|
GENERASI DAN BAHASA
Oleh Henk Takumansang
Jaman skarang nda keren kalo
orang nimbole ba bahasa Inggris. Dari iklan sampe sms, dari
pidato Presiden sampe Loper koran, samua pake bahasa asing.
A do e, kiapa dang musti bahasa Inggris? Memang nda ada yang
laeng so? “Io, kita pe anak nanti umur ampa taon kita mo
se less Inggris dan Mandarin, karna eso tu jaman so laeng.
Kasiang kalo dia nintau deng bogo-bogo. Lia jo tu om Endi pe
anak di sabla, nimbole ba bahasa Inggris, eh setelah se less
so jadi lancar skali. Kita le mar kage, anak spanggal
cas-cis-cuss lancar rupa aer.”
Kita kira, samua orang tua
suka kalo depe anak karu sukses. Apalagi bisa beking
perubahan setidaknya di lingkungan, kampung, kota ato di
perantauan. Sapa yang nda bangga, lima taon lewat Utu so
undang pa depe papa dang mama ka Jakarta dang keliling dunia
karena so sukses. “Pa, untung kang, papa se skolah dulu
deng se less bahasa Inggris. Rupa skarang kita dapa trima di
prusahan asing karna lolos tes pake bahasa Inggris.”
Ungkapan-ungkapan di atas nda
salah. Samua membanggakan kemampuan berbahasa dan keagungan
bahasa tersebut. Pemimpin Besar Revolusi Soekarno, adalah
seorang polyglot yang menguasai hampir semua bahasa
penting di dunia. Nda cuman Bung Karno, ada Hatta, Yamin,
Ratulangi, dan yang paling menghebohkan adalah K.H. Agus
Salim yang boleh di bilang melebihi jumlah jari penguasaan
bahasanya. Generasi kemerdekaan, adalah generasi polyglot
yang dapat menguasai tiga atau lebih bahasa seperti bahasa
Belanda, Jepang, Inggris, Melayu dan Jawa. Hal ini bertahan
sampe era 70-an. Ketika ejaan yang disempurnakan dari bahasa
Melayu dan pembakuan Bahasa Indonesia, berbondong-bondong
semua ingin berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal
ini karena kampanye Pemerintah untuk berbahasa yang baik dan
benar. Jadi di Indonesia, generasi 70-an dapat dikatakan
sebagai generasi EYD, ejaan yang disempurnakan.
Genarasi 80-an, mulai membuka
pintu akan arus perubahan. Penciptaan komputer mengharuskan
teknologi dijital memaksa setiap orang musti tau
mengoperasikan (berbahasa Inggris), karena produk IBM
menggunakan bahasa Inggris, disusul produk komputer lainnya
yang berbahasa Mandarin dan aksara Jepang.
Berbondong-bondong ratusan ribu tempat kursus diserbu oleh
anak-anak tanggung, belajar spoken-spoken dan
cas-cis-cus. Hingga awal milineum 21 ini, keterbukaan pasar
membawa handphone, multimedia, mengharuskan orang tau
operasional setidaknya layanan perintah berbahasa Inggris.
Generasi 80-an mewakili tipikal modernitas. Boleh dikata,
generasi 80-an adalah generasi perubahan dan generasi cikal
bakal globalisasi.
Obrolan kampung pembuka
tulisan ini menemukan kebenaran faktual bahwa hampir semua
orang akan berbahasa Inggris di tahun 2000-an. Akan tetapi,
hampir setiap generasi pasti akan menciptakan titik balik.
Ketika kebosanan dengan bahasa Inggris (1980-2000an) orang
mulai melirik Mandarin sebagai bahasa ketiganya. Dan memang,
abad 21 adalah Abad Asia sebagaimana yang diramalkan
sebagian besar futurolog sejak 1900. Dan kini, di tengah
arus perubahan generasi saat ini berhak menentukan pilihan.
Bahasa Inggris atau Mandarin?
Bahasa Alam
Belum sadar dari keterkejutan
bahasa (shock culture), generasi modern saat ini
mulai disuguhkan pada bahasa-bahasa lokal yang membawa
keunikan tersendiri. Kerennya dibilang “kearifan lokal”.
Jadi kalo dulu ada pameo “think local, act globally”
saat ini seolah-olah runtuh akibat semua orang modern justru
mencari kekayaan berbahasa daerah (traditional minded and
traditional culture). Bahasa Inggris dan Mandarin
nantinya hanya akan menempati penggunaan terbatas dalam
dunia bisnis, program multimedia dan lembaga-lembaga kursus.
Fenomen ini menguat ketika pencitraan diri sebagai manusia
modern terasa hambar dan tanpa arah karena mengalami
dekadensi nilai. Orang mulai memikirkan “back to bascic”,
“back to nature” dan mulai menerapkan hidup alami, “green
revolution” serta meninggalkan praktek-praktek fast
food atau junk food.
Satu generasi ke depan,
manusia akan merasa lelah dan kalah oleh realitas perubahan
alam. Hukum positif bumi akan sangat menentukan ketimbang
rekayasa genetika dan bioteknologi modern. Pembalikan zaman
ini, akan mengubah watak-watak global sentris menuju pada
kehidupan yang bersahabat dengan alam dan sekitarnya.
Orang-orang akan berpikir lokal dan peduli bahwa menjaga
keseimbangan dalam lingkungan merupakan hal yang lebih nyata
daripada mengikuti tubrukan transformasi yang tidak
berdimensi dan miliki akhir.
Pencapaian-pencapaian
teknologi akhirnya membuat manusia sadar bahwa bersahabat
dengan alam (bahasa, tradisi, kultur, lingkungan) jauh lebih
penting daripada bersahabat dengan hp, komputer atau
multimedia. Dari akhir segala perkiraan di atas, kiranya apa
pesan orang tua terhadap anaknya yang berumur empat-lima
tahun saat ini?
“Nak, pelajarilah seluruh
lingkungan hidupmu. Belajar dan coba hiduplah bersama alam,
karena disana terdapat masa depanmu. Berbicaralah kepada
alam, pohon-pohon, laut, gunung, tanah, sawah dan sungai.
Jadilah ‘polyglot’ lingkungan, karena dari sana alam akan
melindungi kehidupanmu kelak.”
|