Main Page

Berita

Artikel

Ranomawuri

Makatana

Timountalun

Topik Kawanua

Suara Kawanua

Plakat Kawanua

Profil Kawanua

Cirita Grap

Polling SL

News Link

 

 Artikel: 21 Juli,  2008

 

WOC: SOSIALIASI & FASILITAS

Oleh: Steven Y Pailah

 

Sebuah agenda akbar, akan berlangsung di pertengahan tahun 2009. Bulan Mei 2009 Manado akan menjadi tuan rumah World Ocean Conference dan Coral Triangle Initiative. Tapi sayang, meski Gubernur Sarundajang telah memberikan ‘opening promotion and pre-invitation’ di PBB, gaung WOC seolah-olah hanya menjadi Agenda Panitia Nasional & Lokal saja. WOC tidak akrab untuk para pakar kelautan maupun masyarakat Indonesia pada umumnya.

 

Ketika pertemuan tingkat pakar di Jakarta (8/7), hadir sebagai narasumber, Prof. Dr. Hasyim Djalal, MA. Terungkap bahwa dalam satu pertemuan ISBA di Jamaika, ada peserta menanyakan kepada Prof. Hasyim bagaimana persiapan WOC di Manado? Alhasil, Prof. Hasyim bingung bahwa ada Konferensi Kelautan Sedunia di Indonesia khususnya di Manado.

 

Ada dua perspektif yang dapat ditimba dari peristiwa ini. Pertama: Mungkin Prof. Hasyim sangat sibuk dan tidak sempat membaca agenda WOC tahun depan. Atau, kedua: tidak ada konfirmasi Panitia Nasional maupun Daerah kepada Prof. Hasyim yang dikenal luas sebagai motor penggerak penyusunan UNCLOS 1982. (semoga saja penilaian ini tidak tendensius serta tidak dimaksudkan menyudutkan kedua belah pihak).

 

Berawal dari kenyataan tersebut, adalah fakta bahwa sosialiasi pelaksanaan WOC untuk tingkatan pakar di Indonesia masih jauh dari harapan. Padahal, para pemimpin dunia merespon undangan Gubernur Sarundajang ketika di PBB. Selanjutnya, tanda-tanda digelarnya agenda tingkat internasional sesungguhnya berlangsung ketika promosi, pengiriman undangan, loby-loby dan konfirmasi serta pelaksanaan konferensi itu sendiri.

 

Untuk saat ini, karena lokasi dan jadwal WOC telah ditentukan yakni 11-15 Mei 2009 di Manado, maka seharusnya panitia melakukan konfirmasi loby terhadap peserta (pemimpin dunia) yang akan hadir. Kepastian kehadiran/konfirmasi Kepala Negara bisa terlihat dari aktifasi advance team yang terdiri dari dinas intelijen, paramedik, pers dan bidang rumah tangga kepresidenan serta pihak kedutaan. Bisa juga terlihat dari daftar booking hotel yang akan dilakukan lebih awal enam bulan hingga satu tahun sebelum agenda WOC berlangsung.

 

Oleh karena itu, pada saat ini adalah waktu yang tepat menilai persiapan WOC Mei 2009 di Manado. Pertama: sejauh mana konfirmasi dari para peserta? (Kepala Negara, Perdana Menteri, Menteri Kelautan, Pakar Kelautan, Praktisi-Akademisi, NGO-LSM, dan Pers). Hal ini sangat penting untuk mengukur respon kebijakan luar negeri tiap-tiap negara, universitas maupun LSM terutama pada masalah Kelautan dan Perubahan Iklim.

 

Kedua : materi apa yang sudah disusun sebagai sosialisasi awal pada saat Sidang/Konferensi? Apakah tim ahli sudah mengirimkan draft WOC kepada seluruh peserta WOC sebagai acuan issue atau Term of Reference?

 

TOR merupakan sosialisasi naskah akademik yang dapat menuntun tiap-tiap negara dalam mengambil posisi dan peran strategis ketika pelaksanaan WOC 2009 nanti. Oleh karena itu, TOR menjadi sangat vital dan berfungsi sebagai informasi serta acuan rekomendasi (action plan) bagi tiap peserta/negara.

Ketiga : Adanya statement pemerintah setingkat Kepala Negara (Presiden-Wakil Presiden) yang mengundang dalam setiap pertemuan. Contohnya, baru-baru ini Presiden SBY berkunjung ke Jepang dan Malaysia. Apakah ada statement Presiden untuk mengundang para Kepala Negara, khususnya negara-negara maju G-8?

 

Selanjutnya, untuk memudahkan komitmen dan konfirmasi kehadiran, langkah Gubernur Sarundajang ke PBB (Juni 2008) sangat tepat. Akan tetapi, ada aturan protokoler negara yang tidak dapat dilewati setingkat Gubernur. Jadi, hendaknya Presiden RI sebagai Kepala Negara dalam beberapa kesempatan lawatan kenegaraan harus menyampaikan secara lisan undangan bagi pemimpin negara dimaksud. Dan waktu ini, adalah saat yang tepat mengundang para pemimpin negara supaya hadir pada WOC Mei 2009.

 

Keempat : terlihatnya ikatan emosional masyarakat menyukseskan iven tersebut. Dengan adanya pertemuan internasional, maka industri kerajinan kecil dan pariwisata berkembang. Dari hulu hingga hilir, baik jasa ticketing maupun jasa angkutan dalam kota. Pedagang musiman ataupun pedagang grosse pertokoan.

 

Selayaknya Pesta Piala Dunia atau Pekan Olah Raga Nasional sekalipun, industri iklan dan kerajinan tangan seyogyanya mulai bergeliat dalam promosi melalui media elektronik, cetak maupun sponsor produk. Hal ini akan memberikan dampak yang sangat besar bagi peningkatan ekonomi rakyat secara nasional, terlebih khusus di Manado. Dengan demikian, Dana APBN untuk Pelaksanaan WOC dapat berputar dan dijadikan pemicu peningkatan usaha kecil dan menengah masyarakat.

 

Kelima : meningkatnya jasa-jasa publik traveling, guide, dan akses layanan internet maupun komunikasi. Selain industri kerajinan, maka tak kalah luasnya jasa publik akan meningkat dan membawa keuntungan bagi daerah itu sendiri. Penyerapan tenaga kerja profesional menjadikan lahan try out sekaligus pembelajaran bagi warga yang mendapat kesempatan berjumpa perwakilan masyarakat seluruh dunia.

 

Kelima hal di atas, harus dibarengi infrastruktur pendukung dan sarana publik memadai. Kiranya publik mengetahui dengan berlangsungnya WOC, secara strategis infrastruktur Sulawesi Utara meningkat. Jelasnya, peningkatan sarana jalan protokol, bandara, pelabuhan, komunikasi dan lain sejenisnya. Dengan menjadi tuan rumah, anggaran investasi meningkat. Contoh, tahun ini dana investasi Korea diarahkan untuk membangun jalan-jalan di Sulawesi Utara. Semua ini memberikan dampak positif bagi daerah.

 

Kemudian, lima pra-syarat suksesnya pelaksanaan konferensi tingkat dunia di satu daerah adalah :

Pertama (source), yakni tersedianya Sumber Daya Manusia (publik, birokrasi, politisi dan akademisi). Meskipun sudah disebutkan di atas bahwa jasa profesional akan semakin dibutuhkan, tapi tak kalah penting adalah proporsi komunikasi antar alat komunikasi politik di daerah. Biasanya tercermin dari rapat-rapat Muspida yang dihadiri unsur birokrat, TNI-Polri, politisi, akademisi bersama Panitia Nasional atau Daerah.

 

Sumber daya ini harus dikelola seimbang, terintegrasi dalam kesatuan gerak sesuai perencanaan. Oleh karena itu, diharapkan tidak ada iven-iven yang diperkirakan merugikan atau side effect yang justru menggagalkan WOC 2009.

 

Kedua (service), yaitu layanan jasa penghubung transportasi udara maupun ketersediaan jadwal penerbangan, kemampuan run-way/landasan Sam Ratulangi, hinga tarif hotel dan pemukiman (kampung pelancong).

 

Prasyarat dalam iven ini adalah kesiapan bandara Sam Ratulangi yang merupakan Gapura WOC 2009. Di samping gapura, Manado seharusnya memiliki kampung wisata. Alangkah sayangnya, Kampung Nelayan di Manado sudah tidak dapat dinikmati sepanjang Pantai Boulevard. Padahal ikon WOC menjual keprihatinan dan kesadaran harmonisasi lingkungan khususnya kelautan. Oleh sebab itu, publik hanya menikmati kampung wisata (nelayan) yang tergusur di sekitar Karang Ria hingga batas Hotel Santika, kemudian menuju Bunaken.

 

Seandainya pemerintah menyediakan canal bagi nelayan-nelayan tradisional di Pasar Bersehati, Kampung Texas, Tomohon, Tombariri hingga Pesisir Pantai Bahu, maka peserta WOC justru akan melihat sendiri betapa ‘orang Manado’ sungguh cinta laut dan menyediakan ruang kehidupan nelayan di tengah hiruk pikuknya pembangunan Mall.

 

Ketiga (sense), yaitu munculnya kesadaran tanggap lingkungan dan sadar wisata sehingga melahirkan budaya yang dapat memberikan kesejukan/keramahtamahan peserta WOC. Suasana kampung wisata (saat ini diganti dengan berdirinya rumah makan khas Manado), akan menjadi simbol dan kekayaan budaya bagi peserta WOC. Apakah pernah terbayangkan usaha kita memindahkan para wisatawan ke Manado padahal Pantai Malalayang tak seindah Kuta di Bali? Nilai-nilai kesadaran wisata ini sulit dipaksakan jika objek wisata alam justru tergusur akibat pembangunan yang berlebihan. Oleh karena itu, minat wisata air dapat dikembangkan baik melalui lomba layar, memancing, menyelam maupun festifal layang-layang.

 

Selain itu, primadona Bunaken harus dikemas dalam bentuk paket wisata bisnis bukan managemen tradisional. Yang dimaksudkan wisata bisnis yakni benar-benar fasilitas dan tarif ke Bunaken dikelola profesional. Jika selama ini peran swasta belum mampu meningkatkan potensi kunjungan dan peningkatan PAD maupun ekonomi rakyat sekitar, kiranya pemerintah mengambil alih dengan melakukan penataan wajib. Artinya, semua pebisnis yang mengkategorikan Bunaken sebagai tujuan wisata wajib ditunjang pemerintah dari segi promosi, ketersediaan sarana pendukung maupun akses langsung (administrasi dan regulasi).

 

Jika kewajiban pemerintah terpenuhi dan dapat menarik 500 pengusaha pariwisata skala nasional ke Bunaken, maka bukan tidak mungkin PAD Pemda Manado dan Sulut meningkat seiring kunjungan ke Manado – Bunaken.

 

Keempat (security), yakni adanya jaminan keamanan dan keselamatan selama pelaksanaan WOC 2009. Paska Bom Bali 2002 dan 2005, kunjungan wisatawan di Bali menurun drastis. Data menunjukan bahwa dari 6000 wisatawan per hari yang datang hanya 1500 hingga 2000 pengunjung. Itupun yang banyak adalah wisatawan domestik. Belajar dari pengalaman Bali Nine, Sulut harus mengedepankan unsur-unsur keamanan di atas standar. Baik sistem pintu masuk (bandara&pelabuhan tradisional), jaringan intelijen hingga pengawalan penjemputan dan keberangkatan. Jika keamanan pelaksanaan WOC terjamin, maka Manado akan direkomendasikan selain Jakarta, Bali/Lombok sebagai daerah tujuan wisata, bisnis maupun konferensi.

 

Kelima (success), yaitu agenda WOC 2009 berlangsung baik dan melahirkan Deklarasi Manado. Suksesi pelaksanaan WOC 2009 adalah kerjasama kemitraan dan profesionalisme. WOC 2009 merupakan agenda internasional. Berarti bukan milik Panitia Daerah, Panitia Nasional maupun Pakar Kelautan. Semua unsur negara terkait dalam hal ini. Jika Panitia Nasional dan Gubernur Sarundajang sebagai tuan rumah membuka pintu bagi stakeholders dalam dan luar negeri, maka WOC 2009 akan sukses. Sebaliknya, otorisasi dan minimnya sosialisasi tingkat nasional, menjadi kendala profesional bagi pelaksanaan WOC 2009.

 

Kita tidak mungkin berharap bahwa WOC 2009 akan jauh lebih besar daripada KTT Bumi di Rio De Janero 1990-an ataupun di Johanesburg, Afrika Selatan. Tapi harapan yang paling penting adalah bagaimana semua orang dapat mengetahui, memahami dan bahkan berbicara tentang pentingnya laut bagi kelangsungan hidup umat manusia. Itulah makna WOC yang tersirat sejauh ini.