|
Potensi Wisata Yang
Diabaikan
Nuansa Magis Batu Buaya
Oleh: Budi Harold
Rarumangkay
Malalayang
yang didiami komunitas Tou Bantik, diam-diam ternyata
memiliki legenda mistis tentang suatu batu yang
dinamakan Batu Buaya. Jejak sejarah yang diduga dari
jaman sebelum masehi dan belum tersentuh ini. Menyimpan
daya tarik yang kuat. “Nilai Jualnya” sama dengan Batu
Pinabetengan. Bahkan sejumlah batu-batu yang dianggap
bertuah di Malalayang Bantik ini menyimpan sejuta cerita
sejarah bernuansa magis. Cerita magis Bantik atau
umumnya Tou Minahasa inipun tidak kalah hebatnya dengan
cerita pewayangan seperti di Jawa atau cerita legenda
Joko Tingkir.
Bagi warga Tou Bantik
sendiri dikenal beberapa batu bersejarah; diantaranya
Batu Buaya, Batu Kuangang, Batu Opo. Batu
Buaya adalah yang berbentuk seperti buaya. Batu ini
terletak di kelurahan Malalayang Satu, sedangkan Batu
Kuangang berada di Kelurahan Malalayang Satu Barat dan
Batu Opo di Kelurahan Malalayang.
Batu Buaya lebih dikenal
dengan legenda perang antara dua suku di Minahasa pada
jaman dulu. Yakni; Tonaas Tonsawang dengan Tonaas Bantik.
Sedangkan Batu Kuangang dan Batu Opo adalah batu bertuah.
Berbagai kejadian aneh mengikuti sejarah batu-batu yang
diyakini memiliki kekuatan gaib ini. Bahkan, menurut
warga kampung setempat, tak jarang sejumlah pejabat
penting di negara ini berkunjung minta wangsit disini.
Batu
Buaya atau 'Batu Bihua' dalam bahasa Bantik juga disebut
Batu Jenazah, dalam penuturan Opa Max Thomas Monangin
yang pernah menjadi Hukum Tua selama 18 tahun di
Malalayang, pada sulutlink, Senin (23/06/2008),
Batu Buaya yang dalam bentuk aslinya tinggal ekor dan
badan sepanjang 6 meter tersebut, memang sudah tidak
berkepala (lihat foto, red). Batu Buaya tersebut adalah
tubuh dari raksasa bernama Seke Barorongan- Tonaas
Tonsawang.
Dalam legenda secara
turun-temurun dan arsip Tou Bantik terang Monangin,
Barorongan tewas beradu ilmu dan kepalanya dipenggal
oleh pendekar Bantik bernama Tonaas Mandu, untuk
dijadikan bukti agar para “Sualang” atau panglima perang
percaya bahwa dirinya sudah mengalahkan si raksasa
Tonsawang. Dalam adat Bantik, sudah menjadi keharusan
setiap musuh yang dikalahkan maka batok kepalanya harus
dibawa ke kampung. Adat ini hanya bertahan sampai abad
ke 18. Nah, setelah ditebas dengan pedang itulah, sisa
tubuh Barorongan berubah menjadi batu. Lokasi Batu Buaya
berada di pekuburan bernama “Libubuhu” di jalan Mogandi
- sekitar 1500 meter dari jalan raya Malalayang. Konon
cerita, jika batu buaya sudah berubah kembali sediakala
(kepalanya sudah utuh kembali, red), maka buaya ini akan
mencari sungai dan kembali ke kampung halamannya di
Tonsawang.
Alkisah, kepala Barorongan
ini kemudian dipersembahkan secara adat dengan prosesi
ritual di Batu Ni Yopo (Batu Opo). Batu Opo adalah
tempat ritual paling sakral dan dikeramatkan oleh
seluruh masyarakat Bantik sejak dulu hingga sekarang.
Monangin juga menceritakan
bagaimana proses Barorongan tewas. Dikisahkan, setelah
dari pagi hingga petang bertempur adu kesaktian tanpa
ada yang kalah, dan saat Tonaas Mandu mulai terdesak,
dia berteriak meminta bantuan pada anjing peliharaannya.
“Kohotei tulung Jopo nu ka ma bata te” yang
artinya; Kohotei bantu tuanmu sebab sudah mau kalah.
Maka, seketika itu pula muncul seekor Kapuna atau Anjing
jantan menyeramkan, bulunya belang-belang seperti Macan.
Dengan muculnya Anjing Kohotei secepat kilat diraupnya
buah zakar Barorongan hingga copot. “Kumoboi tanah
paliongan ni Barorongan”- teriak Tonaas Tonsawang. (Artinya;
Ditanah inilah Barorongan ditelan dan mati,red).
Kapuna Kohotei adalah
sebutan kiasan untuk Anjing jadi-jadian, biasanya
berbuluh merah stripstrip hitam melingkar dari punggung
keperut. Wujud Kapuna Kohotei tidak statis atau permanen,
artinya bisa berwujud Kuda, Rusa, Babi Hutan, Ular,
Katak, Penyu, Lipan, Tawon, Kelelawar, Burung Gagak,
Burung Manguni, Sri Gunting. Bahakeke (Burung Bantik)
dan sebagainya, tergantung situasi dan kondisi saat itu.
Hewan-hewan yang disebutkan Monangin tersebut diatas,
baik yang berkaki empat, bersayap dan melata adalah
pantang dimakan oleh leluhur orang Bantik dan khusus
Babi Hutan bisa dimakan setelah diadakan proses tawar
pantang.
Sedikit gambaran mengenai
“Tonaasa Mbanti”-pendekar bernama Mandu dari Bantik
Minanga (Malalayang).Dia adalah lelaki berbadan tegap
dimana otot-otot kekarnya menyembul keluar dan keras (Malibatu
Bantik), pandangan matanya tajam dan bisa mengetahui
benda apa saja meski berjarak 5 kilometer, begitu juga
dengan pendengarannya sangat peka, rautnya wajahnya
tampan, sifat peramah dan selalu tersenyum. Rambut agak
keriting dan dikuncir diatas kepala.
Perlu diketahui dan untuk
dipahami, jika berkunjung ke Batu Buaya, kita harus
memperhatikan hal-hal seperti; tidak boleh berteriak
disekitar lokasi tersebut, tidak boleh memaki atau
mengeluarkan kata-kata kotor atau kata -kata tidak
senonoh, dan dilarang berpacaran ditempat tersebut.
Selain itu, dilarang uji coba kesaktian atau keampuhan
ilmu yang dimiliki pengunjung. Memasuki areal Batu Buaya
memang ada perasaan lain, aroma magis terasa sangat
kental. Terlepas dari semua itu, peninggalan situs
budaya ini harus dilestarikan. Sebab harus diakui,
banyak situs budaya di Sulut, tidak dikelola secara
optimal. Bahkan cenderung terabaikan.
Sekertaris Kota (Sekot)
Manado, DR Ir Vecky Limentut, mengatakan, potensi wisata
budaya ini masuk dalam agenda objek wisata yaang
ditawarkan mereka untuk dikunjungi turis mancanegara
menuju Manado Kota Pariwisata Dunia (MKPD) 2010.
Sedikitnya ada 21 objek wisata menqrik di Kota Manado.
Diantaranya; Taman Nasional Laut Bunaken, Pulau Bunaken,
Pulau Siladen, Pulau Manado Tua, Gunung Tumpa, dan Air
Terjun Bersusun. Untuk Objek wisata religi antara lain,
Oude Kerk atau gereja tua GMIM Sentrum Manado, Klenteng
Ban Hing Kong. Sedangkan Objek wisata budaya dan sejarah
adalah, Batu Sumanti, Batu Bantik, Batu Buaya, Batu
Kuangang, Veld Boog Belanda, Monumen Tentara Sekutu,
Waruga Dotulolong Lasut, Kuburan Belanda, serta Monumen
Jepang.
Khusus mengenai situs budaya
berupa Batu Suku Bantik ini terang Lumentut, banyak
terdapat di Kota Manado, diantaranya; di Bumi Beringin
kompleks tempat tinggal gubernur ini juga terdapat batu
bersejarah yaitu Batu Bantik. Dimana dalam peperangan
suku, batu ini menjadi tempat persembunyian leluhur anak
suku Bantik (suku yang pertama mendiami Manado). Batu
ini dipercaya sebagai batu pe-lindung bagi Suku Bantik
dalam menghadapi musuh.
“Saat ini kami terus
melakukan penataan kembali objek-objek wisata tersebut.
Ini semua untuk menunjang program pemerintah Visit
Indonesia Year 2008, serta Manado sebagai Kota
Parawisata Dunia 2010,”katanya seraya menambahkan,
Pemkot Manado juga melakukan pagelaran seni dan atraksi
budaya bagi para wistawan yang berkunjung ke Manado.
Seni dan atraksi budaya tersebut antara lain, Tari
Maengket, Tari Kabasaran, Musik Kolintang, Musik Bambu,
serta Musik Bia. (Budi/Sulutlink.com) |