|
Dari
Diskusi
Round
Table
di
Pondok
Aspirasi
Ranomea
Amurang
Politik
Uang
Hanya
Menghasilkan
Anggota
Dewan
yang
Korup
Laporan
Denni
Pinontoan
Amurang,
Sulutlink.
Integritas
dan
dedikasi
para
anggota
dewan
yang
terpilih
karena
politik
uang
sangat
rendah
dan
diragukan
dalam
usaha
memperjuangkan
aspirasi
rakyat.
Anggota
legislative
yang
seperti
itu
kerjanya
hanya
untuk
memperkaya
diri
sendiri
dan
memperteguh
kekuasaan
di
kursi
dewan.
Sementara
orientasi
dan
motivasi
memilih
rakyat
dalam
Pemilu
sudah
terpola
pada
partisipasi
politik
yang
dimoblisasi
oleh
uang,
yang
kemudian
mengabaikan
komitmen
dan
kualitas
moral
caleg
yang
akan
dipilihnya.
Model
partisipasi
politik
yang
seperti
itu
harus
dirubah
demi
perubahan
tata
pemerintahan
yang
bersih
dan
pro
rakyat.
Demikian
pokok
penting
dalam
diskusi
round
table
yang
dilaksanakan
oleh
ICRES
di
Pondok
Aspirasi
Ranomea,
Amurang,
Minahasa
Selatan
Sabtu
(23/8).
Hadir
dalam
diskusi
yang
bertajuk
“Menakar
Komitmen
dan
Moralitas
Para
Caleg
Menyonsong
Pemilu
2009”
menghadirkan
Direktur
ICRES,
Veldy
Umbas,
SE,
Koordinator
Komunitas
Sejajar,
Sandra
Rondonuwu,
STh,
SH,
jurnalis
Sulutlink
Denni
Pinontoan
dan
Rikson
Karundeng,
Budayawan
Muda
Minahasa
Freddy
Wowor,
Seniman
dan
Sastrawan
Greenhill
Weol
dan
Andre
GB,
sejumlah
tokoh
muda
dan
masyarakat
Amurang
dan
sekitarnya.
Umbas
mengatakan,
penyebab
Pemilu
hanya
menghasilkan
anggota
legislative
yang
hanya
berorientasi
pada
kekayaan
dan
kekuasaan
diri
sendiri
sebenarnya
ada
pada
partai
yang
mengusung
mereka.
“Selain
sekarang
ini
tinggal
sedikit
politisi
yang
punya
idealisme
kerakyatan
dan
memiliki
komitmen,
tapi
juga
persoalan
ini
karena
partai-partai
yang
ada
tidak
melakukan
pendidikan
politik,
yang
sebenarnya
adalah
fungsinya,”
jelas
Umbas.
Sehingga
menurut
Umbas,
caleg
yang
mestinya
dipilih
oleh
rakyat
pada
pemilu
2009
adalah
caleg-caleg
yang
telah
mulai
dari
sekarang
melakukan
pendidikan
politik
kepada
rakyat.
Karena
dengan
demikian,
caleg
telah
melakukan
salah
satu
komitmennya
untuk
mencerdaskan
rakyat
dalam
berdemokrasi.
“Caleg-caleg
begitu
yang
mestinya
rakyat
pilih.
Bukan
mereka
yang
datang
kepada
rakyat
lalu
menawarkan
sejumlah
uang.
Begitu
dia
jadi,
maka
yang
kemudian
dia
pikirkan
akhirnya
cuma
bagaimana
mengakumulasi
modal
demi
kekayaan
sendiri.
Kita
sudah
lihat
hasil
Pemilu
2004,
banyak
anggota
dewan
yang
korup
sekarang,
waktu
kampanye
mereka
yang
suka
menghamburkan
uang,”
tandas
Umbas.
Freddy
Wowor
mengatakan,
yang
mestinya
dibenahi
dalam
segi
aturan
adalah
soal
nomor
urut.
Menurut
akademisi
Unsrat
ini,
pemerintah
mestinya
merespon
dengan
baik
wacana
sejumlah
parpol
untuk
menetapkan
caleg
terpilih
berdasarkan
suara
terbanyak.
“Wacana
suara
terbanyak
sangat
positif
untuk
memajukan
demokrasi
kita.
Sebab,
kalau
itu
menjadi
aturan
baku
dari
pemerintah,
nantinya
Pemilu
adalah
benar-benar
kompetisi
untuk
mendapat
legitimimasi
rakyat
Tapi
yang
harus
diwaspadai
adalah
kekuatan
uang
yang
dominant,”
jelasnya.
Sementara
menurut
Sandra
Rondonuwu,
selain
perubahan
aturan
sangat
penting,
tapi
juga
pembaharuan
dan
cara
pandang
masyarakat
terhadap
politik.
Katanya,
politik
yang
sebenarnya
adalah
kalau
nilai
dan
tindakan
anggota
dewan
atau
institusi
pemerintah
diarahkan
pada
capaian
tujuan
bersama,
yaitu
kesejahteraan.
“Kalau
begini
yang
menjadi
pemahaman
kita
bersama,
maka
kita
sebagai
rakyat
tidak
akan
memilih
hanya
berdasarkan
uang,
tapi
memilih
secara
rasional
dan
sadar,
dengan
antara
lain
menilai
mana
caleg
yang
punya
integritas
dan
dedikasi,
dan
memiliki
komitmen
kerakayatan.
Caleg
yang
seperti
ini
hanya
sedikit,
tapi
mereka
masih
ada.
Dan,
merekalah
harapan
pembaharuan
kita,”
ungkap
mantan
aktivis
98
ini.
Sementara
Ompi,
salah
satu
tokoh
pemuda
Kelurahan
Lewet
Amurang
mengatakan,
dalam
pengalamannya
beberapa
kali
pemilu,
agaknya
rakyat
memang
masih
memilih
karena
uang.
Padahal,
menurutnya,
anggota-anggota
dewan
yang
terpilih
berdasarkan
uang
tersebut,
sekarang
ini
telah
menjadi
koruptor.
“Coba
lihat
rumah-rumah
mereka,
besar-besar
dan
mewah-mewah.
Padahal
kerja
mereka
cuma
datang
di
kantor
dewan,
berkoar
di
media
tapi
tidak
menjalankan
fungsinya
sebagai
anggota
dewan,”
ungkap
Ompi
dengan
nada
kesal.
|