Berita

Artikel

Ranomawuri

Makatana

Timountalun

Topik Kawanua

Suara Kawanua

Plakat Kawanua

Profil Kawanua

Cirita Grap

Polling SL

News Link

 

 Bapontar: 10 Juli,  2008

 

Kepulauan Sangihe,

Daerah Kaya di Wilayah Perbatasan

Laporan Denni Pinontoan, dari Tahuna, Kepulauan Sangihe

 

Text Box: Foto Kota Tahuna
Tahuna, Sulutlink. Jalan-jalan ke kepulauan Sangihe berawal dari rasa penasaran terhadap segala yang daerah ini miliki, baik panorama dan sumber daya alamnya, maupun kekhasannya sebagai wilayah terluar yang berbatasan dengan Pilipina. Bersama beberapa teman dari Perkumpulan Kelola, kakikupun dilangkahkan menuju ke Pelabuhan Manado. Dari sana, kapal feri yang melayani angkutan laut antar pulau, mengantar kami ke Kab. Kepulauan Sangihe, sebuah daerah kepulauan yang belum pernah aku datangi.

 

Senin (7/7) sekitar pukul 20.15 wita kapal feri yang mengangkut penumpang jurusan Pelabuhan Manado-Tahuna membawa kami menuju ke Kepulauan Sangihe. Ada rasa deg-deggan mengarungi laut yang masih asing bagi saya. Tapi, ketika kapal mengarungi laut rasa senang pun mengalahkan keraguan melayari laut yang kadang-kadang ganas dengan ombaknya. Di kapal itu, penumpang yang terdiri dari ratusan orang dewasa dan beberapa anak berdesakan. “Beginilah keadaan kapal kecil. Penumpangnya padat, barang-barangnya juga banyak. Tapi, cuma ini alat transportasi kita kalau akan ke sana,” ujar Mat Basoan, penggiat di  Perkumpulan Kelola, sebuah NGO berbasis di Manado, yang sekarang sedang sibuk dengan program Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat di daerah kepulauan itu.

 

Text Box: Foto Pelabuhan Tahuna

Perjalanan dari pelabuhan Manado ke Tahuna, dengan menggunakan kapal itu membutuhkan waktu  kurang lebih 11 jam. Tiba di Pelabuhan Tahuna hari sudah pagi, kira-kira pukul 06.00 wita. Sebagai orang yang baru pertama kali datang ke Tahuna, ini tentu merupakan pemandangan menarik bagiku. Suasana pelabuhan Tahuna ketika kami tiba sangat ramai dan sibuk. Para buruh bagasi berebutan menawarkan jasa pengangkutan dengan mengandalkan otot kepada penumpang yang membawa bahan-bahan yang banyak. “Barangnya nanti kami yang angkut ke dermaga, Pak. Nanti baku ator no de pe harga,”, ujar seorang laki-laki bertubuh kekar kepada kami yang masih di dalam kapal.

 

Karena kami membawa barang bawaan yang cukup banyak untuk keperluan kantor Kelola, kami pun menerima tawaran dari buruh bagasi itu. Si laki-laki bertubuh kekar itu pun memberi jaminan bahwa barang-barang kami aman. “Nanti, kita angka kong langsung kase di roda. Jang tako, nda mo ilang kwa,” ujarnya memberi kepastian.

 

Kesepakatan pun terjadi. Kami pun mengikuti buruh bagasi itu mengangkut barang bawaan menuju ke dermaga. Dan, melalui tangga kapal yang terbuat dari kayu, aku pun langsung memandang ke pelabuhan itu. Hari masih pagi, dan ini ternyata adalah semangat baru bagi warga Tahuna yang berurusan dengan pelabuhan di pagi itu. “Oh, ini ternyata Pelabuhan Tahuna, pintu gerbang kepulauan Sangihe!” gumamku yang merasa senang karena bisa melihat langsung daerah kepulauan ini.

 

Dari pelabuhan itu, terlihat hamparan pegunungan di depannya. Gunung Awu dari kejauhan memperlihatkan sebuah pesona alam karya Sang Pencipta. Air laut yang berombak kecil di pelabuhan itu, memancarkan kekhasan Kabupaten Sangihe yang 95 persen wilayahnya terdiri dari laut. “Inilah kepulauan Sangihe. Kebanyakan laut. Tapi, daerah pegunungan itu (sambil menunjukan jari telunjuknya di daerah pegunungan di belakang Tahuna, ibu Kota Kabupaten Sangihe), memungkinkan warga di sini menanam beberapa jenis tanaman, seperti kelapa, cengkih, pala dan berbagai jenis tanaman musiman lainnya. Kesuburan tanah di sini berkat gunung Awu, “ jelas Erny Jacob, salah satu personil Kelola, yang juga bersama-sama dalam perjalanan dari Manado menuju ke Tahuna Ibu Kota Kab. Kepulauan Sangihe. Dari pelabuhan itu, dengan menumpang mobil angkutan dalam kota, kami langsung menuju ke kantor cabang Kelola di Kelurahan Bungalawang Kecamatan Tahuna.

 

Dari pelabuhan menuju ke Bungalawang waktu tempuh kira-kira 15 menit. Dari dalam mobil angkutan dalam kota itu, terlihat dinamika masyarakat Tahuna. Jalan yang kami lalui ramai dengan sepeda motor, milik tukang ojek. “Inilah kota Tahuna dengan segala dinamikanya. Di sini ada juga perkampungan Islam, tapi mereka hidup berdampingan secara damai dengan warga Kristen yang mayoritas di sini,” ujar Mat, ketika kami melewati Kelurahan Tidore, salah kelurahan di dalam kota Tahuna.

 

Text Box: Foto Pantai Bunga Lawang
Dari data yang saya dapat, Kabupaten Kepulauan Sangihe terletak di antara 20 4’13” – 40 44’ 22” LU dan 1250 9’28” – 1250 56’57” BT. Pemerintah kabupaten kepulauan Sangihe yang sekarang dipimpin oleh Bupati Winsulangi Salindeho telah menetapkan daerah ini terdiri dari tiga gugusan kepulauan yang letaknya berjauhan dan gugusan kepulauan kecil yang merupakan tapal batas negara Indonesia dengan Filipina. Gugusan pulau-pulau tersebut dikelompokkan dalam enam klaster, yaitu Klaster Pulau-pulau Perbatasan, Klaster Sangihe, Klaster Tatoareng, Klaster Siau, Klaster Tagulandang dan Klaster Biaro, dengan luas daratan secara keseluruhan mencapai kurang lebih 1.012,93 km2. 

 

Posisi geografis yang unik, membuat pemerintah kabupaten dalam hal penyelenggaraan manajemen pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik, telah menetapkan beberapa karakteristik utama pembangunan yaitu, Kawasan Perbatasan, Kawasan Kepulauan, dan Kawasan Rawan Bencana Alam.

 

Sebagai kawasan perbatasan yang berada langsung di Bibir Pasifik, daerah kepulauan Sangihe memiliki banyak peluang dan kekuatan untuk masuk ke wilayah global. Pulau Marore dan beberapa pulau lainnya, termasuk di wilayah perbatasan yang menjadi salah satu fokus pembangunan pemerintah daerah. Pulau Marore merupakan pulau yang terletak paling depan dan terdekat dengan perbatasan antar Negara Filipina dan Indonesia. Kondisi ini menjadikan pulau Marore sebagai pintu gerbang.

 

Pulau Marore terletak paling utara dari wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan posisi geografi 4° 44' 14" LU – 125° 28' 42" BT dengan luas kurang lebih 3,12 km2. Posisi Pulau Marore dibatasi oleh laut yang tidak dapat dilayari secara bebas karena jaraknya jauh baik dari pusat kecamatan (ibukota kecamatan) apalagi dengan ibukota kabupaten. “Keadaan cuaca yang sering tidak bersahabat, menjadi salah satu hambatan menuju ke Pulau itu,” ujar Wens Makawayehe, tokoh masyarakat Tahuna.

 

Katanya lagi, kondisi ini pun berlaku pada pulau-pulau yang termasuk dalam klaster pulau-pulau perbatasan. “Situasi yang tidak menguntungkan, menyebabkan penduduk terisolir dari wilayah dan kegiatan lain di Republik Indonesia dan sangat rentan terhadap pengaruh-pengaruh asing,” tambah Wens.

 

Text Box: Foto Kantor Bupati Tahuna
Data dari pemerintah Kabupaten Sangihe menyebutkan, Pulau Marore terdiri dari satu kampung/ desa yaitu desa Marore dan terdiri dari 3 dusun dan satu anak desa yaitu pulau Memanuk sebuah pulau yang tidak berpenghuni. Pulau ini sering menjadi tempat persinggahan sementara para nelayan pada musim mencari ikan. Desa Marore memiliki jumlah penduduk sebanyak 845 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 219 KK. Penduduk laki-laki berjumlah 438 jiwa sedangkan penduduk perempuan berjumlah 404 jiwa. “Mayoritas penduduk di pulau Marore adalah pemeluk agama Kristen Protestan, sedangkan pemeluk agama lainnya adalah penduduk pendatang yang umumnya adalah petugas-petugas yang berdinas di pulau Marore. Penduduk di pulau Marore yang bermata pencaharian sebagai petani/nelayan berkisar 30%, pegawai negeri sipil 10%, pengusaha 4% dan mata pencaharian lain-lain 6%. Tingkat pendidikan penduduk di pulau Marore sebagian besar lulusan SLTP dan hanya sebagian kecil lulusan SLTA dan Sarjana,” demikian data dari pemerintah daerah itu.

 

Sebagai kawasan Kepulauan, Kabupaten Sangihe memiliki banyak persoalan, terutama soal jalur transportasi yang kemudian berdampak pada banyak hal, misalnya pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Kabupaten ini memiliki sekitar 112 pulau, 30 buah pulau di antaranya berpenghuni, dan 82 pulau belum berpenghuni. Letak pulau-pulau itu tersebar dengan jarak yang relatif saling berjauhan.

 

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Pemerintah Kabupaten tahun anggaran 2007 – 2011 disebutkan beberapa persoalan terkait dengan kondisi geografis daerah ini. Yaitu: 1) Keterpisahan secara geografis di mana perimbangan luas wilayah perairan (laut) 19.245,67 Km2 (95 %), sedangkan daratan yang terdiri dari pulau-pulau hanya 1.012,93 Km2 (5 %); dengan demikian kawasan ini dikategorikan pula sebagai Daerah Maritim. 2) Tingkat kesulitan yang tinggi disertai kebutuhan biaya operasional yang besar dalam penerapan Manajemen Perencanaan Pembangunan Kawasan sebagai satu kesatuan ekonomi, administratif dan lain-lain yang saling terkait dan tergantung, karena keberadaan geografis yang terkeping-keping dan tersebar. 3) Sebagai Daerah yang wilayahnya didominasi oleh laut dengan keberadaan prasarana dan sarananya yang sangat minim sehingga memberi peluang eksploitasi kekayaan alam laut, terutama perikanan, dalam jumlah yang sangat besar secara tidak bertanggung jawab oleh pihak-pihak yang tidak berhak (nelayan asing), dan itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam hingga saat ini. 4) Arus pergerakan dan distribusi barang produksi dan konsumsi dari dan ke tiap-tiap pulau (konsumen) serta mobilitas manusia di dalam wilayah maupun keluar masuk Kabupaten ini sangat lemah. 5) Aktivitas perekonomian lebih berorientasi bahkan terserap ke pusat-pusat perekonomian/perdagangan di kota Manado karena pertimbangan bisnis (profit oriented). Efek samping yang muncul adalah kesulitan menciptakan lapangan kerja. Tenaga kerja lebih diuntungkan apabila menjual jasa di kota Manado dan di luar Daerah (kota-kota besar) pada umumnya. Sebab untuk sementara ini, belum ada yang dapat diandalkan guna memperbaiki kualitas hidup mereka. Sumber daya alam laut/perikanan serta berbagai potensi lainnya walau berlimpah, belum dapat dinikmati, karena ketidakberdayaan.

 

Text Box: Foto Beras
“Anda bisa lihat sendiri kondisi daerah kami ini. Misalnya saja beberapa kebutuhan pokok, semuanya harus dibawa dari Manado. Akhirnya, harga-harga barangpun relatif tinggi. Tapi, di lain pihak, sumber daya alam kami dari laut, misalnya, masih perlu dimaksimalkan pengelolahaannya yang sudah harus berbasis teknologi,” kata Wens.

 

Menurut Wens, ini semua kembali pada bagaimana pemerintah serius dalam mengembangkan sumber daya manusia daerah ini. Pemerintah, katanya, mestinya merancang dalam kebijakan pembangunannya sebuah sistem, paradigma dan model pendidikan yang sesuai dengan demografi dan geografi kepulauan Sangihe.

 

Pemerintah Kabupaten sendiri dalam RPJM 2007 – 2011 mencatat, taraf pendidikan penduduk mengalami peningkatan yang antara lain dapat diukur melalui angka melek aksara penduduk usia 15 tahun ke atas pada 3 tahun terakhir. Pada tahun 1995, angka ini tercatat sebesar 85,5% namun telah meningkat menjadi 89,5%. Demikian pula angka penduduk usia 15 tahun ke atas yang tamat pendidikan SMPA/MTs ke atas, pada tahun 1995 angka yang terdokumentasi sebesar 27,5% namun pada tahun 2000 naik menjadi 42,800 dan awal tahun 2005 telah mencapai 45,8%.

 

Wilayah Kab. Kepulauan Sangihe yang 95 persennya adalah laut adalah kekayaan tersendiri bagi daerah ini dalam mengembangkan ekonomi rakyatnya. Kebanyakan warganya pun berprofesi sebagai nelayan dan pelaut. Pemerintah Kabupaten Sangihe bahkan menjadikan potensi laut ini dengan sub Sektor Perikanannya sebagai Prime Mover Pembangunan di daerah itu. Potensi sumber daya pesisir dan kelautan / perikanan dengan keanekaragaman ekosistem dan produktifitas hayati yang tinggi seperti ikan, binatang berkulit keras, binatang berkulit lunak dan rumput laut didukung dengan kegiatan bidudaya (perikanan laut dan perikanan darat) serta lapangan kerja yang tersedia, memberi peluang bagi pengembangan sub sektor ini. “Namun, harus juga diakui bahwa dukungan sarana prasarana fisik dan pemanfaatn teknologi masih terbatas,” kata Wens.

 

Text Box: Foto Ikan hasil Tangkapan
Produksi perikanan laut meliputi penangkapan ikan di laut dan budidaya ikan di laut. Produksi perikanan laut dari hasil penangkapan ikan di laut di dominasi oleh jenis ikan sebesar 9.776,6 ton atau sebesar 98,19 persen. Sementara perikanan darat meliputi perairan umum, tambak, budidaya kolam, keramba dan sawah. Produksi perikanan darat tercatat hanya dari budidaya kolam sebesar 7,03 ton. Produksi Perikanan Laut di Kab. Sangihe dari tahun 1998 sampai tahun 2005 terus mengalami peningkatan, misalnya tahun 1998 tercatat hanya 15.997,5 ton, tahun 1999 sebanyak 14.879,3 ton, tahun 2000 meningkat menjadi 16.304,5 ton, dan seterusnya.

 

Text Box: Foto Suntung 
Jenis-jenis ikan dan hasil laut lainnya yang banyak terdapat di kepulauan Sangihe adalah, Albakora, Baronang, Bawal Hitam, Belanak, Biji Nangka, Cakalang, Cucut, Ekor Kuning, Gerot-gerot, Golok-golok, Gulamah, Ikan terbang, Japuh, Julung-julung, Kakap, Kembung, Kerapu, Kerong-kerong, Kurisi, Kuwe, Layang, Layur, Lemadang, Lemuru, Madidihang, Mata Besar, Pari, Selar, Senuk, Sunglir, Swanggi, Talang-talang, Tatengek, Tenggiri, Teri, Tongkol, Tuna, Cumi-cumi, Gurita, Kepiting, Penyu, Rajungan, Rumput Laut dan Sotong.

 

“Tapi ini harus dikembangkan lagi karena belum sesuai dengan yang kita harapkan. Hal ini antara lain dikarenakan oleh kualitas SDM dan peralatan pendukung usaha perikanan belum memadai, ketidakmampuan mengakses pasar ekspor dan berbagai faktor lain yang menyebabkan nelayan berada pada posisi lemah,” ujar Wens.

 

Meski memang gunung Awu sering memuntahkan laharnya dan mengancam kehidupan warga di sekitarnya, namun karena gunung api itulah sehingga lahan pertanian di beberapa wilayah kabupaten kepulauan Sangihe menjadi subur. Ini kemudian menjadi faktor penentu berkembangnya sektor pertanian di daerah itu. “Gunung Awu banyak membawa berkat bagi masyarakat di kepulauan Sangihe. Karena kita tahu di mana ada gunung berapi, di situ tanahnya subur. Maka, masyarakat dan pemerintah harus paham dan mengerti bagaimana memaknai bencana alam, misalnya gunung meletus, sehingga yang didapat darinya bukan terbesar kerugian, melainkan keuntungan,” ujar Edmondus Serin, penggiat Pekumpulan Kelola yang juga sibuk dengan programnya mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi bencana di daerah itu.

 

Text Box: Pasar tahuna
Hasil-hasil pertanian warga di sejumlah daerah kepulauan Sangihe biasanya di jual di pasar Kota Tahuna. Berbagai jenis sayuran yang cocok tumbuh di daerah itu, ditanam warga dan kemudian dijual di pasar. Berbagai jenis umbi-umbian, agaknya juga tumbuh subur di daerah. Sagu, masih juga diproduksi oleh warga sebagai salah satu bahan untuk dimasak.

 

Selain itu, hasil perkebunan di antaranya Kelapa, Cengkih dan Pala menjadi komoditi unggulan daerah ini dalam meningkatkan ekonomi rakyat dan daerah.

 

Penggunaan Lahan : 70.554,4 Ha

Komoditi

Jumlah Hasil

Kelapa

40.148,81 Ton

Padi Sawah

250 Ton

Cengkih

2.957,78 Ton

Padi Ladang

22,0 Ton

Jagung

1.193,80 Ton

Pala

4.514,58 Ton

Salak

771 Ton

Nenas

241 Ton

Kacang Tanah

615,20 Ton

Kacang Hijau

345,00 Ton

Ubi Kayu

12.609,04 Ton

Ubi Jalar

7.070,75 Ton

Sagu

14.295 Ton

Buah-buahan

Sayur-sayuran

29.463,00 Ton

7.145 Ton

Sumber: Rincian Data di Bidang Pertanian tahun 2005 Pemerintah Kab. Sangihe

 

Selain ikan, potensi pertanian dan perkebunan, Kab. Kepulauan Sangihe juga memiliki pesona alam yang luar biasa. Beberapa objek wisata dapat menjadi sumber pendapatan warga dan daerah dalam mengembangkan ekonominya. Ada beberapa obyek wisata menarik sebenarnya di daerah ini, di antaranya, Terumbu Karang di desa Balirangeng yang memiliki daya tarik tersendiri karena keunikan keindahan hamparan terumbu karang yang masih asli dan utuh. Kemudian Pantai Pananualeng di Kecamatan Tabukan Tengah yang merupakan salah satu objek wisata pantai pasir putih yang sangat indah, berikut Air Terjun Kadadima di Desa Laine Kecamatan Manganitu Selatan.  Air terjun Kadadima masuk wilayah desa Laine dapat ditempuh dengan kendaraan darat dari Tahuna kurang lebih 2 jam dan dari Pelabuhan Fery Pananaru kurang lebih 25 menit sedang dari desa Laine menuju kearah Timur berjalan kaki kurang lebih  45 menit.

 

“Daerah kami sebenarnya kaya dengan sumber daya alamnya. Tapi, itu semua belum diolah secara maksimal untuk menopang kehidupan kebanyakan warga di kepulauan Sangihe ini. Hingga sekarang ini, masyarakat dan pemerintah sedang berusaha untuk mengembangkan dan mengoptimalkan kerja demi hasil yang lebih baik,” tandas Wens.