|
Mengenal
Kepercayaan Masadé di Sangihe
Pemimpin
adalah Kitab Hidup
Laporan
Denni Pinontoan, dari Tahuna, Kepulauan Sangihe
 Tahuna,
Sulutlink.
Ketika kami memasuki di desa Lenganeng,
Kecamatan Tabukan Utara, Kab. Kepulauan Sangihe,
sepintas tak ada yang lain di desa ini. Rumah-rumahnya,
dinamika para penduduk, serta keadaan alam pegunungan
Sangihe yang sama dengan beberapa desa lain di
sekitarnya. Hari itu, Rabu (9/7). Waktu itu hari telah
sore, kira-kira pukul 16.30 wita. Di atas sepeda motor
yang dikendarai Mat Bahsoan, penggiat di Perkumpulan
Kelola yang sedang menangani Program Pengurangan Resiko
Bencana Berbasis Masyarakat di Kab. Sangihe, kami
melihat penduduk di desa ini masih sibuk dengan
pekerjaannya.
Di sebuah warung beberapa orang perempuan
duduk bersama sambil bercerita. “Selamat sore, bu. Bisa
tahu di mana rumahnya Pak Masihor,” tanyaku kepada
seorang perempuan yang kira-kira berusia 40-an tahun.
“Pak Masihor yang mana? Di sini banyak Pak
Masihor,” jawabnya.
“Pak Masihor yang pemimpin kepercayaan Islam
Tua,” jawabku.
“Oh, Pak Agung Masihor. Rumahnya di sebelah
kanan tanjakan jalan ini,” katanya sambil menunjuk ke
sebuah ruas jalan arah ke Tahuna.
“Terima kasih, Bu,” aku pamit.
Kami
pun langsung menuju ke rumah Pak Agung Masihor. Sebuah
rumah permanen, tidak terlalu besar juga tidak terlalu
kecil. Tapi rumahnya asri dan bersih. Pemilik rumah itu
adalah Pak Agung
Masihor.
Istrinya dan dua orang anaknya, laki-laki dan perempuan,
juga ada di rumah itu. Rumah bercat putih itu, seperti
rumah-rumah lain. Arsitektur rumah juga sama dengan
kebanyakan rumah di desa itu. Tapi tidak ada gambar
religius yang terpampang di dinding rumah. Di bagian
depan rumah ada beberapa jenis tanaman hias. Rumah yang
nyaman, seolah menggambarkan kenyamanan batin pemiliknya.
“Selamat,
sore. Bisa ketemu dengan Pak Agung?” aku menyapa seorang
perempuan, yang ternyata belakangan diketahui adalah
istri Agung.
“Ya,
selamat sore. Ya, ada. Mari masuk. Silakan duduk,” balas
perempuan itu.
Kami pun
duduk di sebuah sofa di ruangan tamu rumah itu. Tak
lama berselang, muncul seorang laki-laki bertubuh sedang,
tapi tampak sehat dan ramah. Dia tersenyum kecil menyapa
kami.
“Selamat
sore, Pak. Saya Denni Pinontoan dari Sulutlink, sebuah
koran internet. Asalku dari Manado,” kataku
memperkenalkan diri, sambil menunjukkan kartu pers
kepadanya.
Dia
mengangguk dan membaca kartu persku. Kami pun duduk lagi.
Laki-laki itu juga duduk. Setelah aku menyebutkan
maksudku, kami pun langsung larut dalam percakapan
seputar kepercayaan yang kebanyakan orang tahu, termasuk
aku sebagai Islam Tua. Agung Masihor ketua Organisasi
Kepercayaan Masadé sebuah kepercayaan tua di Kabupaten
Sangihe.
Yang
Tertua Tapi Bukan Islam Tua
“Kepercayaan
ini sebenarnya sudah setua dengan peradaban di Sangihe
ini. Sehingga leluhur
kami
menyebut kepercayaan ini ‘Yang Tertua’, yang pertama
masuk. Nama kepecayaan kami sebenarya adalah ‘Masadé’,
bukan Islam Tua, seperti yang saudara dengar. Sebuah
sebutan yang diambil dari nama leluhur peletak dasar
kepercayaan kami ini,” ujar Agung
Agung
memang tak menyebut secara terperinci sejak kapan
Kepercayaan Ajaran Masadé ini berkembang. Tapi Koran
Tempo (http://www.korantempo.com)
yang pernah mempublikasikan tentang seluk beluk
kepercayaan ini November 2002 silam menuliskan,
kepercayaan ini diperkirakan muncul sekitar tahun 1400.
“Menurut penganut agama ini, penyebar agama Islam Tua di
Sulawesi Utara adalah Penanging, murid dari Masade. Ada
pun Masade, yang mendapat ajaran ini langsung dari Tuhan,
berdiam di sebuah pulau di gugusan Kepulauan Mindano,
Filipina Selatan,” tulis Koran Tempo.
Penanging
kemudian menyebarkan ajaran ini di Desa Tetengkelan,
Pulau Bukide, Kecamatan Tabukan Utara, dan lalu menyebar
di beberapa tempat lainnya di Kepulauan Sangihe dan
Talaud. Pemerintah sendiri, belakangan, memasukkan
ajaran ini sebagai aliran kepercayaan dengan nama Mawu
Masade. Syarat mereka yang ingin menjadi anggota
kepercayaan ini, bagi prianya mereka harus dikhitan,”
tulis Koran Tempo lagi.
Menurut
Agung, dia adalah generasi keempat sebagai Ketua
Organisasi Kepercayaan Masadé. Agung dipercayakan
menjadi ketua organisasi kepercayaan Masadé sejak tahun
2004, mengganti Nius Kiriwang, ketua sebelumnya yang
meninggal dunia. “Dalam organisasi kami tidak ada
pemilihan. Yang ada adalah penunjukkan langsung. Jemaat
yang memilihnya dengan mempertimbangkan kemampuan
religius dan kredibilitas memimpin organisasi ini,”
jelas Agung.
Agung
menjelaskan, bahwa sebenarnya sebutan untuk kepercayaan
ini bukan “Islam Tua”. Untuk sebutan “Islam Tua” katanya,
berkembang di tengah masyarakat karena pengaruh masuknya
agama Islam di kepulauan Sangihe di kemudian hari, jauh
setelah adanya Kepercayaan Masadé. Kepercayaan ini,
menurut Agung secara kebetulan memang memiliki kemiripan
dengan agama Islam, tapi sebenarnya bukan agama Islam.
“Dari segi penyebutan, sebelumnya sempat menimbulkan
polemik. Memang ada yang menyebut Islam Tua. Ini muncul
karena masuknya agama Islam dari Pilipina dan Ternate di
daerah ini. Padahal, kepercayaan ini, sudah lebih dulu
ada dari agama Islam atau Kristen di Sangihe.
Penganutnya sudah lama ada,” ujar Agung menerangkan.
Dia
menampik kalau kepercayaan yang dimpimpinnya itu adalah
bagian dari Islam atau berkembang dari agama Islam.
Karena menurut Agung, aliran kepercayaan ini setua
dengan peradaban Sangihe. “Sehingga masyarakat lebih
mudah menyebut Islam Tua, karena pengaruh dengan
masuknya agama Islam dari Mindano (Pilipina) dan
Ternate. Pada umumnya, Islam Tua adalah sebutan dari
masyarakat, karena pengaruh ketika masuknya agama Islam
dari Mindano Pilipina dan Ternate. Dulu ada pertentangan
antara Islam Tua dan Islam Muda (Islam Qur’an). Padahal
orang tua kami dulu menyebut kepercayaan ini ’Yang
Yertua,’ karena lebih dulu masuk di Sangihe ini,”
katanya.
Berkembangannya sebutan “Islam Tua” untuk kepercayaan
ini, karena dalam ritual atau kepercayaan, beberapa di
antaranya memang memiliki kesamaan dengan agama Islam.
“Tapi, lebih banyak sebenarya perbedaan. Kesamaan antara
kepercayaan ini dengan Islam antara lain adalah
lafal-lafal yang dilantunkan dalam ibadah. Antara Islam
dan Kepercayaan ini memang ada kesamaan, tapi yang lebih
banyak perbedaannya,” tambahnya.
Sementara
menurut, Anwar Panawar, tokoh agama Islam Sulut, seperti
yang ditulis Koran Tempo itu, sebutan "Islam Tua" muncul
di masa kolonial Belanda. Penjajah, kata Panawar, kala
itu menyebut pemeluk agama Islam sebagai "Islam Quran,"
sedangkan yang mengikuti ajaran lain disebut "Islam Tua."
Sejumlah
penganut agama Islam yang ada di desa sekitar Lenganeng,
misalnya di desa Kalurae, memang menganggap kepercayaan
ini bukan bagian dari mereka, meski ada beberapa
tatacara di antaranya yang sama, misalnya perayaan Idul
Fitri, Puasa dan Hari Raya Kurban. Tapi mereka mengakui
bahwa hubungan antara para penganut kepercayaan dengan
mereka sebagai pemeluk agama Islam sangat baik. “Dorang
itu (para penganut kepercayaan itu, red),
berbeda dengan kami, Islam Quran (Agama Islam,
red). Cara sembayangnya maupun kepercayaannya,”
ujar Syafrudin Tatanindatu, pemeluk agama Islam yang
juga Kepala Desa Kalurae.
Di sekitar desa Lenganeng, desa yang
mayoritasnya penganut kepercayaan tua itu, memang ada
beberapa desa yang penduduknya kebanyakan pemeluk agama
Islam. Beberapa mesjid juga berdiri di desa-desa itu.
“Sebagai ketua organisasi, tentu selalu
berusaha untuk mensosialisasikan, meluruskan dan
membetulan penyebutan ‘Islam Tua’ untuk organisasi
kepercayaan kami ini. Tapi itu tidak muda segera
meluruskannya. Tapi karena melihat perkembangan sekarang,
maka usaha pelurusan itu harus terus dilakukan,” tandas
Agung.
Teladan Pemimpin sebagai Kitab Suci
Di bulan
Ramadan, jemaat penganut Keperayaan Masadé juga berpuasa.
Bedanya dengan agama Islam, mereka hanya berpuasa tiga
hari di awal, tiga hari di tengah, dan tiga hari di
akhir bulan Ramadan. Setelah waktu berpuasa selesai,
mereka pun merayakan hari raya, yang disebut Hari Buka.
“Dalam ibadah, kami tidak melakukan sholat lima waktu.
Tapi hari ibadah kami hari Jumat. Tapi tidak seperti
agama Islam ada pengajian dan sholat harus berkiblat ke
Kabah,” ujar Agung.
Saat
beribadah, jemaat Kepercayaan Masadé duduk melingkari
imam. “Di dekat imam terdapat kemenyan, segelas air, dua
piring nasi santan berukuran besar yang dipuncaknya ada
sebutir telur ayam, dan sembilan piring nasi santan
berukuran kecil dengan seperempat telur ayam rebus,”
demikian ditulis Koran Tempo.
Ibadah
dimulai setelah imam dan jamaah duduk membisu beberapa
saat. Lalu, imam mulai
membakar
kemenyan. Bersamaan dengan munculnya kepulan asap imam
mulai membacakan lafal yang juga diikuti jemaatnya.
Lafalnya, lamat-lamat, terdengar mirip bahasa Arab. Doa
itu juga bercampur dengan bahasa daerah setempat.
Kepercayaan Masadé mempunyai rumah ibadah yang disebut
pengamaleng. Rumah ibadah ini, antara lain, ada di Desa
Lenganeng, Kalakube, dan Tetengkelan Pulau Bukide di
Kabupaten Talaud. “Pengamaleng tidak memiliki bentuk
khusus. Bisa disesuaikan dengan kondisi dan tempatnya,”
ujar Agung.
Menurut
Agung, dalam ajaran Kepercayaan Masadé dikenal juga
istilah naik haji. Tapi, tidak naik haji ke Mekkah.
“Tidak wajib. Jika punya kelebihan silakan, jika tidak,
tidak apa-apa. Yang penting kami tetap beribadah,” kata
Agung.
Namun ketika ditanya soal kepercayaan
terhadap para nabi, Agung terdiam sekitar 1 menit. “Ehm,
kalau soal itu, tidak bisa aku jelaskan kepada kalian.
Sebab, dalam ajaran kami, hanya ada sekitar 45 persen
yang bisa dibicarakan dengan orang lain, yang lainnya
batin,” katanya.
“Hanya untuk kalangan sendiri, Pak?”
tanyakku penasaran.
“Sedangkan di kalangan sendiri tidak semua
bisa. Harus ada syaratnya. Kami tidak terlalu menekankan
itu, yang penting hubungan dengan Mawu Kasilaeng (Tuhan),
yang kemudian dapat terlihat pada perilaku jemaat,”
katanya.
Agung mengatakan, Kepercayaan Masadé tidak
memiliki kitab suci seperti agama-agama lain. Sumber
pengajaran kepercayaan ini adalah secara lisan atau
berdasar tingkah laku dan terutama teladan dari
pemimpinnya. “Pengajarannya secara turun temurun.
Tradisi kepercayaan kami menekankan perbuatan dan hanya
sekitar 45 persen ajarannya kami yang bisa ditulis,
lainnya lebih pada moral dan perbuatan. Bertentangan
dengan ajaran kalau pengajaran itu ditulis. Keperayaan
kami menuntut jangan hanya dibaca, tapi harus dilakukan,”
jelas Agung.
Sehingga menurut Agung, inti ajaran
Kepercayaan Masadé adalah perbuatan dan keteladanan.
“Bagi kami, pemimpin adalah kitab hidup,” tegas Agung.
Butuh
Pengakuan
Sekarang
ini komunitas pemeluk Kepercayaan Masadé berjumlah
kurang lebih 2000 jiwa, yang tersebar di Sangir Besar,
yaitu di Kecamatan Tabukan Utara, Nusa Tabukan, Tahuna,
Talaud dan bahkan Bitung. “Jemaat Kepercayaan Masadé
memang tersebar di beberapa wilayah, tapi pusatnya di
Lenganeng ini,” ujar Agung.
Meski
sudah berumur tua, tapi pengalaman didiskriminasi negara
dalam hal mengekspresikan kepercayaan mereka, sering
dialami oleh jemaat kepercayaan Masadé. Misalnya, di
beberapa tahun lalu, untuk urusan kawin, jemaat Masadé
harus berhadapan dengan birokrasi yang kompleks.
“Akibatnya ada yang meski sudah tinggal serumah tapi
belum nikah resmi. Beberapa tahun lalu sekitar 60 pasang
jemaat kami ikut kawin massal, karena sebelumnya mereka
mengalami kesulitan mengurus surat-surat,” kata Agung
yang juga sebaga Pegawai Negeri Sipil di Kantor Cabang
Diknas Kecamatan Tabukan Utara itu.
Dia mengatakan, persoalan pembedaan yang
dilakukan pemerintah terhadap mereka sudah dialami
sejak lama oleh para pemeluk kepercayaan ini. Misalnya,
dulu kalau akan mengurus surat nikah, terlebih dahulu
pasangan dari jemaat mereka yang menikah harus melalui
pengadilan, baru setelah mendapat pengesahan dari
pengadilan ke catatan sipil untuk dinikahkan secara
resmi. “Dalam berbicara masalah status diakui atau
tidak, itu merupakan persoalan yang sudah dialami oleh
para tua-tua kami,” katanya.
Tapi sebagai pemimpin Organisasi Kepercayaan
Masadé, dia tetap optimis bahwa pemerintah akan tetap
memperhatikan mereka. “Hubungan kami dengan pemerintah
kabupaten Sangihe sangat baik. Dan pemerintah di sini
memang menaruh perhatian yang luar biasa terhadap kami.
Di sini tidak ada lagi pembedaan. Buktinya saya bisa
menjadi PNS. “Memang pemerintah hanya mengakui enam
agama, tapi, pemerintah kan juga menjamin aliran
kepercayaan seperti kami ini asalkan ibadahnya tidak
bertentangan dengan UUD dan Pancasila,” ujarnya sambil
mengatakan, di dalam hal perkawinan, pasangan dari
Kepercayaan Masadé sekarang ini tidak lagi mengalami
hambatan yang berarti dan sudah diperlakukan seperti
pemeluk agama lain.
Agung mengaku, dia sendiri pernah mengalami
pengalaman yang tidak terlalu baik ketika akan menikah
dengan istrinya. “Saya juga pernah mengalami persoalan
pembedaan itu waktu akan menikah dengan istriku. Tapi
sekarang tidak lagi,” katanya senang.
Selaku
ketua Organisasi Kepercayaan Masadé, Agung aktif
mengikuti pertemuan-pertemuan di organisasi Himpunan
Aliran Kepercayaan Indonesia, baik di tingkat lokal
maupun di tingkat nasional. Katanya, dalam
pertemuan-pertemuan di Manado atau di luar daerah, dia
sering bertemu dengan aliran-aliran kepercayaan lain
yang tergabung dalam Himpunan Aliran Kepercayaan
Indonesia.
Hal yang
unik terkait urusan dengan pemerintahan, menurut Agung
adalah KTP mereka. Biasanya di setiap KTP diharuskan
mencantumkan nama salah satu agama dari enam agama yang
dianggap resmi oleh negara. Tapi, bagi Kepercayaan
Masadé dan juga alirannya kepercayaan lainnya cukup
hanya mencantumkan garis datar (-) sebagai tanda bukan
pemeluk dari salah satu agama yang menurut pemerintah
resmi. “Tapi itu sah. Karena berdasarkan ketentuan dari
Mendagri, di KTP kami untuk kolom agama hanya diberi
garis datar. Tidak disebutkan tapi hanya ada kode,”
jelasnya.
Kedepan,
bersama-sama dengan ratusan aliran kepercayaan yang
tergabung dalam Himpunan Aliran Kepercayaan Indonesia,
perjuangan mereka adalah meminta pemerintah untuk
mengakui Kepercayaan mereka sebagai agama resmi, dan
tidak dibedakan dengan enam agama yang ada. |