Main Page

Artikel,  16 Agustus, 2008

Merdeka!!??

 Oleh Denni Pinontoan

 

Ketika saya dan beberapa teman ke Kabupaten Bolaang Mongondow Timur beberapa waktu lalu, di Kotabunan tepatnya, seorang tokoh masyarakat setempat sempat berujar kepada kami, “Jalan di sini bukan hanya jalan 16 Agustus, tapi juga 15 dan 14 Agustus.” Saya tidak langsung mengerti apa yang dimaksudnya. Nanti ketika saya bertanya kepada teman saya yang berasal dari Kotabunan baru saya mengerti apa artinya. Kata temanku itu, yang dimaksud dengan jalan 16 Agustus adalah jalan yang rusak. Kalau jalan 15 dan 14 Agustus berarti jalan yang sangat rusak. Saya akhirnya mengerti, bahwa yang dimaksud si tokoh masyarakat itu terkait dengan apa yang kami lihat dalam perjalanan menuju ke daerah itu, yaitu jalan yang berlubang-lubang, mirip sungai kering. Dan ini mereka simbolkan sebagai keadaan yang belum merasakan kemerdekaan, sehingga jalannya 14, 15 dan 16 Agustus bukan jalan 17 Agustus.

 

Sama dengan ungkapan kebanyakan orang Minahasa, bahwa jalan yang berlubang-lubang sering digambarkan sebagai kondisi yang belum merasakan kemerdekaan, karena terisolir dan sulit berhubungan dengan dunia luar. Sementara jalan-jalan yang menuju ke rumah, kebun dan tempat santai para pejabat, kondisinya dalam keadaan baik.

 

Kalau begitu, jalan 17 Agustus dan seterusnya adalah jalan yang kondisinya baik, tidak berlubang, beraspal yang memudahkan warga wanua menuju ke pusat kecamatan, ke pasar bahkan ke kota. Kepentingan warga wanua dengan kondisi jalan yang baik, antara lain adalah kemudahan untuk memasarkan hasil-hasil pertanian dan beberapa urusan dengan lembaga pemerintah atau lembaga lainnya yang berada di pusat-pusat bisnis dan pemerintahan.

 

Masih di Kotabunan, kami (saya dan beberapa teman itu) sempat juga bercakap-cakap dengan seorang kakek eks Permesta. Kakek yang dulunya masuk dalam Kompi Mahasiswa itu, sama dengan para eks Permesta lainnya, masih juga berbangga dengan apa yang pernah dicita-citakan oleh Perjuangan Rakyat Semesta yaitu, desentralisasi kekuasaan yang sebenar-benarnya, atau otonomi daerah yang betul-betul otonomi. “Apa yang telah diterapkan oleh pemerintah sekarang dengan otonomi daerahnya, itu adalah cita-cita Permesta dulu,” kata si Kakek bangga.

 

Tapi keesokan paginya, saya melihat dia berada di pinggiran jalan Kotabunan yang berlubang-lubang menunggu ojek mengantar dia entah ke mana.  

 

Di Tomohon, beberapa hari kemudian, setelah saya pulang dari Kotabunan, di sebuah mobil angkot, seorang perempuan yang berseragam PNS marah-marah. “Uh, semua serba dilarang. Apa-apa saja dilarang,” kata si perempuan itu kesal. Si perempuan itu kesal, karena maksudnya untuk turun di samping Bank Sulut, di depan KFC Kota Tomohon tak jadi gara-gara mobil angkot yang ditumpanginya itu belok ke kanan di perempatan Kompleks Kubur Keluarga Wenas, dan kemudian penumpang yang akan ke pusat kota nanti diturunkan di belakang Gereja Sion. Mendengar ocehan si perempuan itu, si sopir angkot hanya berkata, “Maaf ibu, ada tanda larangan mobil penumpang tidak boleh melewati jalur itu kalau menuju ke Pusat Kota.” 

 

Tapi baru beberapa hari lalu, teman saya sempat terpesona dengan salah satu lokasi perkebunan di Motoling. Dia sangat senang menyaksikan para petani dengan penuh semangat memanjat pohon enau dan menyadap saguer untuk dibuat cap tikus atau gula batu. Dia juga senang sekali melihat sawah-sawah yang meski tidak terlalu luas, tapi ikan-ikannya masih dapat dilihat bermain-main di dalam air telaga. “Senang rasanya kalau bisa hidup di kebun ini. Hidup di alam seperti ini membuat kita bisa melupakan segala macam isu politik, kenaikan BBM dan macam-macam persoalan bernegara lainnya,” ujarnya membayangkan.

 

Apa kata Om Lars, petani cap tikus yang sempat bercakap-cakap dengan temanku itu? “Sekarang para penampung menghargai cap tikus kami dengan Rp. 70 per kadar alkoholnya. Jadi kalau cap tikus yang saya hasilkan kadar alkoholnya 30 % maka bila dikalikan Rp. 70 hasilnya adalah Rp. 2.100 per botol. Jadi, dalam satu galon yang berisi 40 botol cap tikus saya bisa mendapatkan uang sebanyak Rp. 84.000. Itu setiap hari,” kata Om Lars.

 

Tapi apakah itu sudah netto? Oh, belum, karena dia masih harus memotongnya lagi dengan uang belanja untuk makan, beli pohon enau (karena tidak semua pohon enau yang disadapnya milik sendiri), uang rokok, dan kebutuhan lain. “Lebih untung sebenarnya kalau jual per botol di warung yang harganya bisa mencapai Rp. 7000 per botol. Tapi, karena banyak warung yang menjual cap tikus, maka sudah tentu satu hari penjualan tak mungkin menghabiskan satu galon,” katanya.

 

Sementara di kampung, ketika pulang rumah di sore harinya, Om Lars masih bisa melihat bendera-bendera Parpol lengkap dengan baliho-baliho berisi foto caleg dan pesan-pesan kampanye menghiasi sepanjang jalan kampung. Meski tidak beraturan, tapi agaknya bendera parpol-parpol serta baliho para caleg itu memberi warna sendiri di kampung Om Lars tersebut. “Parpol banyak, caleg bahkan lebih banyak. Siapa yang punya duit dan dikenal, bisa menang dalam pemilu 2009 nanti. Yang penting kan duit. Kalau bukan duit, apalagi? Idealisme? Komitmen? Ha, nonsen!” suara bernada pesimis terdengar di sebuah warung.

 

Tapi, bagaimanapun Pemilu dan kampanye masih merupakan bagian dari proses berindonesia saat ini. Pemilu dibuat untuk harus ada. Kampanye masih sebuah kebutuhan bagi parpol-parpol dan mereka-mereka yang menginginkan kekuasaan. Masih harus ada orang-orang yang disebut wakil rakyat. Dan, sudah pasti presiden dan wakil presiden masih akan duduk di singgasananya.

 

“Makanya, kalau kita memilih karena uang, maka para wakil rakyat kita memang akan juga berjuang demi uang. Tapi ini uang miliknya sendiri. Uang untuk kita rakyat, kan sudah dia kasih waktu kampanye atau karena kita memang minta. Begitu si caleg yang memberi kita uang jadi anggota dewan, maka kita sudah percuma menuntut komitmennya, karena suara kita kan sudah dia bayar dengan uang seratus ribu atau beberapa kilo beras waktu kampanye. Bukan begitu?” sebuah suara samar lewat begitu saja di warung itu.

 

Keesokan paginya aku dengar ada dua orang bercakap-cakap di depan rumah:

“Merdeka!!”

“Merdeka?? Merdeka Apa? Apanya yang merdeka?”

“Merdeka dari penjajahan. Tanggal 17 Agustus tahun ini kita akan memperingati 63 tahun Indonesia merdeka. Masak kamu lupa? Eh, atau sudah tidak nasionalis lagi?”

“Bukan begitu. Aku kira ini masih tanggal 14 Agustus. Tambah lagi, aku tidak kebagian BLT. Padahal aku miskin. Miskin duit dan miskin  hati.”

“Kasihan. Tapi, kamu tetap ikut pawai tujubelasan kan?”

“Kamu saja. Aku, biar cuma menyaksikan dari pinggiran jalan saja.”

“Ok. Kalau begitu, “ Merdeka!!”

“Emm…”