|
Tomohon Usai TFF 2008
Laporan
Denni Pinontoan
Tomohon,
Sulutlink.
Sudah lebih dua minggu iven akbar yang
bertajuk Tomohon Flower Festival (TFF) 2008 usai.
Semarak kegiatan yang dibanggakan oleh Pemerintah Kota
itu, agaknya mulai surut seiring waktu berjalan.
Sejumlah tempat pelaksanaan kegiatan TFF 2008, seperti
kantor eks rindam (Kantor Walikota Lama), Taman Kota,
dan Bukit Inspirasi serta jalan prokotol kota yang
dilalui mobil hias untuk Tournament of Flower kita
seramai waktu lalu. Bunga marygold pun wajahnya tak
seceria dulu.
Hari
hampiri sore dan langit Kota Tomohon mulai suram.
Sebentar lagi akan turun hujan. Namun sekelompok anak
berusia kira-kira 7- 10 tahun, yang jumlah mereka
kira-kira 6 atau 8 orang, Sabtu (19/7) asyik bermain
sepak bola plastik. Mereka tampak riang dan penuh
semangat. Tapi, anak-anak itu tidak sedang bermain di
tanah lapang. Bola yang mereka tendang pun tidak
bergelinding di antara rerumputan. Anak-anak itu sedang
bermain di Taman Kota, yang lantainya dilapisi marmer.
Taman Kota itulah, salah satu tempat penggelaran
kegiatan Tomohon Flower Festival (TFF) 2008 yang telah
selesai dilaksanakan 6 Juli lalu.
Seorang
perempuan, barangkali ibu dari salah satu anak-anak yang
bermain itu berteriak, “Hei, anak-anak nda bole
bermaeng di Taman Kota!” Tapi sayang, teriakan itu
tak terdengar, dikalahkan oleh sorakan gembira-gembira
anak-anak yang sedang menikmati Taman Kota itu.
Itulah
Taman Kota Tomohon kini. Sebuah taman, yang malamnya
hanya ada lampu di beberapa bagiannya, dan siangnya,
antara lain adalah tempat anak-anak sekitarnya bermain
sepak bola plastik. Taman yang dibangun di Kelurahan
Paslaten Satu Kecamatan Tomohon itu, akhir Juni lalu
selesai dibangun. Sampai selesai, pembangunan taman kota
itu menelan anggaran kurang lebih Rp 6 miliar.
Taman
Kota ini sejak semula memang dimaksudkan sebagai tempat
pergelaran beberapan kegiatan yang sifatnya massal
maupun terbatas untuk menghimbur warga atau usaha
pelestarian budaya dalam menunjang Kota Tomohon sebagai
kota pariwisata. “Taman Kota tersebut di dalamnya
terdapat sejumlah ruangan saerta panggung yang bisa
dipakai oleh masyarakat Kota Tomohon untuk menggelar
berbagai ajang bermanfaat dan kreatif dalam menunjang
Kota Tomohon sebagai daerah wisata,” kata Kepala Dinas
Tata Kota dan Pertamanan Kota Tomohon, Andrikus Wuwung
kepada wartawan beberapa waktu lalu.
Dan,
Taman Kota ini memang disediakan untuk masyarakat Kota
Tomohon. “Jika nantinya telah ada pengelola resmi Taman
Kota yang ditunjuk Pemkot Tomohon, maka tentunya akan
ada iven-iven resmi yang akan digelar baik dari pihak
swasta maupun dari pihak pemerintah,” ujarnya
Namun,
tak jauh dari Taman Kota, jaraknya kira-kira 500 meter
menuju ke arah Pusat Kota, Kantor Pos dan Giro Kota
Tomohon masih padat dengan para RTM penerima BLT. Sejak
Kamis (17/7) para RTM di kota Tomohon memadati Kantor
Pos itu untuk menerima jatah BLT sebanyak Rp. 300.000
per 3 bulan untuk masing-masing RTM yang totalnya
berjumlah 4091 RTM. “Meski hanya sebesar Rp 300 ribu,
namun jika dimanfaatkan dengan benar maka akan sangat
besar manfaatnya bagi menunjang kehidupan keluarga,”
ujar Walikota Tomohon Jefferson Rumajar SE kepada
sejumlah wartawan Jumat akhir pekan lalu.
Sementara,
di pusat pertokoan Kota Bunga ini, kita masih akan
melihat kesibukan para pekerja menyelesaikan pembuatan
trotoar. Agaknya, target pemerintah kota untuk
merampungkan beberapa fasilitas penunjang pada saat
pelaksanaan TFF lalu tidak tercapai. “Tu dorang ja
beking kwa ini, sisa waktu lalu. Padahal, bagus
sebenarnya, kalau waktu ToF lalu, tu trotoar di sini so
alas tehel,” ujar Leo Supit, salah pemilik
toko di pusat kota itu.
Dan,
bunga marygold, yang waktu pelaksanaan TFF sempat
dibanggakan dan diandalkan, kini tak lagi ceria. Pot-pot
bunga yang berjejer di jalan protokol, tak lagi dihiasi
bunga marygold yang mekar sehingga berwarna kuning manis,
yang ada hanyalah kesuraman. Ini seperti nasib sejumlah
petani sayur di kota ini yang merugi karena tiba-tiba
mengganti lahannya yang biasa ditanami sayur dengan
bunga.
Om Welly,
warga Desa Wailan, kepada sulutlink, belum lama ini
mengakui merugi karena apa yang dia bayangkan dengan
pendapat bunga, ternyata hanya mimpi belaka. “Kita
ini so sekitar 10 tahun lebih ja ba tanam sayor cesin.
Mar, lantaran da dengar himbauan pemerintah untuk
menanam bunga, kong kata mo bli deng harga bagus, kita
langsung ganti cesin deng aster pa kita pe kobong. Mar
apa yang jadi, kita rugi,” ujar dia sedih.
Tapi,
kota ini masih akan melaksanakan ivent yang sama di
tahun 2009 nanti. “TFF 2008 memang telah sukses
dilaksanakan. Namun kita harus tetap memantapkan lagi
persiapan pelaksanaan TFF 2009 nanti dengan perencanaan
yang matang mulai dari sekarang. merupakan kebanggaan
bagi kita dan prestasi bila hasilnya semakin maksimal,”
ujar Wakil Walikota Tomohon Syennie Watoelangkouw kepada
wartawan pekan lalu.
|