|
Mencoba Memaknai Globalisasi
Denni
Pinontoan
Utu yang
tinggal di salah satu wanua terpencil di wilayah
Minahasa tak lagi harus bersusah-susah untuk menonton
final siaran langsung Euro 2008. Dia bisa langsung tahu,
Spanyol adalah juara Euro 2008. Cuma kopi pahit manis
satu gelas, tv 21 inch, duduk di kursi empuk dan
ditemani beberapa teman sekampung yang gila bola, Utu
sudah bisa pergi ke dunia lain. Ini berkat Parabola yang
kemudian yang menjadi bisnis TV Kabel menguntungkan bagi
Om Benni sejak tahun 90-an. Film-film aksi dan kasih
produksi hollywood dan bollywood juga sudah akrab
dengannya setiap hari. Padahal, di lemarinya ada kartu
Rumah Tangga Miskin. Besok dia akan antri di Kantor Pos
Kecamatan untuk menerima BLT.
Utu, juga
tak lagi pusing jika ingin bercakap-cakap langsung
dengan adiknya di Jakarta. Dia punya seluler second,
yang dibelinya dengan murah dari Alo yang sekarang
mengganti hp-nya dengan fasilitas 3G. Cuma menekan
beberapa angka di hp itu, dia langsung bisa bicara,
tanya kabar juga kadang bercanda minta dikirimkan uang
melalui rekening banknya kepada adiknya. Kadang canda
itu membuahkan hasil. Tak dia kira, ketika mengambil
waktu ke kota, cek di ATM, eh ternyata saldonya sudah
bertambah.
Keke,
adik Utu yang lain, yang sementara kuliah di kota,
sehari-hari ke warnet. Chatting dan kirim surat
elektronik (e-mail) kepada teman sekolahnya waktu SMA
yang sekarang bekerja di Amerika. Mereka saling
menanyakan kabar, atau bercanda. Foto-foto yang dipotret
pakai kamera digital temannya di Amerika bisa Keke lihat
langsung di salah satu fasilitas emailnya. Temannya
banyak bercerita tentang Amerika. Keke pun membagi
ceritanya tentang suasana kampung kalau Natal, Tahun
Baru atau Pengucapan Syukur yang baru dialaminya sejak
temannya itu ke Amerika. Keke pun jadi tahu banyak
seperti apa kehidupan di Amerika. Temannya pun tak jadi
lupa kampung halamannya. Mereka jauh, tapi tetap sebagai
teman dekat. Ketika di warnet, Keke seolah-olah sedang
berada dekat dengan temannya itu. Keke juga menjadikan
Google, Yahoo dan web mesin pencari lainnya untuk
mendapatkan informasi yang dia butuhkan.
Utu,
Keke, Om Benny dan Alo, adalah kita di sini dan kini,
yang sementara menikmati berkat tapi juga sementara
terancam dengan globalisasi. Dunia telah menjadi datar,
demikian Thomas L Friedman. Dunia seolah-olah tak ada
lagi batas. Antara Utu, Alo, Keke, dengan George,
Chelse, Jurgen, atau Suprapto, Inem, dan lain sebagainya
adalah manusia-manusia di sebuah dusun kecil bernama
bumi. Kemajuan teknologi dan informasi serta perdagangan
antara negara, telah membuat dunia ini menjadi datar.
Ini
membawa konsekuensi pada perubahan cara pandang,
paradigma berpikir, sistem dan paradigma politik dan
ekonomi. Kita memang akhirnya telah dibuat takut dengan
globalisasi, tapi karenanya kita juga terhibur dan
senang menonton pertandingan sepak bola di ESPN dan
film-film Box Office di HBO. Itulah globalisasi yang
adalah realitas sejarah, yang bukan nanti sekarang
terjadi. Di Indonesia, sejak bangsa Spanyol, Portugis
dan Belanda datang, globalisasi pun telah dimulai. Meski
memang yang dominan waktu itu tampilannya adalah
imprealisme, namun, di satu pihak, pendidikan modern
oleh para zending yang diperkenalkan di Minahasa
misalnya, harus disebut sebagai berkat. Di dunia ini,
sejak Colombus melakukan perjalanannya dan merambah
dunia-dunia baru, globalisasi pun dimulai. Begitu juga
perjumpaan antara pedagang Arab, India, Persia dan Cina,
dengan di Nusantara, yang dimulai pada abad ke-7, juga
adalah usaha-usaha awal mendatarkan dunia. Jangan lupa
juga ketika peradaban Islam menancapkan pengaruhnya dari
Indus sampai Andalus.
Friedman
pengarang buku “The World is Flat, Sejarah
Ringkas Abad ke-21,” (Terj. Dian Rakyat, Jakarta,
Oktober 2006) meyakini dunia mulai menjadi datar ketika
perang dingin berakhir. Di saat itulah dunia bersepakat
untuk tunduk pada satu sistem yaitu kapitalisme. Dunia
modern, kemudian melahirkan evolusi teknologi informasi.
Karena itu muncullah penemuan PC (personal computer),
internet pun mendunia.
Tapi,
kita bisa juga melihat sejarah kelahiran globalisasi ini
dari kemerdekaan rasio (rasionalisme), yang kemudian
antara lain memunculkan kapitalisme dan imprealisme.
Rasionalisme adalah hasil pemberontakan terhadap
dominasi agama (gereja) dengan kemutlakan doktrin dan
tradisinya. Abad pertengahan, ketika Luther memberontak
terhadap kemutlakan gereja, dan kemudian membuka ruang
kritik terhadap doktrin, tradisi dan otoritas gereja
yang kalau tidak diinterupsi bisa menjadi tahayul, maka
manusia pun akhirnya merasa diri telah bebas merdeka.
Tapi
prosesnya panjang sampai bayi globalisasi itu menemukan
wujudnya yang menyeramkan, yaitu kapitalisme dan
imprealisme. Ada revolusi Industri, ada Kemerdekaan
Amerika, ada revolusi Perancis yang mengiringi proses
perubahan wujud rasionalisme menjadi monster globalisasi.
Kolonialisme Bangsa Barat atas Bangsa Timur, harus kita
baca dalam upaya kapitalisme dan imprealisme menundukkan
dunia. Ini berawal ketika rasionalisme kemudian lepas
kontrol, dan akhirnya peradaban Barat merasa diri
sebagai pusat dari segala-galanya. Kalau dulu gereja
yang menganggap diri sebagai pusat kebenaran dan
keselamatan maka di era rasionalisme yang tak terkontrol
itu, peradaban Barat kemudian menjadi poros dunia untuk
menilai berdosa (kafir) - tidak berdosa (suci),
berbudaya-tidak berbudaya dan beradab-tidak beradab.
Perang
Dunia Pertama dan Kedua, adalah jejak sejarah hitam
dunia, yang harus kita sebut sebagai ekses dari usaha
pendataran dunia. Tapi, pengalaman penjajahan, dan
penderitaan karena dua perang dunia itu, akhirnya
menjadi pemicu bagi bangsa-bangsa di Asia, termasuk
bangsa-bangsa di Nusantara yang kemudian bersepakat
secara darurat untuk mendirikan negara Indonesia. Prof.
A.B. Lapian, sejarawan, mantan guru besar UI dan
peneliti LIPI, dalam sebuah forum diskusi publik
mengatakan, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah awal
berdirinya sebuah bangsa dan 17 Agustus 1945 adalah
kelahiran sebuah negara yang bernama Indonesia. Dua
tahap sejarah kita itu, adalah antara lain reaksi
politik bangsa-bangsa di nusantara ini ketika
globalisasi telah menjadi jahat dengan kapitalisme dan
imprealismenya.
Kembali
pada kita di sini dan kini. Suka atau tidak, senang atau
tidak, kita sebenarnya sedang menjadi bagian dari
globalisasi. Tapi yang menjadi persoalan memang, bahwa
kebanyakan kita masih bersikap pasif dalam proses yang
sebenarnya mengandung banyak peluang itu. Globalisasi
dalam wujudnya yang terakhir, misalnya apa yang disebut
dengan neoliberalismenya, pada banyak hal memang cuma
sampai membuat kita menjadi korban di dalamnya. Kita
cuma sampai mampu membeli asesoris buatan Cina, daripada
memproduksi dan mengekspornya sehingga kita mendapat
untung dari globalisasi itu. Kita akhirnya menjadi
korban pencemaran dan mendapat dampak negatif dalam
kehidupan sosial dan tata politik dari kehadiran
perusahaan-perusahaan tambang misalnya. Negara kita
akhirnya harus tunduk pada pasar dunia soal kenaikan
harga BBM, ketika hasil-hasil bumi kita kebanyakan sudah
dijual kepada perusahaan-perusahaan multinasional.
Cap tikus yang diproduksi oleh ribuan petani di
Minahasa misalnya, hingga sekarang ini hanya dijadikan
sebagai kambing hitam tindakan kriminal. Kita, rakyat
dan pemerintah daerah, tidak kemudian berpikir serius
untuk mengolah cap tikus menjadi bahan ekspor sampai ke
rumah-rumah sakit di London atau bar-bar di Texas.
Tapi,
globalisasi, dalam tampilannya terkini itu, akhirnya
bukan lagi sesuatu yang harus kita lawan, dan berusaha
menghilangkannya. Sejarah seolah-olah memang telah
mengkodratkan kita, di sini dan kini untuk berada dalam
proses pendataran bumi itu. Kita perlu berkawan
dengannya. Karena bagaimanapun, globalisasi telah
memaksa kita untuk berproses di dalamnya.
Memang
sampai kini kita belum menemukan resep mujarab untuk
menjinakan globalisasi itu sehingga bisa memberi untung
bagi kita pada soal berekonomi. Tapi, poros dunia belum
berhenti, sehingga, kita masih punya waktu untuk
menjinakannyanya, asalkan kita belum kehabisan energi.
Proses belajar dan berpengetahuan, beradab dan
berbudaya, jangan pernah berhenti.
Dalam
proses itu, berbudaya, bukanlah pertama-tama soal bahwa
kita harus terlalu bernostalgia lagi dengan kelampauan
sejarah Tanah kita. Berbudaya adalah proses
berpengetahuan untuk memperbarui peradaban. Keke yang
secara cerdas memaknai internet untuk belajar demi ilmu
pengetahuan, adalah juga sedang berbudaya. Utu yang
menikmati Indovision dengan segala tayangannya kemudian
menemukan banyak hal baru tentang dunia luar, dan
kemudian melakukan refleksi atau perenungan terhadap
yang apa sedang terjadi di tanah adatnya sekarang,
adalah juga sedang berbudaya. Begitu juga, dalam soal
kebijakan politik pemerintah daerah kita, WOC, TFF di
Tomohon misalnya, kalau paradigma dan spiritnya adalah
untuk memperkuat ekonomi rakyat, yang caranya adalah
promosi massal ke dunia internasional tentang segala
potensi sumber daya alam daerah ini, menurut saya ini
adalah juga sedang berbudaya.
Sehingga
untuk memaknai secara cerdas globaliasasi itu, maka
institusi politik, birokrasi, agama dan lain sebagainya
harus dalam kesadaran sebagai bagian dari proses
berbudaya. Politik yang berbudaya adalah kekuasaan untuk
mengatur atau mengolah institusi pemerintahan dalam
usaha mengarahkan rakyat atau publik pada tujuan
hidupnya, yaitu sejahtera. Institusi birokrasi, atau
pemerintah yang berbudaya, adalah institusi yang
melayani dengan tulus dan jujur publik dalam usahanya
memenuhi segala kebutuhan hidupnya untuk berpolitik,
bersosial dan berekonomi. Pemerintah Pusat di Jakarta,
akhirnya harus secara terbuka untuk kemudian
memberlakukan otonomi daerah yang benar-benar menjadikan
daerahnya kuat. Kalau daerah kuat, maka negara akan kuat
pula menghadapi kapitalisme yang banyak ditakuti orang
dalam globalisasi. Sementara agama yang berbudaya,
adalah institusi religius yang terus menerus
memperbaharui diri untuk menjadi gerakan moral dan
spiritual rakyat dalam usahanya menuju ke keselamatan
lahir maupun batin, bukan terutama di sana, tapi di sini
dan kini. Dan semua itu terkandung pada apa yang sering
kita sebut sebagai kearifan lokal. Kearifan lokal pada
Tanah kita harus digali, diinterpretasi dan
direvitalisasi. Itu kira-kira usulan saya untuk
memaknai globalisasi.
Tomohon, sehari setelah ToF 2008 di Tomohon.
|