Berita Sulut, 7 Mei, 2008


Ribuan Petani Cap Tikus Minsel Ancam Demo !

Laporan: Budi H Rarumangkay

 

MANADO, Sulutlink. Ribuan petani Cap Tikus - alkohol dari Pohon Aren (Seho) yang tersebar di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), mengancam akan melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran di kantor Dewan Sulut dan Kantor Gubernur, jika pihak pabrik minuman keras masih menutup pembelian produksi dari petani. Ancaman ini menyusul sejumlah pabrik minuman keras sejak beberapa waktu lalu, belum melakukan pembelian dengan alasan tidak jelas.

 

"Ada sekitar delapan ribu petani di Minsel tidak bisa mendapatkan hasil maksimal dari produksi captikus, sehingga sangat mengganggu kondisi ekonomi rakyat," terang Welly Pele, salah satu perwakilan petani yang bertatap muka dengan anggota dewan Sulut, Selasa, (06/05).

 

Petani menilai sejumlah pabrik minuman keras di Sulut telah menutupi akses pembelian produksi captikus dengan alasan tidak jelas, sehingga setiap petani merugi sekitar Rp150 ribu setiap hari, untuk menutupi kebutuhan keluarga. Perincian penjualan captikus dari petani ke pengusaha dan pabrik dijual Rp75 ribu per galon. Satu pohon Nira bisa menghasilkan 2 galon captikus.

"Produksi alkohol captikus di Minsel sudah membudaya dan menjadi mata pencaharian warga, sehingga sulit dihilangkan atau dialihkan ke kegiatan lain," katanya, sambil menyebut pekan ini akan ada aksi unjuk rasa besar-besaran.
 

Petani juga menolak produksi captikus dikatakan sebagai sumber minuman keras berbahaya, padahal kata mereka, masih lebih banyak selundupan dan suplai ilegal minuman keras dari luar negeri masuk Sulut ketimbang produksi captikus itu sendiri. Sejumlah petani juga mengharapkan, pihak kepolisian daerah untuk tidak sekedar menahan produksi dan melakukan razia captikus dari petani, karena warga sudah melewati ketentuan dengan mengurusi ijin perdagangan, yang tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) dikeluarkan Pemprov Sulut.
 

Dewan Sulut sendjri berencana akan memanggil hearing pihak pabrikan, pemerintah daerah da kepolisian, untuk mencari jalan keluar dari permintaan warga tersebut "Produksi captikus petani sudah merupakan komoditi unggulan sektor pertanian, sehingga perlu ditangani secara baik," kata anggota dewan AHJ Purukan. Produksi captikus tidak hanya sekedar menjadi minuman keras yang dikelolah khusus, namun juga telah dikembangkan sebagai bahan etanol untuk kegiatan kesehatan medis, serta dijadikan Bahan Bakar Minyak (BBM) alternatif untuk kendaraan bermotor.
 

Sementara itu menurut Hanny Sangian, jika Etanol Enau menggantikan seluruh bahan bakar, maka; 1 pohon enau unggul menghasilkan Air Nira 20-30 liter perhari. Dalam 20 liter Nira mengandung 1 liter etanol murni. Konsumsi bahan bakar sekarang 200 juta liter perhari setara dengan 200 juta pohon enau. “Untuk itu kita memerlukan 2 juta hektar lahan pohon enau,”terang Sangian yang baru-baru ini mempopulerkan BBM dari Captikus tersebut.
 

Perbandingan; Etanol dari Jagung memerlukan luas lahan sebsar 30.000.000 hektar. Etanol dari Tebu memerlukan lahan seluas 25.000.000 hektar. Minyak Sawit (biodiesel) memerlukan lahan seluas 15.000.000 hektar.

 

Keuanggulan dari pohon Enau terang Sangian, pohon Enau bisa menghasilkan multi produk seperti tepung Sagu, gula Aren dan Ijuk. Pohon enau yang tidak produktif bisa diambil kayunya. Pohon enau tahan terhadap cuaca ekstrim. Pohon enau penahan banjir. Sedangkan dalam penyerapan tenaga kerja; 1 orang dapat menghasilkan 300 liter air nira perhari dari 15-25 pohon enau, setara dengan 15 liter bahan bakar etanol perhari.

 

“Jika produksi bahan bakar etanol 200.000.000 liter perhari, maka, jumlah tenaga kerja yang terserap itu adalah sebanyak 13.333.000 orang. Belum lagi tenaga kerja pada tingkat industri procesing,”urai Sangian.