Main Page

Artikel,  21 Agustus, 2008

GENERASI DAN BAHASA

Oleh Henk Takumansang

 

Jaman skarang nda keren kalo orang nimbole ba bahasa Inggris. Dari iklan sampe sms, dari pidato Presiden sampe Loper koran, samua pake bahasa asing. A do e, kiapa dang musti bahasa Inggris? Memang nda ada yang laeng so? “Io, kita pe anak nanti umur ampa taon kita mo se less Inggris dan Mandarin, karna eso tu jaman so laeng. Kasiang kalo dia nintau deng bogo-bogo. Lia jo tu om Endi pe anak di sabla, nimbole ba bahasa Inggris, eh setelah se less so jadi lancar skali. Kita le mar kage, anak spanggal cas-cis-cuss lancar rupa aer.”

Kita kira, samua orang tua suka kalo depe anak karu sukses. Apalagi bisa beking perubahan setidaknya di lingkungan, kampung, kota ato di perantauan. Sapa yang nda bangga, lima taon lewat Utu so undang pa depe papa dang mama ka Jakarta dang keliling dunia karena so sukses. “Pa, untung kang, papa se skolah dulu deng se less bahasa Inggris. Rupa skarang kita dapa trima di prusahan asing karna lolos tes pake bahasa Inggris.”

Ungkapan-ungkapan di atas nda salah. Samua membanggakan kemampuan berbahasa dan keagungan bahasa tersebut. Pemimpin Besar Revolusi Soekarno, adalah seorang polyglot yang menguasai hampir semua bahasa penting di dunia. Nda cuman Bung Karno, ada Hatta, Yamin, Ratulangi, dan yang paling menghebohkan adalah K.H. Agus Salim yang boleh di bilang melebihi jumlah jari penguasaan bahasanya. Generasi kemerdekaan, adalah generasi polyglot yang dapat menguasai tiga atau lebih bahasa seperti bahasa Belanda, Jepang, Inggris, Melayu dan Jawa. Hal ini bertahan sampe era 70-an. Ketika ejaan yang disempurnakan dari bahasa Melayu dan pembakuan Bahasa Indonesia, berbondong-bondong semua ingin berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal ini karena kampanye Pemerintah untuk berbahasa yang baik dan benar. Jadi di Indonesia, generasi 70-an dapat dikatakan sebagai generasi EYD, ejaan yang disempurnakan.

Genarasi 80-an, mulai membuka pintu akan arus perubahan. Penciptaan komputer mengharuskan teknologi dijital memaksa setiap orang musti tau mengoperasikan (berbahasa Inggris), karena produk IBM menggunakan bahasa Inggris, disusul produk komputer lainnya yang berbahasa Mandarin dan aksara Jepang. Berbondong-bondong ratusan ribu tempat kursus diserbu oleh anak-anak tanggung, belajar spoken-spoken dan cas-cis-cus. Hingga awal milineum 21 ini, keterbukaan pasar membawa handphone, multimedia, mengharuskan orang tau operasional setidaknya layanan perintah berbahasa Inggris. Generasi 80-an mewakili tipikal modernitas. Boleh dikata, generasi 80-an adalah generasi perubahan dan generasi cikal bakal globalisasi.

Obrolan kampung pembuka tulisan ini menemukan kebenaran faktual bahwa hampir semua orang akan berbahasa Inggris di tahun 2000-an. Akan tetapi, hampir setiap generasi pasti akan menciptakan titik balik. Ketika kebosanan dengan bahasa Inggris (1980-2000an) orang mulai melirik Mandarin sebagai bahasa ketiganya. Dan memang, abad 21 adalah Abad Asia sebagaimana yang diramalkan sebagian besar futurolog sejak 1900. Dan kini, di tengah arus perubahan generasi saat ini berhak menentukan pilihan. Bahasa Inggris atau Mandarin?

Bahasa Alam

Belum sadar dari keterkejutan bahasa (shock culture), generasi modern saat ini mulai disuguhkan pada bahasa-bahasa lokal yang membawa keunikan tersendiri. Kerennya dibilang “kearifan lokal”. Jadi kalo dulu ada pameo “think local, act globally” saat ini seolah-olah runtuh akibat semua orang modern justru mencari kekayaan berbahasa daerah (traditional minded and traditional culture). Bahasa Inggris dan Mandarin nantinya hanya akan menempati penggunaan terbatas dalam dunia bisnis, program multimedia dan lembaga-lembaga kursus. Fenomen ini menguat ketika pencitraan diri sebagai manusia modern terasa hambar dan tanpa arah karena mengalami dekadensi nilai. Orang mulai memikirkan “back to bascic”, “back to nature” dan mulai menerapkan hidup alami, “green revolution” serta meninggalkan praktek-praktek fast food atau junk food.

Satu generasi ke depan, manusia akan merasa lelah dan kalah oleh realitas perubahan alam. Hukum positif bumi akan sangat menentukan ketimbang rekayasa genetika dan bioteknologi modern. Pembalikan zaman ini, akan mengubah watak-watak global sentris menuju pada kehidupan yang bersahabat dengan alam dan sekitarnya. Orang-orang akan berpikir lokal dan peduli bahwa menjaga keseimbangan dalam lingkungan merupakan hal yang lebih nyata daripada mengikuti tubrukan transformasi yang tidak berdimensi dan miliki akhir.

Pencapaian-pencapaian teknologi akhirnya membuat manusia sadar bahwa bersahabat dengan alam (bahasa, tradisi, kultur, lingkungan) jauh lebih penting daripada bersahabat dengan hp, komputer atau multimedia. Dari akhir segala perkiraan di atas, kiranya apa pesan orang tua terhadap anaknya yang berumur empat-lima tahun saat ini?

Nak, pelajarilah seluruh lingkungan hidupmu. Belajar dan coba hiduplah bersama alam, karena disana terdapat masa depanmu. Berbicaralah kepada alam, pohon-pohon, laut, gunung, tanah, sawah dan sungai. Jadilah ‘polyglot’ lingkungan, karena dari sana alam akan melindungi kehidupanmu kelak.”