|
Kepulauan
Sangihe,
Daerah
Kaya di Wilayah Perbatasan
Laporan
Denni Pinontoan, dari Tahuna, Kepulauan Sangihe
 Tahuna,
Sulutlink.
Jalan-jalan ke kepulauan Sangihe berawal
dari rasa penasaran terhadap segala yang daerah
ini miliki, baik panorama dan sumber daya alamnya,
maupun kekhasannya sebagai wilayah terluar yang
berbatasan dengan Pilipina. Bersama beberapa teman dari
Perkumpulan Kelola, kakikupun dilangkahkan menuju ke
Pelabuhan Manado. Dari sana, kapal feri yang melayani
angkutan laut antar pulau, mengantar kami ke Kab.
Kepulauan Sangihe, sebuah daerah kepulauan yang belum
pernah aku datangi.
Senin
(7/7) sekitar pukul 20.15 wita kapal feri yang
mengangkut penumpang jurusan Pelabuhan Manado-Tahuna
membawa kami menuju ke Kepulauan Sangihe. Ada rasa deg-deggan
mengarungi laut yang masih asing bagi saya. Tapi, ketika
kapal mengarungi laut rasa senang pun mengalahkan
keraguan melayari laut yang kadang-kadang ganas dengan
ombaknya. Di kapal itu, penumpang yang terdiri dari
ratusan orang dewasa dan beberapa anak berdesakan.
“Beginilah keadaan kapal kecil. Penumpangnya padat,
barang-barangnya juga banyak. Tapi, cuma ini alat
transportasi kita kalau akan ke sana,” ujar Mat Basoan,
penggiat di Perkumpulan Kelola, sebuah NGO berbasis di
Manado, yang sekarang sedang sibuk dengan program
Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat di daerah
kepulauan itu.

Perjalanan
dari pelabuhan Manado ke Tahuna, dengan menggunakan
kapal itu membutuhkan waktu kurang lebih 11 jam. Tiba
di Pelabuhan Tahuna hari sudah pagi, kira-kira pukul
06.00 wita. Sebagai orang yang baru pertama kali datang
ke Tahuna, ini tentu merupakan pemandangan menarik
bagiku. Suasana pelabuhan Tahuna ketika kami tiba sangat
ramai dan sibuk. Para buruh bagasi berebutan menawarkan
jasa pengangkutan dengan mengandalkan otot kepada
penumpang yang membawa bahan-bahan yang banyak.
“Barangnya nanti kami yang angkut ke dermaga, Pak.
Nanti baku ator no de pe harga,”, ujar seorang
laki-laki bertubuh kekar kepada kami yang masih di dalam
kapal.
Karena
kami membawa barang bawaan yang cukup banyak untuk
keperluan kantor Kelola, kami pun menerima tawaran dari
buruh bagasi itu. Si laki-laki bertubuh kekar itu pun
memberi jaminan bahwa barang-barang kami aman. “Nanti,
kita angka kong langsung kase di roda. Jang tako, nda
mo ilang kwa,” ujarnya memberi kepastian.
Kesepakatan pun terjadi. Kami pun mengikuti buruh bagasi
itu mengangkut barang bawaan menuju ke dermaga. Dan,
melalui tangga kapal yang terbuat dari kayu, aku pun
langsung memandang ke pelabuhan itu. Hari masih pagi,
dan ini ternyata adalah semangat baru bagi warga Tahuna
yang berurusan dengan pelabuhan di pagi itu. “Oh, ini
ternyata Pelabuhan Tahuna, pintu gerbang kepulauan
Sangihe!” gumamku yang merasa senang karena bisa melihat
langsung daerah kepulauan ini.
Dari
pelabuhan itu, terlihat hamparan pegunungan di depannya.
Gunung Awu dari kejauhan memperlihatkan sebuah pesona
alam karya Sang Pencipta. Air laut yang berombak kecil
di pelabuhan itu, memancarkan kekhasan Kabupaten Sangihe
yang 95 persen wilayahnya terdiri dari laut. “Inilah
kepulauan Sangihe. Kebanyakan laut. Tapi, daerah
pegunungan itu (sambil menunjukan jari telunjuknya di
daerah pegunungan di belakang Tahuna, ibu Kota Kabupaten
Sangihe), memungkinkan warga di sini menanam beberapa
jenis tanaman, seperti kelapa, cengkih, pala dan
berbagai jenis tanaman musiman lainnya. Kesuburan tanah
di sini berkat gunung Awu, “ jelas Erny Jacob, salah
satu personil Kelola, yang juga bersama-sama dalam
perjalanan dari Manado menuju ke Tahuna Ibu Kota Kab.
Kepulauan Sangihe. Dari pelabuhan itu, dengan menumpang
mobil angkutan dalam kota, kami langsung menuju ke
kantor cabang Kelola di Kelurahan Bungalawang Kecamatan
Tahuna.
Dari
pelabuhan menuju ke Bungalawang waktu tempuh kira-kira
15 menit. Dari dalam mobil angkutan dalam kota itu,
terlihat dinamika masyarakat Tahuna. Jalan yang kami
lalui ramai dengan sepeda motor, milik tukang ojek.
“Inilah kota Tahuna dengan segala dinamikanya. Di sini
ada juga perkampungan Islam, tapi mereka hidup
berdampingan secara damai dengan warga Kristen yang
mayoritas di sini,” ujar Mat, ketika kami melewati
Kelurahan Tidore, salah kelurahan di dalam kota Tahuna.
 Dari
data yang saya dapat, Kabupaten Kepulauan Sangihe
terletak di antara 20 4’13” – 40 44’ 22” LU dan 1250
9’28” – 1250 56’57” BT. Pemerintah kabupaten kepulauan
Sangihe yang sekarang dipimpin oleh Bupati Winsulangi
Salindeho telah menetapkan daerah ini terdiri dari tiga
gugusan kepulauan yang letaknya berjauhan dan gugusan
kepulauan kecil yang merupakan tapal batas negara
Indonesia dengan Filipina. Gugusan pulau-pulau tersebut
dikelompokkan dalam enam klaster, yaitu Klaster
Pulau-pulau Perbatasan, Klaster Sangihe, Klaster
Tatoareng, Klaster Siau, Klaster Tagulandang dan Klaster
Biaro, dengan luas daratan secara keseluruhan mencapai
kurang lebih 1.012,93 km2.
Posisi
geografis yang unik, membuat pemerintah kabupaten dalam
hal penyelenggaraan manajemen pemerintahan, pembangunan
dan pelayanan publik, telah menetapkan beberapa
karakteristik utama pembangunan yaitu, Kawasan
Perbatasan, Kawasan Kepulauan, dan Kawasan Rawan Bencana
Alam.
Sebagai
kawasan perbatasan yang berada langsung di Bibir Pasifik,
daerah kepulauan Sangihe memiliki banyak peluang dan
kekuatan untuk masuk ke wilayah global. Pulau Marore dan
beberapa pulau lainnya, termasuk di wilayah perbatasan
yang menjadi salah satu fokus pembangunan pemerintah
daerah. Pulau Marore merupakan pulau yang terletak
paling depan dan terdekat dengan perbatasan antar Negara
Filipina dan Indonesia. Kondisi ini menjadikan pulau
Marore sebagai pintu gerbang.
Pulau
Marore terletak paling utara dari wilayah Kabupaten
Kepulauan Sangihe dengan posisi geografi 4° 44' 14" LU –
125° 28' 42" BT dengan luas kurang lebih 3,12 km2.
Posisi Pulau Marore dibatasi oleh laut yang tidak dapat
dilayari secara bebas karena jaraknya jauh baik dari
pusat kecamatan (ibukota kecamatan) apalagi dengan
ibukota kabupaten. “Keadaan cuaca yang sering tidak
bersahabat, menjadi salah satu hambatan menuju ke Pulau
itu,” ujar Wens Makawayehe, tokoh masyarakat Tahuna.
Katanya
lagi, kondisi ini pun berlaku pada pulau-pulau yang
termasuk dalam klaster pulau-pulau perbatasan. “Situasi
yang tidak menguntungkan, menyebabkan penduduk terisolir
dari wilayah dan kegiatan lain di Republik Indonesia dan
sangat rentan terhadap pengaruh-pengaruh asing,” tambah
Wens.
 Data
dari pemerintah Kabupaten Sangihe menyebutkan, Pulau
Marore terdiri dari satu kampung/ desa yaitu desa Marore
dan terdiri dari 3 dusun dan satu anak desa yaitu pulau
Memanuk sebuah pulau yang tidak berpenghuni. Pulau ini
sering menjadi tempat persinggahan sementara para
nelayan pada musim mencari ikan. Desa Marore memiliki
jumlah penduduk sebanyak 845 jiwa dengan jumlah kepala
keluarga 219 KK. Penduduk laki-laki berjumlah 438 jiwa
sedangkan penduduk perempuan berjumlah 404 jiwa.
“Mayoritas penduduk di pulau Marore adalah pemeluk agama
Kristen Protestan, sedangkan pemeluk agama lainnya
adalah penduduk pendatang yang umumnya adalah
petugas-petugas yang berdinas di pulau Marore. Penduduk
di pulau Marore yang bermata pencaharian sebagai petani/nelayan
berkisar 30%, pegawai negeri sipil 10%, pengusaha 4% dan
mata pencaharian lain-lain 6%. Tingkat pendidikan
penduduk di pulau Marore sebagian besar lulusan SLTP dan
hanya sebagian kecil lulusan SLTA dan Sarjana,” demikian
data dari pemerintah daerah itu.
Sebagai
kawasan Kepulauan, Kabupaten Sangihe memiliki banyak
persoalan, terutama soal jalur transportasi yang
kemudian berdampak pada banyak hal, misalnya pendidikan,
kesehatan dan ekonomi. Kabupaten ini memiliki sekitar
112 pulau, 30 buah pulau di antaranya berpenghuni, dan
82 pulau belum berpenghuni. Letak pulau-pulau itu
tersebar dengan jarak yang relatif saling berjauhan.
Dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Pemerintah
Kabupaten tahun anggaran 2007 – 2011 disebutkan beberapa
persoalan terkait dengan kondisi geografis daerah ini.
Yaitu: 1) Keterpisahan secara geografis di mana
perimbangan luas wilayah perairan (laut) 19.245,67 Km2
(95 %), sedangkan daratan yang terdiri dari pulau-pulau
hanya 1.012,93 Km2 (5 %); dengan demikian kawasan ini
dikategorikan pula sebagai Daerah Maritim. 2) Tingkat
kesulitan yang tinggi disertai kebutuhan biaya
operasional yang besar dalam penerapan Manajemen
Perencanaan Pembangunan Kawasan sebagai satu kesatuan
ekonomi, administratif dan lain-lain yang saling terkait
dan tergantung, karena keberadaan geografis yang
terkeping-keping dan tersebar. 3) Sebagai Daerah yang
wilayahnya didominasi oleh laut dengan keberadaan
prasarana dan sarananya yang sangat minim sehingga
memberi peluang eksploitasi kekayaan alam laut, terutama
perikanan, dalam jumlah yang sangat besar secara tidak
bertanggung jawab oleh pihak-pihak yang tidak berhak (nelayan
asing), dan itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun
silam hingga saat ini. 4) Arus pergerakan dan distribusi
barang produksi dan konsumsi dari dan ke tiap-tiap pulau
(konsumen) serta mobilitas manusia di dalam wilayah
maupun keluar masuk Kabupaten ini sangat lemah. 5)
Aktivitas perekonomian lebih berorientasi bahkan
terserap ke pusat-pusat perekonomian/perdagangan di kota
Manado karena pertimbangan bisnis (profit oriented).
Efek samping yang muncul adalah kesulitan menciptakan
lapangan kerja. Tenaga kerja lebih diuntungkan apabila
menjual jasa di kota Manado dan di luar Daerah (kota-kota
besar) pada umumnya. Sebab untuk sementara ini, belum
ada yang dapat diandalkan guna memperbaiki kualitas
hidup mereka. Sumber daya alam laut/perikanan serta
berbagai potensi lainnya walau berlimpah, belum dapat
dinikmati, karena ketidakberdayaan.
 “Anda
bisa lihat sendiri kondisi daerah kami ini. Misalnya
saja beberapa kebutuhan pokok, semuanya harus dibawa
dari Manado. Akhirnya, harga-harga barangpun relatif
tinggi. Tapi, di lain pihak, sumber daya alam kami dari
laut, misalnya, masih perlu dimaksimalkan
pengelolahaannya yang sudah harus berbasis teknologi,”
kata Wens.
Menurut
Wens, ini semua kembali pada bagaimana pemerintah serius
dalam mengembangkan sumber daya manusia daerah ini.
Pemerintah, katanya, mestinya merancang dalam kebijakan
pembangunannya sebuah sistem, paradigma dan model
pendidikan yang sesuai dengan demografi dan geografi
kepulauan Sangihe.
Pemerintah Kabupaten sendiri dalam RPJM 2007 – 2011
mencatat, taraf pendidikan penduduk mengalami
peningkatan yang antara lain dapat diukur melalui angka
melek aksara penduduk usia 15 tahun ke atas pada 3 tahun
terakhir. Pada tahun 1995, angka ini tercatat sebesar
85,5% namun telah meningkat menjadi 89,5%. Demikian pula
angka penduduk usia 15 tahun ke atas yang tamat
pendidikan SMPA/MTs ke atas, pada tahun 1995 angka yang
terdokumentasi sebesar 27,5% namun pada tahun 2000 naik
menjadi 42,800 dan awal tahun 2005 telah mencapai 45,8%.
Wilayah
Kab. Kepulauan Sangihe yang 95 persennya adalah laut
adalah kekayaan tersendiri bagi daerah ini dalam
mengembangkan ekonomi rakyatnya. Kebanyakan warganya pun
berprofesi sebagai nelayan dan pelaut. Pemerintah
Kabupaten Sangihe bahkan menjadikan potensi laut ini
dengan sub Sektor Perikanannya sebagai Prime Mover
Pembangunan di daerah itu. Potensi sumber daya pesisir
dan kelautan / perikanan dengan keanekaragaman ekosistem
dan produktifitas hayati yang tinggi seperti ikan,
binatang berkulit keras, binatang berkulit lunak dan
rumput laut didukung dengan kegiatan bidudaya (perikanan
laut dan perikanan darat) serta lapangan kerja yang
tersedia, memberi peluang bagi pengembangan sub sektor
ini. “Namun, harus juga diakui bahwa dukungan sarana
prasarana fisik dan pemanfaatn teknologi masih terbatas,”
kata Wens.
 Produksi
perikanan laut meliputi penangkapan ikan di laut dan
budidaya ikan di laut. Produksi perikanan laut dari
hasil penangkapan ikan di laut di dominasi oleh jenis
ikan sebesar 9.776,6 ton atau sebesar 98,19 persen.
Sementara perikanan darat meliputi perairan umum, tambak,
budidaya kolam, keramba dan sawah. Produksi perikanan
darat tercatat hanya dari budidaya kolam sebesar 7,03
ton. Produksi Perikanan Laut di Kab. Sangihe dari tahun
1998 sampai tahun 2005 terus mengalami peningkatan,
misalnya tahun 1998 tercatat hanya 15.997,5 ton, tahun
1999 sebanyak 14.879,3 ton, tahun 2000 meningkat menjadi
16.304,5 ton, dan seterusnya.
 Jenis-jenis
ikan dan hasil laut lainnya yang banyak terdapat di
kepulauan Sangihe adalah, Albakora, Baronang, Bawal
Hitam, Belanak, Biji Nangka, Cakalang, Cucut, Ekor
Kuning, Gerot-gerot, Golok-golok, Gulamah, Ikan terbang,
Japuh, Julung-julung, Kakap, Kembung, Kerapu,
Kerong-kerong, Kurisi, Kuwe, Layang, Layur, Lemadang,
Lemuru, Madidihang, Mata Besar, Pari, Selar, Senuk,
Sunglir, Swanggi, Talang-talang, Tatengek, Tenggiri,
Teri, Tongkol, Tuna, Cumi-cumi, Gurita, Kepiting, Penyu,
Rajungan, Rumput Laut dan Sotong.
“Tapi ini
harus dikembangkan lagi karena belum sesuai dengan yang
kita harapkan. Hal ini antara lain dikarenakan oleh
kualitas SDM dan peralatan pendukung usaha perikanan
belum memadai, ketidakmampuan mengakses pasar ekspor dan
berbagai faktor lain yang menyebabkan nelayan berada
pada posisi lemah,” ujar Wens.
Meski memang gunung Awu sering memuntahkan laharnya dan
mengancam kehidupan warga di sekitarnya, namun karena
gunung api itulah sehingga lahan pertanian di beberapa
wilayah kabupaten kepulauan Sangihe menjadi subur. Ini
kemudian menjadi faktor penentu berkembangnya sektor
pertanian di daerah itu. “Gunung Awu banyak membawa
berkat bagi masyarakat di kepulauan Sangihe. Karena kita
tahu di mana ada gunung berapi, di situ tanahnya subur.
Maka, masyarakat dan pemerintah harus paham dan mengerti
bagaimana memaknai bencana alam, misalnya gunung meletus,
sehingga yang didapat darinya bukan terbesar kerugian,
melainkan keuntungan,” ujar Edmondus Serin, penggiat
Pekumpulan Kelola yang juga sibuk dengan programnya
mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi bencana di
daerah itu.
 Hasil-hasil
pertanian warga di sejumlah daerah kepulauan Sangihe
biasanya di jual di pasar Kota Tahuna. Berbagai jenis
sayuran yang cocok tumbuh di daerah itu, ditanam warga
dan kemudian dijual di pasar. Berbagai jenis umbi-umbian,
agaknya juga tumbuh subur di daerah. Sagu, masih juga
diproduksi oleh warga sebagai salah satu bahan untuk
dimasak.
Selain
itu, hasil perkebunan di antaranya Kelapa, Cengkih dan
Pala menjadi komoditi unggulan daerah ini dalam
meningkatkan ekonomi rakyat dan daerah.
|
Penggunaan
Lahan : 70.554,4 Ha |
|
Komoditi |
Jumlah
Hasil |
|
Kelapa |
40.148,81
Ton |
|
Padi Sawah |
250 Ton |
|
Cengkih |
2.957,78
Ton |
|
Padi
Ladang |
22,0 Ton |
|
Jagung |
1.193,80
Ton |
|
Pala |
4.514,58
Ton |
|
Salak
|
771 Ton
|
|
Nenas |
241 Ton
|
|
Kacang
Tanah |
615,20 Ton
|
|
Kacang
Hijau |
345,00 Ton |
|
Ubi Kayu |
12.609,04
Ton |
|
Ubi Jalar |
7.070,75
Ton |
|
Sagu |
14.295 Ton |
|
Buah-buahan
Sayur-sayuran |
29.463,00
Ton
7.145 Ton |
|
Sumber:
Rincian Data di Bidang Pertanian tahun 2005
Pemerintah Kab. Sangihe |
Selain ikan, potensi pertanian dan perkebunan, Kab.
Kepulauan Sangihe juga memiliki pesona alam yang luar
biasa. Beberapa objek wisata dapat menjadi sumber
pendapatan warga dan daerah dalam mengembangkan
ekonominya. Ada beberapa obyek wisata menarik sebenarnya
di daerah ini, di antaranya, Terumbu Karang di desa
Balirangeng yang memiliki daya tarik tersendiri karena
keunikan keindahan hamparan terumbu karang yang masih
asli dan utuh. Kemudian
Pantai Pananualeng di Kecamatan Tabukan Tengah yang
merupakan salah satu objek wisata pantai pasir putih
yang sangat indah, berikut Air Terjun Kadadima di Desa
Laine Kecamatan Manganitu Selatan. Air terjun Kadadima
masuk wilayah desa Laine dapat ditempuh dengan kendaraan
darat dari Tahuna kurang lebih 2 jam dan dari Pelabuhan
Fery Pananaru kurang lebih 25 menit sedang dari desa
Laine menuju kearah Timur berjalan kaki kurang lebih 45
menit.
“Daerah kami sebenarnya kaya
dengan sumber daya alamnya. Tapi, itu semua belum diolah
secara maksimal untuk menopang kehidupan kebanyakan
warga di kepulauan Sangihe ini. Hingga sekarang ini,
masyarakat dan pemerintah sedang berusaha untuk
mengembangkan dan mengoptimalkan kerja demi hasil yang
lebih baik,” tandas Wens.
|