkan mereka untuk dikunjungi turis mancanegara menuju Manado Kota Pariwisata Dunia (MKPD) 2010. Sedikitnya ada 21 objek wisata menqrik di Kota Manado. Diantaranya; Taman Nasional Laut Bunaken, Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Manado Tua, Gunung Tumpa, dan Air Terjun Bersusun. Untuk Objek wisata religi antara lain, Oude Kerk atau gereja tua GMIM Sentrum Manado, Klenteng Ban Hing Kong. Sedangkan Objek wisata budaya dan sejarah adalah, Batu Sumanti, Batu Bantik, Batu Buaya, Batu Kuangang, Veld Boog Belanda, Monumen Tentara Sekutu, Waruga Dotulolong Lasut, Kuburan Belanda, serta Monumen Jepang.

 

Khusus mengenai situs budaya berupa Batu Suku Bantik ini terang Lumentut, banyak terdapat  di Kota Manado, diantaranya; di  Bumi Beringin kompleks tempat tinggal gubernur ini juga terdapat batu bersejarah yaitu Batu Bantik. Dimana dalam peperangan suku, batu ini menjadi tempat persembunyian leluhur anak suku Bantik (suku yang pertama mendiami Manado). Batu ini dipercaya sebagai batu pe-lindung bagi Suku Bantik dalam menghadapi musuh.

 

“Saat ini kami terus melakukan penataan kembali objek-objek wisata tersebut. Ini semua untuk menunjang program pemerintah Visit Indonesia Year 2008, serta Manado sebagai Kota Parawisata Dunia 2010,”katanya seraya menambahkan, Pemkot Manado juga melakukan pagelaran seni dan atraksi budaya bagi para wistawan yang berkunjung ke Manado. Seni dan atraksi budaya tersebut antara lain, Tari Maengket, Tari Kabasaran, Musik Kolintang, Musik Bambu, serta Musik Bia. (Budi/Sulutlink.com)