Main Page

Halaman Berita,  15 Agustus, 2008

 

REFLEKSI 3 TAHUN KEPEMINPINAN SHS-FHS

(13 Agustus 2005-13 Agustus 2008)

Catatan: Budi Harold Rarumangkay

 

Komitmen Jaga Lingkungan Hidup

Hari ini, tanggal 13 Agustus 2008 merupakan peringatan 3 tahun kepemimpinan Gubernur Drs Sinyo Harry Sarundajang (SHS) – Wakil Gubernur Freddy Harry Sualang (FHS). Sejak dilantik pada 13 Agustus 2005 lalu, kedua pasangan pilihan rakyat pertama di Bumi Nyiur Melambai ini, komitmennya untuk menjaga lingkungan hidup sangat kuat. Bahkan, ngotot menolak investasi yang tidak ramah lingkungan. Kendati jabatan dipertaruhkan, keduanya bulat untuk tidak mengijinkan operasional pertambangan skala besar di Sulut.

 

“Tekad kami sudah bulat untuk tidak mengijinkan investasi yang tidak ramah lingkungan beroperasi di Bumi Nyiur Melambai,”kata SHS dalam setiap kesempatan.

 

Pun pemerintah pusat melalui staf khusus Kementrian Lingkungan Hidup (KLH), Lukman Mokoginta, mengajak seluruh masyarakat Sulut, untuk mendukung kebijakan SHS dalam menolak operasional perusahaan pertambangan emas PT Miares Soputan Minning (MSM) di Tokatindung Likupang di Kabupaten Minut. Menurut Lukman, selain Amdal sudah kadaluarsa, terjadi resistensi di masyarakat dan merusak lingkungan hidup secara menyeluruh.

 

Masyarakat kemudian tersadar betapa pentingnya menjaga lingkungan hidup demi anak cucu kita di masa datang. Kemudian, pada tanggal 24 April 2008 lalu, ribuan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Menolak Limbah Tambang (AMMALTA) Sulut mendatangi Kantor Gubernur Sulut yang berada di Jalan 17 Agustus Manado. Kedatangan massa ini, bertujuan meminta kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut melalui Gubernur Drs Sinyo Harry Sarundajang dan Wakil Gubernur Freddy Harry Sualang, untuk segera mengusir pihak perusahaan tambang PT Maeres Soputan Mining (MSM) dan PT Tambang Tondano Nusajaya (TTN) dari wilayah Sulut.

 

“Pak gub dan pak wagub jangan takut untuk menolak investasi perusak lingkungan. Kami semua berada di barisan terdepan,”teriak Didi Koleangan Koordinator AMMALTA saat berdemo.

 

Dukungan masyarakat Sulut ini kian mempertegas keputusan SHS-FHS menolak investasi perusak lingkungan hidup. “Apabila dikemudian hari nanti keputusan kita ini dinilai keliru oleh Pemerintah Pusat, maka biarlah ini menjadi suatu kesalahan kita di Sulut. Akan tetapi, kita selaku pemerintah daerah akan tetap menolak operasional MSM dan TTN di Sulut ini.. Karena keputusan ini untuk kepentingan masyarakat Sulut yang tidak akan pernah mau, apabila lingkungan yang ada dirusak dan tercemar oleh kegiatan-kegiatan pertambangan yang tidak ramah akan lingkungan seperti ini,”sergah SHS saat membuka acara pemaparan hasil pemantauan lingkungan di Teluk Buyat oleh Panel Ilmiah Independen (PII), yang turut dihadiri oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman, pada tanggal 24 Juli 2008 di Hotel Quality Manado.

 

Lebih lanjut Sarundajang mengatakan, yang mendasari pengambilan keputusan pihaknya untuk menolak kehadiran MSM dan TTN untuk beroperasi di Toka Tindung ini, dikerenakan oleh sistem pengelolaan kedua perusahaan tersebut yang tidak ramah akan lingkungan. Selain itu juga, dokumen Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) MSM dan TTN sudah tidak layak lagi untuk diterapkan di daerah ini untuk sekarang ini.

 

Revitalisasi Pertanian, Peran Menunjang WOC 2009

Tahun 2008, merupakan tahun ke-empat pemantapan pelaksanaan Program Revitalisasi Pertanian di Provinsi Sulut. Penjabaran program tersebut diarahkan untuk mendukung 3 program utama lainnya yakni Peningkatan Ketahanan Pangan, Pengembangan Agribisnis dan Peningkatan Kesejahteraan Petani. Gubernur SHS dalam pemaparan Revitalisasi Pertanian Menunjang World Ocean Conference (WOC) 2009 menjelaskan, dalam konteks pelaksanaan WOC di daerah ini pada Mei 2009 nanti, pelaksanaan 3 program utama pembangunan sektor pertanian memiliki peranan dan manfaat secara timbal balik kepada petani dan bagi penyelenggaraan WOC itu sendiri. Hal ini tentunya bukan hanya sesaat, tetapi berkelanjutan pasca pelaksanaan WOC.

 

Sedangkan peran dan manfaat konkrit yang diharapkan dari penjabaran Revitalisasi Pertanian melalui 3 program utama tersebut, lanjut Sarundajang, untuk program Peningkatan Ketahanan Pangan bertujuan memfasilitasi terjaminnya masyarakat dalam memperoleh pangan yang cukup setiap saat, sehat dan halal. Berangkat dari tujuan ini, produk-produk komoditi pangan yang dihasilkan melalui proses produksi akan diupayakan memenuhi kriteria cukup tersedia sesuai jumlah yang dibutuhkan.

 

Sedangkan untuk program Pembangunan Agribisnis, bertujuan memfasilitasi berkembangnya usaha pertanian untuk menghasilkan produk yang mempunyai nilai tambah dan daya saing yang tinggi, baik di pasar domestik maupun internasional. Sekaligus, dapat meningkatnya kontribusi sektor pertanian dalam perekonomian nasional, terutama melalui peningkatan devisa dan pertumbuhan PDB.

 

Lebih lanjut Sarundajang menjelaskan, keberhasilan pelaksanaan Revitalisasi Pertanian dalam hubungannya dengan pelaksanaan WOC di daerah ini sangat ditentukan oleh adanya dukungan dan kerjasama terpadu semua instansi terkait dan stakeholder yang ada. Antara lain, Dinas Pertanian dan Perternakan, Dinas Perkebunan, Badan Ketahanan Pangan, Perikanan dan Kelautan, Dinas PU, Perhubungan, Koperasi, BAPPEDA, Disperindag, Dolog, Perbankan, Distributor sarana produksi, BP-KAPET dan lainnya.

 

Keberhasilan penyelenggaraan program ini juga akan dibuktikan dengan terwujudnya peningkatan kinerja beberapa indikator perekonomian, baik aspek mikro maupun makro. Diantaranya, tercapainya peningkatan produksi tanaman pangan,tercapainya indeks nilai tukar petani pada kisaran 130-150, meningkatnya penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, meningkatnya kontribusi sertor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatnya pendapatan pada kesejahteraan masyarakat petani yang bersumber dari kegiatan usaha tani,” jelasnya.

 

Eksport Sulut Tumbuh 18 Persen

Ancaman krisis pangan ternyata tidak mempengaruhi Nyiur Melambai. Sebab, stok masih cukup. Pun ekport dari Provinsi Sulut, optimis tumbuh 18 persen pada tahun 2008 ini karena sebagian besar komoditi yang diekspor merupakan produk pangan yang saat ini justru sedang mengalami kenaikan di pasar internasional.

 

Hampir 70 persen komoditi ekspor Sulut merupakan bahan baku pangan, maka dengan gejolak harga makin tinggi di pasar luar negeri justru memberi dampak positif nilai ekspor meningkat," kata Kepala Sub Dinas Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sulut Hanny Wayong.

 

Peningkatan tersebut terutama diprediksi masih tetap akan didorong produk yang selama ini mendominasi yakni produk turunan kelapa (integrated coconut) dan komoditi perikanan. "Produk turunan kelapa, seperti minyak kelapa kasar, minyak goreng, tepung kelapa, serta komoditi ikan tuna, ikan layang, ikan kayu, merupakan produk andalan yang diperkirakan masih akan terus mendominasi capaian ekspor Sulut tahun ini," tambah Wayong.

 

Sementara mengenai dampak kenaikan bahan bakar minyak (BBM), Kepala Seksi Ekspor Impor Disperindag Sulut Johny Rumagit menambahkan, meskipun cukup berpengaruh pada saat proses produksi, tetapi akan tertutupi dengan harga jual komoditi yang mengalami kenaikan. "BBM sangat strategis, namun hingga kini belum ada industri terutama yang bergerak pada bidang ekspor, dilaporkan bangkrut, makanya Pemrov Sulut masih tetap optimis ekspor terutama nilai, akan meningkat cukup signifikan,"timpalnya.

 

Diketahui, realisasi ekspor Sulut periode Januari hingga Maret 2008 (triwulan I) meningkat 112 persen menjadi 288,22 juta dolar AS, dibandingkan posisi yang sama tahun lalu, 135,93 juta dolar AS. Peningkatan tersebut disebabkan harga komoditi ekspor terus meningkat di pasar internasional, juga didorong peningkatan volume ekspor menjadi 347,60 juta kilogram (kg) dibanding tahun lalu hanya 245,37 juta kg atau naik 41 persen," urai Rumagit.

 

Dominasi komoditi ekspor bulan tersebut masih tetap sama dengan periode sebelumnya, yakni sebagian besar terdiri produk turunan kelapa dan produk perikanan. Pembeli komoditi Sulut terdiri atas 30 negara, dimana China tercatat sebagai pembeli terbesar, 38,19 juta dolar AS (volume 35,03 juta kg), diikuti Korea 18,22 juta dolar AS (37,03 kg), Amerika Serikat 16,31 juta dolar AS (14,13 juta kg).

 

Pertumbuhan Ekonomi Sulut Tumbuh 7 Persen

Jika perekonomian Indonesia diindikasikan mengalami perlambatan hingga 6%, untuk Sulut sendiri pada kwartal kedua justru diperkirakan akan tetap tumbuh positif pada kisaran 7%. “Jika dilihat secara Year on Year, pertumbuhan ekonomi (PE) masih lebih baik meskipun kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) rata-rata sebesar 28,7% akhir Mei lalu dan hal tersebut belum terasa karena dampak langsung pada penurunan kinerja ekonomi, belum kelihatan selama triwulan laporan,” terang Pemimpin Bank Indonesia (BI) Cabang Manado, Jefrey Kairupan.

 

Padahal, lanjut Kairupan, BI sempat memperkirakan bahwa perekonomian Sulut berdasarkan tabel input-output 2006 dan kenaikan BBM akhir Mei 2008, PE akan turun sebesar 0,7% namun hal tersebut tidak terjadi tapi malah sebaliknya.

 

Dijelaskannya, berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja ekonomi Sulut masih lebih baik ditengah-tengah meningkatnya tekanan inflasi dan masih rendahnya realisasi pengeluaran pemerintah daerah atau baru sekitar 30-35%. Namun, satu hal yang pasti dukungan pembiayaan bagi percepatan pembangunn ekonomi menunjukkan peningkatan dimana tercermin dari berjalannya fungsi intermediasi per-bankan dimana kredit yang berhasil disalurkan hingga Mei 2008 sudah mencapai Rp7,3 triliun atau naik 35% bila diban-dingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

 

Berdasarkan jenis penggunaannya, tambah Kairupan, laju pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh kegiatan konsumsi khususnya rumah tangga dengan kontribusi hampir 20% terhadap laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Sementara itu, investasi relatif tumbuh terbatas. Beberapa faktor yang mendorong peningkatan konsumsi selama triwulan laporan adalah berlangsungnya masa liburan sekolah dan tahun ajaran baru, realisasi pemberian gaji ke-13 bagi PNS dan Polri, BLT, pelak-sanaan Pilkada dibeberapa kabupaten serta persiapan menjelang ToF.

 

Minat masyarakat di Sulut untuk berbelanja masih cukup tinggi meskipun sudah terjadi kenaikan BBM sehingga hal tersebut mencerminkan bahwa tingkat perekonomian masih cukup baik,katanya.

Lebih jauh Kairupan mengatakan, menurut sektor yang menjadi lokomotif mendorong kontribusi bagi PE, masih sektor pertanian, bangunan serta perdagangan, hotel dan restoran. Dari sekian sektor yang terus bertumbuh adalah sektor pertanian dimana kinerja revitalisasi pertanian yang digalakkan Pemprov Sulut mendapat dukungan dari masyarakat luas. Hal tersebut karena adanya sisi pembiayaan dari pihak perbankan serta beberapa bantuan subsidi langsung kepada petani.

 

Beberapa upaya yang ditempuh oleh pemerintah untuk memajukan sektor pertanian diantaranya adalah pemberian bantuan bibit, subsidi pupuk, program pembukaan lahan baru, perbaikan irigasi dan masih banyak lainnya,” ungkap Kairupan seraya menambahkan bahwa sektor pertanian jika dilihat dari sisi pembiayaan perbankan, jumlah kredit yang sudah disalurkan mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu Rp199 miliar pda Mei 2007 menjadi Rp363 miliar pada Mei 2008 atau mengalami peningkatan lebih dari 82%.

 

Ekspor Perikanan Sulut Tembus 29 Negara

Hasil produk perikanan Sulut berupa ikan asapan, ikan beku dan ikan kalengan diminati 29 negara tujuan ekspor di kawasan Asia dan Eropa. “Dari keseluruhan ekspor Sulut mencapai 47 negara, dimana sebagian besar diantaranya merupakan negara pengimpor ikan dari Sulut,”terang Kasubdin Perdagangan Luar Negeri, Disperindag Sulut, Ir Hanny Wajong.

 

Ekspor perikanan Sulut sepanjang bulan bulan Januari-Mei 2008 masih didominasi oleh negara Jepang dengan hasil transaksi ekspor mencapai USD10,8 juta (1.838 ton), disusul Amerika USD5,2 juta (1.561 ton), kemudian Jerman USD4,3 juta (1.820 ton), Inggris USD1,4 juta (505 ton), Yamar USD1,6 juta (622 ton) dan Philipina USD1 juta (2.958 ton).

 

Negara-negara di kawasan Asia dan Eropa seperti Jepang, Malaysia, Cina, Belanda, Inggris, Jerman dan lain-lain sangat menyukai produksi ikan olahan Sulut,” katanya seraya menambahkan, hasil penangkapan perikanan Sulut melalui beberapa wilyah perairan masih cukup melimpah, terkecuali terkendala musim.

Ditambahkan Kepala Seksi Perdagangan Luar Negeri, Jhon Rumagit, bahwa hasil perikanan Sulut yang mendominasi ekspor dari sisi nilai yakni ikan beku mencapai USD2,5 juta (5.664 ton), disusul daging ikan tuna segar USD1,9 juta (229 ton), lalu ikan segar USD989 ribu (3.207 ton), udang kecil beku USD833 ribu (100 ton) dan sisanya disumbang oleh perikanan jenis ikan cakalang beku, gurita beku, ikan betutu, ikan air laut segar, ikan hias air laut, ikan malalugis beku, teriang laut, ikan layang dan masih banyak lainnya. Ekspor Sulut masih didominasi oleh produk kelapa dan turunannya serta perikanan. Jika kita terus garap hasil produk ini, maka bukan tidak mungkin akan menguntungkan petani maupun nelayan,”katanya optimis.

 

Harga Pasaran Ekspor Kelapa Meningkat 63,16%

Kepala Dinas Perindag Sulut Gemmy Kawatu, menyebutkan, harga pasaran ekspor produk turunan kelapa (integrated coconut) dari Sulut meningkat rata-rata 63,16 persen dalam lima bulan terakhir ini di pasar internasional. “Kenaikan harga di pasaran internasional tersebut berdampak positif nilai ekspor Sulut makin tinggi untuk produk tersebut, meskipun dari sisi volume sedikit mengalami penurunan,”ujarnya.

 

Empat jenis komoditi turunan kelapa yang mendominasi yakni minyak kelapa kasar (crude coconut oil-CCO), harganya naik dari USD0,93 per kilo pada awal tahun, tetapi Mei 2008 telah menjadi USD1,76 per kilo (naik 89,25 persen), kopra USD0,10 per kilo menjadi USD0,19 per kilo (naik 90 persen).

Minyak goreng kelapa, pada Januari 2008 baru sebesar USD1,03 naik menjadi USD1,19 per kilo (15,53 persen), dan tepung kelapa dari hanya USD1,02 per kilo meningkat menjadi USD1,61 per kilo.

 

Adanya kenaikan harga di pasar internasional tersebut maka nilai ekspor produk turunan kelapa meningkat menjadi sekitar USD192,12 juta pada Januari-Mei 2008 dibandingkan periode tahun sebelumnya hanya USD134,74, atau mencapai peningkatan 42,59 persen. Dengan peningkatan nilai ekspor tersebut, maka pangsa pasar produk turunan kelapa dalam total ekspor Sulut, mendominasi yakni sebesar 57,5 persen,katanya. Dari data yang ada menyebutkan, total ekspor Sulut Januari hingga Mei 2008 mencapai USD334,26 juta, dengan Belanda sebagai negara tujuan utama perolehan devisa USD99,17 juta atau pangsa pasarnya 29,67 persen.

 

Selamatkan Dunia Melalui WOC

Berbagai upaya telah dilakukan umat manusia untuk mencegah dan menanggulangi masalah perubahan iklim akibat pemanasan global. Tetapi semua upaya tersebut terfokus atau dominan berorientasi ke daratan. Pada Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang perubahan iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change - UNFCCC) di Bali, Desember 2007, dari sekitar 800 topik yang dibahas, hanya satu topik yang menyangkut laut.

 

Padahal laut merupakan 2/3 bagian dari permukaan bumi yang memiliki peranan penting dalam perubahan iklim dunia. Sejumlah ilmuwan menyebutkan, laut merupakan carbon-sink (gudang karbon) yang terbukti ampuh menyerap emisi gas. Seluruh laut di muka bumi menyerap karbon sebesar 90 miliar ton per tahun, dan melepas kembali 92 miliar ton karbon per tahun ke atmosfer. Daya simpan laut terhadap karbon 50 kali lebih tinggi dibandingkan atmosfer. Daya serap laut terhadap karbon dioksida mengalahkan kedahsyatan hutan amazon di Brazil sebagai paru-paru bumi. Laut Indonesia di tepian Pasifik, The Philippines, Malaysia, Papua New Guinea, Timor Leste dan Salamon Island merupakan “mega carbon sink” di dunia, dan merupakan “Amazon of the Seas” di laut dunia. KAwasan ini mencakup 75.000 kilometer persegi, memiliki lebih dari 500 spesies karang, dan dihuni lebih dari 3.000 spesies ikan. Kawasan ini merupakan sumber pangan bagi 120 juta penduduk, tempat pemijahan ikan dan sumber ekonomi regional dengan perkiraan perputaran uang 2,3 miliar dolar AS per tahun.

 

Selain menjadi ”mega carbon sink” dunia, laut merupakan masa depan umat manusia untuk ketahanan pangan, industri, dan jasa. Disisi lain, sejumlah permasalahn laut dan kelautan dunia sampai saat ini belum mendapatkan titik temu, bahkan sering menjadi sumber perselisihan dan perang antarnegara.

World Ocean Conference (WOC) tanggal 11-15 Mei 2009 di Manado, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia, didedikasikan untuk panggilan dan niatan itu. Konferensi ini akan dihadiri oleh kepala-kepala negara/pemerintahan, para menteri, dan para pejabat senior dari negara-negara yang memiliki laut di dunia. Konferensi ini juga diikuti oleh para ilmuwan, pegiat lingkungan dan masalah-masalah kelautan , pengusaha, industriawan, kelompok hobi, pers, para pengamat dan pemerhati masa depan keselamatan dunia.

 

Lembaga-lembaga duinia di bawah PBB seperti UNDP, UN-Habitat, UNEP, Global Forum on Oceans, Coasts and Islands, UNICPOLOS,UNESCO, dan lembaga-lembaga internasional seperti WWF,WCS,TNC,CI,NOAA, dan IPCC mendukung dan terlibat secara aktif menyukseskan konferensi ini.

 

Adalah biasa dan lumrah konferensi tingkat dunia digagas dan dilaksanakan oleh lembaga-lembaga tingkat dunia atau negara-negara tertentu . Tetapi untuk pertama kalinya gagasan penyelamatan dunia dengan melihat laut sebagai titik pijak dan orientasi masa depan datang dari daerah, Sulawesi Utara. Gagasan ini lahir dari Gubernur Drs Sinyo Harry Sarundajang dan mendapat sambutan, penguatan dan dukungan dari pemerintah Indonesia, lembaga-lembaga dunia dan PBB. WOC bertujuan (1) mengoptimalkan, mengembangkan dan melestarikan sumber daya laut sebagai “mega carbon sink” dunia, (2) mengidentifikasikan tindakan-tindakan dalam menghadapi perubahan iklim global, dan (3) meningkatkan kerjasama internasional bagi pemanfaatan sumberdaya laut secara lestari dan berkesinambungan untuk peningkatan kesejahteraan umat manusia..Tujuan-tujuan tersebut dan semua komitmen dunia terhadap laut akan dituangkan dalam MANADO OCEAN DECLARATION , yang akan dimaklumatkan pada akhir konferensi ini di Manado, Provinsi Sulawesi Utara.

 

WOC 2009 bertema Oceans and Climate Change”, dan sub tema “Climate Change Impacts to Oceans and the Role of Oceans to Climate Change”. Iven utama WOC 2009 adalah pertemuan para menteri-menteri dan para pejabat tinggi dari organisasi multirateral untuk mendiskusikan dan mengidentifikasikan peranan laut terhadap proses perubahan iklim dan pengaruh perubahan iklim terhadap laut. Bersamaan dengan iven utama ini akan dilaksanakan Global Oceans Policy Day, yakni pertemuan multistakeholders tingkat internasional yang mendiskusikan hasil Konferensi Global Ocean di Hanoi, Vietnam, April 2008, bekerjasama dengan Global Forum on Oceans , Coasts, and Islands. Di samping itu, dilaksanakan simposium ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan kebijakan kelautan, serta pameran Iptek dan Industri kelautan dengan peserta tingkat dunia.

 

Pada saat yang sama, pameran kelautan nasional dan budaya nusantara akan menyemarakkan kegiatan WOC 2009. Diperkirakan, konferensi ini dan semua kegiatan pedukungnya akan dihadiri oleh sedikitnya 10.000 orang dari dalam dan luar negeri. Puncak kegiatan WOC diisi dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Coral Triangle Initiative (CTI) on Coral Reef, Fisheries and Food Security. CTI Summit merupakan pertemuan kepala negara/pemerintahan Indonesia, Malaysia, The Philippines, Papua New Guinea, Timor Leste, dan Salomon Island, dan negara-negara partner seperti Amerika Serikat dan Australia, GEF dan konsorsium NGO internasional untuk kelautan dunia. Pada akhir CTI Summit akan diluncurkan Program Implementasi CTI yang bertujuan mempromosikan , mendayagunakan dan melestarikan mega carbon sink “ bagi penyelamatan dunia. Konferensi ini akan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan akan dihadiri oleh kepala negara/pemerintahan negara-negara yang memiliki laut, khususnya yang tergabung dalam kawasan CTI Sejumlah ilmuwan penting dan tokoh-tokoh dunia dijadwalkan hadir, diantaranya Achim Steiner, Billiana Cicin-Sain, dan Emil Salim. Sedang diupayakan menghadirkan Al Gore untuk menjadi salah satu pembicara kunci pada konferensi ini.

 

150 Negara Dukung WOC 2009

Berbagai upaya diterobos SHS untuk mendapat dukungan dunia internasional. Bahkan saat berada di Vietnam dan Jepang dalam rangka melakukan sosialisasi pelaksanaan World Ocean Conference (WOC) 2009, bersama rombongan mengikuti acara Conferensi Internasional Tentang Laut dan Pesisir di Vietnam dan Conferensi tentang Coelachant di Fokujima.

 

Dalam jumpa pers, Sarundajang menjelaskan bahwa, rencana pelaksanaan WOC 2009 di Sulut menjadi topik pembicaraan yang serius oleh para peserta conferensi di Vietnam yang diikuti oleh perwakilan 150 negara. Dimana, kegiatan yang akan membahas tentang penanganan dampak Pemanasan Bumi (Global Warming) dengan memanfaatkan potensi Laut, yang juga merupakan kepentingan seluruh dunia.

 

Semua peserta yang kurang lebih berjumlah 150 negara telah menyatakan siap dan akan menghadiri serta memberikan sungbangsi terhadap pelaksanaan WOC 2009 di Indonesia, khususnya di Sulut nanti. Ini sangat positif bagi Sulut. Karena, dengan datangnya para perwakilan akan sangat bermanfaat terhadap daerah ini, khususnya di sektor investasi, perikanan dan pariwisata,” katanya.

 

Sementara dalam pameran biota laut khususnya ikan purba yang digelar oleh pihak pemerintah negara Jepang, lanjutnya, ini sangat penting bagi daerah Sulut. Karena, ikan Coelachant yang ditemukan di perairan selat Manado waktu lalu ternyata menjadi perhatian bagi para pakar dan peneliti di negara tersebut. “Hal ini juga membuat pihak Pemerintah Jepang telah menyatakan untuk membantu Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Pemprov Sulut untuk menjadikan perairan laut Sulut sebagai tempat penelitian dan pengembangan biota-biota laut. Ini tentunya akan sangat menguntungkan bagi kita yang ada di daerah ini,” lanjut Sarundajang.

 

Menyangkut dukungan dari negara-negara tersebut terhadap pelaksanaan WOC 2009 itu sendiri, SHS mengatakan, bentuk dukungannya adalah berupa penyerahan bahan-bahan atau materi-materi tentang penanganan pemenasan bumi dan masalah-masalah kelautan untuk dibahas dalam pelaksanaan WOC 2009 nanti.“Disamping itu juga, ada beberapafasilitas yang akan diberikan kepada kita dalam menunjang pelaksanaan WOC tersebut. Bahkan, Menteri Luar Negeri (Menlu) telah menginstruksikan kepada para duta besar perwakilan Indonesia di sejumlah negara luar untuk mengundang secara resmi para pimpinan negara untuk menghadir WOC di Sulut,” jelasnya.

 

Demikian juga saat melakukan presentasi di gedung PBB New York. SHS mendapat dukungan penuh. Bahkan menurut Sekertaris WOC Ir Indroyono, bahwa WOC akan masuk dalam resolusi PBB. “Ini berkat bagi kita, karena selain triliunan rupiah dana masuk Sulut, juga daerah kita sudah menjadi perhatian dunia internasional. Dan dampaknya bagi Sulut akan hebat, dimana semua stakeholders akan bergerak laju seiring derap pertumbuhan ekonomi dunia,”kata SHS saat ibadah syukur 3 tahun kepemimpinannya bersama Wakil Gubernur Freddy Harry Sualang (FHS) di auditorium Mapalus Kantor Gubernur, Rabu (13/08).