Artikel Sulut, 1 Mei, 2008


Atribut Ekologi untuk Pariwisata Sulawesi Utara 

Oleh: Johny S. Tasirin

 

Pertumbuhan pariwisata dunia tidak pernah surut. Dari tahun ke tahun kebutuhan seseorang akan relaksasi fisik dan mental semakin meningkat yang ditemukan pada keunikan dan keindahan alam. Di berbagai belahan dunia terlihat bahwa semakin besar proporsi pekerja yang menambah waktu dan menggunakan lebih banyak uang untuk berwisata.

 

Tujuan wisata kelas dunia memiliki salah satu atau kombinasi dari dua hal yakni keunikan dan keindahan dengan objek budaya atau alam. Bali dan Yogyakarta melekat dengan penanda budaya klasik yang menarik minat jutaan wisatawan untuk datang dan menghabiskan waktu lebih panjang. Seseorang bisa datang ke Singapura, New York, atau Sydney dan mengagumi infrastruktur moderen serta lalu-lalang manusia dan kendaraan yang mencerminkan budaya baru. Atribut budaya mungkin sulit didefinisikan oleh sementara orang tetapi pada hakekatnya tidak sulit dimengerti karena yang menjadi pembanding keunikan adalah kebiasaan sehariannya.

 

Dengan demikian, rentangan kenikmatan wisata budaya hampir tidak terbatas karena sebenarnya alasan yang paling mendasar atas kehendak untuk berwisata adalah melihat perbedaan. Dan, perbedaan itu ada dimana-mana. Apapun materi wisata yang disajikan, baik dalam konteks budaya klasik konvensional maupun moderen kontemporer, kebudayaan akan selalu memiliki daya tarik.

 

Hukum yang sama berlaku untuk keunikan dan keindahan alam dengan pengecualian bahwa atribut ekologi dari alam tidak selalu mudah untuk dimengerti. Kekayaan atribut ekologi sering tidak muncul ke permukaan karena terbatasnya pengetahuan. Sepotong daging dan kepala ikan raja laut (Latimeria manadoensis) menjadi bahan jualan untuk makanan di Pasar Jengki di Manado pada tahun 1979 ternyata mengejutkan seorang kurator museum sejarah alam dari Amerika. Ikan yang juga disebut coelacanth ini melekat atribut sebagai fosil hidup. Sebelum kerabat dekatnya ditemukan di perairan Pulau Komoro pada tahun 30an, jenis ini dipercaya telah punah sejak 300 juta tahun yang lalu.

 

Contoh lain adalah burung maleo (Macrocephalon maleo). Di masa maleo masih banyak ditemukan, telur maleo menjadi makanan sampingan yang umum masyarakat Minahasa dan Bolaang Mongondow. Di mata seorang ilmuwan biologi, ketika biologi dan ekologi maleo berhasil dimengerti, penetasan maleo diberi atribut sebagai fenomena adaptasi yang penuh misteri. Bagaimana nenek moyang maleo kemudian memutuskan untuk mengganti kebiasaan dari mengerami telurnya sendiri kepada kebiasaan baru yang membiarkan telur-telurnya dierami oleh panas bumi atau matahari?

 

Monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) bagi banyak kalangan adalah sekedar hewan untuk diambil dagingnya atau piaraan. Ahli evolusi primata melihat monyet ini dan memberi atribut pada satwa yang dipanggil yaki ini sebagai ujung moderen evolusi marga monet macaca. Atribut lain yang bisa di sandang yaki adalah bukti bahwa proses kelahiran species baru tunduk pada hukum adaptasi dan “the survival of the fittest”.

 

Variasi yang bisa dijadikan penanda atribut ekologi sangatlah lebar, mulai dari sekedar kelihatan “lain” sampai pada jargon biologi atau ekologi yang rumit. Kepiawaian untuk membuat deskripsi akan mampu mensuplai kebutuhan wisata bagi turis dengan latar belakang yang beragam pula. Seorang anak mencari objek yang sederhana untuk memuaskan rasa keingintahuannya. Seorang dewasa melakukan analisis logika yang rumit dengan egosentris yang tinggi untuk memberi kepuasan pada dirinya sendiri. Kenikmatan bahkan bisa larut berjam-jam ketika memandang sebutir pasir dengan ukuran butiran raksasa di gerusan lava Gunung Tangkoko di Batuangus, Bitung.

 

Sulawesi adalah pulau yang secara geologis bisa dipandang sebagai kesatuan dari setidaknya enam pulau yang berpautan. Setiap bagian memiliki ciri ekologi yang tegas dan memiliki kekuatan seleksi alam untuk menentukan jenis apa yang bisa lahir dan bertahan disitu. Kekuatan inilah yang memicu proses spesiasi yang kaya yang melahirkan jenis-jenis flora dan fauna khas yang tidak tertandingi oleh pulau lain manapun di dunia ini. Suatu atribut ekologi yang jarang didengar gaungnya dalam pengambilan kebijakan publik.

 

Sulawesi adalah pulau dengan tingkat keendemikan tertinggi di dunia. Yang dimaksud dengan tingkat keendemikan adalah jumlah dan proporsi jenis endemik yakni jenis flora atau fauna yang secara alami tidak ditemukan di tempat lain di dunia ini. Telah tercatat bahwa Indonesia termasuk diantara negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia termasuk kekayaan jenis-jenis endemiknya. Indonesia memiliki 165 jenis hewan mamalia yang endemik. Hampir setengah (sekitar 47%) dari jumlah tersebut ditemukan di pulau Sulawesi. Penelitian dari berbagai pusat penelitian nasional dan dunia memprediksi bahwa proporsi mamalia endemik Indonesia dari Sulawesi akan terus bertambah. Contoh lain adalah kekayaan burung. Hanya dari daratan utama Pulau kita bisa menemukan sebanyak 233 jenis burung. Sebanyak 84 jenis diantara burung-burung tersebut adalah endemik di Sulawesi. Ini berarti lebih dari sepertiga dari 256 jenis burung yang endemik Indonesia bisa ditemukan di Sulawesi.

 

Contoh lain lagi adalah kekayaan jenis reptilia. Dengan mobilitas dan kemampuan adaptasi yang tinggi, banyak orang akan berharap bahwa komposisi jenis reptilia akan mendekati seragam di semua pulau-pulau utama di Indonesia. Ternyata tidak demikian halnya untuk Pulau Sulawesi. Sekitar sepertiga atau 29 dari 104 jenis reptilia yang ditemukan di Sulawesi adalah endemik. Total jenis reptilia yang tercatat endemik di  Indonesia adalah sebanyak 150 jenis.

 

Setiap semenanjung yang ada di Sulawesi memiliki harga ekologi yang tinggi. Ekosistem asli di kawasan ini adalah aset lokal yang memiliki nilai global. Semenanjung utara Sulawesi merupakan semenanjung yang istimewa dan, dari sudut pandang kekayaan atribut ekologi, merupakan kawasan terpenting di Sulawesi. Kawasan ini didiami oleh sebanyak 89 jenis burung endemik Sulawesi. Angka ini menunjukkan bahwa sekitar 86% dari 103 jenis burung endemik di Sulawesi ditemukan di Sulawesi Utara dan pulau-pulau sekitarnya. Contoh lain adalah tikus dan kelelawar termasuk si”kulo ipus” dan “paniki” yang menjadi lauk penting dalam menu khas Minahasa. Pernahkah anda membayangkan bahwa di Seluruh Pulau Sulawesi bisa ditemukan sebanyak 38 jenis tikus yang tidak ditemukan di pulau-pulau lain di Indonesia atau di tempat lain manapun di dunia ini. Hampir setengahnya ada di Sulawesi Utara. Tanah Sanger, Talaud, Minahasa dan Totabuan adalah tuan rumah dari 20 jenis kelelawar buah endemik Sulawesi padahal jenis kelelawar buah endemik Sulawesi hanya 24 jenis saja. Itu berarti, sebagian besar kelelawar endemik Sulawesi terdapat di Sulut.

 

Atribut ekologi penting yang perlu diangkat menjadi penunjang pariwisata Sulawesi adalah selawesi sebagai pusat kekayaan hayati dan pusat kelahiran jenis baru.

 

Kepentingan keanekaan hayati Sulawesi telah diakui secara global. Bahkan perhatian untuk investasi konservasi menjadi ulasan di berbagai media ilmiah. Salah satu argumen yang cukup monumental diajukan oleh Wilson dan beberapa rekannya dalam edisi Nature Vol 440, 16 Maret 2006. Mereka berhasil melakukan analisis ekonomi tentang kepentingan keanekaragaman hayati dengan berkali-kali mengemukakan bahwa investasi bagi usaha konservasi di Indonesia harus pertama dilakukan agar species sulawesi terselamatkan dulu baru investasi tersebut dialokasikan ke Borneo, Sumatera, Jawa dan yang terakhir adalah Malaysia.

 

Penangkapan satwa dan perusakan habitat di bagian manapun di Pulau Sulawesi adalah perbuatan kejam yang merusak tatanan masa depan baik itu dari sudut pandang pembangunan ekonomi maupun dari sudut keseimbangan ekologi. Padahal, keseimbangan ekologi adalah syarat penting untuk menunjang pembangunan ekonomi. Pembangunan pariwisata yang maju untuk Sulawesi Utara harus didukung oleh upaya penegakan hukum bagi para penjahat lingkungan, menghentikan penebangan illegal di hutan-hutan yang menjadi habitat satwa langka, menghentikan perburuan, menghentikan kebiasaan memakan satwa liar, dan berpartisipasi aktif dalam usaha restorasi habitat dan pembiakan satwa secara alami.