Main Page

Berita

Artikel

Ranomawuri

Makatana

Timountalun

Topik Kawanua

Suara Kawanua

Plakat Kawanua

Profil Kawanua

Cirita Grap

Polling SL

News Link

 

 Artikel: 3 Agustus,  2008

 

Multatuli, Soekarno dan Tan Malaka

 Oleh Henk Takumansang

 

KAUM BURUH: BERSATULAH!

 

Multatuli, Soekarno dan Tan Malaka berseru terhadap rakyat jelata, kaum Marhaen, buruh dan tani: “wahai saudara-saudariku BERSATULAH”. Benang merah ini merupakan seruan api revolusi di Eropa dimana sistem kelas proletar meminta keadilan dari kaum borjuis. Kini, buruh di Eropa&Amerika jauh lebih makmur daripada Asia. Bahkan disantuni dan diberikan subsidi supaya terjaga kesejahteraan dan produksinya.

Lihatlah, Nusantara bangsa terjajah. Bangsa yang paling makan garam mengalami penderitaan kolonial. Persaingan Spanyol, Portugis, Inggris dan Belanda, menjadikan Nusantara sebagai tanah terjanji penuh susu dan madu, sedangkan rakyatnya diperas, di siksa dan jadi budak belian di perkebunan sendiri. Selain Multatuli yang menulis penderitaan rakyat di Lebak, Prof. Jan Breman menelanjangi praktek-praktek kapitalis Belanda dengan bukunya “Koelies, planters en koloniale politiek, Het arbeidregime op de grootlandbouwondernemingen aan Sumatra’s Oostkust”.

            Di samping Multatuli (Edward Dowes Dekker) dan Jan Breman, terdapat juga tiga nama lainnya yakni Dennis Lombard, Bernard Dorleans (Orang Indonesia dan Orang Perancis) dan Rob Niewuenhuys (Mirror of The Indies). Karya-karya mereka rata-rata menguak kisah sedih perlakuan tidak manusiawi Orang Eropa/Tuan Tanah terhadap para buruh atau pekerja.

Dari perlakuan hal memotong kaki buruh wanita (pribumi) dan menyediakan sebagai daging sup bagi suaminya karena cemburu, hingga menyiram air mendidih ke wajah pekerja oleh Nyonya Pembesar (Eropa). Tak hanya itu, dicambuk dan dipasung menjadi hukuman paling ringan daripada digantung atau diseret empat ekor kuda dengan mengikat  kedua tangan dan kakinya hingga putus. Bahkan brosur rekruitmen tenaga kerja, manusia disandingkan dengan hewan (sapi, kuda, gajah) dalam menjalankan tugas-tugas perkebunan.

Kekejian ini terus-menerus terjadi, walaupun perlakuannya berubah bentuk. Hal yang sama sampai saat ini adalah posisi buruh selalu dilemahkan dalam soal kontrak kerja. Dahulu, ordonansi (aturan) kuli dan (poenali sanctie) hukuman, menjadi dasar aturan kerja yang dilakukan di perkebunan-perkebunan Nusantara. Kini, hukum outsourching dan peniadaan pesangon jika belum menjadi karyawan tetap selama tiga tahun. Hal-hal semacam ini melucuti harga diri para pekerja yang selalu berada diambang sanksi atau pemutusan sepihak jika dinilai perusahaan akan memberatkan neraca keuangannya.

Kebanyakan perusahaan-perusahaan yang memiliki modal besar di Indonesia (Nusantara) adalah perpanjangan usaha-usaha kaum kapital yang berkuasa sejak dahulu. Ribuan korporat asing menjejali negeri ini dan semua hasil penjualan serta produksi pertanian/perkebunan dalam negeri terserap pasar ke Eropa ataupun Amerika. Perputaran arus uang dan konsumsi masyarakat menjadi aliran dana segar bagi korporasi asing di Indonesia. Transnational Company ibarat pengganti VOC. Kita terus-menerus dijajah. Apakah akan begini hingga anak-cucu kita?

 

Mental Cina di Deli-Sumatra

Ada yang menarik dengan tulisan “Sepenggal Jejak China di Perkebunan” oleh Andy Riza Hidayat (Kompas, 19/7/08). Sebagaimana Breman yang menulis penderitaan budak pekerja China, Jawa dan India di Deli, Andy Hidayat juga memaparkan hal yang sama. Di Desa Buluh China, Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang Sumatera Utara terdapat perkampungan warga China. Rata-rata orang China di Deli (1950) adalah bagian dari pekerja di perkebunan yang menggerakkan roda kapitalisme zaman kolonial.

Akan tetapi, sejak munculnya PT Perkebunan Nusantara status warga China meningkat. Saat ini, tidak ada lagi orang China yang menjadi buruh (paling tidak satu dua). Yang banyak adalah buruh dari Jawa di perkebunan tembakau. Hilangnya buruh China akibat upah yang tidak cocok dan memilih bekerja di sektor lain (swasta), bahkan ada juga yang menjadi rekanan PTPN II dimana leluhur mereka pernah bekerja di perkebunan tersebut. (Kompas, 19/7/08).

Mentalitas terjajah dan iklim yang tidak kondusif memaksa orang melakukan perubahan radikal. Kungkungan kemiskinan, kebodohan dan keterpaksaan untuk memenuhi nafkah hidup menghantar warga China maju bukan sebagai buruh lagi melainkan pemilik modal dan tanah. Hal ini tidak terjadi di Deli-Sumatra saja. Akan tetapi, rata-rata warga China pasca kolonial mendapatkan kesempatan untuk melakukan kegiatan ekonomi di seluruh pelosok Nusantara. Mentalitas inilah yang sesungguhnya patut ditiru. Mendobrak rejim dan menjadikan hidup lebih baik dari sebelumnya.

Dahulu, Breman mencatat bahwa suku Jawa dan India terkenal sebagai suku bangsa yang taat dan takut memberontak. Sedangkan etnis China terkenal pemberontak. Bahkan perlawanan dilakukan terhadap Pengawas Perkebunan yang juga sesama beretnis China. Iklim yang tidak sehat ini sesungguhnya merupakan ciptaan para kontroler Tuan Besar dari Eropa/Belanda. Sistem kerja dengan standar upah rendah, terkontrol dan terbagi antar sub-kultur di satu areal perkebunan, menjadikan sistem kapital ini berumur panjang hingga 350 tahun.

Mari bandingkan dengan kondisi sekarang ini. Labelisasi terjadi atas bahan produksi perkebunan, pertanian dan hasil laut Nusantara. Kemudian, ikatan kontrak buruh sepenuhnya berada pada perusahaan dengan kekuatan hukum yang diberikan pemerintah. Di samping itu, ikatan kerjasama investasi antar pemerintah dipasang 25 hingga 90 tahun untuk bidang energi, pertambangan dan mineral. Bangsa kitalah yang menjual upah rendah dan tanah ini bagi modal asing. Pemimpin kitalah yang menjadikan masyarakat terperosok dalam sistem liberal yang tidak seimbang. Ibarat gajah melawan pelanduk, kita hanya menerima ketidakadilan yang diciptakan oleh Pemerintah sendiri.

 

Api Revolusi

Sekali lagi, kita tidak pernah menjadi tuan atas tanah-air, ibu pertiwi ini. Jika Multatuli, Soekarno dan Tan Malaka masih mendengar penderitaan ini maka mereka akan bersedih. Sudah 100 tahun Bangkit menentang penjajah, tapi Nusantara Indonesia belum merdeka. Kekerdilan hati dan pikiran pemimpin negeri menjadikan rakyat melarat di tengah lumbung hijau pertanian, biru nian samudra penuh ikan dan emas-perak isi perut bumi. Hidup bukan hanya perbuatan saja, tapi harus meninggalkan rekam jejak keteladanan. Selama belum ada pemimpin yang memberikan pengorbanan dirinya dan keteladanan bagi negeri ini, maka rakyat melarat dan tidak akan sejahtera.

Untuk itu, diperlukan api revolusi menyeluruh. Reformasi 1998, hanyalah api yang membakar sebagian negeri ini. Dibutuhkan sarana nasional dan api revolusi mengubah negeri ini dari kungkungan kapitalisme. Dari mental budak ke mental teruji Tuan atas Negeri ini. Dari mental komprador asing kapitalistik ke watak Nasionalis-Internasionalisme.

Kita jangan cuma berharap keajaiban, sebab Bolivia, Brazil dan Venezuela telah melakukannya di abad 21 ini. Usir kapitalisme dan buatlah mereka tunduk pada kedaulatan Nusantara. Karena pasti, ini juga harapan Multatuli, Soekarno dan Tan Malaka.


Artikel yang ditulis oleh para contributor adalah bukan ekspresi Sulutlink, tapi ekspresi dari penulis tersebut.