Main Page

Halaman Berita,  23 Agustus, 2008

KBRI Madrid: Salah Satu Korban Spanair Adalah Nguni Toka Rondonuwu

Laporan Rikson Karundeng

 

Tondano, Sulutlink - Pihak Kantor Berita Repoblik Indonesia di Madrid Spanyol, akhirnya memastikan kalau salah satu korban kecelakaan pesawat Spanair, di Bandara Internasional Bajas Madrid, Spanyol, adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang teridetifikasi bernama Nguni Toka Rondonuwu (30) alias Joy. Informasi yang dihimpun Sulutlink, korban merupakan salah seorang putra dari Johan Rondonuwu (64) dan Syulce Mainsioue (60), yang berdomisili di Jaga IV Kelurahan Kiniar Kecamatan Tondano Timur, Kabupaten Minahasa.

 

Keluarga korban, saat dijumpai Sulutlink, Jumat pagi (22/8) di kediaman mereka di Jalan Tolour Kelurahan Kiniar, tampak sangat terpukul. Walaupun banyak sanak saudara yang telah berkumpul, namun terkesan tak ada suara yang keluar dari setiap mulut yang ada di rumah itu. Sanak-saudara dan keluarga korban tampak hanya diam membisu dan saling menatap tanpa arti. Bahkan ayah korban tak sanggup menatap foto Joy yang ada di rumah tersebut.

 

Salah seorang kakak korban Wala Rondonuwu yang coba merespons kehadiran Sulutlink, akhirnya mulai mengangkat pembicaraan”Torang kwa kage skali da dengar ini kabar,” ujarnya.

 

Menurut Wala, informasi mengenai kejadian naas itu pertama kali diperoleh keluarga melalui PT. BBS di Jakarta, (Perusahaan penangkap ikan dari Jepang tempat Joy bekerja) pada Kamis (21/8) pukul 09.00 WITA. Menurut penuturannya, saat itu pihak perusahaan menginformasikan kalau adik mereka Nguni Toka Rondonuwu, adalah salah satu penumpang pesawat Spanair yang baru saja mengalami kecelakaan. Peswat itu katanya meledak sesaat lepas landas. Namun, pihak perusahaan mengatakan, apakah Joy menjadi salah satu korban meninggal, masih akan di cek secara resmi ke pihak Spanair dan KBRI di Madrid. Pukul 17.00 Wita, menurutnya salah seorang kakak mereka kembali mengeck ke pihak PT. BBS dan mereka mengatakan kalau sudah ada kepastian dari KBRI di Madrid Spanyol, kalau semua penumpang di pesawat naas itu meninggal dunia, termasuk Joy.

 

Menurut penuturan keluarga, Joy itu lulusan Sekolah Pertanian Pembangunan Bitung. Selesai sekolah, dia nganggur setahun kemudian melamar bekerja di kapal ikan milik Jepang. Dia bekerja di kapal ikan sekitar tahun 2001 sebagai koki masakan Jepang. Sudah berkali-kali dia pindah kapal, tapi tetap di kapal Jepang. Dan dia pulang kampung kalau sudah putus kontrak kerja. Menurut mereka, terakhir Joy pulang tanggal 6 Juli 2008. “Waktu da tanya kyapa dia pulang, dia bilang ada masalah dengan sesama pekerja kapal asal Jepang,” Ujar mereka.

 

Menurut mereka, beberapa hari kemudian, ternyata Joy dikontak  bosnya deri Jepang untuk kembali bekerja, tapi sudah di kapal yang lain. Pada tanggal 10 Agustus lalu, Joy langsung berangkat ke Jakarta dan tanggal 19 Agustus naik pesawat dari Jakarta ke Singapura dan menuju Spanyol. Di Spanyol, Joy sebenarnya cuma transit untuk pindah pesawat menuju ke Kanada. Sebab kapal yang akan dia naiki ada di Kanada. “Waktu di Jakarta, dia sempat ba telepon pa papa jam 5 sore. Dia bilang kata sadiki ley dia somo nae kapal mo ka Singapur. Sampe ley di Singapur, sebelum naik pesawat Spanair itu, jam 11 malam  Joy  sempat telepon pa kita, kong bilang: kase nomor rekening dari kita mo kirim akang doi. Nanti kalo so sampe, kita telepon ulang. Ya, nda sangka kalu itu kalimat terakhir dri Joy yang torang mo dengar’’ tutur Meini Rondonuwu, salah seorang kakak korban.

 

Meini juga menceritakan kalau saat pulang keluarga telah meminta Joy untuk bekerja saja di darat. Menurutnya, kalau ada peluang, kakak mereka di Freeport akan mencarikan pekerjaan baginya di sana.

 

Ayah Korban, Johan Rondonuwu, saat membagi cerita dengan Sulutlink, mengatakan kalau Joy itu bungsu dari lima bersaudara dan punya saudara kembar bernama Man Wonor Rondonuwu. Dia juga satu-satunya dari lima bersaudara yang belum menikah. “Dorang dua kwa pe nama Manguni Wonortoka. Jadi Joy pe kembar Man Wonor kong dia Nguni Toka. Dia kwa Cuma torang ja pangge Joy lantaran deri masih kacili dia ceria trus. Dia pang bakusedu, tau bermain gitar deng organ. Dia ley jago manyanyi, soitu deri SD sampe SMP dia salalu juara Bintang Vocalia tingkat Minahasa,” tutur Om Johan dengan nada sendu, sambil sesekali menahan tangis yang hendak keluar.

 

Sementara itu, pukul 14.00 Wita, seorang dokter yang mengaku bernama Dokter  Ramon menjumpai keluarga untuk mengambil sampel darah dari  kedua orang tua korban. “Tadikwa Kapolri so ba telepon langsung pa torang kong bilang dia so prent langsung Dokter Ramon mo ambe sampel darah untuk tes DNA,” ujar Meini.

 

Informasi yang diperoleh Sulutlink, KBRI telah memberitahukan kalau jasad Nguni Toka Rondonuwu, akan dipulangkan ke Indonesia. Namun, pihak keluarga harus menjemput langsung di Madrid Spanyol.

 

Menurut pihak keluarga, mereka telah berembuk dan sepakat kalau keluarga yang akan diutus ke Madrid adalah kakak tertua Joy, Sam Rondonuwu dan saudara kembarnya Man. “Hari ini mereka sedang mengurus Visa dan berbagai surat penting lainnya. Rencananya Sabtu 23 Agustus besok, dorang mo ke Jakarta untuk menyelesaikan berbagai keperluan lainnya. Nanti Senin, mereka berdua akan berangkat ke Madrid dengan menumpang  pesawat Spanair,” ujar Meini.

 

Mengetahui kalau kedua anaknya akan menumpang pesawat Spanair, Om Johan kembali terisak.”Ado kasiang, kage ley tu pesawat cilaka,” ujar Om Johan.

 

 

Perkataan Om Johan kemudian langsung di sela salah sorang anaknya Wala, yang tampak cukup tegar, “Pa, urusan hidup mati itu ada di Tangan Tuhan. Jadi nda usah khawatir,”Ujar Wala.

 

Informasi yang diperoleh Sulutlink dari pihak keluarga, kemungkinan Sabtu (23/8), sambil menunggu jenasah, mereka sudah akan membuat ‘sabuah’, agar bisa menampung sanak-saudara dan kerabat yang sudah mulai memadati rumah duka.