|
Merdeka!!??
Oleh Denni
Pinontoan
Ketika
saya dan beberapa teman ke Kabupaten Bolaang Mongondow Timur
beberapa waktu lalu, di Kotabunan tepatnya, seorang tokoh
masyarakat setempat sempat berujar kepada kami, “Jalan di
sini bukan hanya jalan 16 Agustus, tapi juga 15 dan 14
Agustus.” Saya tidak langsung mengerti apa yang dimaksudnya.
Nanti ketika saya bertanya kepada teman saya yang berasal
dari Kotabunan baru saya mengerti apa artinya. Kata temanku
itu, yang dimaksud dengan jalan 16 Agustus adalah jalan yang
rusak. Kalau jalan 15 dan 14 Agustus berarti jalan yang
sangat rusak. Saya akhirnya mengerti, bahwa yang dimaksud si
tokoh masyarakat itu terkait dengan apa yang kami lihat
dalam perjalanan menuju ke daerah itu, yaitu jalan yang
berlubang-lubang, mirip sungai kering. Dan ini mereka
simbolkan sebagai keadaan yang belum merasakan kemerdekaan,
sehingga jalannya 14, 15 dan 16 Agustus bukan jalan 17
Agustus.
Sama dengan
ungkapan kebanyakan orang Minahasa, bahwa jalan yang
berlubang-lubang sering digambarkan sebagai kondisi yang
belum merasakan kemerdekaan, karena terisolir dan sulit
berhubungan dengan dunia luar. Sementara jalan-jalan yang
menuju ke rumah, kebun dan tempat santai para pejabat,
kondisinya dalam keadaan baik.
Kalau begitu,
jalan 17 Agustus dan seterusnya adalah jalan yang kondisinya
baik, tidak berlubang, beraspal yang memudahkan warga
wanua menuju ke pusat kecamatan, ke pasar bahkan ke kota.
Kepentingan warga wanua dengan kondisi jalan yang
baik, antara lain adalah kemudahan untuk memasarkan
hasil-hasil pertanian dan beberapa urusan dengan lembaga
pemerintah atau lembaga lainnya yang berada di pusat-pusat
bisnis dan pemerintahan.
Masih di
Kotabunan, kami (saya dan beberapa teman itu) sempat juga
bercakap-cakap dengan seorang kakek eks Permesta. Kakek yang
dulunya masuk dalam Kompi Mahasiswa itu, sama dengan para
eks Permesta lainnya, masih juga berbangga dengan apa yang
pernah dicita-citakan oleh Perjuangan Rakyat Semesta yaitu,
desentralisasi kekuasaan yang sebenar-benarnya, atau otonomi
daerah yang betul-betul otonomi. “Apa yang telah diterapkan
oleh pemerintah sekarang dengan otonomi daerahnya, itu
adalah cita-cita Permesta dulu,” kata si Kakek bangga.
Tapi keesokan
paginya, saya melihat dia berada di pinggiran jalan
Kotabunan yang berlubang-lubang menunggu ojek mengantar dia
entah ke mana.
Di Tomohon,
beberapa hari kemudian, setelah saya pulang dari Kotabunan,
di sebuah mobil angkot, seorang perempuan yang berseragam
PNS marah-marah. “Uh, semua serba dilarang. Apa-apa saja
dilarang,” kata si perempuan itu kesal. Si perempuan itu
kesal, karena maksudnya untuk turun di samping Bank Sulut,
di depan KFC Kota Tomohon tak jadi gara-gara mobil angkot
yang ditumpanginya itu belok ke kanan di perempatan Kompleks
Kubur Keluarga Wenas, dan kemudian penumpang yang akan ke
pusat kota nanti diturunkan di belakang Gereja Sion.
Mendengar ocehan si perempuan itu, si sopir angkot hanya
berkata, “Maaf ibu, ada tanda larangan mobil penumpang tidak
boleh melewati jalur itu kalau menuju ke Pusat Kota.”
Tapi baru
beberapa hari lalu, teman saya sempat terpesona dengan salah
satu lokasi perkebunan di Motoling. Dia sangat senang
menyaksikan para petani dengan penuh semangat memanjat pohon
enau dan menyadap saguer untuk dibuat cap
tikus atau gula batu. Dia juga senang
sekali melihat sawah-sawah yang meski tidak terlalu luas,
tapi ikan-ikannya masih dapat dilihat bermain-main di dalam
air telaga. “Senang rasanya kalau bisa hidup di kebun ini.
Hidup di alam seperti ini membuat kita bisa melupakan segala
macam isu politik, kenaikan BBM dan macam-macam persoalan
bernegara lainnya,” ujarnya membayangkan.
Apa kata Om
Lars, petani cap tikus yang sempat bercakap-cakap
dengan temanku itu? “Sekarang para penampung
menghargai cap tikus kami dengan Rp. 70 per kadar
alkoholnya. Jadi kalau cap tikus yang saya hasilkan
kadar alkoholnya 30 % maka bila dikalikan Rp. 70 hasilnya
adalah Rp. 2.100 per botol. Jadi, dalam satu galon yang
berisi 40 botol cap tikus saya bisa mendapatkan uang
sebanyak Rp. 84.000. Itu setiap hari,” kata Om Lars.
Tapi apakah
itu sudah netto? Oh, belum, karena dia masih harus
memotongnya lagi dengan uang belanja untuk makan, beli pohon
enau (karena tidak semua pohon enau yang disadapnya milik
sendiri), uang rokok, dan kebutuhan lain. “Lebih untung
sebenarnya kalau jual per botol di warung yang harganya bisa
mencapai Rp. 7000 per botol. Tapi, karena banyak warung yang
menjual cap tikus, maka sudah tentu satu hari
penjualan tak mungkin menghabiskan satu galon,” katanya.
Sementara di
kampung, ketika pulang rumah di sore harinya, Om Lars masih
bisa melihat bendera-bendera Parpol lengkap dengan
baliho-baliho berisi foto caleg dan pesan-pesan kampanye
menghiasi sepanjang jalan kampung. Meski tidak beraturan,
tapi agaknya bendera parpol-parpol serta baliho para caleg
itu memberi warna sendiri di kampung Om Lars tersebut.
“Parpol banyak, caleg bahkan lebih banyak. Siapa yang punya
duit dan dikenal, bisa menang dalam pemilu 2009 nanti. Yang
penting kan duit. Kalau bukan duit, apalagi? Idealisme?
Komitmen? Ha, nonsen!” suara bernada pesimis
terdengar di sebuah warung.
Tapi,
bagaimanapun Pemilu dan kampanye masih merupakan bagian dari
proses berindonesia saat ini. Pemilu dibuat untuk harus ada.
Kampanye masih sebuah kebutuhan bagi parpol-parpol dan
mereka-mereka yang menginginkan kekuasaan. Masih harus ada
orang-orang yang disebut wakil rakyat. Dan, sudah pasti
presiden dan wakil presiden masih akan duduk di
singgasananya.
“Makanya,
kalau kita memilih karena uang, maka para wakil rakyat kita
memang akan juga berjuang demi uang. Tapi ini uang miliknya
sendiri. Uang untuk kita rakyat, kan sudah dia kasih waktu
kampanye atau karena kita memang minta. Begitu si caleg yang
memberi kita uang jadi anggota dewan, maka kita sudah
percuma menuntut komitmennya, karena suara kita kan sudah
dia bayar dengan uang seratus ribu atau beberapa kilo beras
waktu kampanye. Bukan begitu?” sebuah suara samar lewat
begitu saja di warung itu.
Keesokan
paginya aku dengar ada dua orang bercakap-cakap di depan
rumah:
“Merdeka!!”
“Merdeka??
Merdeka Apa? Apanya yang merdeka?”
“Merdeka dari
penjajahan. Tanggal 17 Agustus tahun ini kita akan
memperingati 63 tahun Indonesia merdeka. Masak kamu lupa?
Eh, atau sudah tidak nasionalis lagi?”
“Bukan begitu.
Aku kira ini masih tanggal 14 Agustus. Tambah lagi, aku
tidak kebagian BLT. Padahal aku miskin. Miskin duit dan
miskin hati.”
“Kasihan.
Tapi, kamu tetap ikut pawai tujubelasan kan?”
“Kamu saja.
Aku, biar cuma menyaksikan dari pinggiran jalan saja.”
“Ok. Kalau
begitu, “ Merdeka!!”
“Emm…”
|