Berita Sulut, 7 Mei, 2008


Jalur Penerbangan Philipina – Manado Mandeg

Sejumlah Kerjasama Regional Antar Negara Terancam

Laporan: Budi H Rarumangkay

 

MANADO, Sulutlink. Ini pukulan berat bagi pengembangan investasi di Sulut. Pasalnya, jalur penerbangan yang menghubungkan Philipna – Manado sejak 12 April 2008 lalu, mandeg alias tidak jalan. Ini tentunya menjadi ancaman bagi kelangsungan hubungan kerjasama regional antar kedua negara yang tergabung dalam BIMP-EAGA (Brunei Darussalam , Indonesia, Malaysia and the Philipinnes-East Asian Growth Area). Menurut Executive Secretary BIMP-EAGA Sulut, Shelley Sondakh, kondisi ini harus disikapi secara serius oleh pihak-pihak yang berkompeten, baik pemerintah maupun sektor swasta.
 

Sebab jika tidak, maka dapat dipastikan bahwa semua usaha yang telah dirintis selama 20 tahun akan menjadi sia-sia. Sangat disayangkan jika semua kerja keras ini harus tumbang. Seharusnya, dalam posisi seperti ini, semua pihak yang terkait harus mencari solusinya,” katanya pada wartawan, Selasa (06/05).


Dikatakannya, penerbangan yang dilakukan langsung dari Manado-Davao, justru lebih mudah dan murah, ketimbang harus transit dari Jakarta. Namun anehnya, hal ini kurang dibaca. Padahal kata dia, untuk kawasan yang tergabung di BIMP-EAGA, ketika melakukan perjalanan, tidak perlu lagi harus mengeluarkan biaya fiscal yang nilainya mencapai Rp 1juta.

 

Sebenarnya peluang Manado-Philipina harus ditangkap. Di mana selain sektor ekonomi, terdapat juga sejumlah sektor yang layak untuk dilakukan kerjasama seperti pendidikan, pariwisata, koperasi maupun pertanian. Karena Philipina untuk bidang-bidang ini, juga mengalami kemajuan,” terangnya. Sondakh menyayangkan adanya persoalan transportasi. Sebab, sejumlah tahapan kerjasama dan pembahasan program BIMP-EAGA pun menjadi terhambat realisasinya.