Main Page

Halaman Berita,  25 Agustus, 2008

Dr. Benny Jozua Mamoto, SH, MH

“MEMEGANG AMANAT SANG AYAH”

By: Gina ‘AmNda’  Kussoy

 

Jakarta, Sulutink. Kalau saja Cyrus Paulus Mamoto, laki-laki dari utara - Sulawesi, tepatnya dari desa yang terkenal dengan ‘dodol pengucapannya’, Tumpaan, Minahasa Selatan, masih hidup saat ini, Ia akan bangga penuh haru menyaksikan putra kesayangannya yang betul-betul menjalankan dan membuktikan amanatnya, mengabdi pada tanah leluhurnya, Minahasa. Tapi, Tuhan mengaturnya lain, disaat putranya Benny Jozua Mamoto mencurahkan--segala daya upaya, perhatian, pikiran dan tenaga-- untuk kemajuan Minahasa, bahkan kiprahnya sampai tingkat nasional, sang ayah telah menghadap Sang Pencipta. Selain prestasi tertinggi akademis telah diraihnya pagi tadi, seabrek torehan prestasi pelestarian Seni Budaya Minahasa telah disumbangkan, putra kawanua yang kalem dan ramah ini selain sebagai Aparat Negara, Perwira Polisi yang berjiwa seni.

 

Tadi pagi, Sabtu, 23 Agustus 2008, mulai pukul 10 hingga  12 siang, di Balai sidang Universitas Indonesia Depok, telah digelar Judisium Doktoral untuk putra kawanua ini pada  Program Studi Kajian Ilmu Kepolisian Program Pascasarjana,  dengan promotor Prof Dr Tb Ronny Nitibaskara, SH, didampingi oleh  Prof. Mardjono Reksodiputro, co-promotor. Di depan tim penguji yang diketuai oleh Prof. Dr. Purnawan Junadi, MPH, PHD yang juga selaku Ketua Program Pascasarjana UI, Benny berhasil mempertahankan disertasi berjudul: Penanganan Polri Terhadap Organ Teror Dalam Al-Jama’ah Al-Islamiyah, dengan hasil yang Sangat Memuaskan.

 

Lebih dari 100 orang kawanua, teman dan keluarga, organisasi kemasyaratan, akademisi, pers, memadati Balai Sidang UI yang turut menyaksikan dan mengikuti dengan saksama pemaparan mengenai Penanganan Al Jamaah Al Islamiyah oleh Kombes Polisi Benny Mamoto yang  juga memegang jabatan NCB Interpol Indonesia, Mabes Polri

 

Begitu cintanya Benny pada kebudayaan Minahasa dan menaruh perhatian penuh pada Seni Budaya, walaupun dalam acara akademis yang mengulas Terorisme, Kriminal dan Kekerasan dan berhadapan dengan hal2 yang berkaitan dengan Pemboman2 dan  korban jiwa, toch, Benny tak lupa insert  Acara Seni Kebudayaan dalam Judisium Doktoralnya. Tak kurang, 1 group Kabasaran turut mengambil bagian dalam acara ini, musik kolintang menyambut kedatangan tamu dari tangga masuk balai sidang, sampai penyematan gelar Tonaas Papendangan Mawetik dalam sebuah upacara adat, Sumigi ‘Siama’ Tonaas Benny Mamoto.

 

“Harapan saya untuk generasi muda kawanua, adalah, gunakan waktu sebaik-baiknya untuk belajar, jangan melewatkan kesempatan begitu saja, karena tidak ada kata terlambat untuk belajar, waktu jangan di sia-sia kan”, tandas Benny kepada Sulutlink pagi tadi, mengenai pesannya kepada generasi muda Sulut.

 

Ketika ditanya mengenai apa wujud pengabdian yang lebih konkrit untuk kampung halaman Sulut di masa yang akan datang, sehubungan dengan aktivitasnya dan pencapaian2 selama ini yang telah dibuatnya sebagai sumbangsih untuk kampung halaman, Benny hanya menjawab, dengan sunggingan senyum penuh arti.

 

Apa makna dari ‘Senyum Penuh Arti’ ini, bisa saja berarti ‘Un-Conditional Love’,  terhadap masyarakat Sulut dan kampung halamannya. Prestasi Benny Mamoto dalam bidang Profesi, Akademis dan aktifitas lainnya, hendaknya dijadikan motivasi kepada generasi muda Sulut dalam rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. (gk)