Main Page

Berita

Artikel

Ranomawuri

Makatana

Timountalun

Topik Kawanua

Suara Kawanua

Plakat Kawanua

Profil Kawanua

Cirita Grap

Polling SL

News Link

 

 Berita Sulut: 21 Juli,  2008

Tomohon Usai TFF 2008

Laporan Denni Pinontoan

 

Tomohon, Sulutlink. Sudah lebih dua minggu iven akbar yang bertajuk Tomohon Flower Festival (TFF) 2008  usai. Semarak kegiatan yang dibanggakan oleh Pemerintah Kota itu, agaknya mulai surut seiring waktu berjalan. Sejumlah tempat pelaksanaan kegiatan TFF 2008, seperti kantor eks rindam (Kantor Walikota Lama), Taman Kota, dan Bukit Inspirasi serta jalan prokotol kota yang dilalui mobil hias untuk Tournament of Flower kita seramai waktu lalu. Bunga marygold pun wajahnya tak seceria dulu.

 

Hari hampiri sore dan langit Kota Tomohon mulai suram. Sebentar lagi akan turun hujan. Namun sekelompok anak berusia kira-kira 7- 10 tahun, yang jumlah mereka kira-kira 6 atau 8 orang, Sabtu (19/7) asyik bermain sepak bola plastik. Mereka tampak riang dan penuh semangat. Tapi, anak-anak itu tidak sedang bermain di tanah lapang. Bola yang mereka tendang pun tidak bergelinding di antara rerumputan. Anak-anak itu sedang bermain di Taman Kota, yang lantainya dilapisi marmer. Taman Kota itulah, salah satu tempat penggelaran kegiatan Tomohon Flower Festival (TFF) 2008  yang telah selesai dilaksanakan 6 Juli lalu.

 

Seorang perempuan, barangkali ibu dari salah satu anak-anak yang bermain itu berteriak, “Hei, anak-anak nda bole bermaeng di Taman Kota!” Tapi sayang, teriakan itu tak terdengar, dikalahkan oleh sorakan gembira-gembira anak-anak yang sedang menikmati Taman Kota itu.

 

Itulah Taman Kota Tomohon kini. Sebuah taman, yang malamnya hanya ada lampu di beberapa bagiannya, dan siangnya, antara lain adalah tempat anak-anak sekitarnya bermain sepak bola plastik. Taman yang dibangun di Kelurahan Paslaten Satu Kecamatan Tomohon itu, akhir Juni lalu selesai dibangun. Sampai selesai, pembangunan taman kota itu menelan anggaran kurang lebih Rp 6 miliar.

 

Taman Kota ini sejak semula memang dimaksudkan sebagai tempat pergelaran beberapan kegiatan yang sifatnya massal maupun terbatas untuk menghimbur warga atau usaha pelestarian budaya dalam menunjang Kota Tomohon sebagai kota pariwisata. “Taman Kota tersebut di dalamnya terdapat sejumlah ruangan saerta panggung yang bisa dipakai oleh masyarakat Kota Tomohon untuk menggelar berbagai ajang bermanfaat dan kreatif dalam menunjang Kota Tomohon sebagai daerah wisata,” kata Kepala Dinas Tata Kota dan Pertamanan Kota Tomohon, Andrikus Wuwung kepada wartawan beberapa waktu lalu.

 

Dan, Taman Kota ini memang disediakan untuk masyarakat Kota Tomohon. “Jika nantinya telah ada pengelola resmi Taman Kota yang ditunjuk Pemkot Tomohon, maka tentunya akan ada iven-iven resmi yang akan digelar baik dari pihak swasta maupun dari pihak pemerintah,” ujarnya

 

Namun, tak jauh dari Taman Kota, jaraknya kira-kira 500 meter menuju ke arah Pusat Kota, Kantor Pos dan Giro Kota Tomohon masih padat dengan para RTM penerima BLT. Sejak Kamis (17/7) para RTM di kota Tomohon memadati Kantor Pos itu untuk menerima jatah BLT sebanyak Rp. 300.000 per 3 bulan untuk masing-masing RTM yang totalnya berjumlah 4091 RTM. “Meski hanya sebesar Rp 300 ribu, namun jika dimanfaatkan dengan benar maka akan sangat besar manfaatnya bagi menunjang kehidupan keluarga,” ujar Walikota Tomohon Jefferson Rumajar SE kepada sejumlah wartawan Jumat akhir pekan lalu.

 

Sementara, di pusat pertokoan Kota Bunga ini, kita masih akan melihat kesibukan para pekerja menyelesaikan pembuatan trotoar. Agaknya, target pemerintah kota untuk merampungkan beberapa fasilitas penunjang pada saat pelaksanaan TFF lalu tidak   tercapai. “Tu dorang ja beking kwa ini, sisa waktu lalu. Padahal, bagus sebenarnya, kalau waktu ToF lalu, tu trotoar di sini so alas tehel,” ujar Leo Supit, salah pemilik toko di pusat kota itu.

 

Dan, bunga marygold, yang waktu pelaksanaan TFF sempat dibanggakan dan diandalkan, kini tak lagi ceria. Pot-pot bunga yang berjejer di jalan protokol, tak lagi dihiasi bunga marygold yang mekar sehingga berwarna kuning manis, yang ada hanyalah kesuraman. Ini seperti nasib sejumlah petani sayur di kota ini yang merugi karena tiba-tiba mengganti lahannya yang biasa ditanami sayur dengan bunga.

 

Om Welly, warga Desa Wailan, kepada sulutlink, belum lama ini mengakui merugi karena apa yang dia bayangkan dengan pendapat bunga, ternyata hanya mimpi belaka. “Kita ini so sekitar 10 tahun lebih ja ba tanam sayor cesin. Mar, lantaran da dengar himbauan pemerintah untuk menanam bunga, kong kata mo bli deng harga bagus, kita langsung ganti cesin deng aster pa kita pe kobong. Mar apa yang jadi, kita rugi,” ujar dia sedih.

 

Tapi, kota ini masih akan melaksanakan ivent yang sama di tahun 2009 nanti. “TFF 2008 memang telah sukses dilaksanakan. Namun kita harus tetap memantapkan lagi persiapan pelaksanaan TFF 2009 nanti dengan perencanaan yang matang mulai dari sekarang. merupakan kebanggaan bagi kita dan prestasi bila hasilnya semakin maksimal,” ujar Wakil Walikota Tomohon Syennie Watoelangkouw kepada wartawan pekan lalu.