Main Page

Halaman Berita,  23 Agustus, 2008

Hindari Money Politic, Karpet Merah Bagi Demokrasi di Indonesia

Laporan Rikson Karundeng

 

Tondano, Sulutlink - Pemilihan Umum (Pemilu) sudah di depan mata. Tahun 2009 telah dijdikan agenda nasional untuk menggelar pesta demokrasi di negeri yang bernama Indonesia ini. Moment ini ternyata dilihat berbagai kalangan sebagai peluang untuk meraih prestise: kekuasaan dan kekayaan. Disisi lain, moment ini juga dianggap sebagai sebuah tantangan bagi masyarakat untuk menancapkan demokrasi yang sesungguhnya di negeri ini.

 

Menurut salah seorang aktivis Sulawesi Utara yang berdomisili di Kota Tomohon, Yudie Turambi, SH., Pemilu 2009 nanti sangat kompetitif. Sejumlah masyarakat akan saling berlomba dan bersaing untuk meraih kursi legislatif, baik di tingkat kabupaten/kota, propinsi, hingga tingkat nasional. Walaupun demikian, menurutnya seluruh masyarakat harus sepakat pemilu 2009 akan dijadikan pemilu yang berkualitras.

 

Turambi menjelaskan, salah satu cara untuk membuat pemilu berkualitas adalah dengan cara menolak Money Politic. “Kalau itu keinginan kita, maka baik rakyat maupun para calon legislatif harus menghindar dari money politic,” ujar Tuirambi dengan lantang.

 

Lebih  lanjut diungkapkan Turambi, para caleg jangan mau meraih kursi legislatif dengan cara mengambil jalan pintas. Sebaliknya menurutnya, masyarakat juga jangan menggadaikan hak mereka dengan terlibat money politik. “Masyarakat sudah tidak bisa berharap banyak kepada legislatif yang sudah memberikan uang ataupun sembako kepada mereka. Sebab caleg yang bermain money Politik pasti punya cost yang besar dan itu akan dianggapnya sebagai investasi. Jadi jangan heran kalu sudah duduk di kursi dewan kemudian mereka hanya mau memperjuangkan kepentingan pribadi dan kelompok serta hanya memperkaya diri sendiri. Ya, dora soanggap tu masyarakat so bayar lunas jadi so nda ada tanggungjawab ley,” ujar Turambi.

 

Menurutnya, jika masyarakat dan para caleg mau berkomitmen untuk menghindari money politic, maka perjalanan demokrasi pasti akan semakin baik . “Artinya, kita telah memberi  karpet merah bagi perjalan demokrasi di Indonesia. Itu konsekwensinya,” tegas Turambi.

 

Sementara itu, GMKI Minahasa dinilai semakin kritis melakukan penilaian terhadap para Balcaleg (Bakal Calon Legislatif) partai politik yang terdaftar di KPU Minahasa. Pasalnya, sebagian besar para caleg yang akan duduk ini dikategorikan ‘politisi busuk’ yang nota bene tidak akan memihak kepentingan rakyat. “Kami tantang para caleg untuk berani menanda tanggani kontrak politik dengan masyarakat,” ujar Ketua BPC GMKI Tondano Rendy Umboh.

 

Alasan Umboh, pengalaman dan kenyataan yang terjadi pada waktu masa kampanye lalu, para caleg penuh dengan segudang janji belaka. Sayangnya setelah duduk lupa rakyat. “Masyarakat kami imbau untuk tidak memilih Caleg muka-muka lama. Karena sudah terbukti lima tahun yang baru lewat, tidak ada yang mereka lakukan. Apakah mereka layak kembali diberikan kepercayaan,’’ koar Umboh.

 

Hal senada dilontarkan oleh Wakil Ketua KNPI Minahasa, Jeff Mambu. ‘’Para caleg kami undang untuk menanda tanggani kontrak politik. Kami siap menjembatani para caleg untuk menanda tanggani kontrak politik dan mereka harus berani, jangan pengecut,” beber Mambu.

 

“Sekedar diketahui, para caleg yang diusung oleh 38 partai politik peserta Pemilu sebagian besar pengangguran dan petualang politik, alias hanya menjadikan DPR sebagai lahan mata pencaharian,” ujar sejumlah aktivis GMKI Minahasa.