Produk Turunan Kelapa Sulut “Digilai” Mancanegara

Laporan: Budi H Rarumangkay

 

MANADO. Sulutlink: Sepertinya krisis perekonomian global yang melanda saat ini, belum berpengaruh secara signifikan bagi perdagangan di daerah kita. Buktinya, sejak awal tahun hingga sampai saat ini, sedikitnya sudah ada 7 negara yang menyatakan siap bekerjasama bidang perdagangan berupa kegiatan ekspor dengan Sulut. Bahkan menurut Kadis Perdagangan Sulut Gemmy Kawatu SE pada sulutlink, Kamis (04/06) kontrak pengiriman barang sudah dilakukan sejak awal tahun 2009 lalu.

 

“Kontrak kerjasama dan pengiriman komoditi ekspor sudah dilakukan sejak awal tahun ini oleh eksportir kita dan ini merupakan pertanda bahwa Sulut tidak terpengaruh dengan adanya krisis perekonomian global,”katanya.

 

Dia kemudian menyebutkan sejumlaj negara diantaranyal; Hezegovina, Sarajevo, Portugal, Lithuania, Caledonia, Buenos Aires serta Republik Dominican. Mereka katanya rata-rata menyukai produk turunan kelapa, selain perikanan.

 

Meskipun tidak dapat merincikan berapa banyak nilai maupun ekspor ke 7 negara tersebut, namun yang pasti dikatakan Kawatu, dengan adanya kegiatan ekspor tersebut sudah mampu mempertahan daerah ini dari hantaman krisis ekonomi global yang masih banyak melanda beberapa negara di dunia.

 

“Ekportir Sulut masih akan terus mencari pangsa pasar tujuan ekspor baru agar dapat menunjang industri kecil yang ada di daerah ini dalam hal pemasaran produk jadi maupun mentah,”tambahnya.
 

Sementara itu, berdasarkan data Disperindag, ekspor Sulut selama triwulan pertama 2009 mencapai USD115 juta untuk 192,5 ribu ton. Adapun negara yang mendapatkan peringkat pertama dari kegiatan ekspor yakni Singapura dimana mencapai USD35,8 juta (87 ribu ton), disusul Amerika USD17,6 juta (20,8 ribu ton), kemudian Arab Saudi USD12,8 ribu (19,6 ribu ton), Jerman USD12,9 juta (115,5 ribu ton), Jepang USD3,5 juta (1.000 ton), Belanda USD2,4 juta (830,3 ton), Korea USD2,2 juta ton (2,4 ribu ton), Thailand USD1,2 juta (4.000 ton), Afrika USD956 ribu (483 ton) serta India USD643 ribu untuk 5,1 juta ton.