Juni 5, 2009

Search for:

 

AMBISI POLITIK DENGAN MENUNGGANGI KONFLIK AGAMA

 

Oleh: Ferdinand Pandey

 

Wakil ketua GOLKAR sekaligus ketua DPR RI, Agung Laksono berangkat ke Lebanon pada pertengahan Januari lalu untuk menghadap pemimpin Hesbollah (orang yang sangat dicari oleh dunia internasional karena teroris). Meskipun menempuh bahaya di tengah gencarnya peperangan antara HAMAS melawan Israel dengan segala risiko beliau berusaha datang ketempat persembunjian pemimpin Hesbollah tersebut.

 

Rupanya kedatangannya di Lebanon dalam rangka   penganugerahan

Doctor Honoris Causa kepada ketua umum GOLKAR,  Yusuf Kalla, yang adalah juga wakil Presiden RI,  oleh salah satu universitas di Jepang atas  apa yang dianggap sebagai peranannya dalam mendamaikan konflik bermuatan suku, agama dan ras (SARA) di Indonesia. Seusai acara tersebut,  beliau kemudian langsung menuju USA untuk menghadiri pertemuan para negarawan di Washington dengan kabinet baru Barack Obama, yang saat itu sedang akan diperkenalkan secara resmi kepada dunia internasional. Disana  Pak Kalla akan berkiat   menggunakan kesempatan tersebut untuk menjelaskan peranannya dalam kiat pendamaian konflik  tersebut.

 

Manuver tersebut diatas adalah suatu rekayasa politik untuk  membentuk imej tertentu di mata dunia internasional dan USA, sebagai negara adidaya, dengan tujuan mendapatkan bargaining power. Hal ini akan memberikan   Indonesia suatu reputasi sebagai pemimpin negara-negara Islam di tahap global.   Rekayasa tersebut sudah jelas bertujuan mendapatkan dukungan internasional dalam rangka kampanye pemilihan presiden RI pada bulan Oktober mendatang ini.

 

Rekayasa politik semacam ini merupakan kiat yang  mengorbankan dan melecehkan rakyat, bangsa dan negara Indonesia  dengan menunggangi konflik agama demi pencapaian ambisi kepentingan diri /kelompok sendiri.

 

Image yang sedang diciptakan ini memberi kesan bahwa   bangsa Indonesia seakan-akan adalah pendukung kelompok Islam militan HAMAS dan berpihak kepada Hesbollah, yang adalah kelompok teroris di mata dunia internasional. Indonesia digembar-gemborkan sebagai negara muslim  terbesar didunia yang lebih HAMAS daripada HAMAS di Lebanon. Padahal di Lebanon sendiri dan di negara-negara muslim  Arab - seperti Saudi Arabia,Yordania, Mesir, Turki dan lain-lain yang bertetangga dengan Libanon -   kelompok HAMAS tidak mendapatkan simpati karena merupakan penyebab berbagai kekacauan/kekerasan di dunia Arab.

 

Akibatnya, Indonesia makin dijauhi oleh negara-negara maju. Bangsa dan negara yang sudah terpuruk makin menjadi terpuruk karena dijauhi sedemikian. Para penanam saham dari dalam dan luar negeri angkat kaki, dan para penguasa/pengusaha menunggangi agama untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan sebesar-besarnya.

 

Kebanyakan anak bangsa Indonesia, baik di dalam atau di luar negeri mengetahui dengan jelas bahwa bangsa dan negara ini sudah cukup kenyang mengalami berbagai peristiwa kekerasan yang bersifat SARA(a.l: Peristiwa Poso, Maluku Papua, TimorTimur , Dayak di Kalimantan, Peristiwa Mei 1998 dan lain-lain), dan hingga kini pun Indonesia masih berada dalam kondisi seperti api dalam sekam yang setiap saat dapat meledak. Oleh karena itu banyak anak bangsa Indonesia, termasuk saya,  menggaruk kepala dan mempertanyakan pertanyaan ini: “Atas dasar kriteria apa kiranya sehingga  Wakil Presiden RI, merangkap   ketua Golkar, Yusuf Kalla,   di anugerahkan Doctor Honoris Causa  dalam konteks pendamaian konflik SARA di Indonesia?”                                                                                                                                                                                                             

Juni  2009

 

Copyright Sulutlink.com 2000-2009