|
Dr. Benny
Jozua Mamoto, SH, MH
“MEMEGANG
AMANAT SANG AYAH”
By: Gina
‘AmNda’ Kussoy
Jakarta,
Sulutink.
Kalau saja Cyrus Paulus Mamoto,
laki-laki dari utara - Sulawesi,
tepatnya dari desa yang terkenal dengan
‘dodol pengucapannya’, Tumpaan, Minahasa
Selatan, masih hidup saat ini, Ia akan
bangga penuh haru menyaksikan putra
kesayangannya yang betul-betul
menjalankan dan membuktikan amanatnya,
mengabdi pada tanah leluhurnya, Minahasa.
Tapi, Tuhan mengaturnya lain, disaat
putranya Benny Jozua Mamoto
mencurahkan--segala daya upaya,
perhatian, pikiran dan tenaga-- untuk
kemajuan Minahasa, bahkan kiprahnya
sampai tingkat nasional, sang ayah telah
menghadap Sang Pencipta. Selain prestasi
tertinggi akademis telah diraihnya pagi
tadi, seabrek torehan prestasi
pelestarian Seni Budaya Minahasa telah
disumbangkan, putra kawanua yang kalem
dan ramah ini selain sebagai Aparat
Negara, Perwira Polisi yang berjiwa seni.
Tadi pagi,
Sabtu, 23 Agustus 2008, mulai pukul 10
hingga 12 siang, di Balai sidang
Universitas Indonesia Depok, telah
digelar Judisium Doktoral untuk putra
kawanua ini pada Program Studi Kajian
Ilmu Kepolisian Program Pascasarjana,
dengan promotor Prof Dr Tb Ronny
Nitibaskara, SH, didampingi oleh Prof.
Mardjono Reksodiputro, co-promotor. Di
depan tim penguji yang diketuai oleh
Prof. Dr. Purnawan Junadi, MPH, PHD yang
juga selaku Ketua Program Pascasarjana
UI, Benny berhasil mempertahankan
disertasi berjudul: Penanganan Polri
Terhadap Organ Teror Dalam Al-Jama’ah
Al-Islamiyah, dengan hasil yang
Sangat Memuaskan.
Lebih
dari 100 orang kawanua, teman dan
keluarga, organisasi kemasyaratan,
akademisi, pers, memadati Balai Sidang
UI yang turut menyaksikan dan mengikuti
dengan saksama pemaparan mengenai
Penanganan Al Jamaah Al Islamiyah oleh
Kombes Polisi Benny Mamoto yang juga
memegang jabatan NCB Interpol Indonesia,
Mabes Polri
Begitu
cintanya Benny pada kebudayaan Minahasa
dan menaruh perhatian penuh pada Seni
Budaya, walaupun dalam acara akademis
yang mengulas Terorisme, Kriminal dan
Kekerasan dan berhadapan dengan hal2
yang berkaitan dengan Pemboman2 dan korban
jiwa, toch, Benny tak lupa insert
Acara Seni Kebudayaan dalam Judisium
Doktoralnya. Tak kurang, 1 group
Kabasaran turut mengambil bagian dalam
acara ini, musik kolintang menyambut
kedatangan tamu dari tangga masuk balai
sidang, sampai penyematan gelar Tonaas
Papendangan Mawetik dalam sebuah upacara
adat, Sumigi ‘Siama’ Tonaas Benny Mamoto.
“Harapan
saya untuk generasi muda kawanua, adalah,
gunakan waktu sebaik-baiknya untuk
belajar, jangan melewatkan kesempatan
begitu saja, karena tidak ada kata
terlambat untuk belajar, waktu jangan di
sia-sia kan”, tandas Benny kepada
Sulutlink pagi tadi, mengenai
pesannya kepada generasi muda Sulut.
Ketika
ditanya mengenai apa wujud pengabdian
yang lebih konkrit untuk kampung halaman
Sulut di masa yang akan datang,
sehubungan dengan aktivitasnya dan
pencapaian2 selama ini yang telah
dibuatnya sebagai sumbangsih untuk
kampung halaman, Benny hanya menjawab,
dengan sunggingan senyum penuh arti.
Apa makna dari ‘Senyum
Penuh Arti’ ini, bisa saja berarti
‘Un-Conditional Love’, terhadap
masyarakat Sulut dan kampung halamannya.
Prestasi Benny Mamoto dalam bidang
Profesi, Akademis dan aktifitas lainnya,
hendaknya dijadikan motivasi kepada
generasi muda Sulut dalam rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia. (gk) |