Berita Sulut, 3 Mei, 2008


Peringatan May Day di Sulut

Buruh Tuntut Naikan Upah dan Hapuskan Kerja Kontrak

Laporan: Budi H Rarumangkay
 

MANADO, Sulutlink. Peringatan Hari Buruh se Dunia 1 Mei 2008 di Sulut, diperingati dengan menggelar long march para pekerja Sulut dengan sejumlah anggota dewan. Long march dengan mengambil rute kantor dewan Sario, kantor gubernur, kantor dinas tenaga kerja dan jamsostek pada Jumat (02/05) siang, berjalan tertib dan aman. Setidaknya, ada beberapa point penting dalam tuntutan kaum buruh Sulut yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Sulut. Terutama soal upah buruh yang dinilai mereka masih minim serta tuntutan penghapusan kerja kontrak.

 

Dalam orasinya Astrid Kumentas yang ikut bersama para pendemo dan para anggota dewan Sulut, diantaranya, James Karinda, Olden Waloni, B Ninia dan Agustinus Kambey anggota dewan Kota Manado, menyayangkan atas penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) Sulut sebesar Rp 8.450.000 perbulan. Menurutnya, upah tersebut belum mampu menopang kehidupan kaum buruh, terutama dalam menyekolahkan anak-anak mereka.

 

“Momentum Hari Buruh se Dunia yang digelar bertepatan dengan Hardiknas 2 Mei 2008 ini sangat strategis, mengingat banyak anak kaum buruh terancam putus sekolah karena tidak mampu. Apalagi saat ini banyak pekerja yang di PHK tanpa pesangon. Karenanya kami minta pemerintah untuk menaikan upah buruh dan menghapuskan sistim kerja kontrak yang diterapkan pengusaha,”teriak Kumentas saat demo di halaman kantor gubernur.
 

Secara bergantian para anggota dewan Sulut dan Kota Manado itu melakukan orasinya. Pasukan keamanan dari Mapoltabes Manado terpaksa membuat barikade pasukan. “Saya mendukung tuntutan kaum buruh yang memperjuangkan nasib mereka, terutama dengan adanya kaum perempuan yang terus termaginalkan. Pemberlakukan buruh kontrak sangat tidak manusiawi,”timpal Agustin Kambey. “Setidaknya, pemerintah memperthatikan nasib kaum buruh dari sudut kepentingan pendidikan bagi anak-anak mereka,”tambahnya.

 

Anggota dewan James Karinda SH sendiri mengatakan agar penetapan UMP Rp 8.45 ribu tersebut harus ditinjau kembali, karena banyak pengusaha tidak menindaklanjutinya di lapangan. Dia kemudian menyoroti berbagai program yang berada pada Dinas Tenaga Kerja yang tidak disosialisasikan melalui organisasi buruh.
 

Miky Keintjem korlap aksi ini, kemudian menuntut agar dinas tenaga kerja turun lapangan dan memeriksa ratusan pengusaha yang tersebar di Sulut yang terindikasi masih memberlakukan kerja kontrak dan tidak mematuhi penetapan pemerintah. “Tindak pengusaha nakal dan hapuskan buruh kontrak,'teriaknya.

 

Sementara itu Asisten I Pemprov Drs Arudji Mongilong saat didampingi Karo Tapem Drs Roy Tumiwa, mengatakan segera akan memerintahkan Kadis Naker Sulut Drs Kandoli Mokodongan untuk turun lapangan. Menurutnya, aspirasi kaum buruh ini akan diteruskan pada gubernur. Sedangkan Mokodongan yang datang belakangan setelaha aksi demo sudah berlangsung sekitar jam lebih mengakui pemberlakukan buruh kontrak menyebabkan posisi buruh kian sulit. Namun kata dia, pengawasan lapangan terhadap pengusaha 'nakal' merupakan kewenangan kabupaten dan kota. “Namun yang pasti kami tetap akan melakukan koordinasi dengan kabupaten dan kota untuk menelusuri para pengusaha yang semena-mena melakukan PHK,”kata dia.

 

Berkaitan dengan itu, sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sulut, juga menggelar demo dibeberapa tempat di Manado. Aksi demo mahasiwa ini sehubungan dengan peringatan Hardiknas 2 Mei 2008. Mereka menuntut sistem pendidikan gratis segera diberlakukan. Aksi demo yang mengambil rute di Jalan Sam Ratulangi (Samrat) hingga Gedung Joeang 45, itu, berharap pemerintah tidak lagi menerapkan berbagai pungutan disektor pendidikan, karena sudah menjadi kewajiban untuk dibiayai Negara.

 

Mahasiswa juga menuntut perbaikan kualitas tenaga pengajar, yakni guru dan dosen, karena selama ini system pemberdayaan tenaga pengajar di daerah sangat kurang. Masih ada ribuan tenaga honorer guru yang belum diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), sementara beberapa kerabat dekat pejabat malah ikut diakomodir sebagai tenaga pengajar.
 

Mahasiswa juga menuntut pengusutan secara cepat dan transparan pada kasus-kasus korupsi disektor pendidikan serta transparansi penggunaan dana pendidikan. Kemudian perlunya peningkatan kesejahteraan tenaga pengajar di Sulut, terutama di daerah kepulauan dan pedalaman, dengan menaikkan insentif, dan meminta memberhentikan eksploitasi kerja anak-anak usia sekolah yang mulai marak. Aksi unjuk rasa itu berlangsung tertib, disaat bertepatan dengan upacara Hardiknas yang dipusatkan di Kantor Gubernur Sulut Jumat pagi.