|
WOC: SOSIALIASI &
FASILITAS
Oleh: Steven Y
Pailah
Sebuah agenda akbar,
akan berlangsung di
pertengahan tahun
2009. Bulan Mei 2009
Manado akan menjadi
tuan rumah World
Ocean Conference dan
Coral Triangle
Initiative. Tapi
sayang, meski
Gubernur Sarundajang
telah memberikan ‘opening
promotion and
pre-invitation’
di PBB, gaung WOC
seolah-olah hanya
menjadi Agenda
Panitia Nasional &
Lokal saja. WOC
tidak akrab untuk
para pakar kelautan
maupun masyarakat
Indonesia pada
umumnya.
Ketika pertemuan
tingkat pakar di
Jakarta (8/7), hadir
sebagai narasumber,
Prof. Dr. Hasyim
Djalal, MA.
Terungkap bahwa
dalam satu pertemuan
ISBA di Jamaika, ada
peserta menanyakan
kepada Prof. Hasyim
bagaimana persiapan
WOC di Manado?
Alhasil, Prof.
Hasyim bingung bahwa
ada Konferensi
Kelautan Sedunia di
Indonesia khususnya
di Manado.
Ada dua perspektif
yang dapat ditimba
dari peristiwa ini.
Pertama: Mungkin
Prof. Hasyim sangat
sibuk dan tidak
sempat membaca
agenda WOC tahun
depan. Atau, kedua:
tidak ada konfirmasi
Panitia Nasional
maupun Daerah kepada
Prof. Hasyim yang
dikenal luas sebagai
motor penggerak
penyusunan UNCLOS
1982. (semoga saja
penilaian ini tidak
tendensius serta
tidak dimaksudkan
menyudutkan kedua
belah pihak).
Berawal dari
kenyataan tersebut,
adalah fakta bahwa
sosialiasi
pelaksanaan WOC
untuk tingkatan
pakar di Indonesia
masih jauh dari
harapan. Padahal,
para pemimpin dunia
merespon undangan
Gubernur Sarundajang
ketika di PBB.
Selanjutnya,
tanda-tanda
digelarnya agenda
tingkat
internasional
sesungguhnya
berlangsung ketika
promosi, pengiriman
undangan,
loby-loby dan
konfirmasi serta
pelaksanaan
konferensi itu
sendiri.
Untuk saat ini,
karena lokasi dan
jadwal WOC telah
ditentukan yakni
11-15 Mei 2009 di
Manado, maka
seharusnya panitia
melakukan konfirmasi
loby terhadap
peserta (pemimpin
dunia) yang akan
hadir. Kepastian
kehadiran/konfirmasi
Kepala Negara bisa
terlihat dari
aktifasi advance
team yang
terdiri dari dinas
intelijen, paramedik,
pers dan bidang
rumah tangga
kepresidenan serta
pihak kedutaan. Bisa
juga terlihat dari
daftar booking
hotel yang akan
dilakukan lebih awal
enam bulan hingga
satu tahun sebelum
agenda WOC
berlangsung.
Oleh karena itu,
pada saat ini adalah
waktu yang tepat
menilai persiapan
WOC Mei 2009 di
Manado. Pertama:
sejauh mana
konfirmasi dari para
peserta? (Kepala
Negara, Perdana
Menteri, Menteri
Kelautan, Pakar
Kelautan,
Praktisi-Akademisi,
NGO-LSM, dan Pers).
Hal ini sangat
penting untuk
mengukur respon
kebijakan luar
negeri tiap-tiap
negara, universitas
maupun LSM terutama
pada masalah
Kelautan dan
Perubahan Iklim.
Kedua : materi apa
yang sudah disusun
sebagai sosialisasi
awal pada saat
Sidang/Konferensi?
Apakah tim ahli
sudah mengirimkan
draft WOC kepada
seluruh peserta WOC
sebagai acuan
issue atau
Term of Reference?
TOR merupakan
sosialisasi naskah
akademik yang dapat
menuntun tiap-tiap
negara dalam
mengambil posisi dan
peran strategis
ketika pelaksanaan
WOC 2009 nanti. Oleh
karena itu, TOR
menjadi sangat vital
dan berfungsi
sebagai informasi
serta acuan
rekomendasi (action
plan) bagi tiap
peserta/negara.
Ketiga : Adanya
statement
pemerintah setingkat
Kepala Negara (Presiden-Wakil
Presiden) yang
mengundang dalam
setiap pertemuan.
Contohnya, baru-baru
ini Presiden SBY
berkunjung ke Jepang
dan Malaysia. Apakah
ada statement
Presiden untuk
mengundang para
Kepala Negara,
khususnya
negara-negara maju
G-8?
Selanjutnya, untuk
memudahkan komitmen
dan konfirmasi
kehadiran, langkah
Gubernur Sarundajang
ke PBB (Juni 2008)
sangat tepat. Akan
tetapi, ada aturan
protokoler negara
yang tidak dapat
dilewati setingkat
Gubernur. Jadi,
hendaknya Presiden
RI sebagai Kepala
Negara dalam
beberapa kesempatan
lawatan kenegaraan
harus menyampaikan
secara lisan
undangan bagi
pemimpin negara
dimaksud. Dan waktu
ini, adalah saat
yang tepat
mengundang para
pemimpin negara
supaya hadir pada
WOC Mei 2009.
Keempat :
terlihatnya ikatan
emosional masyarakat
menyukseskan iven
tersebut. Dengan
adanya pertemuan
internasional, maka
industri kerajinan
kecil dan pariwisata
berkembang. Dari
hulu hingga hilir,
baik jasa
ticketing maupun
jasa angkutan dalam
kota. Pedagang
musiman ataupun
pedagang grosse
pertokoan.
Selayaknya Pesta
Piala Dunia atau
Pekan Olah Raga
Nasional sekalipun,
industri iklan dan
kerajinan tangan
seyogyanya mulai
bergeliat dalam
promosi melalui
media elektronik,
cetak maupun sponsor
produk. Hal ini akan
memberikan dampak
yang sangat besar
bagi peningkatan
ekonomi rakyat
secara nasional,
terlebih khusus di
Manado. Dengan
demikian, Dana APBN
untuk Pelaksanaan
WOC dapat berputar
dan dijadikan pemicu
peningkatan usaha
kecil dan menengah
masyarakat.
Kelima :
meningkatnya
jasa-jasa publik
traveling,
guide, dan akses
layanan internet
maupun komunikasi.
Selain industri
kerajinan, maka tak
kalah luasnya jasa
publik akan
meningkat dan
membawa keuntungan
bagi daerah itu
sendiri. Penyerapan
tenaga kerja
profesional
menjadikan lahan
try out
sekaligus
pembelajaran bagi
warga yang mendapat
kesempatan berjumpa
perwakilan
masyarakat seluruh
dunia.
Kelima hal di atas,
harus dibarengi
infrastruktur
pendukung dan sarana
publik memadai.
Kiranya publik
mengetahui dengan
berlangsungnya WOC,
secara strategis
infrastruktur
Sulawesi Utara
meningkat. Jelasnya,
peningkatan sarana
jalan protokol,
bandara, pelabuhan,
komunikasi dan lain
sejenisnya. Dengan
menjadi tuan rumah,
anggaran investasi
meningkat. Contoh,
tahun ini dana
investasi Korea
diarahkan untuk
membangun
jalan-jalan di
Sulawesi Utara.
Semua ini memberikan
dampak positif bagi
daerah.
Kemudian, lima
pra-syarat suksesnya
pelaksanaan
konferensi tingkat
dunia di satu daerah
adalah :
Pertama (source),
yakni tersedianya
Sumber Daya Manusia
(publik, birokrasi,
politisi dan
akademisi). Meskipun
sudah disebutkan di
atas bahwa jasa
profesional akan
semakin dibutuhkan,
tapi tak kalah
penting adalah
proporsi komunikasi
antar alat
komunikasi politik
di daerah. Biasanya
tercermin dari
rapat-rapat Muspida
yang dihadiri unsur
birokrat, TNI-Polri,
politisi, akademisi
bersama Panitia
Nasional atau Daerah.
Sumber daya ini
harus dikelola
seimbang,
terintegrasi dalam
kesatuan gerak
sesuai perencanaan.
Oleh karena itu,
diharapkan tidak ada
iven-iven yang
diperkirakan
merugikan atau
side effect yang
justru menggagalkan
WOC 2009.
Kedua (service),
yaitu layanan jasa
penghubung
transportasi udara
maupun ketersediaan
jadwal penerbangan,
kemampuan run-way/landasan
Sam Ratulangi, hinga
tarif hotel dan
pemukiman (kampung
pelancong).
Prasyarat dalam iven
ini adalah kesiapan
bandara Sam
Ratulangi yang
merupakan Gapura WOC
2009. Di samping
gapura, Manado
seharusnya memiliki
kampung wisata.
Alangkah sayangnya,
Kampung Nelayan di
Manado sudah tidak
dapat dinikmati
sepanjang Pantai
Boulevard. Padahal
ikon WOC menjual
keprihatinan dan
kesadaran
harmonisasi
lingkungan khususnya
kelautan. Oleh sebab
itu, publik hanya
menikmati kampung
wisata (nelayan)
yang tergusur di
sekitar Karang Ria
hingga batas Hotel
Santika, kemudian
menuju Bunaken.
Seandainya
pemerintah
menyediakan canal
bagi nelayan-nelayan
tradisional di Pasar
Bersehati, Kampung
Texas, Tomohon,
Tombariri hingga
Pesisir Pantai Bahu,
maka peserta WOC
justru akan melihat
sendiri betapa
‘orang Manado’
sungguh cinta laut
dan menyediakan
ruang kehidupan
nelayan di tengah
hiruk pikuknya
pembangunan Mall.
Ketiga (sense),
yaitu munculnya
kesadaran tanggap
lingkungan dan sadar
wisata sehingga
melahirkan budaya
yang dapat
memberikan kesejukan/keramahtamahan
peserta WOC. Suasana
kampung wisata (saat
ini diganti dengan
berdirinya rumah
makan khas Manado),
akan menjadi simbol
dan kekayaan budaya
bagi peserta WOC.
Apakah pernah
terbayangkan usaha
kita memindahkan
para wisatawan ke
Manado padahal
Pantai Malalayang
tak seindah Kuta di
Bali? Nilai-nilai
kesadaran wisata ini
sulit dipaksakan
jika objek wisata
alam justru tergusur
akibat pembangunan
yang berlebihan.
Oleh karena itu,
minat wisata air
dapat dikembangkan
baik melalui lomba
layar, memancing,
menyelam maupun
festifal
layang-layang.
Selain itu,
primadona Bunaken
harus dikemas dalam
bentuk paket wisata
bisnis bukan
managemen
tradisional. Yang
dimaksudkan wisata
bisnis yakni
benar-benar
fasilitas dan tarif
ke Bunaken dikelola
profesional. Jika
selama ini peran
swasta belum mampu
meningkatkan potensi
kunjungan dan
peningkatan PAD
maupun ekonomi
rakyat sekitar,
kiranya pemerintah
mengambil alih
dengan melakukan
penataan wajib.
Artinya, semua
pebisnis yang
mengkategorikan
Bunaken sebagai
tujuan wisata wajib
ditunjang pemerintah
dari segi promosi,
ketersediaan sarana
pendukung maupun
akses langsung (administrasi
dan regulasi).
Jika kewajiban
pemerintah terpenuhi
dan dapat menarik
500 pengusaha
pariwisata skala
nasional ke Bunaken,
maka bukan tidak
mungkin PAD Pemda
Manado dan Sulut
meningkat seiring
kunjungan ke Manado
– Bunaken.
Keempat (security),
yakni adanya jaminan
keamanan dan
keselamatan selama
pelaksanaan WOC
2009. Paska Bom Bali
2002 dan 2005,
kunjungan wisatawan
di Bali menurun
drastis. Data
menunjukan bahwa
dari 6000 wisatawan
per hari yang datang
hanya 1500 hingga
2000 pengunjung.
Itupun yang banyak
adalah wisatawan
domestik. Belajar
dari pengalaman
Bali Nine,
Sulut harus
mengedepankan
unsur-unsur keamanan
di atas standar.
Baik sistem pintu
masuk (bandara&pelabuhan
tradisional),
jaringan intelijen
hingga pengawalan
penjemputan dan
keberangkatan. Jika
keamanan pelaksanaan
WOC terjamin, maka
Manado akan
direkomendasikan
selain Jakarta,
Bali/Lombok sebagai
daerah tujuan wisata,
bisnis maupun
konferensi.
Kelima (success),
yaitu agenda WOC
2009 berlangsung
baik dan melahirkan
Deklarasi Manado.
Suksesi pelaksanaan
WOC 2009 adalah
kerjasama kemitraan
dan profesionalisme.
WOC 2009 merupakan
agenda internasional.
Berarti bukan milik
Panitia Daerah,
Panitia Nasional
maupun Pakar
Kelautan. Semua
unsur negara terkait
dalam hal ini. Jika
Panitia Nasional dan
Gubernur Sarundajang
sebagai tuan rumah
membuka pintu bagi
stakeholders
dalam dan luar
negeri, maka WOC
2009 akan sukses.
Sebaliknya,
otorisasi dan
minimnya sosialisasi
tingkat nasional,
menjadi kendala
profesional bagi
pelaksanaan WOC
2009.
Kita tidak mungkin
berharap bahwa WOC
2009 akan jauh lebih
besar daripada KTT
Bumi di Rio De
Janero 1990-an
ataupun di
Johanesburg, Afrika
Selatan. Tapi
harapan yang paling
penting adalah
bagaimana semua
orang dapat
mengetahui, memahami
dan bahkan berbicara
tentang pentingnya
laut bagi
kelangsungan hidup
umat manusia. Itulah
makna WOC yang
tersirat sejauh ini. |