|
NATIONAL TREASURE a la
INDONESIA:
Intensitas, Integritas dan Kepemimpinan SBY)
Oleh Steven Pailah
Intensitas
dan Integritas
Membaca buku “Harus Bisa: Seni Memimpin a la SBY” ibarat
menonton film “National Treasure 2 : Book of Secrets” yang
diperankan Nicholas Cage.. Buku setebal 340 halaman plus
pengantar, indeks dan epilog sengaja disusun untuk memotret
dan merekam kepemimpinan SBY dalam menjalankan tugas negara
apa adanya. Adalah hal mustahil, melahirkan
karya tulis di tengah kesibukan Dr. Dino Patti Djalal
sebagai Juru Bicara Presiden RI. Namun dalam kegigihan dan
rentan pengalamannya, Dino mampu menghadirkan aktualisasi
dan aktifitas
Presiden SBY lengkap dengan koleksi foto pribadi
maupun pers kepresidenan.
Jika
Nicholas Cage menghantar penonton melalui teka-teki dan
rahasia sejarah kenegaraan White House, Dino Patti Djalal
justru menghadirkan rekam jejak Presiden RI ke-6 baik
tindakan, ucapan dan seni memimpin negara. Buku ini jelas
berbeda jika dibandingkan dengan buku Presiden Soekarno
Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams, atau
Soeharto: Ucapan, pikiran dan Tindakan Saya yang ditulis G.
Dwipayana. Dalam beberapa buku Presiden RI terdahulu kesan
interview sangat kental dihadirkan oleh penulis. Teks Cindy
Adams maupun G. Dwipayana merupakan hasil wawancara dan
rekaman pemikiran langsung (direct speech) dari Sang Tokoh.
Sedangkan Dino tidak menghadirkan diri sebagai pewawancara.
Dino hadir sebagai pendamping Presiden RI yang terus
mengikuti jejak pemikiran SBY dalam mengambil keputusan,
terlibat dalam tatap muka antarpresiden maupun memberikan
masukan bagi kepentingan Indonesia di fora internasional.
Penampilan buku ini jauh dari bentuk otobiografi Presiden
RI, melainkan sebagai buku catatan harian penuh kegiatan
kenegaraan, pelajaran berharga yang bisa dipetik, buah
pemikiran, keteladanan serta kebijaksanaan Sang Presiden.
Dalam National Treasure 2: Book of Secrets merupakan
Catatan Harian setiap Presiden AS selama masa berkuasa.
Bedanya, catatan harian Presiden AS tersimpan dengan sandi
khusus di
Perpustakaan Negara dan dijaga sangat ketat,
sedangkan Catatan Harian Dino mengenai SBY disebarluaskan
agar publik mengetahui apa saja aktifitas Presiden RI selama
4 tahun masa kepemimpinannya. Disinilah terdapat kesan kuat
bahwa intensitas dan integritas Dino, seorang Juru Bicara
Presiden dapat merekam dengan jelas setajam cinematografi.
Membaca buku setebal ini cukup 3 sampai 5 jam saja. Pembaca
akan sangat terbantu dengan tampilan foto-foto SBY sebanyak
155 jepretan dalam ukuran close up, frame serta full color.
Sebagai catatan intrinsik, meskipun memiliki referensi tim
fotografi istana kepresidenan maupun koleksi pribadi ada hal
yang terlewatkan. Foto-foto yang ditampilkan memang
menyertakan keterangan namun tidak menyebutkan sumber foto.
Sehingga pembaca akan sulit membedakan apakah foto tersebut
merupakan koleksi pribadi atau rekaman media pers
rumah tangga kepresidenan.
Demikian juga ada hal yang lucu tapi menarik mengenai foto
di halaman 268. Keterangan menyebutkan bahwa SBY meminjam
punggung seorang ajudan untuk merevisi teks sebelum
konferensi pers film FITNA. Yang menarik adalah pose yang
sama persis pernah dilakukan Presiden Soeharto ketika
menandatangani surat di atas pungggung ajudannya (Presiden
RI Soeharto ketika mengunjungi Tapos / koleksi Majalah
Tempo). Lebih menarik lagi, ajudan Presiden Soeharto
tersebut sekarang menjadi rival berat SBY dalam Pilpres 2009
nanti.
Kepemimpinan SBY
Sesuai dengan judul buku, Dino menceritakan enam bab
ditambah epilog bertajuk SBY sebagai Atasan, Sahabat dan
Mentor. Babnya berjudul: Memimpin dalam Krisis, Memimpin
dalam Perubahan, Memimpin Rakyat dan Menghadapi Tantangan,
Memimpin Tim dan Membuat Keputusan, Memimpin di Pentas Dunia,
dan Memimpin Diri Sendiri merupakan enam bab yang tersaji
lengkap dengan foto, stop press dari para pemimpin maupun
filsuf dunia. Rupanya, Dino juga sangat mengagumi
Panglima
Besar Jenderal
Sudirman dalam hal kepemimpinan. Hal ini terlihat
dalam kalimat pembuka bab 1 (Tempat saya yang terbaik adalah
di tengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan...Panglima
Besar Jenderal Sudirman hal 3).
Catatan harian Dino begitu sederhana. Praktis dalam
mengajukan fakta dan tidak berbelit-belit. Dino memanfaatkan
momentum dan pengalamannya sebagai Jubir Presiden, sehingga
buku ini enak dibaca dimana dan kapanpun kita berada.. Jika
membandingkan dengan buku yang menyoal tentang kepemimpinan
Presiden RI terdahulu maka kesan formal tidak tergambar
dalam buku Dino. Selain Soekarno dan Soeharto, Presiden
Habibie menulis lewat “Detik-detik Yang Menentukan, Jalan
Panjang Menuju Demokrasi. Di samping itu, Presiden
Abdurrahman
Wahid memiliki buku “No Regrets”, yang ditulis Jubir
Presiden Wimar Witular serta “Abdurrahman Wahid, Muslim,
Democrat, Indonesian President, A View from the Inside” yang
ditulis Greg Barton. Dan tak kalah penting adalah buku
“Megawati Soekarnoputri
Presiden RI” yang ditulis Drs. Rusdi Muchtar dan Drs
Afadlal.
Lengkap sudah, para pemimpin negeri ini selalu menorehkan
tinta emas selama dan sesudah menjabat dengan kemampuan
maupun kelemahan periode kepemimpinannya melalui buku
ataupun tulisan. Hal ini menjadi pelajaran yang baik bagi
generasi muda untuk melihat keteladanan para pemimpin
Indonesia. Adalah kebahagiaan tersendiri jika membuka
selembar demi selembar buku karya pria kelahiran Beograd 10
September 1965 ini. Panduan penyajiannya sangat berkelas dan
lengkap dengan ungkapan-ungkapan seorang diplomat yang
energik dan dinamis.
Dino, telah menunjukkan peta baru bagi Indonesia dan
masyarakat luas bahwa pemimpin 230 juta jiwa ini adalah
seorang Demokrat yang handal menangani kebijakan, sigap
dalam mengambil keputusan, judgement yang matang, memiliki
intelektualitas yang tinggi, inovatif, berani menempuh
resiko, adaptif, memiliki naluri yang tajam, peduli terhadap
masalah, mau introspeksi dan belajar dari kesalahan, mampu
menentukan prioritas, gigih mencari solusi, mampu membaca
perubahan zaman dan trend dunia, serta memiliki akhlak yang
baik. Itulah, sajian 42 sub-judul yang ingin disampaikan
suami dari drg. Rosa Rai sekaligus ayah bagi Alexa, Keanu
dan Chloe.
Diharapkan, generasi muda menimba keteladanan dari para
pendahulunya. Jika Soekarno adalah Proklamator Bangsa,
Soeharto adalah Bapak Pembangunan, Habibie adalah Teknokrat
Handal,
Gus Dur adalah Presiden Yang Menjunjung Toleransi dan
Peradaban, Megawati adalah Srikandi
Nusantara,
tak pelak SBY adalah Pemimpin Demokrat Sejati yang mencintai
rakyat dan pengemban tugas suci kenegaraan. Semoga peta
kepemimpinan yang dirintis Dr. Dino Patti Djalal menetes
dalam sanubari calon-calon pemimpin muda negeri ini.
Indonesia masih membutuhkan ratusan SBY dan ribuan Dino yang
dapat menghantar ibu pertiwi menuju masyarakat adil dan
makmur. Kepemimpinan a la SBY adalah mercusuar di tengah
gelora samudra yang dapat menerangi jalan-jalan menuju
kejayaan negeri. Semoga.
|