|
Ribuan Petani Cap
Tikus Minsel Ancam Demo
!
Laporan: Budi H
Rarumangkay
MANADO,
Sulutlink.
Ribuan petani Cap Tikus
- alkohol dari Pohon
Aren (Seho) yang
tersebar di Kabupaten
Minahasa Selatan (Minsel),
mengancam akan melakukan
aksi unjuk rasa
besar-besaran di kantor
Dewan Sulut dan Kantor
Gubernur, jika pihak
pabrik minuman keras
masih menutup pembelian
produksi dari petani.
Ancaman ini menyusul
sejumlah pabrik minuman
keras sejak beberapa
waktu lalu, belum
melakukan pembelian
dengan alasan tidak
jelas.
"Ada sekitar delapan
ribu petani di Minsel
tidak bisa mendapatkan
hasil maksimal dari
produksi captikus,
sehingga sangat
mengganggu kondisi
ekonomi rakyat," terang
Welly
Pele, salah satu
perwakilan petani yang
bertatap muka dengan
anggota dewan Sulut,
Selasa, (06/05).
Petani menilai sejumlah
pabrik minuman keras di
Sulut telah menutupi
akses pembelian produksi
captikus dengan alasan
tidak jelas, sehingga
setiap petani merugi
sekitar Rp150 ribu
setiap hari, untuk
menutupi kebutuhan
keluarga. Perincian
penjualan captikus dari
petani ke pengusaha dan
pabrik dijual Rp75 ribu
per galon. Satu pohon
Nira bisa menghasilkan 2
galon captikus.

"Produksi alkohol
captikus di Minsel sudah
membudaya dan menjadi
mata pencaharian warga,
sehingga sulit
dihilangkan atau
dialihkan ke kegiatan
lain," katanya, sambil
menyebut pekan ini akan
ada aksi unjuk rasa
besar-besaran.
Petani juga menolak
produksi captikus
dikatakan sebagai sumber
minuman keras berbahaya,
padahal kata mereka,
masih lebih banyak
selundupan dan suplai
ilegal minuman keras
dari luar negeri masuk
Sulut ketimbang produksi
captikus itu sendiri.
Sejumlah petani juga
mengharapkan, pihak
kepolisian daerah untuk
tidak sekedar menahan
produksi dan melakukan
razia captikus dari
petani, karena warga
sudah melewati ketentuan
dengan mengurusi ijin
perdagangan, yang
tertuang dalam Peraturan
Daerah (Perda)
dikeluarkan Pemprov
Sulut.
Dewan Sulut sendjri
berencana akan memanggil
hearing pihak pabrikan,
pemerintah daerah da
kepolisian, untuk
mencari jalan keluar
dari permintaan warga
tersebut "Produksi
captikus petani sudah
merupakan komoditi
unggulan sektor
pertanian, sehingga
perlu ditangani secara
baik," kata anggota
dewan AHJ Purukan.
Produksi captikus tidak
hanya sekedar menjadi
minuman keras yang
dikelolah khusus, namun
juga telah dikembangkan
sebagai bahan etanol
untuk kegiatan kesehatan
medis, serta dijadikan
Bahan Bakar Minyak (BBM)
alternatif untuk
kendaraan bermotor.
Sementara itu menurut
Hanny Sangian, jika
Etanol Enau menggantikan
seluruh bahan bakar,
maka; 1 pohon enau
unggul menghasilkan Air
Nira 20-30 liter perhari.
Dalam 20 liter Nira
mengandung 1 liter
etanol murni. Konsumsi
bahan bakar sekarang 200
juta liter perhari
setara dengan 200 juta
pohon enau. “Untuk itu
kita memerlukan 2 juta
hektar lahan pohon
enau,”terang Sangian
yang baru-baru ini
mempopulerkan BBM dari
Captikus tersebut.
Perbandingan; Etanol
dari Jagung memerlukan
luas lahan sebsar
30.000.000 hektar.
Etanol dari Tebu
memerlukan lahan seluas
25.000.000 hektar.
Minyak Sawit (biodiesel)
memerlukan lahan seluas
15.000.000 hektar.
Keuanggulan dari pohon
Enau terang Sangian,
pohon Enau bisa
menghasilkan multi
produk seperti tepung
Sagu, gula Aren dan Ijuk.
Pohon enau yang tidak
produktif bisa diambil
kayunya. Pohon enau
tahan terhadap cuaca
ekstrim. Pohon enau
penahan banjir.
Sedangkan dalam
penyerapan tenaga kerja;
1 orang dapat
menghasilkan 300 liter
air nira perhari dari
15-25 pohon enau, setara
dengan 15 liter bahan
bakar etanol perhari.
“Jika produksi bahan
bakar etanol 200.000.000
liter perhari, maka,
jumlah tenaga kerja yang
terserap itu adalah
sebanyak 13.333.000
orang. Belum lagi tenaga
kerja pada tingkat
industri procesing,”urai
Sangian.
|