Atribut Ekologi untuk Pariwisata
Sulawesi Utara
Oleh: Johny S. Tasirin
Pertumbuhan
pariwisata dunia tidak pernah surut.
Dari tahun ke tahun kebutuhan
seseorang akan relaksasi fisik dan
mental semakin meningkat yang
ditemukan pada keunikan dan
keindahan alam. Di berbagai belahan
dunia terlihat bahwa semakin besar
proporsi pekerja yang menambah waktu
dan menggunakan lebih banyak uang
untuk berwisata.
Tujuan wisata
kelas dunia memiliki salah satu atau
kombinasi dari dua hal yakni
keunikan dan keindahan dengan objek
budaya atau alam. Bali dan
Yogyakarta melekat dengan penanda
budaya klasik yang menarik minat
jutaan wisatawan untuk datang dan
menghabiskan waktu lebih panjang.
Seseorang bisa datang ke Singapura,
New York, atau Sydney dan mengagumi
infrastruktur moderen serta
lalu-lalang manusia dan kendaraan
yang mencerminkan budaya baru.
Atribut budaya mungkin sulit
didefinisikan oleh sementara orang
tetapi pada hakekatnya tidak sulit
dimengerti karena yang menjadi
pembanding keunikan adalah kebiasaan
sehariannya.
Dengan demikian,
rentangan kenikmatan wisata budaya
hampir tidak terbatas karena
sebenarnya alasan yang paling
mendasar atas kehendak untuk
berwisata adalah melihat perbedaan.
Dan, perbedaan itu ada dimana-mana.
Apapun materi wisata yang disajikan,
baik dalam konteks budaya klasik
konvensional maupun moderen
kontemporer, kebudayaan akan selalu
memiliki daya tarik.
Hukum yang sama
berlaku untuk keunikan dan keindahan
alam dengan pengecualian bahwa
atribut ekologi dari alam tidak
selalu mudah untuk dimengerti.
Kekayaan atribut ekologi sering
tidak muncul ke permukaan karena
terbatasnya pengetahuan. Sepotong
daging dan kepala ikan raja laut (Latimeria
manadoensis) menjadi bahan
jualan untuk makanan di Pasar Jengki
di Manado pada tahun 1979 ternyata
mengejutkan seorang kurator museum
sejarah alam dari Amerika.
Ikan yang juga disebut coelacanth
ini melekat atribut sebagai fosil
hidup. Sebelum kerabat dekatnya
ditemukan di perairan Pulau Komoro
pada tahun 30an, jenis ini dipercaya
telah punah sejak 300 juta tahun
yang lalu.
Contoh lain adalah burung maleo (Macrocephalon
maleo). Di masa maleo masih
banyak ditemukan, telur maleo
menjadi makanan sampingan yang umum
masyarakat Minahasa dan Bolaang
Mongondow. Di mata seorang ilmuwan
biologi, ketika biologi dan ekologi
maleo berhasil dimengerti, penetasan
maleo diberi atribut sebagai
fenomena adaptasi yang penuh
misteri. Bagaimana nenek moyang
maleo kemudian memutuskan untuk
mengganti kebiasaan dari mengerami
telurnya sendiri kepada kebiasaan
baru yang membiarkan telur-telurnya
dierami oleh panas bumi atau
matahari?
Monyet hitam Sulawesi (Macaca
nigra) bagi banyak kalangan
adalah sekedar hewan untuk diambil
dagingnya atau piaraan. Ahli evolusi
primata melihat monyet ini dan
memberi atribut pada satwa yang
dipanggil yaki ini sebagai
ujung moderen evolusi marga monet
macaca. Atribut lain yang bisa di
sandang yaki adalah bukti
bahwa proses kelahiran species baru
tunduk pada hukum adaptasi dan the
survival of the fittest.
Variasi yang bisa dijadikan penanda
atribut ekologi sangatlah lebar,
mulai dari sekedar kelihatan lain
sampai pada jargon biologi atau
ekologi yang rumit. Kepiawaian untuk
membuat deskripsi akan mampu
mensuplai kebutuhan wisata bagi
turis dengan latar belakang
yang beragam pula. Seorang anak
mencari objek yang sederhana untuk
memuaskan rasa keingintahuannya.
Seorang dewasa melakukan analisis
logika yang rumit dengan egosentris
yang tinggi untuk memberi kepuasan
pada dirinya sendiri. Kenikmatan
bahkan bisa larut berjam-jam ketika
memandang sebutir pasir dengan
ukuran butiran raksasa di gerusan
lava Gunung Tangkoko di Batuangus,
Bitung.
Sulawesi adalah pulau yang secara
geologis bisa dipandang sebagai
kesatuan dari setidaknya enam pulau
yang berpautan. Setiap bagian
memiliki ciri ekologi yang tegas dan
memiliki kekuatan seleksi alam untuk
menentukan jenis apa yang bisa lahir
dan bertahan disitu. Kekuatan inilah
yang memicu proses spesiasi yang
kaya yang melahirkan jenis-jenis
flora dan fauna khas yang tidak
tertandingi oleh pulau lain manapun
di dunia ini. Suatu atribut ekologi
yang jarang didengar gaungnya dalam
pengambilan kebijakan publik.
Sulawesi adalah pulau dengan tingkat
keendemikan tertinggi di dunia. Yang
dimaksud dengan tingkat keendemikan
adalah jumlah dan proporsi jenis
endemik yakni jenis flora atau fauna
yang secara alami tidak ditemukan di
tempat lain di dunia ini. Telah
tercatat bahwa Indonesia termasuk
diantara negara yang memiliki
keanekaragaman hayati tertinggi di
dunia termasuk kekayaan jenis-jenis
endemiknya. Indonesia memiliki 165
jenis hewan mamalia yang endemik.
Hampir setengah (sekitar 47%) dari
jumlah tersebut ditemukan di pulau
Sulawesi. Penelitian dari berbagai
pusat penelitian nasional dan dunia
memprediksi bahwa proporsi mamalia
endemik Indonesia dari Sulawesi akan
terus bertambah. Contoh lain adalah
kekayaan burung. Hanya dari daratan
utama Pulau kita bisa menemukan
sebanyak 233 jenis burung. Sebanyak
84 jenis diantara burung-burung
tersebut adalah endemik di Sulawesi.
Ini berarti lebih dari sepertiga
dari 256 jenis burung yang endemik
Indonesia bisa ditemukan di
Sulawesi.
Contoh lain lagi adalah kekayaan
jenis reptilia. Dengan mobilitas dan
kemampuan adaptasi yang tinggi,
banyak orang akan berharap bahwa
komposisi jenis reptilia akan
mendekati seragam di semua
pulau-pulau utama di Indonesia.
Ternyata tidak demikian halnya untuk
Pulau Sulawesi. Sekitar sepertiga
atau 29 dari 104 jenis reptilia yang
ditemukan di Sulawesi adalah
endemik. Total jenis reptilia yang
tercatat endemik di Indonesia
adalah sebanyak 150 jenis.
Setiap semenanjung yang ada di
Sulawesi memiliki harga ekologi yang
tinggi. Ekosistem asli di kawasan
ini adalah aset lokal yang memiliki
nilai global. Semenanjung utara
Sulawesi merupakan semenanjung yang
istimewa dan, dari sudut pandang
kekayaan atribut ekologi, merupakan
kawasan terpenting di Sulawesi.
Kawasan ini didiami oleh sebanyak 89
jenis burung endemik Sulawesi. Angka
ini menunjukkan bahwa sekitar 86%
dari 103 jenis burung endemik di
Sulawesi ditemukan di Sulawesi Utara
dan pulau-pulau sekitarnya. Contoh
lain adalah tikus dan kelelawar
termasuk sikulo ipus dan paniki
yang menjadi lauk penting dalam menu
khas Minahasa. Pernahkah anda
membayangkan bahwa di Seluruh Pulau
Sulawesi bisa ditemukan sebanyak 38
jenis tikus yang tidak ditemukan di
pulau-pulau lain di Indonesia atau
di tempat lain manapun di dunia ini.
Hampir setengahnya ada di Sulawesi
Utara. Tanah Sanger, Talaud,
Minahasa dan Totabuan adalah tuan
rumah dari 20 jenis kelelawar buah
endemik Sulawesi padahal jenis
kelelawar buah endemik Sulawesi
hanya 24 jenis saja. Itu berarti,
sebagian besar kelelawar endemik
Sulawesi terdapat di Sulut.
Atribut ekologi penting yang perlu
diangkat menjadi penunjang
pariwisata Sulawesi adalah selawesi
sebagai pusat kekayaan hayati dan
pusat kelahiran jenis baru.
Kepentingan
keanekaan hayati Sulawesi telah
diakui secara global. Bahkan
perhatian untuk investasi konservasi
menjadi ulasan di berbagai media
ilmiah. Salah satu argumen yang
cukup monumental diajukan oleh
Wilson dan beberapa rekannya dalam
edisi Nature Vol 440, 16 Maret 2006.
Mereka berhasil melakukan analisis
ekonomi tentang kepentingan
keanekaragaman hayati dengan
berkali-kali mengemukakan bahwa
investasi bagi usaha konservasi di
Indonesia harus pertama dilakukan
agar species sulawesi terselamatkan
dulu baru investasi tersebut
dialokasikan ke Borneo, Sumatera,
Jawa dan yang terakhir adalah
Malaysia.
Penangkapan satwa dan perusakan
habitat di bagian manapun di Pulau
Sulawesi adalah perbuatan kejam yang
merusak tatanan masa depan baik itu
dari sudut pandang pembangunan
ekonomi maupun dari sudut
keseimbangan ekologi. Padahal,
keseimbangan ekologi adalah syarat
penting untuk menunjang pembangunan
ekonomi. Pembangunan pariwisata yang
maju untuk Sulawesi Utara harus
didukung oleh upaya penegakan hukum
bagi para penjahat lingkungan,
menghentikan penebangan illegal di
hutan-hutan yang menjadi habitat
satwa langka, menghentikan
perburuan, menghentikan kebiasaan
memakan satwa liar, dan
berpartisipasi aktif dalam usaha
restorasi habitat dan pembiakan
satwa secara alami.