|
Wisata
Kuliner di Kawangkoan
Dari
Kacang Sangrai sampai Ragey Tersedia
Laporan
Denni Pinontoan
Kawangkoan,
Sulutlink.
Kota Kecil Kawangkoan, sebuah kawasan yang tak terlalu
berubah akibat modernisasi. Warga di sini masih setia
dengan beberapa adat istiadat Minahasa. Berbicara pun,
mereka masih kental dengan Bahasa Manado Melayu dan
Bahasa Minahasa (makatana) rumpun Toutemboan. Hubungan
kekerabatan antar warga pun masih kental.
Kota Kawangkoan yang termasuk di wilayah administrasi
pemerintahan Kabupaten Minahasa ini, terletak di daerah
pegunungan, yang udaranya relatif masih sejuk
seolah-seolah tidak sedang bermasalah dengan
global warming.
Ke
Kota Kawangkoan, dari Kota Manado, kita membutuhkan
waktu kurang lebih sejam. Kalau dari Kota Tomohon,
waktunya kira-kira hanya setengah jam atau kurang.
Dari arah
Kota Manado dan Tomohon, memasuki Kota Kawangkoan, kita
akan melihat beberapa gua Jepang, di sebuah tempat yang
disebut Ranowangko. Bahkan, di kelurahan Sendangan, ada
Gua Lima Puluh Kamar. Disebut Gua Lima Puluh Kamar,
karena jumlah kamar di gua ini konon berjumlah 50 buah.
Objek wisata ini sebenarnya menarik, tapi sayang
pemerintah kabupaten belum menata dan mengolahnya secara
serius. Di kelurahan Kinali ada juga Air Panas, yang
bagus untuk terapi kesehatan.
Tapi
kali ini kita tidak akan ke tempat-tempat wisata itu.
Sebab, Anda pasti pernah dengar, bahwa Kota Kawangkoan
terkenal dengan sebutannya sebagai Kota Kacang. Ini
terkait dengan yang khas di kota ini, yaitu Kacang
Sangrai yang gurih, lezat dan renyah. Kacang Sangrai pun
menjadi salah satu sumber pendapatan bagi warga di kota
kelahiran sejumlah tokoh pergerakan ini. Ada warga yang
berprofesi menjual dan ada warga yang bekerja
memproduksi kacang Sangrainya. “Tapi sebenarnya,
kacang-kacang itu tidak semua ditanam di Kawangkoan ini.
Banyak di antaranya yang diambil dari luar Kawangkoan,
misalnya Tompaso,” ujar Doni Masengi, warga Kelurahan
Talikuran, yang bersedia menemani sulutlink berwisata
kuliner kali ini.
Kebanyakan
kacang sangrai bisa kita temui di pusat Kota Kawangkoan.
Jenis kacang Sangrai yang dijual di kota ini ada dua,
yaitu kacang biasa, tapi dan kacang yang banyak
diminati pembeli, yaitu kacang jenis belimbing. “Kalau
kacang sangarai jenis belimbing, rasanya lebih gurih,
dan buah kacangnya lebih besar dan padat. Tapi harganya
memang lumayan juga, sekitar Rp. 7000 sampai Rp. 7500
perliter,” ujar Doni. Kami pun coba menyantapnya. Wow,
memang enak.
Para
pelancong yang singga di kota ini sering menjadikan
kacang sangrai ini sebagai oleh-oleh untuk sanak family
yang menunggu di rumah. Selain kacang
sangrai
ada juga jenis jajanan lainnya, misalnya halua
yang terbuat dari gula merah dan kacang, kemudian
bagea, kue kering yang terbuat sari sagu, dan ada
juga kacang goyang. Semua kue kering ini memang
khas Minahasa. “Kebanyakan pembeli di sini, selain warga
yang melewati kota ini setelah bepergian dari kota lain,
tapi ada juga para turis yang ingin menikmati kuliner
khas Minahasa,” jelas Doni.
Tapi di
kota ini bukan hanya kuliner yang kering-kering. Sajian
makanan yang basah-basah juga terdapat di kota ini.
Selain terkenal dengan kacang sangrai, kota Kawangkoan
juga terkenal dengan Bakpao atau Biapong khas Kawangkoan.
Ada Biapong yang isinya
daging
babi, ada juga biapong yang isinya temo. Sejumlah rumah
kopi di pusat kota kawangkoan menjadikan Biapong sebagai
menu andalannya. Dan, biapong memang enak disantap
bersama dengan kopi susu, teh susu, atau kopi pahit
manis saja. Selain biapong, ada juga roti bakar. Roti
bakarnya memang lezat, karena dibakar dengan menggunakan
bara tempurung.
Ada
sekitar 3 rumah kopi besar di pusat kota Kawangkoan,
yaitu rumah kopi Sarinah, Toronata dan Gembira. Setiap
pagi dan sore rumah-rumah kopi ini dipadati oleh para
pengunjungnya. Sambil minum kopi susu dan makan biapong
para pengunjung juga menggunakan waktu santai itu untuk
bacirita banyak hal. Mulai dari soal bola,
politik, sampai urusan dagang, blante (barter),
misalnya. “Para pengunjung rumah-rumah kopi ini, selain
yang dari luar, sekedar untuk singgah dan membeli
jajanan, tapi juga warga Kawangkoan yang rutin ke sini
sering menjadikan rumah-rumah kopi ini untuk baciria
banyak hal. Ada yang bicara tentang bola, blante,
bahkan juga soal politik,” kata Doni lagi.
Setelah
puas dengan berbelanja oleh-oleh, dan minum kopi serta
maka biapong, saatnya kita makan nasi dan berbagai jenis
menu khas Minahasa, seperti ragey, RE, Tinoransak,
saroy pait, dan lain sebagainya. Di Kota
Kawangkoan ada beberapa rumah makan yang menyediakan
menu-menu ini.
Di ujung
kota ini, ada rumah makan yang cukup bagus dengan sajian
menu yang lengkap, tapi bisa dijangkau oleh kantong yang
pas-pasan. Di rumah makan “eleny” kita bisa memesan
beragam menu khas Minahasa. Tempatnya cukup strategis,
pemandangan pegunungan menambah kekhasan rumah makan ini.
Di rumah makan ini tersedia ragey, sebagai menu
andalan, RW, Tinoransak, saroy pait, bia santang
dan lain-lain. “Ragey (sejenis sate, tapi daging
babinya lebih besar), adalah khas Kawangkoan. Sekarang
banyak rumah makan di luar Kawangkoan yang telah
menjadikannya sebagai menu andalan,” jelas Doni.
Lengkap
sudah wisata kuliner kita kali ini. Kacang Sangrai sudah,
biapong sudah, ragey sudah. Apalagi? Saatnya kita pulang.
Kapan-kapan kita balik lagi ke sini, berwisata ke Gua
Lima Puluh Kamar atau mandi air panas di Kinali. |