AMBISI POLITIK DENGAN MENUNGGANGI
KONFLIK AGAMA
Oleh: Ferdinand Pandey
Wakil ketua GOLKAR sekaligus ketua DPR
RI, Agung Laksono berangkat ke Lebanon pada pertengahan Januari lalu
untuk menghadap pemimpin Hesbollah (orang yang sangat dicari oleh dunia
internasional karena teroris). Meskipun menempuh bahaya di tengah
gencarnya peperangan antara HAMAS melawan Israel dengan segala risiko
beliau berusaha datang ketempat persembunjian pemimpin Hesbollah
tersebut.
Rupanya kedatangannya di Lebanon dalam
rangka penganugerahan
Doctor Honoris Causa
kepada ketua umum GOLKAR, Yusuf Kalla, yang adalah juga wakil Presiden
RI, oleh salah satu universitas di Jepang atas apa yang dianggap
sebagai peranannya dalam mendamaikan konflik bermuatan suku, agama dan
ras (SARA) di Indonesia. Seusai acara tersebut, beliau kemudian
langsung menuju USA untuk menghadiri pertemuan para negarawan di
Washington dengan kabinet baru Barack Obama, yang saat itu sedang akan
diperkenalkan secara resmi kepada dunia internasional. Disana Pak Kalla
akan berkiat menggunakan kesempatan tersebut untuk menjelaskan
peranannya dalam kiat pendamaian konflik tersebut.
Manuver tersebut diatas adalah suatu
rekayasa politik untuk membentuk imej tertentu di mata dunia
internasional dan USA, sebagai negara adidaya, dengan tujuan mendapatkan
bargaining power. Hal ini akan memberikan Indonesia suatu
reputasi sebagai pemimpin negara-negara Islam di tahap global.
Rekayasa tersebut sudah jelas bertujuan mendapatkan dukungan
internasional dalam rangka kampanye pemilihan presiden RI pada bulan
Oktober mendatang ini.
Rekayasa politik semacam ini merupakan
kiat yang mengorbankan dan melecehkan rakyat, bangsa dan negara
Indonesia dengan menunggangi konflik agama demi pencapaian ambisi
kepentingan diri /kelompok sendiri.
Image
yang sedang diciptakan ini memberi kesan bahwa bangsa Indonesia
seakan-akan adalah pendukung kelompok Islam militan HAMAS dan berpihak
kepada Hesbollah, yang adalah kelompok teroris di mata dunia
internasional. Indonesia digembar-gemborkan sebagai negara muslim terbesar
didunia yang lebih HAMAS daripada HAMAS di Lebanon. Padahal di
Lebanon sendiri dan di negara-negara muslim Arab - seperti Saudi
Arabia,Yordania, Mesir, Turki dan lain-lain yang bertetangga dengan
Libanon - kelompok HAMAS tidak mendapatkan simpati karena merupakan
penyebab berbagai kekacauan/kekerasan di dunia Arab.
Akibatnya, Indonesia makin dijauhi
oleh negara-negara maju. Bangsa dan negara yang sudah terpuruk makin
menjadi terpuruk karena dijauhi sedemikian. Para penanam saham dari
dalam dan luar negeri angkat kaki, dan para penguasa/pengusaha
menunggangi agama untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan
sebesar-besarnya.
Kebanyakan anak bangsa Indonesia, baik
di dalam atau di luar negeri mengetahui dengan jelas bahwa bangsa dan
negara ini sudah cukup kenyang mengalami berbagai peristiwa kekerasan
yang bersifat SARA(a.l: Peristiwa Poso, Maluku Papua, TimorTimur , Dayak
di Kalimantan, Peristiwa Mei 1998 dan lain-lain), dan hingga kini pun
Indonesia masih berada dalam kondisi seperti api dalam sekam yang
setiap saat dapat meledak. Oleh karena itu banyak anak bangsa Indonesia,
termasuk saya, menggaruk kepala dan mempertanyakan pertanyaan ini:
“Atas dasar kriteria apa kiranya sehingga Wakil Presiden RI, merangkap
ketua Golkar, Yusuf Kalla, di anugerahkan Doctor Honoris Causa
dalam konteks pendamaian konflik SARA di
Indonesia?”
Juni 2009