|
KBRI Madrid: Salah Satu
Korban Spanair Adalah Nguni Toka Rondonuwu
Laporan Rikson Karundeng
Tondano,
Sulutlink - Pihak Kantor Berita Repoblik Indonesia di
Madrid Spanyol, akhirnya memastikan kalau salah satu korban
kecelakaan pesawat Spanair, di Bandara Internasional Bajas
Madrid, Spanyol, adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang
teridetifikasi bernama Nguni Toka Rondonuwu (30) alias Joy.
Informasi yang dihimpun Sulutlink, korban merupakan salah
seorang putra dari Johan Rondonuwu (64) dan Syulce Mainsioue
(60), yang berdomisili di Jaga IV Kelurahan Kiniar Kecamatan
Tondano Timur, Kabupaten Minahasa.
Keluarga korban, saat dijumpai
Sulutlink, Jumat pagi (22/8) di kediaman mereka di Jalan
Tolour Kelurahan Kiniar, tampak sangat terpukul. Walaupun
banyak sanak saudara yang telah berkumpul, namun terkesan
tak ada suara yang keluar dari setiap mulut yang ada di
rumah itu. Sanak-saudara dan keluarga korban tampak hanya
diam membisu dan saling menatap tanpa arti. Bahkan ayah
korban tak sanggup menatap foto Joy yang ada di rumah
tersebut.
Salah seorang kakak korban Wala
Rondonuwu yang coba merespons kehadiran Sulutlink, akhirnya
mulai mengangkat pembicaraan”Torang kwa kage skali da dengar
ini kabar,” ujarnya.
Menurut Wala, informasi mengenai
kejadian naas itu pertama kali diperoleh keluarga melalui
PT. BBS di Jakarta, (Perusahaan penangkap ikan dari Jepang
tempat Joy bekerja) pada Kamis (21/8) pukul 09.00 WITA.
Menurut penuturannya, saat itu pihak perusahaan
menginformasikan kalau adik mereka Nguni Toka Rondonuwu,
adalah salah satu penumpang pesawat Spanair yang baru saja
mengalami kecelakaan. Peswat itu katanya meledak sesaat
lepas landas. Namun, pihak perusahaan mengatakan, apakah Joy
menjadi salah satu korban meninggal, masih akan di cek
secara resmi ke pihak Spanair dan KBRI di Madrid. Pukul
17.00 Wita, menurutnya salah seorang kakak mereka kembali
mengeck ke pihak PT. BBS dan mereka mengatakan kalau sudah
ada kepastian dari KBRI di Madrid Spanyol, kalau semua
penumpang di pesawat naas itu meninggal dunia, termasuk Joy.
Menurut penuturan keluarga, Joy
itu lulusan Sekolah Pertanian Pembangunan Bitung. Selesai
sekolah, dia nganggur setahun kemudian melamar bekerja di
kapal ikan milik Jepang. Dia bekerja di kapal ikan sekitar
tahun 2001 sebagai koki masakan Jepang. Sudah berkali-kali
dia pindah kapal, tapi tetap di kapal Jepang. Dan dia pulang
kampung kalau sudah putus kontrak kerja. Menurut mereka,
terakhir Joy pulang tanggal 6 Juli 2008. “Waktu da tanya
kyapa dia pulang, dia bilang ada masalah dengan sesama
pekerja kapal asal Jepang,” Ujar mereka.
Menurut mereka, beberapa hari
kemudian, ternyata Joy dikontak bosnya deri Jepang untuk
kembali bekerja, tapi sudah di kapal yang lain. Pada tanggal
10 Agustus lalu, Joy langsung berangkat ke Jakarta dan
tanggal 19 Agustus naik pesawat dari Jakarta ke Singapura
dan menuju Spanyol. Di Spanyol, Joy sebenarnya cuma transit
untuk pindah pesawat menuju ke Kanada. Sebab kapal yang akan
dia naiki ada di Kanada. “Waktu di Jakarta, dia sempat ba
telepon pa papa jam 5 sore. Dia bilang kata sadiki ley dia
somo nae kapal mo ka Singapur. Sampe ley di Singapur,
sebelum naik pesawat Spanair itu, jam 11 malam Joy sempat
telepon pa kita, kong bilang: kase nomor rekening dari kita
mo kirim akang doi. Nanti kalo so sampe, kita telepon ulang.
Ya, nda sangka kalu itu kalimat terakhir dri Joy yang torang
mo dengar’’ tutur Meini Rondonuwu, salah seorang kakak
korban.
Meini juga menceritakan kalau
saat pulang keluarga telah meminta Joy untuk bekerja saja di
darat. Menurutnya, kalau ada peluang, kakak mereka di
Freeport akan mencarikan pekerjaan baginya di sana.
Ayah Korban, Johan Rondonuwu,
saat membagi cerita dengan Sulutlink, mengatakan kalau Joy
itu bungsu dari lima bersaudara dan punya saudara kembar
bernama Man Wonor Rondonuwu. Dia juga satu-satunya dari lima
bersaudara yang belum menikah. “Dorang dua kwa pe nama
Manguni Wonortoka. Jadi Joy pe kembar Man Wonor kong dia
Nguni Toka. Dia kwa Cuma torang ja pangge Joy lantaran deri
masih kacili dia ceria trus. Dia pang bakusedu, tau bermain
gitar deng organ. Dia ley jago manyanyi, soitu deri SD sampe
SMP dia salalu juara Bintang Vocalia tingkat Minahasa,”
tutur Om Johan dengan nada sendu, sambil sesekali menahan
tangis yang hendak keluar.
Sementara itu, pukul 14.00 Wita,
seorang dokter yang mengaku bernama Dokter Ramon menjumpai
keluarga untuk mengambil sampel darah dari kedua orang tua
korban. “Tadikwa Kapolri so ba telepon langsung pa torang
kong bilang dia so prent langsung Dokter Ramon mo ambe
sampel darah untuk tes DNA,” ujar Meini.
Informasi yang diperoleh
Sulutlink, KBRI telah memberitahukan kalau jasad Nguni Toka
Rondonuwu, akan dipulangkan ke Indonesia. Namun, pihak
keluarga harus menjemput langsung di Madrid Spanyol.
Menurut pihak keluarga, mereka
telah berembuk dan sepakat kalau keluarga yang akan diutus
ke Madrid adalah kakak tertua Joy, Sam Rondonuwu dan saudara
kembarnya Man. “Hari ini mereka sedang mengurus Visa dan
berbagai surat penting lainnya. Rencananya Sabtu 23 Agustus
besok, dorang mo ke Jakarta untuk menyelesaikan berbagai
keperluan lainnya. Nanti Senin, mereka berdua akan berangkat
ke Madrid dengan menumpang pesawat Spanair,” ujar Meini.
Mengetahui kalau kedua anaknya
akan menumpang pesawat Spanair, Om Johan kembali
terisak.”Ado kasiang, kage ley tu pesawat cilaka,” ujar Om
Johan.
Perkataan Om Johan kemudian
langsung di sela salah sorang anaknya Wala, yang tampak
cukup tegar, “Pa, urusan hidup mati itu ada di Tangan Tuhan.
Jadi nda usah khawatir,”Ujar Wala.
Informasi yang diperoleh
Sulutlink dari pihak keluarga, kemungkinan Sabtu (23/8),
sambil menunggu jenasah, mereka sudah akan membuat ‘sabuah’,
agar bisa menampung sanak-saudara dan kerabat yang sudah
mulai memadati rumah duka.
|